Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Ukiran Kisah Cinta


__ADS_3

Ranty menepuk jidatnya sambil tersenyum menahan malu.


"Oh, ya ampun. Rizal, maafkan aku. Aku lupa."


Rizal hanya tersenyum. "Ya udah, buruan kita pesan sebelum jam istirahat selesai."


Mereka pun memesan makan siangnya. Sambil menunggu makan siangnya, Ranty mencoba


merayu Rizal. Dia tersenyum manis.


"Rizal, ada yang mau aku omongin. Ini … di luar kerjaan," kata Ranty membuka percakapan.


Rizal menanggapinya dengan tenang. Dia tersenyum manis.


"Oke, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Rizal.


Ranty begitu gugup. Belum sempat dia bicara, pesanan mereka datang. Mereka segera


melahap makan siangnya.


Sambil melahap makan siangnya, Ranty terus memandangi Rizal.


"Ranty, koq kamu ngeliatin aku sebegitunya?" tanya Rizal keheranan.


Ranty yang kuran fokus tersedak. Dia terbatuk-batuk. Rizal spontan langsung memberikan air putih dan membantu Ranty meminumnya. Akhirnya, Ranty merasa lega.


"Ah, syukurlah. Hampir aja aku mampus kena bakso sapi," kata Ranty bernafas lega.


"Ya elah, Ranty. Makanya, kalo makan baca do'a dulu. Terus pikiran harus tenang. Nah kamu, tadi mandangin aku terus. Emang di belakangku aku hantu?" kata Rizal bercanda.


Ranty yang mendengar perkataan Rizal tertawa.


"Hahaha … Rizal, kamu tuh terlalu ganteng untuk jadi hantu," kata Ranty tertawa lepas.


Mereka berdua tertawa. Dan tanpa terasa makan siang yang mereka pesan telah habis. Mereka kembali terlibat dalam percakapan ringan.


Tanpa terasa, jam masuk kantor tiba. Mereka segera kembali ke tempat kerjanya. Namun, sesampainya di ruang kerjanya, Ranty teringat sesuatu yang dia lupakan.


"Yah! Aku lupa tadi mau bilang kalo aku mencintai Rizal. Ugh! Sial!" katanya dalam hati.


Ranty sejenak terdiam. Namun akhirnya dia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Di kantornya, Rizal begitu bersemangat. Dia jalani pekerjaannya dengan baik. Tanpa terasa, waktu telah sore. Rizal begitu berbunga-bunga.


"Saatnya menjemput Nissa," bathinnya.


Rizal bergegas keluar kantor. Dia menuju ke parkiran mobilnya. Tak lamakemudian dia pacu mobilnya untuk menjemput Nissa.


Sementara di kantornya, Ranty yang ingin mengungkapkan perasaannya kembali mencoba menghubungi Rizal. Berulang kali mencoba menghubungi


Rizal, ternyata tak di respon.


"Ihhh! Kemana sih, Rizal? Koq gak respon?" tanyanya dalam hati.


Ranty begitu jengkel. Wajahnya tampak jutek.Tanpa sepengetahuan Ranty, Rizal tengah dalam perjalanan ke tempat kerja Nissa. Wajahnya tampak jutek.


"Iiih, Sial!" Ranty meletakkan handphonenya.


Dia menyandarkan dirinya di kursi kantornya. Dia berfikir sesejenak. Dia pejamkan matanya sesaat untuk menenangkan dirinya. Dia hela nafasnya.

__ADS_1


"Uhm … , udah lah. Mending pulang dulu deh. Siapa tahu nanti kalo di jalan ada tempat buat


nenangin diri," katanya dalam hati.


Ranty segera mengemasi meja kerjanya. Setelah selesai, dia segera bergegas meninggalkan tempat kerjanya. Kantornya telah sepi. Dia segera menuju ke mobilnya yang terparkir.


Sementara itu, di tengah perjalanan, Rizal tersenyum sendiri. Hatinya begitu berbunga-bunga.


