Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Kesedihan Nissa


__ADS_3

Dua hari kemudian, Rizal dan Ranty resmi bertunangan. Kabar segera tersebar. Dan, kabar itupun akhirnya sampai juga di telinga Nissa. Siang itu, setelah resmi menjadi tunangan Rizal,


Ranty tampak begitu bahagia.


Dia sengaja mendatangi tempat kerjanya Nissa. Di depan tempat kerjanya, Nissa dan Syifa tengah menunggu Izam yang hendak mengajaknya makan siang.


"Nissa, loe kali ini kalah. Gue sama Rizal udah tunangan," kata Ranty tersenyum sinis.


Nissa tampak sedih. Syifa sebagai sahabat dekatnya membela Nissa. Dia tak menyangka, ternyata Nissa putus dari Rizal.


"Loh, Nis. Jadi loe putus sama Rizal?" tanya Syifa keheranan.


"Iya, Fa. Ayahnya tak merestui hubunganku dengan dia," kata Nissa menahan tangisnya.


Ranty tertawa mengejek Nissa. Dia tersenyum penuh kemenangan. Melihat Ranty yang mengejek Nissa, kemarahan Syifa muncul.


"Nissa, lo yang sabar ya. Gua hadepin nih cewek belagu," katanya menenangkan Nissa.


Dengan wajah marah, dia dekati Ranty.


"Owh! Jadi loe kemari pamer cincin doang? Udah pamernya? Buruan pergi, gih! Kita udah muak liat tampang cewek belagu macam loe!" bentaknya.


Ranty tertawa kecil. Dia kembali menatap tajam ke arah Syifa. Dengan kasar, dia dorong Syifa hingga terjatuh.


"Owh, loe mulut besar juga ya. Emang apa urusan loe ama dia?" ejek Ranty.


Syifa bangun dari jatuhnya, dan melayangkan tamparan keras di pipi kiri Ranty. Ranty terperanjat melihat Syifa yang begitu marah. Tanpa bicara, Ranty hendak membalas tamparan Syifa, namun salah seorang teman Nissa yang berbadan besar memegangi tangannya.


"Ape loe bikin kaco di mari! Pergi sekarang atau gue buat tempe Geprek loe!" bentaknya sambil mendorong Ranty.


Ranty tetap tenang. Dia pandangi mereka bertiga dengan tatapan tajam, sambil menunjuk ke arah mereka bertiga. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal Ranty, Syifa kembali menenangkan Nissa yang mulai menangis.


"Sudah, Nissa. Tenang. Yang sabar. Allah pasti akan memberi jalan yang lebih baik nantinya," kata Syifa menghibur Nissa.


Nissa berusaha untuk tegar. Beberapa teman kerjanya berusaha memberikan dukungan moril. Izam yang baru keluar menemui Syifa dan Nissa.


"Fa, tadi aku lihat dari kantor koq ada ramai-ramai?" tanyanya.


"Itu, Say. Cewek belagu tempo hari bikin rusuh lagi," kata Syifa.


Izam manggut-manggut. Dia pandangi Nissa yang matanya sembab. Izam keheranan melihatnya.


"Nissa, kamu di ganggu sama cewek tadi ya?" tanya Izam.


Nissa hanya mengangguk. Dia tak berbicara sepatah katapun.


"Udah. Kita makan siang aja yuk, " ajak Izam.


Mereka bertiga berjalan ke sebuah cafe do dekat tempat kerja mereka. Tak lama kemudian, sampailah mereka di sana. Langsung saja mereka memesan makan siang dan melahapnya.


Sementara, di tempat lain, Dicky begitu kecewa setelah mengetahui Ranty mengkhianatinya. Kekecewannya membuat Dicky tak semangat. Dan sore harinya, sepulang kerja Dicky tengah


berada di sebuah bar. Dia menenggak minuman keras.


"Pak, tambah lagi," kata Dicky.


Pelayan itu kembali mengambilkan sebotol bir untuk Dicky. Sambil memberikannya, pelayan itu


menasehati Dicky.


"Mas, udah botol ketiga nih masnya minum. Ini terakhir ya," kata pelayan itu dengan nada kalem.


