
Malam harinya, Almira tengah merenungi kejadian siang itu. Dia diam memandangi wajahnya di cermin rias yang ada di kamarnya. Wajahnya begitu sedih, dan tampak bekas tangisnya. Matanya sembab.
"Ya Allah, berilah aku petunjuk-Mu menghadapi ini semua. Aku mencintai Rahmat karena-Mu. Tapi, Ayahku tak setuju," katanya dalam hati.
Airmata kembali menetes di pipinya.
"Ya Allah, hamba begitu penat dengan sikap Papa yang begitu keras. Berilah hamba petunjuk-Mu, Ya Allah …. " Almira berusaha mengusap air matanya.
Terdengar pintu di ketuk. "Mira! Ada Said di depan. Temui dia sekarang!" perintah ayahnya di balik pintu.
Almira hanya diam. Dia berusaha menyeka air matanya, dan segera beranjak keluar kamar.
Sesaat, dengan menahan emosi, dilihatnya wajah Hasan dengan perasaan hancur. Tanpa berkata-kata, Almira berjalan menemui Said yang sedang ada di ruang tamu.
Almira dan Hasan berjalan ke ruang tamu. Sesampainya di sana, tampak seorang pemuda tampan yang tersenyum manis. Dia begitu sopan.
"Nak Said, ini Almira, putri bungsu bapak. Silahkan kalian ngobrol, bapak tinggal ke dalam," kata Hasan dengan nada ramah.
Said tersenyum manis.
"Iya, Om," jawabnya singkat.
Tanpa bicara, Almira duduk di ruang tamu. Hasan yang tersenyum puas meninggalkan Almira berdua dengan Said.
Sepeninggal Hasan, suasana di ruang tamu begitu dingin. Rupanya, diam-diam Said juga merasa tak menikmati
suasana itu. Dia begitu kikuk.
"Ehem … uhm … Mira. Malam ini, koq rasanya begitu dingin," kata Said mencoba membuka percakapan.
Almira hanya diam memandangi Said. Dia berusaha tersenyum kepadanya. Said yang merasa kikuk kembali terdiam. Dan, tak lama kemudian Farida, ibunya Almira datang membawa sajian untuk tamu. Dia keheranan melihat Said yang begitu kikuk.
"Nak Said, silahkan menikmati suguhan yang sederhana ini," kata Farida dengan nada ramah.
Said yang lamunannya buyar berusaha bersikap ramah.
"Oh, Eh … I--Iya, Tante," katanya gugup.
Farida keheranan melihat Said yang begitu gugup. Iseng dia bertanya.
"Nak Said, kamu kenapa? Koq begitu gugup?" tanya Farida.
Said tiba-tiba merasakan perutnya begitu mulas. Wajahnya pucat, dan keringat dingin bercucuran. Entah mengapa dia merasa seperti sakit perut.
"Ma--Maaf, Tante. Kenapa … kenapa tiba-tiba perut saya sakit. Aduh … duh … Tante … gak tahan nih … ," katanya memegangi perutnya.
Farida makin keheranan. "Loh, Nak Said. Kamu sakit?"
Said merasa begitu ingin buang air. Entah bagaimana ceritanya dia tiba-tiba sakit perut.
"Tante, maaf nih. Saya bisa pinjam toiletnya? Saya udah gak tahan," kata Said memegangi perutnya.
Dalam hati, Farida berkata, "Waduh, kasihan sekali dia."
Farida langsung mengantarkan Said yang sakit perut ke kamar mandi tamu. Ketika Said ke belakang, Almira sedikit berusaha menahan tawa.
"Yah, kenapa dia sakit perut?" katanya dalam hati menahan tawa.
Bersamaan dengan itu, Rizal yang baru datang melihat Almira sedikit menahan tawa. Dia menghampirinya.
"Dek, koq kamu kelihatan menahan tawa gitu," kata Rizal.
__ADS_1
Almira menatap Rizal. Tawanya pun meledak. Rizal keheranan.
