Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Belenggu Cinta


__ADS_3

Mereka baru berjalan beberapa langkah, dan bertemu dengan Hasan, ayahnya Almira. Hasan yang melihat putrinya berjalan dengan pria langsung menghadangnya.


"Mira! Apa yang kamu lakukan disini?! Bukannya kuliah, malah pacaran!" bentak ayahnya.


Almira terkejut. Dia tak menduga ayahnya ada di sana.


"Pa. Kita gak pacaran. Mira mohon, percaya sama Mira," kata Mira menghiba.


Hasan yang sudah murka langsung menampar pipi kanan Almira dengan keras. PLAK!!


"Diam kamu! Biar papa bicara sama pria itu," bentak Hasan.


Tamparan itu begitu keras, sehingga menimbulkan bekas merah di pipi kanan Almira. Almira merasakan panas di pipinya. Selain sakit karena tamparan ayahnya, sakit sekali rasanya di


permalukan di depan umum.


Hasan memandangi Rahmat yang bersamanya. Dia menatapnya dengan tajam.


"Kamu pacaran dengan anakku?!" tanya Ayahnya sambil menatap tajam Rahmat.


Rahmat terdiam. Hasan yang begitu murka mendekatinya, dan mengengkram keras kerah baju


Rahmat.


"Heh! Jawab! Kamu pacaran dengan anak saya?!" bentaknya.


Rahmat berusaha tenang.


"Om, maaf. Saya dan Mira berteman. Kita kebetulan sekelas. Saat ini jam kosong …," kata Rahmat berusaha bersabar.


Hasan menatap tajam Rahmat, dan memperingatkan dengan keras.


"Oke! Kali ini aku memoercayai kamu. Jangam harap kamu pacaran dengan Mira. Dia gak pantas buat pemuda kayak kamu!" bentaknya sambil melepas cengkramannya.


Hasan kembali memandangi Almira dengam tajam. Almira begitu gugup. Keringat dingin menetes membasahi hijabnya.


"Mira! Jangan sekali-kali kamu dekati dia. Ingat! Mulai sekarang, kamu akan Papa antar jemput.Sekarang juga, ayo ikut papa!" bentaknya sambil menarik paksa Almira.


Almira hanya diam. Air matanya menetes menahan perih di pipi kanannya. Sejenak, dia pandangi Rahmat sebelum akhirnya masuk ke mobil ayahnya. Mobil itu segera berlalu.


"Uhft! Keras banget ayahnya Mira," katanya dalam hati.


Dengan langkah lunglai, Rahmat memacu motornya kembali ke kampus.


Setibanya di kampus, dia tak melihat Almira. Rahmat segera masuk ke kelasnya.


Sementara itu, Hasan yang bersama Almira sedang makan siang bersama seorang relasinya yang bernama Pak Irsyad.


"Pak Hasan, senang bertemu anda," kata Pak Irsyad.


Hasan tersenyum ramah. Dia memperkenalkan putrinya, Almira. Sejak pertama melihat Almira, Pak Irsyad seperti menaruh perasaan kepadanya. Dia pandangi Almira dengan perasaan kagum.


"Pak Hasan, putri anda cantik sekali," kata Pak Irsyad yang taj henti-hentinya memandangi


Almira.


Almira yang di pandangi Irsyad merasa risih.


"Oh, bapak ini. Bisa saja memuji," kata Hasan tersenyum manis.


Irsyad adalah pria berusia lima puluhan. Dia punya seorang anak laki-laki yang ingin dia jodohkan.


Irsyad mempersilahkan Hasan dan Almira duduk. Sambil menunggu pesanan tiba, Irsyad tak henti-hentinya memandangi Almira.


Kekagumannya pada kecantikan Almira membuat Irsyad akhirnya menyampaikan


keinginannya.


"Pak Hasan. Anak anda cantik sekali. Aku berniat menjodohkannya dengan anak keduaku yang bernama Said," kata Irsyad.


Hasan terdiam sejenak. Dia mengingat-ingat tentang Said.

__ADS_1


"Said, yang berbisnis kain itu?" tanya Hasan.


"Iya, Dia sudah waktunya menikah. Bagaimana jika dia menikah dengan Almira?" tanya Irsyad.


Hasan tersenyum simpul. Dia seolah setuju untuk menjodohkan Almira dengan Said, anak dari Irsyad.