Dicky menatap tajam pelayan itu. Dia tersenyum tipis seraya mentertawakan pelayan itu.


"Heh! Suka-suka gue! Mau gua mabok, mau beli bir seberapa, atau kalo perlu, gue beli bar ini apa urusan loe! Ini gua juga kagak bakalan ngemplang!" kata Dicky di bawah pengaruh minuman keras.


Pelayan itu mengalah. Dia pergi meninggalkan Dicky yang tengah mabuk.

__ADS_1


"Sialan kamu, Ranty! Aku kurang apa?! Aku sudah terlanjur bilang sama ayahku dan siap melamarmu, kini kamu malah sama cowok lain!" kata Dicky dalam hati.


Dicky menenggak sebotol bir di depannya. Dia semakin mabuk. Ketika hendak bangkit, pandangannya berputar-putar. Dicky berusaha mencapai kasir untuk membayar minumannya. Dengan langkah sempoyongan, dia berjalan ke kasir.


"Pak, berapa … minuman saya?" tanya Dicky.


Dicky memberikan kartu debitnya. Setelah membayar, dengan langkah sempoyongan dia berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.


Waktu terus merayap Tak terasa, jam masuk kerja sudah dekat. Izam mengajak Nissa dan Syifa kembali ke tempat kerjanya. Ketika berjalan ke tempat kerjanya, Nissa kembali murung


.


"Nis, sudah. Jangan larut dalam kesedihan," kata Syifa.


Nissa hanya mengangguk. Dia tetap berjalan sambil diam. Akhirnya, mereka sampai di tempat kerjanya. Di tempat kerjanya, Nissa seperti tak bersemangat. Syifa yang melihat Nissa begitu sedih menghiburnya.


"Nissa, mungkin Rizal bukan jodohmu. Kamu harus ikhlas melepas dia," kata Syifa pada Nissa.


Nissa semakin sedih. Tangisnya tak terbendung.


"Ya Allah … berat sekali ujian ini," katanya di tengah tangisnya.


Syifa memeluk sahabatnya. Dia tenangkan Nissa.


"Nissa, kamu tenangin dulu. Mendingan kamu istirahat sehari saja," kata Syifa.


Nissa mengangguk. Beberapa teman kerjanya begitu sedih dengan masalah yang menimpa Nissa. Sepeninggal Nissa dan Syifa, beberpa teman kerjanya berbisik.


"Ih, itu pasti karena ulah si cewek belagu itu," kata seorang dari mereka.


"Iya sepertinya. Tadi gue sempet tuh lihat si cewek belagu itu nemuin Nissa. Dia pamerin tuh cincin tunangannya. Ugh!! Rasanya pingin gua tonjok tuh cewek," bisik satu orang temannya yang berbadan besar.


Rupanya permasalahan Nissa membuat menjadi buah bibir di antara rekan sekerja Nissa.


Teman sekerjanya Nissa begitu marah pada Ranty. Dan setelah Syifa kembali, mereka menanyakan kondisi Nissa.


"Fa, gimana tuh Nissa? Masih kepukul ya dengan pertunangan kekasihnya," kata Widya.


Syifa memandangi mereka berdua sejenak terdiam.


"Widya, Erna. Nissa butuh waktu buat tenangin diri," kata Syifa.


Mereka memahaminya. Syifa kembali berbicra pada teman-temannya.


"Teman-teman, sebaiknya nanti jika Nissa kembali masuk, tolong jangan tanyakan tentang masalah cintanya. Kasihan dia," lanjutnya.


Mereka memahami. Dan, satu temannya yang berbadan besar tiba-tiba menimpali.


"Iya, Fa. Tapi jujur, gue sebel lihat tuh cewek yang belagu itu. Pingin gua hajar tuh orang," kata seorang rekan kerjanya yang berbadan besar.


Syifa berusaha menenangkan teman-temannya.


"Sudah, jangan. Nissa tak ingin ada pertengkaran lagi. Udah, yuk kita kerja," kata Syifa.


Mereka pun mulai bekerja. Sementara, Nissa yang begitu sedih berjalan tanpa arah. Dia lewati jalanan dengan perasaan hancur. Di waktu yang bersamaan, Dicky yang begitu sedih berjalan tanpa arah, dan menabrak Nissa hingga dia terjatuh. Dicky berusaha membantu Nissa bangun.


