Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Penyesalan Ranty


__ADS_3

Sekitar sepuluh menit kemudian, Ranty mulai tersadar. Dilihatnya Rizal yang berdiri di sisinya kirinya, sedangkan di sisi kanannya berdiri Almira dan Said suaminya.


"Kak Ranty, bagaimana keadaanmu?" tanya Almira.


"Uhm ... baik, Mira," jawab Ranty dengan suara lemah.


"Kak, semoga kamu lekas sembuh ya," kata Almira dengan senyum manisnya.


"Ranty. Kamu harus semangat. Kita yang disini peduli kepadamu. Lekas sembuh ya," kata Said pada Ranty.


Ranty menatap haru. Dia sadari kesalahannya pada Said. Dengan suara yang lirih, Ranty meminta maaf pada Said.


"Said, maafkan aku," kata Ranty dengan mta berkaca.


"Sudahlah, Ranty. Fokuslah dengan kesembuhanmu," kata Said.


Ranty terdiam. Dia pandangi Rizal yang ada di sisi kirinya. Dia peganhi tangannya dengan lembut.


"Rizal. Aku mungkin terlampau salah kepadamu. Aku terlampau jahat kepadamu. Aku kini sadar, tak mungkin paksakan cintamu kepadaku," kata Ranty dengan berlinang air mata.


"Ranty, sudahlah. Jangan bicara begitu," kata Rizal.


Ranty menggelengkan kepalanya. Dia melepas cincin pertunangannya, dan mengembalikannya pada Rizal.


"Rizal. Aku menyayangimu. Aku begitu tulus mencintaimu. Namun, kau terlalu baik untukku. Aku minta kepadamu, berikanlah cincin itu untuk Nissa," lanjutnya di tengah isak tangisnya.


Rizal.terdiam sejenak. Perasaannya begitu bimbang.


Sementara itu, di tempat kerjanya, Nissa yang tengah bekerja mendesain pakaian untuk pelanggan tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah panggilan di handphonenya.


"Loh! Rizal? Koq tumben dia telepon aku?" tanyanya dalam hati.


Dengan ragu, Nissa mengangkatnya.


"Ya, Assalamu'alaikum," jawa Nissa melalui telepon.


"Wa'alaikum salam, Nissa. Uhm … Nissa, kamu bisa ke mari?" tanya Rizal dengan nada ragu.


Nissa terkejut. Dalam hatinya dia bertanya-tanya.


"Loh, koq tumben? Aku datang atau gak nih? Bukannya Rizal udah tunangan sama Ranty?" bathinnya.


Nissa berfikir keras. Dia tampak bimbang.


"Waduh, gimana nih?" lanjutnya dalam hati.


Rizal yang keheranan dengan sikap Nissa kembali bertanya.


"Halo, Nissa. Bagaimana? Kamu bisa datang kemari?" tanya Rizal kembali.


Nissa seperti tersadar dari lamunannya. Dia tampak gugup.


"Oh, Eh. Uhm … bagaimana ya? Uhm … aku takut kalo nanti Ranty tahu aku bertemu denganmu nanti terjadi pertengkaran. Aku sudah lelah dengan itu, Rizal. Please … aku ingin


tenang," kata Nissa dengan nada keberatan dan kebingungan.


Rizal tersenyum sejenak. Dia memaklumi kekhawatiran Nissa.


"Nissa, ini permintaan Ranty," kata Rizal.


Deg! Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ada rasa tak percaya pada dirinya.


"Apa?! Serius?!" tanya Nissa seolah tak percaya.


"Demi Allah, Nissa. Ranty ingin bicara kepadamu. Dia baru saja kecelakaan, dan kini ada di rumah sakit," kata Rizal kemudian.


Nissa terkejut. Perasaan iba muncul. Dia berfikir sejenak.


"Uhm … baiklah, Rizal. Aku akan ke sana setelah selesaikan pekerjaanku," kata Nissa.


"Oke, Nissa. Aku tunggu," balas Rizal.


Setelah mengucap salam, Nissa menutup teleponnya. Sejenak, dia seolah tak percaya pada Rizal.


"Ranty? Apa benar Ranty yang memintaku bertemu Rizal? Ada motif apa ya?" bathinnya seolah tak percaya.

__ADS_1


Dia terdiam sejenak.


"Astaghfirullah, aku sudah su'udzon. Sudahlah, Nissa. Jangan su'udzon sebelum tahu kebenarannya," lanjutnya dalam hati.