"Uhm ... ide bagus. Saya setuju," kata Hasan.


Bak di sambar geledek, Almira tak kuasa menahan kesedihannya. Dia segera berlari ke toilet dan menangis sejadinya. Hasan berniat mengejarnya, namun di cegah oleh Irsyad.


"Pak Hasan, sudah. Biarkan dia," kata Irsyad.


Hasan hanya diam. Dan tak lama kemudian, makan siangpun tiba. Mereka melahap makan siangnya. Setelah beberapa saat, Almira kembali ke sebelah ayahnya, namun hanya diam.


"Mira, silahkan dinikmati makan siangnya," kata Pak Irsyad dengan senyum ramahnya.


Almira berusaha tersenyum. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Hasan yang merasa tersinggung dengan sikap Almira mencubit tangannya.


Dia pandangi Almira sambil berbisik, "Hei, mana sopan santunmu? Dasar anak tak tahu diuntung!"


Almira hanya menunduk menahan perih cubitan ayahnya. Akhirnya, demi menyenangkan ayahnya, Almira menyentuh makan siangnya. Dia hanya makan sedikit seolah hilang nafsu


makan.


Tepat setelah makan siang selesai, Hasan mengantar Almira ke kampus. Tepat sebelum pembelajaran dimulai, Almira tiba di kampus. Dengan langkah lunglai berjalan ke kelasnya.


Salma, teman akrabnya yang melihat kesedihan di wajah Almira menyapanya.


"Mira, kamu kenapa? Koq pipimu merah bener?" tanya Salma.


Almira diam sejenak. Dia paksakan senyum di wajahnya.


"Uhm … Ng--nggak. Aku nggak apa-apa," katanya dengan gugup.


Dia berusaha menyembunyikan masalahnya. Salma memandangi Almira dengan tajam. Dia pegangi tangan Almira dan di singkapnya lengan bajunya.


"Ya Tuhan!" Salma menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan kanannya.


"Mira, kamu koq sampai begini?" tanya Salma keheranan sekaligus sedih.


Almira tak kuasa menahan perasaan sedihnya. Karena dadanya begitu sesak, Almira akhirnya menangis di depan Salma.


"Aku ketahuan papa jalan sama Rahmat," kata Almira di tengah tangisnya.


Salma heran.


"Lalu? Koq sampai biru-biru gitu tanganmu?" tanya Salma.


Almira akhirnya menceritakan tabiat ayahnya yang keras. Dia ceritakan apa yang dia alami di rumah sehingga membuatnya tak betah di rumah.


"Ibu dan kakakku juga sering di pukuli Papa," kata Almira di tengah ceritanya.


Salma hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar cerita Almira. Almira dim sejenak. Dia berusaha menenangkan perasaannya.


"Salma, aku begitu sayang pada Rahmat. Tapi, Papa malah menjodohkan aku dengan anak relasi papa," kata Almira.


Tangisnya kembali pecah. Salma hanya diam. Dia peluk sahabatnya dan membelai lembut


kepala Almira.


"Sudah, Mir. Kamu tenang. Rahmat orang yang baik. Kamu yang sabar, Mir." Salma membelai lembut kepala Almira, dan mengusap punggungnya.


Air matanya ikut berlinang mendengar kesedihan sahabatnya.


"Mir, aku doakan semoga Papamu sadar akan perbuatannya. Percayalah, Mir. Jodoh dan maut itu di tangan Allah SWT. Kalau Rahmat memang jodohmu, dia akan bersatu denganmu. Percayalah," kata Salma.


Perlahan, Almira mulai tenang. Dia seka air matanya. Dia paksakan senyumnya pada Salma.


"Salma, terima kasih kamu mau dengar ceritaku," kata Almira.


Salma hanya tersenyum manis. Dia genggam lembut tangan Almira.

__ADS_1


"Sudah, Mir. Kita bersiap ikuti mata kuliah. Jangan patah semangat," kata Salma menyemangati Almira.


Almira tersenyum. Akhirnya para siswa masuk ke kelas, dan pelajaran pun di mulai.


Ketika pelajaran di mulai, Almira berusaha keras untuk fokus. Perkataan ayahnya tadi siang sedikit mengganggu konsentrasinya, namun akhirnya Almira mampu mengatasinya.


