
Waktu terus merayap.Tanpa terasa hari mulai petang. Rizal melihat arlojinya.
"Eh, Nissa. Kayaknya hari mulai petang deh. Kita pulang, yuk," ajak Rizal.
Nissa menyetujui usulan Rizal. Mereka bangkit dari kursi taman itu dan melangkah keluar dari
taman.
Sementara itu, di lokasi lain di rumahnya Ranty mengurung diri di kamar. Dia menangis
di kamarnya. Di tengah tangisnya, dipandangnyai cermin meja rias di kamarnya
"Rizal, aku mencintaimu. Mengapa kau pilih wanita itu? Aku tak akan rela kau bersanding
dengan dia," katanya sambil memandang bayangannya di meja rias.
Ranty tersenyum menyeringai.
"Kamu sudah rebut Rizal dari aku. Baiklah, aku akan buat perhitungan denganmu!" lanjutnya.
Ranty mulai memikirkan sebuah rencana untuk merebut Rizal dari Nissa.
Malam harinya, Nissa begitu berseri-seri sambil memandangi wajahnya di meja rias. Wajahnya
begitu ceria sehabis menjalankan sholat isya. Sebuah doa dia lantunkan sambil menatap
cermin.
"Ya Allah, aku bersyukur atas anugrah yang kau berikan hari ini dan hari lainnya. Kau beri
cahaya di wajahku, dan kau beri aku keyakinan tuk jalani perintah-Mu." Nissa tersenyum
sejenak.
Dia kembali melantunkan sebuah doa.
"Ya Allah, jika kau berikan Rizal sebagai jodohku, persatukanlah kami. Amin ya robbal alamin," doanya dalam hati.
Nissa di kejutkan dengan suara hpnya. Dia buru-buru mengambilnya. Dan ternyata Rizal
menghubunginya. Dengan hati yang berbunga, Nissa menerimanya.
"Assalmu'alaikum, Rizal," kata Nissa mengucap salam.
"Wa'alaikum salam, Nissa," balas Rizal di balik telepon.
Sejenak, Rizal dan Nissa terdiam. Namun, Rizal membuka percakapan.
"Niss, tadi gak kehabisan waktu buat sholat maghrib? Soalnya aku khawatir kamu terlambat
sholat maghrib," kata Rizal melalui telepon.
Nissa tersenyum. Rasa sayangnya pada Rizal makin bertambah.
"Ya Allah, dia begitu khawatir aku tak menghadap-Mu," ujarnya dalam hati.
Nissa tersenyum mendengar kekhawatiran Rizal. Dengan senyum manis, dia menjawab telepon Rizal.
"Mas, Alhamdulillah tadi aku datang bertepatan waktu sholat maghrib. Syukurlah aku sholat
tepat waktu, Mas Rizal," balasnya melalui telepon.
Di seberang telepon, Rizal bernafas lega.
"Syukurlah, Nissa. Maafkan aku, Nissa yang hampir lupa waktu," kata Rizal.
Nissa begitu senang.
"Iya, Mas. Kalo Masnya sendiri bagaimana?" tanya Nissa.
Terdengar suara Rizal tertawa. Dia diam sejenak, lalu menjawabnya.
"Niss, aku terpaksa Qodho'. Tadi sampai rumah terlambat. Maghribnya habis," katanya dengan
nada malu.
__ADS_1
Nissa menggelengkan kepalanya. Namun, senyumnya tetap tersungging.
"Tuh, Mas. Mas sendiri akhirnya lupa. Tolong, Mas. Jangan diulangi. Rugi nanti kamu," kata
Nissa mengingatkan.
Rizal yang mendengar nasehat Nissa tersenyum sambil menahan malu.
"Iya, Nissa Sayang. Mas janji gak bakalan begitu," katanya.
Agak lama mereka saling bertelepon malam itu. Rizal menswitch ke video call. Malam itu,
mereka begitu berbahagia merajut tali cinta mereka.
Sementara itu, Syifa yang beru saja menghadiri acara pengajian tampak begitu berbunga-bunga. Rupanya, dia tengah jalan berdua dengan Izam yang kebetulan juga
menghadiri pengajian itu.
Sambil berjalan, mereka bercakap-cakap.
"Mas, tadi tausiyah pak ustadz bagus. Aku seneng dengernya," kata Syifa mencoba membuka percakapan dengan Izam.
Izam menanggapinya biasa saja. Selama ini, dia tak ada perasaan pada Syifa.
"Iya. Ceramahnya bagus. Tapi, omong-omong kamu sholatnya rajin gak?" tanya Izam sambil
tersenyum.
Syifa tersenyum menahan malu. Dia sadar, terkadang dia sholat ketika waktunya sudah hampir habis. Dengan wajah malu, Syifa
menjawab, "Uhm … Masih lubang-lubang sih."
Izam tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya.
"Syifa … Syifa. Ingat. Kamu itu berhijab. Selayaknya ibadah dan perbuatanmu harus lebih baik daripada wanita yang tak berhijab. Masak hijab hanya sebatas busana," kata Izam memberi nasehat pada Syifa.
Dengan wajah kemerahan menahan malu, Syifa hanya menunduk.
"Iya, Mas. Syifa janji setelah ini lebih rajin sholat," katanya sambil menundukkan wajahnya.
"Fa, sudahlah. Jangan begitu kepadaku. Malulah pada Allah SWT yang anugrahkan kesehatan dan kecantikanmu," kata Izam kembali menasehati Syifa.
Syifa hanya mengangguk sambil menunduk menahan malu.
"Berjanjilah kepada Allah SWT untuk lebih baik setelah malam ini, Fa," lanjutnya.
Tak terasa Syifa telah sampai di depan rumahnya. Dia pandangi Izam dengan senyum
manisnya.