"Loh, Mira. Koq ketawa?" tanyanya keheranan.
Rizal.mengamati meja tamu. Dilihatnya ada suguhan, dan handphone milik Said di meja.
"Loh … ini tamunya kemana, Dik?" tanya Rizal keheranan.
Dengan tawanya, Almira menjawab perkataan Rizal.
"Kak, tamunya lagi di kamar mandi. Dia sakit perut," jawab Almira.
"Apa?! Sakit perut?!" Rizal menatap Alimira dengn wajah keheranan.
Dan, tak lama kemudian, tampak Said yang baru dari kamar mandi. Wajahnya begitu pucat. Dengan nada ramah, dia menyapa Rizal.
"Maaf, Kak. Tadi saya kepaksa pinjam toiletnya," kata Said pada Rizal.
"Uhm … gak apa-apa. Silahkan di lanjut ngobrolnya, saya mau ke dalam sebentar," katanya pada Said.
Said mengangguk. Dia kembali duduk di ruang tamu, sementara Rizal.langsung berjalan masuk ke kamarnya.
Sepeninggal Rizal, Almira yang baru saja tertawa memandangi Said dengan
senyumnya. Namun, Said kembali gugup.
"Mira. Maaf, tadi entah kenapa koq tiba-tiba aku gak enak badan," katanya.
Almira hanya mengangguk dan tersenyum. Said yang merasa tak nyaman akhirnya buru-buru
pamit untuk pulang.
Almira mengangguk. Dia berjalan menemui ayahnya. Dan tak berapa lama kemudian, Hasan menemui Said.
"Om, saya permisi pulang dulu. Kayaknya hari ini saya gak fit. Saya mungkin kelelahan," kata Said.
Hasan tersenyum ramah. "Ya sudah, Nak. Kamu istirahat dulu. Nanti kalo udah sehat, silahkan datang lagi."
Said bersalaman dengan Hasan sebelum akhirnya dia pergi. Di dalam kamarnya, Almira tak henti-hentinya tertawa. Dia teringat ekspresi lucu Said ketika sakit perut.
Di sebuah cafe, Dicky tengah termenung sendirian. Wajahnya sedikit sedih. Dia tengah meminum kopi di depannya. Fahmi yang melihat Dicky seorang diri menghampirinya.
"****, kenape loe? Koq mukanya di tekuk gitu?" tanya Fahmi.
Dicky terkejut. Dia berusaha terenyum menatap Fahmi di depannya.
"Gak apa-apa, Mi. Gua cuman mau sendiri aja," kata Dicky.
Fahmi tersenyum.
"Bhro, jangan ngelamun. Gak baik. Mending kamu ceritain deh apa yang ngebebani kamu. Siapa tahu, aku bisa bantu," kata Fahmi.
Dicky terdiam. Dia kembali meminum kopinya. Di ambilnya sebatang rokok, dan menyalakannya. Dia menghisapnya dalam dalam, dan menghembuskannya.
"Fahmi, aku bingung bagaimana ungkapin perasaanku ke Ranty. Aku menyayanginya, hanya saja aku tak mampu mengatakanya," kata Dicky.
Dicky menceritakan semua perasaannya. Fahmy mendengarkan ucapan Dicky. Dia lihat, Dicky begitu sedih setelah mengetahui ternyata Ranty justru memilih pria lain.
"Yah. Namanya perasaan. Kita gak bisa paksain cinta, ****. Sudahlah, kamu cari wanita lain saja," kata Fahmi menenangkan.
Dicky menghela nafasnya. "Entahlah, Mi. Aku terlalu sayang sama Ranty. Apa bisa aku move on dari dia?"
__ADS_1
Fahmi menepuk lembut pundak Dicky. Dia tenangkan sahabatnya.
"Dicky, di coba saja. Semoga berhasil. Ada banyak cara buat move on, ****," kata Fahmi.
Dicky mulai tersenyum. Malam itu, Dia menikmati kopi itu sambil bercakap-cakap dengan sahabatnya. Sesekali terdengar canda tawa karena kelucuan Fahmi.
Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah sebulan berlalu. Sebulan sudah pertemanan Rizal dan Nissa. Dari pertemanan itu, muncul benih-benih cinta diantara keduanya. Hari itu, Rizal
bertekad untuk menyatakan perasaan cintanya pada Nissa.
Sementara itu, setelah sebulan mencoba menjalani perjodohan, Said tiba-tiba mengajak Almira ketemuan di sebuah cafe. Setelah tiba di cafe tersebut, Almira langsung duduk di depan Said.
"Almira, ada hal yang mau aku omongin sama kamu," kata Said.
Almira keheranan melihat raut wajah Said yang begitu tegang. Dalam hati, Almira bertanya-tanya. Said melanjutkan pembicaraannya.
"Mira, sejujurnya aku tak ingin perjodohan ini. Aku begitu tak nyaman jalani ini," kata Said dengan wajah seolah tertekan.
Said menghela nafasnya. Dia memegang lembut tangan Almira.
"Mira, aku tahu kamu ada rasa dengan Rahmat. Aku tahu kamu diam-diam jalani hubungan dengan Rahmat," kata Said.
Deg!! Almira tersentak. Dia begitu merasa bersalah. Matanya berkaca.
"Said, aku minta maaf. Aku … aku lakukan itu karena aku tak suka perjodohan ini. Maafkan aku, Said. Kamu … ." Perkataan Almira di putus Said.
"Almira, aku tak merasa marah ataupun cemburu pada hubunganmu dan Rahmat. Kamu tak perlu minta maaf, Mira. Aku justru ingin akhiri ini semua. Tapi, aku bingung bagaimana caranya," kata Said.
Said kembali menghela nafasnya. Dia teguk minuman di depannya. Sejenak, doa pejamkam matanya dan menghela nafas panjang.
"Almira, aku tak menghalangi hubunganmu dengan Rahmat. Dia pemuda yang baik. Aku sendiri
sebenarnya diam-diam kembali dengan Hajar, kekasihku yang kala itu pernah putus. Jadi, kita impas kan?" kata Said.
Almira sempat terkejut. Dia tak menyangka, Said ternyata mengalami perasaan yang sama.
Akhirnya, mereka sepakat untuk menjalani perjodohan itu dengan kepura-puraan demi menyenangkan orang tua masing-masing.
Said dan Almira berteman akrab. Rahmat yang semula sempat benci pada Said akhirnya berteman akrab.
Sementara, pagi itu Rizal merasa begitu resah. Dia tak dapat menahan perasaan cintanya pada Nissa.
"Uhm … . Aku begitu gugup dengan perasaanku. Apakah mungkin ini saatnya aku ungkapin perasaan cintaku?" bathinnya.
Rizal sejenak termenung, namun dia dapat mengendalikannya. Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Di pagi yang sama, Ranty yang tak dapat menahan cintanya mengirim pesan pada Rizal.
Setelah beberapa kali kirim pesan, akhirnya pesan pun berbalas. Rizal menyetujui ajakan makan siangnya.
"Yess! Akhirnya, setelah sekian lama aku dapat berduaan dengan Rizal," katanya dalam hati sambil tertawa kecil.
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, tibalah jam makan siang. Rizal menuju ke sebuah cafe, dan di sana telah menunggu Ranty. Senyumnya merekah ketika melihat Rizal datang.
"Maaf, aku terlambat. Tadi habis mampir sholat dhuhur," kata Rizal.
Ranty yang begitu mencintainya tak marah.
"Tenang, Rizal. Aku pahami itu. Dan, aku seneng baget kamu datang ke sini," kata Ranty dengan senyum manisnya. Sambil tersenyum memandangi Rizal, Ranty memegangi tangan Rizal, namun Rizal menepisnya.
"Eh, kamu belum pesan makanan?" tanya Rizal.
Ranty melihat mejanya. Dilihatnya buku pesanan masih kosong.
__ADS_1