"Nissa, sudah sebulan kita saling akrab. Aku begitu nyaman di dekatmu," katanya dalam hati.


Dan tak lama kemudian, sampailah dia di depan perusahaan konveksi tempat kerja Nissa. Rizal sengaja menunggu Nissa pulang.


Sore itu, Rizal mengajak Nissa duduk di sebuah taman bermain. Di sana, banyak ibu-ibu yang membawa anaknya bermain.


Nissa dan Rizal duduk di sebuah bamgku sambil melihat keceriaan anak bersama ibunya.


"Nissa, kalu lihat betapa cerianya anak-anak itu?" tanya Rizal.


"Iya, Mas. Mereka begitu ceria," kata Nissa tersenyum manis sambil memandangi anak-anak yang bermain.


Rizal menghela nafasnya. Dia tersenyum manis. Namun, Nissa merasa begitu bergetar jantungnya. Dia agak keheranan dengan ajakan Rizal. Sambil memandangi anak-anak yang bermain, Rizal berbicara pada Nissa.


"Nissa, setiap malam aku minta petunjuk melalui sholatku. Aku ingin temukan tulang rusukku yang hilang. Dan, aku rasakan kau adalah tulang rusukku," kata Rizal memandang jauh ke depan.


Dia tersenyum manis. Di pandanginya wajah Nissa yang begitu anggun dengan hijabnya. Dilihatnya pipinya yang memerah menahan malu.


"Nissa, sebulan kita jalani ta'aruf, aku rasakan begitu sejuk hubungan kita. Pertikaian dan perdebatan yang kita lalui seperti sebuah jamu dan madu yang kita rengkuh. Aku, menincintaimu karena Allah, Nissa. Aku sayang kamu," kata Rizal dengan wajah syahdu.


Nissa tersenyum haru. Dia tatap Rizal yang memandanginya dengan lembut. Nissa berusaha


tenangkan perasaanya.


Rizal menyentuh lembut tangan Nissa, dan menggenggamnya. Nissa begitu bahagia. Tak henti-hentinya dia pandangi Rizal yang telah menjadi kekasihnya.


Bersamaan dengan itu, Ranty


yang merasa penat juga pergi ke taman itu. Dia berjalan sendirian melupakan kepenatan di tempat kerjanya. Dia nikmati taman itu.


Namun, dari kejauhan Ranty tak sengaja melihat kemesraan Rizal dan Nissa. Dia begitu marah.


"Brengsek! Kenapa sih, dia pilih wanita itu? Dia lebih pantas buat aku. Uhm … awas kamu. Aku tak akan tinggal diam!" bathinnya sambil menatap tajam Rizal dan Nissa yang tengah


kasmaran.


Ranty berjalan mendekati Rizal dan Nissa. Wajahnya begitu marah. Namun, dia di kejutkan dengan seseorang yang memegangi tangannya. Sontak dia menoleh kebelakang.


"Dicky. Lepasin," kata Ranty.


Dicky tersenyum manis. "Ranty, kamu jangan rusak kebahagiaan mereka. Sudah lah Ranty, lupakan pria itu. Masih ada pria yang menyayangi kamu," kata Dicky mengingatkan Ranty.


Ranty berjalan mendekati Rizal dan Nissa. Wajahnya begitu marah. Namun, dia di kejutkan dengan seseorang yang memegangi tangannya. Sontak dia menoleh kebelakang.


"Dicky. Lepasin!" kata Ranty.


Dicky tersenyum manis. Dia bukannya menuruti, justru memperkuat pegangannya.


"****, lepasin aku! Lepasin!" Ranty meronta-ronta berusaha melepaskan pegangan Dicky.


Dicky tak mengindahkan Ranty. Dia justru menyeret Ranty menjauhi Rizal dan Nissa. Namun, apalah daya seorang Ranty yang melawan kekuatan seorang pria. Ranty pun menyerah.