Nissa berusaha membuang pikiran jeleknya. Dia kembali fokus dengan pekerjaannya.


Akhirnya, sore telah tiba. Waktunya menutup toko. Bersamaan dengan itu, pekerjaannya selesai. Dia segera membawa gambar desain itu dan beranjak dari tempat kerjanya.


Ketika baru saja keluar, tampak Vonny dan Dicky datang ke toko.


"Bu Vonny?" sapa Nissa.


"Ah, kamu. Pake ibu segala. Kita kan seusia," balas Vonny sambil tersenyum simpul.


Mereka berdua tertawa ringan.


"Nissa, aku kesini bukan mau melihat laporan penjualan. Aku mau kasih ini," kata Vonny sambil memberikan undangan pada Nissa.


Nissa menerimanya. Dia baca undangan itu. Tampak senyum manisnya.


"Selamat ya atas pernikahannya," kata Nissa tersenyum manis pada Vonny.


Mereka berpelukan sesaat.


"Nissa, semoga kamu segera nyusul ya. Nanti kalo nikah jangan lupa undang kami," kata Vonny sambil tersenyum memandangi Dicky.


"Iya, Nis. Udah dulu ya. Kita mau nyebar undangan," kata Dicky sambil berpamitan.


Mereka berdua keluar dari toko dan kembali pergi untuk menyebar undangan. Nissa memasukkan undangan itu di tasnya, dan langsung berjalan ke motornya yang terparkir.


Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah Nissa di rumah sakit. Dilihatnya Rizal tengah menunggui Ranty. Nissa langsung menemui Rizal.


"Nissa, akhirnya kamu datang," kata Rizal.


Nissa hanya tersenyum simpul. Dia pandangi Ranty yang masih terbaring. Rupanya Ranty tengah terlelap. Perasaan iba nya muncul.


"Ranty baru saja kecelakaan, Nissa. Tepat setelah hari bahagia adikku," kata Rizal.


Rizal menceritakan kejadian kemarin. Mendengar cerita Rizal, Nissa terkejut. Dia tak menyangka pertunangan Rizal harus berakhir dengan cara yang begitu memalukan dan tragis.


"Rizal, sepertinya kamu harus teruskan hubunganmu dengan Ranty. Kasihan dia. Dia butuh dukunganmu," kata Nissa pada Rizal.


Dia menunjukkan cincin pertunangan Ranty yang dikembalikan kepadanya.


"Nissa, dia ingin berikan ini kepadamu," kata Rizal.


Nissa hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, Ranty terbangun. Rizal yang tengah bercakap-cakap dengan Nissa tak menyadarinya.


"Nissa ... ," panggilnya.


Nissa dan Rizal terkejut. Buru-buru mereka mendatangi Ranty


"Ya, Ranty," balas Nissa.


"Nissa, maafin gue yang selama ini jahat sama loe. Gue nyesel dengan semua tindakan gue," kata Ranty dengan mata berkaca.


"Ranty, sudahlah. Kamu gak perlu mikirin itu. Aku sudah maafin kamu sebelum kamu minta," kata Nissa dengan nada lembut.


Dia sentuh pundak Ranty dan menyeka air matanya.


"Ranty, aku turut sedih dengan apa yang menimpamu kemarin. Aku sudah mendengar semuanya dari Rizal," lanjutnya.


Nissa tersenyum manis pada Ranty. Dia pegang tangan kanan Ranty, dan kembali memasangkan cincin pertunangan itu di jari manisnya. Ranty memandangi Nissa seolah tak percaya.


"Nissa, apa yang loe lakukain?" katanya.


Dia hendak melepas kembali cincin itu, namun Nissa mencegahnya.


"Ranty, Rizal ingin melanjutkan hubungannya denganmu. Kamu jangan menyerah," kata Nissa dengan nada lembut.


"Tidak, Nis. Gua udah cacat. Dia layak dapat wanita yang terbaik. Dan setelah apa yang loe lakuin, loe yang berhak sama dia," balas Ranty sambil menyatukan tangan Rizal dan Nissa.


Mereka berdua sejenak saling berpandangan seolah tak percaya dengan yang di lakukan Ranty. Tak terasa hari telah petang. Nissa segera tersadar.


"Uhm … aku pulang dulu, Ran. Semoga kamu lekas sembuh," kata Nissa pada Ranty.

__ADS_1


"Iya, Niss. Makasih loe udah datang," balas Ranty.


Tak lupa, Nissa berpamitan pada Rizal sebelum akhirnya pulang ke rumahnya.


