
Mendengar jawaban Hasan, Farida hanya mehghela naafasnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Pa, mengapa sih harus Ranty? Apa salahnya jika Rizal memilih wanita itu? Jujur, Pa. Mama lebih suka Nissa daripada Ranty," kata Farida.
"Ma! Sudah. Pokoknya, Papa mau Rizal menikah sama Ranty. Titik!" tukas Hasan.
Farida menggelengkan kepalanya mendengar kerasnya hati suaminya. Dia segera beranjak pergi untuk mencegah makin melebarrnya permasalahan. Sementara itu, di suatu restoran, Rizal dan Nissa duduk berdua. Nissa tampak gundah. Dia seolah tak bernfsu memakan hidangan yang mereka pesan. Nissa hanya melahap sedikit makanan itu. Dia banyak termenung.
"Duuh! Aku kerasa ngeganjel tadi. Ayahnya Rizal koq dingin gitu. Apa dia gak merestui hubunganku dengan Rizal?" bathinnya.
Rizal melihat Nissa seolah menyembunyikan sesuatu. Wajahnya tampak lesu, tidak seperti biasanya.
"Say, kamu koq kelihatan lesu gitu? Dan aku amati, kamu koq sedikit sekali makannya?" tanya Rizal keheranan.
Nissa tak ingin Rizal tahu ganjalannya. Dia berusaha menutupinya.
"Uhm … maaf, Say. Tadi sebelum ke rumah aku sempat makan, makanya agak kenyang. Maaf, ya," kata Nisaa berusaha menutupi kegalauannya.
Rizal menatap Nissa dengan pandangan menyelidik. Dia menatap mata Nissa. Rupanya, Rizal mengetahui sesuatu yang di sembunyikan Nissa.
"Nissa, maafkan sikap papaku tadi. Beliau sebenarnya baik. Hanya saja, terkadang beliau sedikit dingin jika menghadapi orang baru," kata Rizal berusaha menjelaskan.
Nissa tersenyum. Dia memegang lembut tangan Rizal.
"Mas, aku sudah memaafkan ayahmu. Aku memahami betapa sayangnya dia kepadamu," kata Nissa berusaha menenangkan Rizal.
Rizal sedikit tenang. Mereka kembali terlihat dalam sebuah percakapan sambil menikmati makan malamnya. Ketika tengah menikmati hubungan cinta mereka, Rizal.di kagetkan dengan suara di hpnya. Ternyata, ayahnya menelepon Rizal.
"Ya, Pa" Rizal menjawab telepon ayahnya.
"Rizal. Kamu kemana aja? Jam segini belum pulang," kata Hasan dari balik telepon.
"Pa, Rizal masih mengantar Nissa pulang. Tadi jalanan macet. Jadinya, Riizal mampir ke mesjid untuk sholat maghrib," jawab Rizal.
Terdengar ayahnya menghela nafas seolah menahan emosinya.
"Ya sudah, kalo selesai segera pulang. Temui Ranty. Dia mencarimu," kata ayahnya dengan nada tinggi.
Rizal tersentak. Dia begitu kaget.
"Pa, Rizal mau menemui dia jika urusan pekerjaan. Namun, Rizal.sama sekali tak mencintai Ranty," kata Rizal.
"Sudah! Jangan membantah. Cepat antar Nissa pulang dan segera kembali ke rumah. Jangan kecewakan papa!" tukas Hasan dan langsung menutup telepon.
Rizal begitu sedih bercampur marah. Dia sangat kecewa dengan sikap ayahnya yang dianggapnya terlalu mendikte. Nissa yang melihat Rizal.begitu gundah akhirnya mengajaknya untuk pulang.
"Mas, kita pulang aja, yuk. Udah malam nih," ajak Nissa.
Rizal menganguk. Segera dia bayar bill pesanannya. Untuk hidangan yang tak habis, Rizal meminta di bungkus. Setelah semuanya selesai, Rizal mengantar Nissa pulang, lalu kembali ke rumahnya. Seaampainya di sana, Ranty telah menunggunya di ruang tamu. Dia bersikap dingin pada Ranty.
"Oke, Ranty. Katakan, apa sih keinginannmu?" tanya Rizal dengan nada dingin.
"Say, aku kemari ingin menemuimu," kata Ranty.
"Jam kantor udah selesai, Ranty. Aku ingin istirahat," balas Rizal dengan nada dingin.
Mendadak, ibunya muncul membawakan minuman untuk Ranty dan Rizal.
"Rizal, sudahlah. Temani Ranty sebentar aja," kata ibunya membujuk Rizal.
Rizal mengalah. Dia tampak ogah menemui Ranty. Tak ada senyum ramah kepada Ranty. Sepeninggal ibunya, Rizal hanya diam. Sementara, Ranty begitu bahagia mendapat lampu hijau.
"Sayang, tahu gak, aku bahagia banget malam ini. Aku akhirnya dapat restu untuk bersanding dengnmu," kata Ranty mencoba mencairkan suasana.