"Iya, Mas Izam. Syifa janji akan berubah lebih baik. Terima kasih atas nasehatnya, Mas. Syifa
masuk dulu, ya," kata Syifa berpamitan.
"Iya, Fa. Aku mau pulang dulu," balas Izam.
Syifa mengangguk. Izam segera berjalan pulang ke rumahnya. Syifa yang begitu kagum pada Izam memandanginya dari jauh. Dia tersenyum manis, dan dia rasakan perasaan cinta dan sayangnya pada Izam semakin besar.
"Izam, nasehatmu seperti air surga di hatiku. Semoga kaulah pendampingku kelak, Izam," kata Syifa dalam hati.
Sejenak, dia terdiam di deoan halaman rumahnya. Ibunya yang ada do belakangnya menegur.
"Eeh, Syifa. Koq kamu melamun?" tanya Ibunya.
Syifa terkejut. Dia begitu kaget pundaknya di tepuk ibunya.
"Oh, … Eh … ng--nggak, Bu. " Syifa menatap ibunya dengan wajah kaget.
Ibunya tersenyum manis. Dia ajak Syifa masuk ke dalam rumah. Di kamarnya, Syifa kembali
melamunkan ucapan Izam. Dia sadar, selama ini kurang rajin ibadah.
"Ya Allah, berilah aku jalan untuk beribadah kepadamu, dan berilah aku kekuatan untuk selalu jalani perintahmu," kata Syifa dalam do'annya.
Dengan senyum merekah, dia pun akhirnya terlelap di kamarnya. Sementata itu, Vonny dan
__ADS_1
Dicky tengah berada di cafe milik Fahmi. Mereka tengah melepas rindu setelah beberapa tahun terpisah setelah lulus kuliah. Di tengah percakapan, Fahmi iseng bertanya soal Ranty yang tak mau diajak reuni.
"Loh, ****. Koq idaman loe belum dimari? Loe udah kabarin dia, kan?" tanyanya.
"Udah! Gua udah chat ribuan kali, nyatanya begini kan?" jawab Dicky.
Melihat Dicky yang tampak lesu, Vonny berusaha menghibur. Dia coba menghibur Dicky.
"****, mungkin Ranty tengah ada masalah. Sudahlah, ****. Kamu yang sabar," kata Vonny.
Dicky hanya diam berusaha menenangkan dirinya. Sejenak, mereka saling diam. Perlahan,
Dicky mulai tenang. Dia akhirnya menceritakan pertengkarannya dengan Ranty sore tadi.
"Itulah, Mi. Aku berusaha cegah dia supaya tak mengganggu hubungan orang. Tapi, rupanya
Ranty sudah begitu sayang," kata Dicky.
Fahmi terperanjat. Vonny keheranan dengan sikap Ranty.
"Dicky. Kamu serius?" tanya Vonny.
Dicky hanya mengangguk. Wajahnya tampak berusaha tersenyum di tengah sakit hatinya.
Vonny seperti tak menyangka akan tabiat Ranty.
"Uhm … koq tumben ya Ranty begitu bucin?" kata Vonny keheranan.
Fahmi menyentuh lembut pundak Dicky.
"Udah, ****. Sebaiknya kamu gak usah ikut campur," kata Fahmi.
"Tapi, Mi. Aku sayang sama Ranty," kata Dicky.
Fahmi menghela nafas panjangnya. Vonny yang tak menyangka jika Dicky mencintai Ranty
berusaha menghiburnya. Dia pegang lembut tangan Dicky.
"****, kamu tenanglah. Jangan paksain cintamu pada Ranty. Jika nanti Ranty jodohmu juga gak
bakalan kemana, ****," kata Vonny menenangkan Dicky.
Fahmi menimpali. Dengan senyum manisnya dia menguatkan Dicky.
"Tuh. Bener, ****. Sudahlah, kamu tetap aja anggap Ranty sahabatmu. Jika jodoh nanti Ranty pasti akan datang kepadamu. Nih, lihat. Daripada bengong, ayo kita ngopi aja. Siapa tahu nanti ada cewek cantik nyasar kemari," timpal Fahmi.
Vonny tertawa lepas dengan lelucon Fahmi. Dicky yang mulai tenang kembali tersenyum.
Keceriaannya muncul. Mereka pun kembali bercanda seolah tak ada masalah.
Hari berganti hari. Sudah seminggu Rizal menjalani hubungan cintanya dengan Nissa. Nissa begitu kagum akan kepribadian Rizal yang begitu lembut dan sangat berbakti pada orang tuanya kendati orang tuanya bersikap keras.
Sore itu, Rizal jalan berdua di sebuah mall. Mereka tampak membeli banyak makanan, dan
membagikannya pada orang-orang miskin dan anak jalanan. Tampak kebahagiaan di wajah
mereka berdua. Setelah selesai, mereka tampak duduk di sebuah taman.
"Mas, aku begitu bahagia dekat denganmu," kata Nissa.
Rizal tersenyum manis. Dia memegang lembut tangan Nissa.
"Nissa, aku mencintaimu karena Allah. Semoga kita berjodoh, Nissa," kata Rizal.
Nissa melihat jam tangannya. Rupanya sudah pukul lima sore.
"Mas, kita pulang, yuk. Nanti telat sholat mnghribnya," kata Nissa tersenyum manis
mengingatkan.
Rizal mengangguk. Dia menggandeng Nissa berjalan ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari
situ. Sementara itu, tanpa sepengetahuannya Ranty diam-diam mengikutinya. Dia mengamati
kebiasaan Rizal. Perasaannya cemburu melanda perasaanya.
__ADS_1
"Uhm, rupanya wanita itu bernama Nissa. Awas kamu," katanya dalam hati.