Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Keputusan Dan Dilema


__ADS_3

Malam itu, Ranty yang merasa malu setelah apa yang dia alami tampak ragu-ragu untuk pulang. Dilihatnya, hari telah malam. Dia melihat jam tangannya.


“Sudah malam. Tapi, aku begitu malu pulang ke rumah,” katanya dalam hati.


Ranty terdiam di sebuah taman. Dia duduk sendiri sambil menangis mengalami pahitnya kejadian tadi pagi.


Sementara itu, di rumahnya Randy tampak khawatir. Awalya, dia begitu marah kepada Ranty setelah mendengar kabar mengenai putusnya pertunangan itu. Namun, setelah malam hari, kemarahannya hilang dan mulailah muncul rasa khawatirnya.


“Ranty, kamu kemana sih? Udah malam begini kamu belum pulang,” katanya dalam hati.


Randy terus mondar-mandir di ruang tengah sambil sesekali mencoba menghubungi Ranty. Namun, tak ada jawaban. Pesannya pun tak berbalas. Citra yang melihat suaminya


mondar-mandir menghampirinya.


“Pa, Ranty kemana nih? Koq tumben udah hampir jam sepuluh malam tak pulang,” katanya dengan nada cemas.


“Ini dia, Ma. Papa juga cemas. Dari tadi, papa hubungi Ranty gak ada jawaban. Papa khawatir ada apa-apa dengan dia,” kata Randy.


Ayah dan Ibunya Ranty tampak cemas malam itu. Mereka mencoba menghubungi Rizal, namun tak ada jawaban.


Sementara itu, Rizal yang baru saja pulang ke rumah langsung masuk ke kamarnya. Wajahnya tampak sedih, dan perasaannya begitu hancur. Farida dan Hasan hanya diam memandangi


Rizal yang langsung masuk ke kamarnya. Di kamarnya, Rizal kembali menyalakan hpnya. Dia terkejut melihat begitu banyak panggilan masuk ke hpnya.


“Loh, Pak Randy, Bu Citra?” katanya dalam hati.


Rizal berfikir agak lama memandangi begitu banyak panggilan tak terjawab di hpnya. Rasa marahnya pada Ranty perlahan menjadi sebuah dilema.


“Yah, ini enaknya di jawab atau gak ya? Aku sebel sama Ranty, tapi, orang tuanya begitu baik kepadaku. Duh … Gimana ini?” katanya dalam hati.


Rizal memegangi hpnya, sambil mondar-mandir di kamarnya. Sebentar-sebentar dia pandangi hpnya. Dia lihat, sebuah pesan masuk. Dibukanya pesan itu.


“Nak Rizal. Kami mohon maaf atas kelauan Ranty kepadamu. Kami sebenarnya malu, tapi kini kami khawatir dengan keadaan Ranty. Hingga saat ini, dia belum pulang. Kami coba hubungi hpnya, tapi tak ada jawaban.” Isi pesan yang berasal dari Whatsapp Randy.


Rizal diam sejenak. Dia duduk di ranjangnya sambil memegangi jidatnya. Wajahnya tampak kebingungan.


“Ya Allah. Ranty … Ranty. Kemana sih kamu?” bathinnya.


Rizal terdiam sejenak. setelah berfikir panjang, akhirnya Rizal menghubungi Pak Randy, ayahnya Ranty.


“Halo, Om. Ranty masih belum pulang?” tanya Rizal.


“Iya, Nak. Om dari tadi telepon gak dijawab,” balas Randy.


Rizal melihat jam dinding di kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Rzial merasa khawatir akan keselamatan Ranty. Karena khawatir, Rizal akhirnya berniat untuk mencari Ranty.


“Ya sudah, Om. Rizal mau siap-siap cari Ranty. Semoga dia baik-baik saja. Rizal coba hubungi Ranty, Om,” balas Rizal.


“Terima kasih, Nak Rizal,” balas Randy melalui telepon.