Rizal hanya diam. Dia seolah tak menanggapi perkataan Ranty. Dengan tenang, dia ambil cangkir minuman di depannya tanpa menawarkannya pada Ranty. Ranty sedikit jutek melihat reaksi Rizal. Dia kembali berbicara.
__ADS_1
"Sayang, aku janji akan setia kepadamu. Namamu selalu tersimpan di hati terdalamku. Tahu gak, aku begitu bahagia bisa berdekatan denganmu," kata Ranty sambil mengambil cangkir di depannya.
Ranty meminumnya.
"Uhm … teh buatan ibumu enak sekali, aku cocok deh," kata Ranty berusaha mendekati Rizal.
"Oh ya? Kamu suka teh buatan ibu?" tanya Rizal.
Ranty tersenyum manis.
"Iya, rasanya begitu pas," balasnya untuk merayu Rizal.
Rizal hanya mengangguk. Dia sebentar-sebentar melihat jam tangannya.
"Eh, Ranty. Aku baru datang. Aku mau istirahat dulu. Kamu datang lagi kapan-kapan, ya," katanya seolah ingin pergi.
Rantu berusaha memahaminya. Dia segera pamit.
"Ya sudah, Say. Kamu istirahat dulu saja supaya besok fit. Oh ya, aku mau pamit pulang," kata Ranty.
Dalam hati, Rizal berkata, "Aku mules liat tampangmu, Ranty."
Rizal segera memanggil orang tuanya. Ayahnya langsung menemui Ranty. Hasan begitu ramah pada Ranty. Sikapnya berbeda jauh ketika menemui Nissa. Sepeninggal Ranty, ayahnya
memanggil Rizal. Sebagai anak, Rizal menurutinya. Di ruang tengah, dia berbicara pada Rizal.
"Rizal, papa tak merestui hubunganmu dengan Nissa," kata ayahnya.
"Tapi, Pa. Nissa itu wanita yang baik, amanah dan qonaah. Mengapa ayah tak merestui hubunganku dengan dia?" tanya Rizal.
"Tahu apa kamu! Dia itu begitu karena berusaha dekati kamu. Dia suka karena hartamu," balas ayahnya.
Rizal begitu kecewa dengan penilaian ayahnya. Dia berusaha membela Nissa.
Hasan yang merasa di pojokkan bukannya sadar, justru makin menampakkan sifat otoriternya.
Egonya makin kuat.
"Rizal! Cukup. Pembelaanmu pada Nissa tak merubah keputusan papa. Mulai besok, putuskan hubunganmu dengan Nissa, atau kamu tak kuanggap anak. Paham!" bentaknya.
Rizal terdiam. Matanya berkaca karena tak sanggup menahan kesedihannya. Dia tak ingin meneruskan perdebatan dengan ayahnya. Ibunya yang melihat ego suaminya justru melawan.
"Papa! Apa-apaan sih papa ini?! Kurang apa Riza? Dia selalu menurutimu, tapi seolah itu semua tak berarti buatmu! Dia punya perasaan, Pa," kata ibunya membela Rizal.
"Mama! Aku disini sebagai pemimpin! Jangam bantah perkataanku!" bentak ayahnya.
Ibunya terdiam. Ayahnya memandang tajam pada Rizal yang di peluk ibunya.
"Rizal! Perkataan papa sudah bulat. Jangan coba-coba kamu langgar. Ingat itu!" bentaknya sambil berlalu.
Rizal tak dapat menahan tangisnya. Di pelukan ibunya, dia menangis.
"Ma, aku begitu menyayangi Nissa. Aku tak sampai hati memutuskannya. Dia terlalu baik, Ma …," katanya di tengah tangisnya.
Ibunya membelai lembut kepala Rizal. Dia memahami perasaannya. Dengan nada lembut, ibunya memberikan dukungan moril pada Rizal.
"Nak, ibu merestuimu dengan Nissa. Tapi, ibu tak bisa mengubah keinginan papa. Kamu yang sabar, Nak. Mintalah petunjuk pada Allah, karena Dia yang Maha segalanya," kata ibunya
menenangkan Rizal.
Rizal mengangguk. Perasaannya sedikit tenang, walau begitu sedih. Dengan perasaan hancur,
dia segera masuk ke kamarnya. Pada sepertiga Malam terakhir, Rizal melakukan sholat tobat, yang di sambung dengan sholat tahajjud dan istikharah.
"Ya Allah, Ya Rabb … hamba tengah kebingungan menghadapi masalah hamba. Berilah petunjuk-Mu, Ya Allah …." Dengan berlinang air mata, Rizal mengucap do'a.
__ADS_1
Hari berganti hari. Rizal mulai kehilangan semangat kerja. Keceriaannya mulai tak tampak. Setelah seminggu berlalu, Suatu hari Rizal mengajak Nissa bertemu. Dan siang hari ketika jam istirahat, mereka bertemu di sebuah taman.
"Mas, mengapa mendadak sekali kita bertemu. Ada apa?" tanyanya.