Hari mulai malam ketika Nissa sampai di rumahnya. Di dalam kamarnya, Nissa termenung.


"Ya ampun, kenapa aku jadi bimbang gini? Aku senang ketika kembali dekat dengan Rizal, tapi aku tak tega pada Ranty," katanya dalam hati.


Di waktu yang sama, Rizal yang tengah menunggu Ranty di rumah sakit termenung dengan kejadian tadi. Dilihatnya Ranty tampak kembali ceria ketika dia bertemu dengan sahabatnya.


"Mi, kamu koq tahu aku disini?" tanya Ranty.


"Vonny tadi ke rumahmu. Sebentar lagi dia datang," kata Fahmi.


Di tengah jalan, Vonny dan Dicky tampak berselisih. Dicky tampak cemberut sambil menyetir mobilnya.


"Sayang, kenapa sih kamu cemberut gitu?" tanya Vonny.


Dicky hanya diam dengan wajah tegang. Vonny mengamatinya. Keningnya mengernyit.


"Aneh. Tak ada bau-bau aneh. Koq yayangku diam tapi mukanya bejek amat," kata Vonny.


Dia cium tangannya. "Parfumku oke."


"Kok yayangku bejek amat ya? Apa dia bisulan ya?" kata Vonny berniat menggoda Dicky.


Tak lama kemudian, sampailah mereka do rumah sakit. Setelah turun dari mobil, Dicky memegangi perutnya.


"Von, maaf. Gue kebelet. Loe ke sana duluan, gih. Gua ntar nyusul," kata Dicky buru-buru ke toilet.


Vonny hanya tersenyum keheranan. Dia buru-buru datang ke ruang rawat Ranty. Di sana ada Fahmi dan Ranty yang tengah berbincang-bincang. Ranty begitu senang ketika melihat Vonny datang.


"Ciye …, Calon ratu kita tiba neh," kata Fahmi menyambut Vonny.


Vonny hanya tersenyum simpul. Ranty langsung menanyai Vonny.


"Loh, Von. Katanya loe mau nikah. Dama siapa?" tanya Ranty.


"Uhm, dengan orang yang kita sama kenal. Gua mau nikah sama Dicky," kata Vonny tersenyum manis.


Ranty terkejut. Dia begitu terpukul mendengar Dicky akan menikahi Vonny. Dan, tak lama kemudian Dicky muncul. Dia sempat memandangi Rizal dengan tatapan tidak suka.


"****, loe jadi mau nikah sama Vonny," kata Ranty dengan nada sedih.


Dicky hanya mengangguk. Dia masih tampak marah pada Ranty.


"****, loe boleh anggap gua apapun. Tapi, hari ini gue nyesel ninggalin loe," kata Ranty.


Dengan senyum sinis, Dicky menjawab perkataan Ranty.


"Ranty, sudahlah. Loe gak udah sesali masa lalu. Percuma. Semua ada balasannya, Ranty," katanya.


Vonny memandangi Dicky dengan wajah kecewa.


"Say, kamu koq gitu sih? Ranty udah nyesel dengan tindakannya. Loe udah janji kan sama gue buat ikhlasin dia?" kata Vonny.


Dicky terdiam. Fahmi juga menimpali.


"****, sudahlah. Sekarang waktunya kita perbaiki pertemanan kita. Ranry udah nyesel. please, ****. buanglah dendammu," kata Fahmi.


Ranty memandangi Dicky. Tampak penyesalan di wajahnya.


"Dicky, maafin gue. Gue janji gak bakal ngeganggu loe ama Vonny," kata Ranty penuh penyesalan.


Dicky menghela nafasnya. Perlahan senyumnya muncul. Dia sentuh pundak Ranty.


"Baiklah, Ran. Gue maafin loe. Semoga loe lekas sembuh ya," kata Dicky.


Persahabatan mereka kembali cair. Akhirnya, Dicky dan Vonny berpamitan. Sebelum pergi, Dicky menemui Rizal.


"Bhro, gua pulang ya. Jaga Ranty baik-baik," kata Dicky.


"Iya, uhm ... maaf ya gua sempat salah paham ama loe," kata Rizal.


Mereka berjabat tangan. Dicky tersenyum memandangi Rizal.

__ADS_1


"Udah, jangan di pikirin. Yuk, kita duluan," kata Dicky.


Rizal mengangguk dengan senyum manis. Dia pandangi Vonny dan Dicky yang berjalan pulang.


__ADS_2