"Maaf, Mbak. Mbaknya gak apa-apa?" tanya Dicky.


"Ng---Nggak aoa-apa, Mas," kata Nissa dengan gugup.


Nissa duduk di kursi yang ada di trotoar. Wajahnya kembali sedih. Dicky mendadak seperti ingat akan Nissa. Dia langsung duduk di sebelah Nissa.


"Mbak, maaf. Saya sepertinya pernah lihat mbak," kata Dicky.


Nissa yang masih sedih hanya diam. Dia tak menjawab pertanyaan Dicky. Dia berusaha menahan tangisnya. Dicky yang melihat kesedihan Nissa merasa iba.


"Mbak, kenapa sedih? Coba deh mbak cerita sama saya," kata Dicky pada Nissa.


Nissa tetap diam. Isak tangisnya mulai terdengar. Dicky teringat jika Nissa belum mengenal dirinya.

__ADS_1


"Oh ya, Mbak. Saya Dicky," kata Dicky memperkenalkan diri.


Nissa tetap tak merespon. Dia tetap menangis.


"Mbak, ceritakan masalah mbak. Mungkin saya bisa bantu," kata Dicky mencoba menenangkan Nissa.


"Mas, aku ingin sendiri. Tolong, Mas, aku ingin sendiri," jawab Nissa.


Dicky tercekat. Dia memandang jauh kedepan. Dia berusaha tersenyum.


"Mbak, aku juga sedang mengalami kesedihan. Aku dikhianati kekasihku," kata Dicky mulai


berbicara.


Dicky menghela nafasnya. Sorot matanya tampak sedih.


"Saya tak tahu apa masalah yang mbak alami. Jujur. Mbak tak pantas menderita. Mbak harus


bangkit, apapun caranya. Maaf, jika saya mungkin mengganggu. Permisi," kata Dicky beranjak


dari duduknya.


Dicky berjalan meninggalkan Nissa. Sepeninggal Dicky, Nissa merenungkan perkataan Dicky.


Dia berfikir sejenak. Dan ketika hendak beranjak, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu.


Nissa melihatnya, dan ternyata sebuah dompet kulit.


"Loh, ini dompet siapa?" tanyanya dalam hati.


Nissa membukanya, dan ternyata dompet milik Dicky. Nissa mencoba memandangi sekitarnya,


namun dia ta menemukan pemilik dompet itu.


"Uhm, apa aku kembalikan saja?" bathinnya.


Namun, dilihatnya hari telah petang. Nissa kembali berfikir. Sejenak dia berfikir, dan akhirnya


dia putuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia segera mencegat taxi dan pulang ke rumahnya.


Malam harinya, Nissa kembali membuka dompet yang dia temukan. Di dalam dompet, terdapat


sebuah kartu nama. Dia menghubunginya. Teleponnya diangkat.


"Halo, maaf dengan siapa saya bicara?" tanya seorang laki-laki di balik telepon.


"Maaf, apa benar saya berbicara dengan Pak Dicky?" tanya Nissa


"Iya, benar saya sendiri," jawabnya


"Pak Dicky, saya yang tadi bertemu bapak di tepi jalan. Tadi, saya temukan dompet bapak,"


kata Nissa.


Di rumahnya, Dicky yang tengah menerima telepon terkejut..Dia rogoh saku celananya, dan


ternyata dompetnya tak ada. Dicky segera menjawabnya.


"Iya, Mbak. Waduh! Itu dompet penting," kata Dicky.


"Ini dompetnya ada di saya. Tadi saya mau kembalikan, tapi hari telah malam. Besok saya antar


ke tempat bapak," kata Nissa.


Dicky berfikir.


"Begini saja, tolong share lokasinyq mbak, biar saya ambil dompetnya," pinta Dicky.


Dicky mengirimkan nomor wa nya. Nissa segera mengirim lokasi rumahnya. Dan tak lama

__ADS_1


kemudian, Dicky menutup teleponnya dan bersiap pergi ke rumah Nissa.


__ADS_2