__ADS_1


Dengan terpaksa dia berjalan mengikuti Dicky. Mereka berjalan agak jauh dari lokasi Rizal dan Nissa. Di sebuah bangku, Dicky mengajaknya duduk. Ranty hanya menatap jauh ke depan dengan wajah jutek.


Dicky dengan sabar menyentuh


pundak Ranty. Dia tersenyum manis


memandangi Ranty yang tengah jengkel.


"Ranty, biarkanlah mereka bahagia.Jangan mengganggu hubungan orang lain," kata Dicky dengan senyum manis.


Dicky memandangi Ranty yang tampak manyun. Dia berusaha menenangkannya. Dia menghela nafasnya sejenak


"Sudah lah Ranty, lupakan pria itu. Aku yakin kamu dengan mudah dapat pria lain yang akan menyayangi kamu," lanjutnya menasehati.


"Ih, kamu tuh, ****. Sok bijak aja. Kamu mana tahu perasaan gue?!" umpatnya dalam hati.


Ranty hanya diam. Dia hanya menatap jauh ke depan dengan wajah jutek. Dicky kembali memandangi wajah Ranty.


"Ranty, kamu itu cantik, sukses. Tentu banyak pria yang mencintaimu. Ayolah, Ranty. Kamu jangan terpaku dengan satu pria. Banyak pria di dunia ini, Ranty." Dicky melanjutkan menasehatnya pada Ranty.


Ranty hanya diam mendengarkan nasehat Dicky. Sesekali dia monyongkan bibirnya. Bukannya Dicky marah dengan perilaku Ranty yang mengejek nasehatnya, dia justru tertawa lepas.


"Hahaha … Ranty. Kamu itu kalo marah kelihatan makin cantik," kata Dicky mulai merayu Ranty.


Ranty tetap diam. Dia menatap tajam wajah Dicky.


"****, bisa gak sih sehari aja kamu gak ganggu aku?" katanya dengan nada jengkel.


Ranty menatap Dicky dengan wajah jutek. Dicky menyikapi kejengkelan Ranty dengan senyum manis. Dia bermaksud mengajak Ranty bercanda untuk melupakan kesedihannya.


"Tuh, Ranty. Tahu gak, kalo kamu jutek makin cantik deh," kata Dicky bercanda.


Namun, candaan itu membuat Ranty makin marah. Dia makin marah menatap Dicky.


"Dicky! Bisa gak sih kamu sedikit serius?! Tahu gak, aku sudah bosan dengan nasehatmu!" bentak Ranty sambil bangkit dari duduknya.


Dicky terkejut melihat kemarahan Ranty. Dia segera berlari mengejar Ranty yang berjalan ke luar taman itu. Dia pegangi tangannya.


Ranty yang emosi secar reflek menoleh ke belakang. Dia yang sudah marah menampar Dicky. PLAKK!! sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri


Dicky.


"Dicky! Sudahlah. Biarkan aku pergi! Aku ingin sendiri," bentaknya.


Dicky tak membalas tamparan Ranty. Dia hanya memegangi pipi kirinya. Dicky tetap tenang menghadapi Ranty yang terbakar emosi.


"Ranty, maafkan aku. Aku lakukan ini, karena aku sayang kamu, Ranty," kata Dicky berusaha menenangkan Ranty.


Dia pegangi tangan Ranty, namun Ranty menepisnya. Dicky kembali memegangi tangan Ranty.


"Ranty. Maafkan aku jika aku salah. Please … . Aku beneran sayang sama kamu," kata Dicky memohon maaf pada Ranty.


Ranty diam. Dia pandangi wajah Dicky. Ranty melihat ketulusan di wajah Dicky. Emosinya mereda.


"****, terima kasih kamu menyayangiku. Tapi, aku tak bisa menerima cintamu. Cintaku hanya untuk Rizal, pria yang bersama wanita berhijab itu. Aku akan tetap perjuangkan cintaku," kata


Ranty.


Dicky terpana. Ranty langsung beranjak keluar dari taman. Dia masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2