
Sore itu, Almira tengah mencari butik yang cocok untuk memesan baju pengantin. Dia berkeliling ke sana kemari, namun tak kunjung ada yang cocok.
Setelah lama mencari, sampailah dia di sebuah toko busana muslim yang di kelola oleh Nissa. Dia masuk ke sana, dan langsung di temui oleh pelayan butik.
“Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa di bantu?” tanya pelayan butik itu dengan nada ramah.
“Selamat sore, Uhm … saya mau lihat-lihat model busana muslim disini dulu, Mbak,” jawab Almira.
“Silahkan, Mbak. Mari, silahkan masuk,” kata pelayan butik dengan nada ramah.
Almira berjalan sambil di temani oleh pelayan butik. Dia tampak beberapa kali melihat sampel busana di situ. Beberapa kali Almira mengambil busana, dan mencocokkannya dengan seleranya. Dan setelah beberapa lama, Almira mengambil sebuah model busana yang berwana putih. Dia tampak senang dengan model itu. Almira langsung menyampaikan maksudnya.
“Mbak, saya mau pesan busana untuk acara pernikahan saya untuk minggu depan. Saya mau pesan beberapa busana,” kata Almira menyampaikan maksudnya.
“Baik, Mbak. Tunggu di sini sebentar,” kata pelayan itu.
Almira hanya mengangguk Pelayan itu segera memanggil Nissa. Dan, tak lama kemudian Nissa muncul. Almira langsung menjelaskan model dan warna busana yang hendak dia pesan. Nissa yang memiliki desain busana itu langsung melakukan pengukuran pada Almira. Dia tunjukkan desain yang dia miliki. Almira begitu senang dengan desain pakaian Nissa.
“Mbak, saya hubungi pacar saya dulu,” kata Almira.
Nissa hanya tersenyum dan mengangguk. Almira menghubungi Said. Tak lama dia menelepon. Setelah selesai menelepon, Almira mendatangi NIssa.
“Mbak, orangnya mau kesini sebentar lagi. Di tunggu ya,” kata Almira.
“Iya, Mbak,” jawab Nissa singkat.
Tak lama kemudian, Said datang ke butik itu. Almira menemuinya.
“Mas, ayo kita ukur pakaian pengantin kita,” ajak Almira.
Said mengangguk. Bersama Almira, mereka menemui Nissa. Said begitu terkejut melihat NIssa yang telah menunggunya.
“Loh, Mbak?” kata Said terkejut.
Nissa begitu kaget melihat Said. Dia teringat dengan seorang pria yang menyelamatkannya ketika Ranty hampir menabraknya.
“Mas? Jadi, masnya mau nikah sama dia?” kata Nissa terkejut.
“Iya,” kata Said singkat.
“Ya udah. Yuk kita mulai pengukurannya. Supaya segera di proses,” kata Nissa.
Nissa segera mengukur. Dia tampak mencatat ukuran badan Said dengan teliti, dan mencatatnya di sebuah note. Setelah selesai, Nissa menunjukkan katalog rancangan busana pria yang dia punya.
Sesekali Nissa memberikan masukan kepada Almira dan Said.
“Kalo untuk pria dengan model ini, sepertinya lebih serasi jika pakaian wanitanya di desain begini. Bagaimana?” tanya Nissa pada Said dan Almira.
Mereka berdua berfikir sesaat. Tampak Said dan Almira saling berbisik sambil melihat rancangan Almira. Setelah sekian lama, Almira dan Said sepakat untuk menerima saran Nissa.
Setelah hari makin sore, Almira dan Said langsung pamit pulang. Sepeninggal mereka, Nissa segera mengerjakan pesanan Almira dan Said.
Sementara itu, di tengah perjalanan pulang, Almira bertanya pada Said. Rupanya dia memperhatikan keterkejutan calon suaminya.
“Mas, kamu kenal sama mbak yang tadi?” tanya Almira.