Rizal begitu sedih. Air matanya berlinang membasahi pipinya. Nissa belum pernah melihat Rizal.begitu sedih.
"Aku … aku begitu berat untuk membicarakan ini, tapi … aku harus melakukannya, Nissa." Rizal memegang tangan Nissa dengan erat.
Sejenak, Rizal menghela nafasnya. Dia tampak begitu berat mengatakannya. Nissa berusaha menguatkannya.
"Mas, kuatkan dirimu. Ayolah, Mas. Apa yang mau mas bicarakan?" tanya Nissa.
Rizal terdiam. Dia menghela nafas panjang. Dia menatap Nissa dengan wajah sedih, dan air mata berlinang.
"Nissa, maafkan aku. Aku tak bisa meneruskan hubungan kita. Papa sudah menjodohkan aku dengan Ranty, anak relasi papa," kata Rizal.
Bak di sambar geledek, Nissa terkejut. Wajahnya sedih, dan tangisnya muncul. Dia lepaskan pegangan Rizal.
"Rizal, selama ini, aku mencintaimu. Aku setia, tapi …, jujur. Aku begitu sakit," kata Nissa di tengah tangisnya.
Rizal tertunduk. Dia hanya diam dan tak mampu berkata-kata lagi. Di tengah tangisnya, Nissa berusaha tegar.
"Baiklah, Mas. Mungkin yang terbaik kau turuti kemauan ayahmu. Mungkin, memang Allah sudah menggariskan begini," kata Nissa hendak beranjak.
Rizal memegangi tangannya. Dia kembali menatap Nissa sebelum dia pergi.
"Nissa. Maafkan aku. Aku memang tak kuasa menolaknya, tapi hatiku tetap untuk kamu, Nissa," kata Rizal di tengah isak tangisnya.
Nissa berusaha tersenyum di tengah tangisnya. Dengan lembut, dia lepaskan pegangan tangan Rizal. Dia sadari, itu begitu menyakitkan. Namun, dia sadar bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak.
"Rizal, pilihan ayahmu adalah yang terbaik buat kamu, dan …." Perkataan Nissa di putus oleh Ranty yang datang tiba-tiba.
Dengam senyum angkuh, dia dekati Nissa yang berusaha memberikan dukungan untuk Rizal.
"Dan, orang rendahan macam loe gak pantes bersanding dengan Rizal. Udah, loe pergi dari sini!" bentak Ranty sambil mendorong Nissa.
Nissa hanya mengucapkan istighfar. Dia pandangi Ranty dengan tatapan tajam
.
"Iya, Ranty. Mungkin sekarang aku tak dapatkan Rizal, tapi kamu belum tentu bersanding dengan dia," balas Nissa.
Ranty hanya tertawa ringan mendengar ucapan Nissa.
"Heh! Asal loe tahu, besok acara pertunangan gue sama mantan loe. Dan, loe gak bakalan lihat dia lagi. Udah! Sana loe pergi dari sini!" kata Ranty dengan senyum penuh kemenangan.
Nissa memilih mengalah. Sebelum pergi, dia memandangi Rizal untuk yang terakhir kalinya, lalu beranjak pergi. Sepeninggal Ranty, Rizal tampak tak bergairah. Berulang kali Ranty
berusaha memegangi tangannya, namun Rizal menepisnya.
"Ranty! Kita belum muhrim," kata Rizal.
Ranty bukannya menyadari malah membantah.
"Alah! Kamu mulai sok alim. Tadi buktinya kamu pegang tangan Nissa," kata Ranty dengan nada menghina. Rizal yang merasa di.pojokkan langsung emosi. Dia bangkit dan beranjak pergi dari situ. Ranty yang tak menyangka berjalan mengejarnya. Dia pegang tangannya.
"Rizal! Mengapa sih kamu tak sedikitpun memperhatikan perasaanku? Mengapa kau belum bisa mencintai aku? Mengapa kau masih cinta pada Nissa? Kita kan besok tunangan," kata Ranty dengan nada tinggi.
Rizal menghentikan langkahnya. Dengan membelakangi Ranty, dia berkata, "Ranty, pertunangan kita hanya demi bisnis. Demi bisnis, tak lebih."
Ranty terkejut mendengarnya. Rizal berbalik dan menatap Ranty dengan tatapan tajam.
"Dan asal kamu tahu, aku tidak pernah mencintai wanita sombong sepertimu, Ranty. Aku masih memandang ayahmu yang begitu baik, tapi tidak denganmu. Maaf, jangan paksakan cintaku kepadamu," lanjutnya.
Rizal segera beranjak dari taman itu dan meninggalkan Ranty. Ranty berusaha mengejarnya, namun Rizal berjalan sangat cepat. Dia segera masuk ke mobilnya dan meninggalkanya. Ranty yang begitu marah langsung masuk ke mobilnya yang di parkir tak jauh dari mobil Rizal dan pergi meninggalkan taman itu.
__ADS_1