Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Semangat Baru


__ADS_3

Sementara itu, di waktu yang sama Nissa tengah mendatangi sebuah perusahaan. Dia tengah menghadiri sebuah wawancara di sebuah pabrik kaos.


"Jadi, saudari pernah bekerja di perusahaan Lita's Garment. Sudah berapa lama bekerja di


sana?" tanya HRD.


"Saya bekerja di sana selama 2 tahun, Pak." Nissa menjawab dengan tenang.


HRD itu tersenyum manis. Dia kembali melayangkan pertanyaan kepada Nissa.


"Oke, setelah dua tahun bekerja di sana, apa yang membuat anda keluar dari perusahaan itu?" tanya HRD.


Nissa langsung menjawab dengan tenang.


"Saya keluar karena kontrak saya telah berakhir di perusahaan tersebut," jawab Nissa.


HRD itu manggut-manggut. Dia mengamati Curiculum Vitae yang dibuat Nissa. Setelah agak lama, HRD tersebut berkata kembali pada Nissa.


"Setelah membaca cv saudari, kami melihat anda tak cocok dengan posisi yang kami tawarkan di perusahaan ini. Anda akan jauh lebih potensial di posisi lain. Mohon maaf sebelumnya, Bu.


Terima kasih atas kehadirannya di undangan wawancara ini," kata HRD pada Nissa.


Nissa begitu kecewa, namun dia tegar. Setelah berpamitan, Nissa segera pergi dari perusahaan itu. Dia berlajan gontai di siang hari, di bawah sengatan matahari.


"Uh, sudah lima perusahaan yang aku datangi, namun satupun lamaran kerjaku tak ada yang masuk," katanya dalam hati.


Nissa terus berjalan, mencoba mencari lowongan kerja di berbagai perusahaan, toko atapun badan usaha lain, namun tak ada yang menerimanya. Karena lelah, dia akhirnya duduk di sebuah bangku di tepi jalan.


"Masya Allah, panasnya hari ini," katanya dalam hati sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan tisue.


Nissa istirahat sejenak. Dan ketika itu, secara bersamaan dia bertemu Dicky. Dicky teringat Nissa, yang menemukan dompetnya. Dia dekati Nissa yang tengah duduk.


"Mbak, boleh saya duduk di sini?" tanya Dicky.


Nissa terkejut. Dia pandangi Dicky yang tersenyum ramah kepadanya. Nissa hanya mengangguk dengan dengan senyum manis. Dicky langsung duduk di sebelah Nissa. Dilihatnya, Nissa tengah memegang amplop coklat besar.


"Mbak, lagi mencari kerja ya?" tanya Dicky.


"Iya, Mas," katanya sambil tersenyum manis.


"Tapi, belum gol. Udah beberapa perusahaan aku datangi, tapi nyatanya dari pagi sampai sekarang, belum ada satupun yang menerimanya," lanjutnya sambil menatap jauh ke depan.


Dicky manggut-manggut. Dia begitu tertarik dengan kelembutan Nissa.


"Oh ya, Mbak. Uhm … aku belum tahu nama mbak," kata Dicky.


"Saya Nissa, Mas," balasnya singkat.


"Mbaknya pasti tahu kan nama saya. Oke, mohon maaf sebelumnya. Boleh saya lihat CV mbak?" tanya Dicky.


Nissa mengangguk. Dia berikan amplop coklat itu pada Dicky. Dibukanya amplop cokalt itu, dan dia mengambil isinya. Dia baca isi CV itu, dan dia teingat akan Vonny yang hendak membuat toko baru.


"Mbak, saya ada info mengenai pekerjaan yang mungkin sesuai dengan kemampuan mbak," kata Dicky sambil memasukkan CV itu ke dalam amplop.


Dia tersenyum simpul, dan mengembalikan CV itu pada Nissa. Nissa begitu antusias mendengarnya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Nissa.


"Uhm … saya coba hubungi teman saya. Siapa tahu dia berminat," kata Dicky sambil mulai menelepon seseorang.


Telepon pun diangkat. Tampak Dicky berbicara pada orang itu. Dan seyelah pembicaraan selesai, dia kembali berbicara pada Nissa.


"Mbak, dia ingin mbak datang menemuinya. Ini alamatnya," kata Dicky sambil memberikan alamat orang yang tadi dia hubungi.


Nissa mencatatnya.


"Mas, makasih sudah bantu aku. Aku mau buru-buru ke sana," kata Nissa.


Dicky tersenyum manis. Namun dilihatnya cuaca panas. Dia mencoba menawarkan jasa, namun Nissa menolaknya. Dia segera naik angkot menuju ke alamat yang di beri Dicky.


"Uhm, wanita yang istimewa," kata Dicky dalam hati.


Dicky langsung beranjak dari tempat itu. Dilihatnya jam masuk kantor sudah dekat. Buru-buru dia menuju ke mobilnya dan segera pergi dari tempat itu.


Sementara itu, Nissa telah sampai di alamat yang di berikan Dicky. Dia masuk ke sebuah distro dan di temui oleh seorang wanita yang berdandan funky.


"Maaf, Mbak. Saya tadi di beri tahu Pak Dicky jika di sini ada lowongan pekerjaan," kata Nissa pada wanita itu.


Wanita itu tersenyum manis.


"Benar, dan mbak Nissa? Annisa Rahmatus Sauda?" tanya wanita itu.


"Iya, Bu." Nissa menjawab singkat.


Wanita itu mempersilahkan Nissa duduk. Dia memperkenalkan dirinya.


Vonny melihat berkas lamaran Nissa. Dia lihat pendidikan dan pengalaman kerja Nissa.


"Uhm … jadi kamu dulu bekerja di Lita's Garment?" tanya Vonny.