“Uhm, gak sengaja sih. Waktu itu, aku nyelametin tuh cewek yang nyaris di tabrak ama cewek songong calonnya kakakmu, Mira,” kata Said sambil menyetir mobilnya.
Almira terkejut mendengar ucapan Said. Dia tampak keheranan.
“Ah, yang bener loe. Bukan boong kan?” tanya Almira.
“Mira, demi Allah. Tuh cewek sempet ngira gua pacaran ama dia. Lha pacaran darimana? Kenal aja belum. Gua gedek ama tuh cewek. Dan, gua juga heran ama bokap loe. Koq bisa-bisanya ngejodohin kakak loe ama tuh cewek,” kata Said meyakinkan Almira.
Said menceritakan kejadian itu. Dia ceritakan bagaimana sikap Ranty yang sama sekali tak ada empaty ataupun perasaan bersalah pada Nissa, hingga timbul pertengkaran di depan tempat kerjanya Nissa. Almira hanya menggelengkan kepalanya setelah mengetahui tabiat buruk Ranty dari Said.
“Kasihan kakakku. Koq bisa ya papa milih cewek nekat begitu?” kata Almira keheranan.
“Nah itu dia, Mira. Aku awalnya terkejut ketika diundang sama papamu syukuran. Kirain, papamu ngejodohin kakakmu ama cewek yang atasnya dikit lah. Begitu tahu dia calon kakakmu, aku jadi gak habis pikir. Emang, kenapa harus dia?” kata Said sambil menggelengkan kepalanya.
Almira terdiam. Dan tak lama kemudian, mereka tiba di rumah Almira. Said tak berlama-lama, karena mulai hari itu Almira harus dipingit sebelum menikah minggu depannya.
__ADS_1
Di lokasi yang berbeda, Rizal yang baru saja pulang kerja mengunjungi tempat kerja Ranty. Dia menyiapkan sebuah kejutan. Ranty yang begitu suntuk terkejut melihat Rizal yang telah
menuggunya di ruang resepsionis.
Dia temui Ranty dengan senyum manisnya.
“Ranty, kita jalan-jalan, yuk,” ajak Rizal.
Ranty terdiam sejenak. Dalam hatinya, dia merasa bersalah pada Rizal. Dia menyesali kebodohanya.
“Rizal, maafkan aku tadi siang,” katanya dalam hati.
Rizal menatap Ranty yang termenung. Dia tersenyum manis kepadanya.
“Ranty, kamu kenapa? Koq tampak sedih gitu?” tanya Rizal.
“Uhm … Ng—Nggak, Say. Aku hanya penat setelah seharian bekerja,” kata Ranty berusaha menutupi perasaan bersalahnya dia.
“Ya udah, yuk kita jalan-jalan,” ajak Rizal sambil menggandeng mesra tangan Ranty. Ranty tersenyum bahagia. Mereka berdua pergi ke parkiran mobil, dan segera meluncur ke sebuah restoran seafood. Sesampainya di sana, mereka langsung duduk satu meja. Setelah
memesan makanan, Rizal menggenggam erat tangan Ranty.
“Ini sebagai gantinya acara makan siang tadi, Ranty. Uhm, bagaimana tadi meetingnya?” tanya Rizal tanpa rasa curiga.
“Uhm … Baik. Meeting tadi berjalan lancar,” kata Ranty berusaha menutupi kebohongannya.
“Alhamdulillah,” balas Rial dengan senyum manisnya.
Tak lama kemudian. Datanglah hidangan yang di pesan mereka. Pelayan itu menghidangkan pesanan mereka di meja. Rizal tersenyum memberi kode pada pelayan itu. Rupanya, Rizal
menyiapkan sebuah kejutan untuk Ranty.
“Mbak, ini ada kiriman dari seseorang untuk mbak,” kata pelayan itu memberikan sebuah amplop pada Ranty. Ranty tersenyum keheranan.
Dia menerima amplop itu.