Perlahan, Almira mulai fokus pada pendidikannya. Tak terasa waktu telah sore. Kuliah telah berakhir. Almira buru-buru pulang. Ketika tengah berjalan pulang, Rahmat yang melihatnya mengejar Almira.


"Mira, tunggu." Rahmat berlarian mengejar Almira.


Almira hanya diam menahan kesedihannya. Dia tak sampai hati mengatakan keinginan ayahnya untuk menjodohkannya.


"Mira, maaf tadi gara-gara aku akhirnya kamu kena marah ayahmu," kata Rahmat.


"Rahmat, sudah. Aku gak mau bahas itu lagi. Maaf, Rahmat. Biarkan aku sendiri," kata Almira sambil berjalan meninggalkan Rahmat.


Rahmat hanya diam melihat perubahan sikap Almira. Dia hanya memandangi Almira yang berjalan menjauhinya. Dan, tak lama kemudian, sebuah mobil datang. Ayahnya menjemput Almira di kampus.


Sore itu, Dicky tengah berada di showroom mobil miliknya. Dia tengah sibuk mengecek laporan penjualan mobilnya.


"Uhm … penjualan bulan ini bagus," bathinnya.


Ketika tengah bekerja, Ranty mengirim sebuah pesan pada Dicky. Dicky yang mendengar bunyi di hpnya segera mengambilnya. Dilihatnya ada sebuah pesan masuk.


Dia buka pesan itu, dan ternyata Ranty mengajaknya ketemuan.


"Ranty ngajak ketemuan?" bathinnya dengn hati berbunga-bunga.


Dicky yang telah lama menyimpan perasaannya begitu gembira. Dia segera selesaikan pekerjaannya dan bersiap pulang. Sesampainya di rumah, dia buru-buru mandi, dan langsung pergi menuju ke tempat yang di setujui.


Tak lama kemudian, tibalah Dicky di sebuah cafe. Di sana, dia lihat Ranty duduk sendiri. Dicky langsung mendekatinya.


"Eh, Ranty. Koq bengong?" tanya Dicky.


"Oh, uhm … aku pingin … ngomong," kata Ranty dengan nada gugup.


Pandangannya tengah tertuju di suatu tempat. Dicky keheranan melihat Ranty yang seolah tak menghiraukannya. Dicky mengamati pandangan Ranty, dan ternyata tertuju pada sebuah meja di mana Rizal tengah duduk berdua dengan Nissa.


Ada rasa cemburu di hati Dicky.


"Ranty, ... halo ... kamu koq bengong?" kata Dicky menahan rasa cemburu.


Ranty seperti tersadar. Lamunannya buyar. Dia segera fokus.


"Oh. Maaf, ****. Aku lagi galau," kata Ranty.


Dicky berusaha tenang. Dia tahu Ranty tengah melirik Rizal yang tengah berdua dengan Nissa.


Dalam hatinya, Dicky berkata, "Ranty, aku yang mencintaimu ada di sini. Nagapaim kamu kerjar dia yang berbahagia dengan wanita lain?"


Ranty yang telah tenang akhirnya mulai menceritakan perasaannya pada Rizal.


"****, jujur. Aku saat ini ngerasa jatuh cinta. Aku sangat-sangat menyayangi cowok itu," kata Ranty mulai bercerita.


Dicky nendengarkan cerita Ranty dengan rasa kurang suka. Dia pandangi Rizal yang tengah


dekat dengan Nissa.


"Ranty, kalau kamu mencintai dia, mengapa tak kau biarkan dia bersama wanita yang dia pilih?"


tanya Dicky.


Ranty menatap Dicky dengan wajah keheranan.


"****, kamu jadi cowok koq lembek bemer? Cinta itu musti di perjuangin. Koq kamu gak dukung aku sih?" balas Ranty dengan nada tinggi.


Dicky berusaha bersabar. Dia berusaha tersenyum pada Ranty.


"Ranty. Memperjuangkan cinta itu bukan dengan cara menyakiti orang lain. Sudahlah, Ranty. Biarkan Rizal bahagia dengan wanita pilihannya," kata Dicky berusaha menasehati Ranty.


Ranty terdiam. Dia seolah tak dapat menjawab perkataan Dicky. Tak berapa lama kemudian, tampak Rizal dan Nissa tengah keluar dari cafe itu.

__ADS_1


__ADS_2