"Iya, Bu. Kebetulan karena kontrak selesai, saya putuskan untuk tak memperpanjangnya," kata Nissa.


Vonny manggut-manggut. Dia kembali membaca cv Nissa. Dilihatnya, Nissa juga mampu mendesain pakaian, terutama busana muslim. Vonny tersenyum puas.


"Dicky, loe emang tokcer pilih orang," katanya dalam hati.


Vonny tersenyum, dan memasukkan kembali surat lamaran kerja Nissa ke dalam amplop.


"Oke, Nissa. Uhm … sebentar," kata Vonny sambil mengambil kertas dan pensil dari laci mejanya. Vonny memberikan kertas dan pensil itu pada Nissa.


"Sekarang, kamu gambar desain busana muslim. Gak perlu bagus, yang penting ada gambar," perintah Vonny.


Tanpa berplkir panjang, Nissa mulai menggambar. Dan, setelah beberapa menit, dia berikan gambar itu pada Vonny. Vonnya tampak senang dengan desain Vonny.


"Jadi begini, Nissa. Uhm … sebenarnya aku ingin membuka sebuah toko busana muslim. Tapi, aku tak paham busana muslim. Aku rasa, kamulah orang yang tepat," kata Vonny tersenyum


pada Nissa.


"Jadi, saya di terima kerja?" tanya Nissa.


"Tidak, kamu tak di terima kerja, Nissa. Kamu aku terima sebagai seorang mitra," kata Vonny.

__ADS_1


Nissa terkejut.


"Maksud ibu apa? Saya tak paham," kata Nissa.


Vonny mengajak Nissa pergi ke sebuah tempat. Di sana, ada sebuah toko yang akan di buka. Toko itu menjual busana muslim dan alat ibadah buat orang islam.


"Nissa, kamu aku percaya mengelola toko ini. Kamu atur manajemennya, dan kamu cari sendiri anak buahmu. Pembagian hasil adalah 40:60. Kamu berhak 60 persen keuntungan setelah di


potong pajak dan keluaran lain-lain. Bagaimana?" tanya Vonny.


Nissa berfikir sejenak. Dan akhirnya dia setuju. Vonny begitu senang Nissa menerima tawaran kerjanya. Tak terasa, sore datang. Vonny menutup percakapan dengan memberikan Nissa sebuah pekerjaan baru. Dia tunjukkan ruang kerja Nissa, lalu barang yang di jual di toko dan butik itu. Setelah beberapa lama, mereka segera keluar dari tempat itu.


"Nissa, dua hari lagi, kamu datang kemari. Kamu kelola toko ini. Yah, anggap toko sendiri," kata Vonny dengan senyum manisnya.


"Baik, Bu. Saya akan kelola dengan baik," kata Nissa.


"Eh, Nissa. Jangan panggil Aku ibu. Aku kan masih belum nikah," kata Vonny.


"Iya, Bu … eh … Mbak," balas Nissa gugup.


Hari telah sore. Nissa langsung pamit untuk pulang. Di lokasi lain, Dicky secara tak sengaja bertemu dengan Ranty. Dia awalnya sakit hati, namun timbullah niatnya untuk merusak hubungan pertunangan Ranty dan Rizal. Dia dekati Ranty yang tengah duduk sendiri di cafe itu dengan wajah jutek.


"Ranty. Kamu tak bahagia dengan pilihanmu?" tanya Dicky yang tiba-tiba muncul di depannya.


Ranty terkejut melihat Dicky yang tiba-tiba muncul. Dia selingukan melihat ke sekitar.


"Kenapa, Ranty? Takut di pergoki tunanganmu? Sudah, tenang aja. Tunanganmu gak bakalan mikirin kamu," kata Dicky dengan nada santai.


Ranty yang ingin mempertahankan hubungannya dengan Rizal menatap Dicky dengan wajah tak suka.


"Dicky! Jangan sembarangan kalo bicara! Rizal tak seperti itu," bentak Ranty.


Dicky tertawa lepas. Dia menunjuk wajah Ranty dengan senyum mengejek.


"Owh, jadi dia Rizal," katanya sambil menunjuk Ranty.


Dicky tertawa lepas. Ranty menatap Dicky dengan wajah keheranan.


"Dicky! Apa maksudmu, hah?! Gak terima dengan keputusanku?!" bentak Ranty sambil mencopot cincin pemberian Dicky.


Ranty mengembalikan cincin itu kepada Dicky.


"Tuh, aku kembalikan cincin pemberianmu. Aku udah gak butuh!" bentaknya dengan wajah marah.


Ekspresi Dicky berubah drastis. Wajahnya tampak tegang. Di pandangi Ranty dengan tatapan tajam.


"Owh, jadi kamu ngerasa perasaanku gak berarti? Karena gak berarti lalu aku kamu buat pelarian?" balas Dicky dengan nada marah.


Dicky menatap Ranty dengan tatapan tajam. Dia bangkit dari duduknya, dan sebelum pergi, dia menunjuk ke wajah Ranty.


"Lihat aja, Ranty! Rizal tak pernah mencintaimu. Kamu akan menyesal!" katnya sebelum pergi.


Setelah itu, Dicky langsung pergi meninggalkan Ranty seorang diri. Sementara itu, Rizal masih duduk merenung di kantornya. Dia seolah kehilangan semangat hidupnya. Berulang kali pesan dari Ranty masuk di hpnya tak dia respon.


"Ya Allah, posisi saya sebagai anak sangatlah sulit. Jikalau kau hendak mengambilku, aku siap. Namun, apakah ayahku rela kau ambil aku lebih dulu?" katanya dalam hati.

__ADS_1


Perasaan bersalah pada Nissa terus menghinggapinya. Matanya berkaca memandangi foto Nissa di layar handphonenya.


__ADS_2