“Terima kasih, Mas,” kata Ranty dengan senyum manis.
Pelayan itu langsung pergi meninggalkan Ranty dan Rizal. Ranty yang penasaran membuka amplop itu. dan, alangkah terkejutnya dia. Ternyata amplop itu berisi kartu undangan pernikahan Almira, dan sebuah kalung yang indah.
Rizal tersenyum manis. Dia pandangi Ranty dan memegang tangannya.
“Ranty, aku berusaha mencintaimu. Namun, demi membahagiakan ayah dan ibuku, aku memutuskan untuk menikahimu secepatnya setelah Almira, adikku menikah. Dan, mereka menikah minggu depan, Ranty,” kata Rizal menjelaskan.
Ranty tersenyum manis. Dia begitu bahagia. Rizal segera bangkit dan memasangkan kalung emas di leher Ranty.
“Bagaimana, Ranty. Semoga kau suka dengan kalung ini,” kata Rizal sambil menyalakan kamera depan di hpnya.
Dia arahkan kamera itu di depan wajah Ranty. Ranty memandangi kalung itu dengan senyum manis. Dia begitu menyukai hadiah dari Rizal.
“Sayang, terima kasih dengan berita yang baik ini. Aku begitu bahagia. Dan, kalung ini begitu indah. Aku sangat menyukainya,” kata Ranty dengan senyum manisnya.
Rizal kembali ke tempat duduknya, dan mengajak Ranty menikmati hidangan itu. Ranty menunjukkan keromantisannya sambil menikmati hidangan itu.
Malam harinya, di sebuah sudut jalan, Dicky berjalan bersama Vonny. Sambil membeli hidangan di sebuah warteg, mereka terlibat dalam sebuah perbincangan.
“Dick, sejak gua putus dari Alvin, gua sebenarnya ngerasa kesepian. Kadang, gua hilang semangat,” kata Vonny yang curhat pada Dicky.
“Ya elah, Von. Kayak loe aja yang kesepian sendiri. Gua pernah ngerasain hal yang sama sewaktu Ranty milih cowok lain. Tapi gua ada solusi supaya gak kesepian,” kata Dicky.
Vonny keheranan. Dia mengernyitkan dahinya.
“Solusi? Emang apa solusi loe?” tanya Vonny.
“Uhm, solusinya … ngegebet loe,” kata Dicky sambil tertawa.
Vonny terkejut. Dia sebenarnya merasa tersanjung, namun dia berusaha menutupi perasaannya. Vonny menampakkan ekspresi penasarannya.
“Loh, ngegebet gua? Nah loh, koq bisa?” tanya Vonny.
“Bisa dong. Kan kita sama kesepian. Kita sama dikhianati. Ya udah, kita saling isi saja,” kata Dicky dengan nada tenang.
__ADS_1
Vonny sejenak terdiam. Dia rasakan getar-getar cintanya pada Dicky makin kuat, namun Vonny berusaha memendamnya. Mereka berdua saling diam.
Tampaknya mereka tengah larut
menikmati makan malamnya.
Ketika menikmati hidangan itu, Dicky melihat Ranty yang tengah bermesraan dengan Rizal.
Mereka bergandengan tangan, dan sesekali tampak Ranty menggelayut manja di lengan Rizal. Dicky merasa terbakar cemburu. Dia hendak bangkit dari duduknya.
“Dick, sudahlah. Relakan Ranty,” kata Vonny.
Dicky sejenak menatap Vonny. Dia hanya diam.
“Dicky, sudahlah. Terimalah kenyataan. Biarlah Ranty menjadi masa lalumu. Kamu harus bangkit,” kata Vonny.
“Von, aku masih mencintai dia. Biarkan aku perjuangkan cintaku, Von. Please … , mengertilah,” kata Dicky dengan nada tinggi.
Vonny terdiam sejenak. Rupanya ucapan Dicky menyinggung perasannya. Tampak raut wajah kekecewaannya. Dia lepaskan pegangannya, dan hanya diam dengan mata yang berkaca.