Telepon pun ditutup. Rizal mencoba menghubungi Ranty. Dia coba berulang kali, namu taka da jawaban. Rizal tak menyerah. Dan, akhirnya setelah beberapa kali terdengar nada sambung.


“Syukurlah, ada nada sambung …,” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


“Tuuuut … Tuuut … Tuuut …,” nada sambung itu begitu lama, namun tak kunjung diangkat.


Dan setelah sekian lama, terdengar suara operator melalui telepon.


“Maaf, nomor yang anda tuju tidak menjawab. Silahkan coba beberapa saat lagi.”


“Yah, Sial! Kenapa tak di jawab sih?” gumamnya.


Rizal diam sejenak. Dia kembali mencoba menghubungi nomor Ranty. Terdenagar kembali nada sambung. Agak lama Rizal menunggu, dan akhirnya telepon itu diangkat. Namun, dia terkejut ketika yang menerima panggilanya seorang bapak-bapak.


“Halo … ,” suara bapak-bapak di seberang.


“Ya, Halo. Maaf, ini telepon Ranty koq bisa ada di bapak?” tanya Rizal.


“Uhm, maaf mas. Anda keluarga korban tabrak lari? Di sini terjadi kecelakaan, mas. Seorang wanita jadi korban tabrak lari,” kata orang itu.


Rizal terperanjat. Dia begitu terkejut.


“Apa? Korban tabrak lari? Uhm, tolong tunjukkan di mana lokasinya,” pinta Rizal dengan nada khawatir.


Orang itu memberi tahu lokasinya. Rizal mencatat lokasi kecelakaan itu.


“Baik, Pak. saya akan segera kesana,” kata Rizal.


Orang itu langsung menutup teleponnya. Mendengar kabar itu, Rizal langusng menhubungi Pak Randy. Dia jelaskan kejadian yang menimpa Ranty.


“Apa?! Ranty jadi korban tabrak lari?!’ teriaknya melalui telepon.


“Iya, Om. Ini Rizal mau jemput om. Kita sekalian pergi ke sana,” kata Rizal sambil bersiap untuk keluar.


Setelah telepon ditutup, Rizal yang telah bersiap segera keluar kamarnya. Farida yang melihat Rizal akan keluar menanyainya.


“Nak, malam-malam begini kamu mau kemana?” tanya Farida.


“Ma, Rizal mau jempur Om Randy. Ranty kecelakaan,” kata Rizal.


Farida begitu shock.


“Ma, Rizal berangkat dulu,” kata Rizal berpamitan.


Rizal mencium tangan ibunya, dan langsung pergi. Farida menatap kepergian putranya dengan wajah sedih. Dia iba mendengar musibah yang menimpa Ranty.


“Semoga Ranty lekas sembuh,” kata Farida dalam hati.


Rizal segera pergi ke garasi dan menyalakan mobilnya. Setelah gerbang rumahnya dibuka satpam, dia langsung tancap gas menjemput ayahnya Ranty.


Di lokasi kejadian, Ranty belum siuman. Kakinya bersimpah darah setelah tertabrak mobil yang melaju kencang. Bapak-bapak yang menghubungi Rizal tengah menunggu keluarga


Ranty, sementara lainnya membawa tubuhnya ke tepi jalan.


“Duh, kasihan nih anak. Brengsek bener tuh mobil,” kata seorang warga.


“Iya. Ck … ck … kejadiannya begitu cepat. Mana lampu belakangnya mati lagi. Kita juga gak lihat plat nomornya,” timpal seorang warga.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit kemudian, Rizal datang bersama Pak Randy dan Bu Citra. Orang yang menghubungi Rizal langsung menemuinya. Dia langsung mengajak mereka melihat kondisi Ranty. Randy dan Citra menangis melihat Ranty yang masih belum siuman. Rizal segera


menghubungi ambulan.


Tak lama kemudian, datanglah ambulan. Mereka langsung membawa ranty ke rumah sakit. Keesokan paginya, perlahan Ranty membuka matanya. Dilihatnya ayah dan ibunya tengah menunggunya di rumah sakit. Ranty melihat selang infus di tangannya.