Dicky yang merasakan kesedihan Vonny akhirnya mengurungkan niatnya.
“Von, maafkan aku,” kata Dicky sambil menatap wajah Vonny.
Vonny hanya diam. Dicky hendak memegang tangannya, namun Vonny menepiskannya.
“Dicky, ayo kejar dia! Kejar cintamu, tak usah perdulikan aku. Biarkan saja aku sendiri. Atau, sekalian buat aku sebagai pelarianmu, supaya kamu puas!” bentak Vonny.
Dicky terkejut. Dilihatnya Vonyy mulai meneteskan air mata. Raut wajah kecemburuannya tampak.
“Von, aku benar-benar minta maaf. Aku tadi khilaf,” kata Dicky.
Vonny bangkit dari duduknya. Dia segera membayar hidangan yang mereka pesan dan berjalan meninggalkan Dicky. Dicky yang merasa menyesal buru-buru menyusul Vonny. Dia pegangi tangannya.
“Vonny, please. Tadi aku khilaf. Maafkan aku,” pinta Dicky.
Vonny menghentikan langkahnya. Dia membelakangi Dicky. Sambil menyeka air matanya, Vonny berusaha menenangkan dirinya.
“Dicky! Apa kamu tak tahu perasaanku? Aku tak rela kamu di sakiti Ranty untuk yang kedua kalinya. Kamu tahu kenapa? Karena aku sayang kamu,” kata Vonny dengan nada tinggi.
Vonny menghela nafasnya. Dia berbalik menatap Dicky.
“Dicky, aku serius menyayangimu. Mungkin, kau pikir aku hanya menganggpmu sebagai
pelarian setelah aku putus dari Alvin. Aku sadari, aku tak secantik Ranty. Tapi, aku tulus mencintaimu, ****,” lanjutnya sambil menyeka air matanya.
Dicky tertegun. Dia terdiam sejenak. Dicky menfekati Vonny yang masih tampak menangis. Dia pegangi kedua tangannya dengan lembut.
“Vonny, baiklah. Aku mengerti. Maafkan aku yang telalu di butakan oleh cinta. Terima kasih kamu sudah mencintaiku,” kata Dicky dengan lembut.
Vonny mulai tenang. Perlahan, dia mulai tersenyum walau ada sisa air mata yang menetes di pipinya. Dicky memegang lembut pipi kiri Vonny.
“Baik, Von. Aku mungkin butuh waktu untuk benar-benar mencintaimu, tapi ijinkan aku untuk bahagiakan kamu. Please … ,” pinta Dicky.
Vonny tersenyum bahagia. “Iya, ****. Aku ijinkan kamu hadir dalam hatiku.”
Dicky mengambil sesuatu dalam sakunya. Dia berikan pada Vonny. Namun, Vonny tak mengerti dengan maksud Dicky memberinya uang logam pecahan seribu rupiah itu.
“Loh, ****. Ini maksudnya apa?” tanya Vonny.
Dicky menutup telapak tangan Vonny. Vonny makin dibuat keheranan.
“Prok …prok … prok, uang jadi kain,” kata Dicky menirukan Pak Tarno.
Dicky membuka tangan Vonny, namun tak ada perubahan. Vonny keheranan.
“Loh, koq koinnya tetap?” tanya Vonny keheranan.
Dicky berfikir sejenak. Dia ambil koin itu dan membeli sekuntum Bunga untuk Vonny.
“Nah, ini baru berubah,” kata Dicky tersenyum manis sambil memberikan bunga itu pada Vonny.
__ADS_1
Vonny tersenyum menerima bunga pemberian Dicky. Dia memeluk Dicky erat-erat tanpa memperdulikan orang yang memandangnya.
“Terima kasih sudah mampir dihatiku, Dicky. Aku bahaiga sekali mala mini,” bisiknya sambil memeluk erat Dicky.