“Ugh! Di mana aku?” bathinnya.


Setelah beberapa saat, dia tersadar. Dilihatnya, Rizal telah berdiri di sisi kirinya.


“Alhamdulillah, Ranty. Kamu akhirnya sadar,” kata Rizal.


“Aku di mana?” tanyanya dengan suara lirih.


“Ranty, kamu di rumah sakit. Semalam kamu tertabrak mobil,” kata Rizal.


Ranty mencoba menggerakkan kakinya, namun dia tak dapat merasakan kakinya.


“Kakiku … kakiku …. Kenapa dengan kakiku?” teriaknya histeris.


Teriakan Ranty mengagetkan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya ranty langsung terbangun. Mereka begitu senang melihat putri mereka siuman.


“Nak, syukurlah kamu selamat,” kata Citra.


“Ma, kakiku. Kakiku tak bisa aku gerakkan,” teriak Ranty sambil memukul-mukul kakinya.


Tak lama kemudian, dokter datang memeriksa kondisi Ranty. Tak lama dia memeriksa kondisi Ranty. Setelah memeriksanya, Dokter itu mengajak Pak randy ke ruangannya, Di ruangannya, dokter itu menjelaskan keadaan Ranty. Dia memasang foto rongten di sebuah layar.


“Begini, Pak Randy. Putri bapak mengalami patah tulang berat di kakinya, serta keretakan yang serius di tulang belakangnya. Kemungkinan, dia akan lumpuh dalam jangka waktu yang lama. Bisa sembuh, namun waktunya sangat lama,” kata Dokter menjelaskan melalui foto rongten itu.


Pak Randy begitu shock mendengar penjelasan dokter. Dokter itu kembali menjelaskan.


“Pak, kaki putri bapak harus secepatnya di operasi hari ini juga. Mohon di tanda tangani lembar persetujuan ini,” lanjutnya sambil menyerahkan lembar persetujuan itu.


Pak Randy yang tak punya pilihan lain akhirnya menanda tangani berkas itu. Siang itu juga, Ranty menjalani operasi di kakinya. Tak lama kemudian, Hasan dan Farida datang bersama Almira dan Said. Mereka menemui Pak randy dan Bu Citra.


“Hasan, maafkan kelakuan putriku pada Rizal,” kata Pak Randy.


“Randy. Sudahlah. Ini juga salahku terlalu maksa kehendakku. Tenanglah, kerjasama kita tetap lanjut walau begini kejadianya,” kata Hasan yang mulai menyadari kesalahannya.


Randy tersenyum manis. Farida berusha menenagkan Citra yang begitu was-was menunggu putrinya di operasi. Waktu terus berjalan. Satu jam kemudian, operasi telah selesai dilaksanakan. Dokter keluar menemui Pak randy dan Bu Citra.


“Pak, Bu. Kami telah melakukan yang terbaik. Kami telah berusaha melakukan pengobatan pada putri ibu semaksimal mungkin. Namun kerusakan jaringan syaraf dan patah tulang di kaki kirinya parah. Kemungkinan, Ranty tidak akan berjalan normal,” kata Dokter itu.


Citra tampak sedih mendengar nasib putrinya. Air matanya menetes membasahi pipinya.


"Pa, anak kita akan cacat. Kasihan kamu, Nak," kata Citra sambil menyeka air matanya.


Dokter yang melihat kesedihan Citra berusaha menghiburnya.


"Bu. Maaf. Kami hanya menyampaikan analisa berdasarkan teori medis dengan berbagai kemungkinan. Dengan kuasa Ilahi, bukan tak mungkin Ranty akan kembali normal. Yang terpenting sekarang, dukungan anda sebagai orang tua akan berpengaruh pada lesembuhan


Ranty," kata Dokter menjelaskan.

__ADS_1


“Terima kasih, dok,” balas Randy.


Dokter itu langsung beranjak meninggalkan Randy dan Citra, sementara Ranty yang belum siuman masih belum diperbolehkan untuk di jenguk.


__ADS_2