Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Ungkapan Perasaan Syifa


__ADS_3

Ranty diam-diam mengikuti mobil Rizal. Dan dari situlah dia tahu rumah Nissa. Dia tersenyum puas dari kejauhan.


"Nissa, tunggu perhitunganku. Lihat saja," bathinnya.


Ranty segera pergi dari tempat itu. Tak lama setelah Ranty pergi, Rizal.yang sudah selesai mengantar Nissa langsung pulang ke rumahnya.


Adzan maghrib pun berbunyi. Suara adzan berkumandang dan saling bersahutan. Rizal yang beru datang buru- buru bersiap sholat berjamaah dengan keluarganya.


Sementara, Syifa telah berada dimasjid yang ada di kampungnya untuk sholat berjamaah.


Dirumah Syifa, setelah sekeluarga melaksanan shplat berjamaah, ibunya tampak mempersiapkan makan malam untuk keluarga. Sambil mrnyiapkan makan malam, Ibunya yang keheranan dengan sikap Syifa akhir-akhir ini bertanya pada Adiknya.


"Robby, koq tumben tuh Syifa rajin bener le mesjid. Gak kayak biasanya," kata Ibunya pada adiknya Syifa.


Robby tersenyum. Dia rupanya telah tahu penyebab mengapa Syifa begitu rajin ke masjid akhir-akhir ini.


"Ya, kakak lagi ada hati, Bu sama tetangga baru kita, Izam," kata Robby sambil tersenyum.


Ibunya terkejut. Dia tersenyum mendengar jawaban Robby.


"Oh, jadi Syifa begitu rajin ke masjid ternyata ada maksudnya? Uhm … Syifa … Syifa," kata ibunya dalam hati.


Sementara itu di masjid, Syifa tampak tengah mengikuti tausiyah. Namun, diam-diam dia mencuri pandang pada Izam yang tengah mendengarkan tausiyah dari Pak Ustadz.


Tetangga Syifa yang melihat Syifa melamun langsung menepuk pundaknya.


"Eeh, Syifa. Jangan melamun. Gak baik. Tuh dengerin kata Pak Ustadz," katanya sambil berbisik.


Syifa tersadar. Dia kembali fokus mendengarkan tausiyah itu.


"Nah, hadirin sekalian. Sebagai orang yang beriman, kita ini wajib mendirikan sholat. Apakah mendirikan sholat itu? Mendirikan sholat itu tidak hanya sekedar melakukan sholat, tapi lebih


dari itu. Ajaran ketika kita sholat itu harus membekas di kehidupan kita," kata Pak Ustadz dalam tausiyahnya.


Syifa yang tersadar mendengarkan tausiyah itu dengan sungguh-sungguh. Dan tak berapa lama kemudian, datang waktu sholat isya. Pak Ustadz menutup tausiyahnya, dan Izam yang menjadi muadzin segera adzan.


Di rumah, Robby yang tengah mendengar adzan Isya menaruh hpnya. Dia dekati ibunya yang tengah duduk bersama ayahnya di ruang tengah.


"Tuh, Bu. Yang adzan sekarang idolanya kakak," kata Robby pada ibunya.


Ibu dan ayahnya yang tengah duduk di ruang tengah memandang Robby dengan senyum simpul.


"Suara adzannya merdu sekali," kata ayahnya tersenyum manis.


"Iya, Pak. Suara idola Kak Syifa itu," balas Robby menahan tawa.


Ibunya tersenyum. "Sudah, jangan ngegosip. Masak cowok hobi ngegosip."


"Yah, Ibu koq gak percaya. Udah, nanti tanya Kak Syifa saja," kata Robby.


"Robby, sudah. Ayo segera ambil wudhu. Kita sholat jamaah," ajak Ayahnya.


Robby menurut. Dia segera mengambil wudhu dan segera masuk ke surau. Tak lama kemudian, ayah dan ibunya tengah bersiap sholat isya berjamaah.


Di masjid, setelah sholat isya, Syifa menunggu di depan masjid. Dengan sabar, dia menunggu Izam keluar. Tampak Izam tengah bercakap-cakap dengan Pak Ustadz. Agak lama Izam


bercakap-cakap dengan Pak Ustadz.


"Uhm … Izam koq lama banget sih? Pegel nih kakiku … ." Syifa mengeluhkan kakinya yang pegal.


Berulang kali, dia menepuk nyamuk yang mendekatinya.


"Ih, kalo gak karena Izam, ogah aku nungguin dia di sini," katanya dalam hati.


Dan, setelah agak lama, barulah Izam selesai berbincang-bincang dengan Pak Ustadz. Syifa bernafas lega, namun Izam tak menyangka jika Syifa menunggunya.


"Loh, Syifa? Aku kira kamu sudah pulang?" kata Izam keheranan.


Syifa hanya diam sambil tersenyum memandangi Izam. Syifa sama sekali tak berkedip.


Izam memandangi Syifa dengan keheranan. Berulang kali dia sentuh pundaknya, namun Syifa yang terbawa angan-angan tak bergeming.


"Fa, Syifa … kamu gak apa-apa kan?" tanya Izam sambil melambaikan tangannya di depan mata Syifa.


Syifa tersentak. Lamunannya buyar seketika itu juga. Dia begitu kaget melihat Izam di depannya.

__ADS_1


"Oh … Aku … Aku gak apa-apa," kata Syifa tersipu malu.


"Yeee … ketemu Izam aja kayak ketemu singkong," kata Wiwin yang baru saja keluar.


Syifa memandangj Wiwin dengan wajah malu sekaligus jengkel. Sedangkan Izam, mengernyitkan dahi tak mengerti maksud ucapan Wiwin.


"Izam, masak kamu gak tahu yang di maksud dia. Tuh Syifa ngefans ama lo," kata temannya yang tiba-tiba merangkulnya.


Izam tersenyum keheranan. Dia pandangi temannya.


"Ah, kamu itu. Ada-ada aja, Gatot," katanya dengan senyum malu.


Gatot hanya tersenyum. Dia segera pamit pada Izam.


"Udah, gua pulang duluan, Zam," kata Gatot.


Izam hanya mengangguk. Gatot segera berlalu. Wiwin yang belum pulang tersenyum pada Izam.


"Iih, Izam. Masak gak tahu kalo Syi … ." Ucapan Wiwin terputus ketika Syifa mencubit pahanya.


Wiwin meloncat terkejut. "Auwh, Fa. Sakit tahu."


Syifa hanya memandangi Wiwin dengan wajah memerah menahan malu.


"Izam, aku pulang dulu, ya. Besok ajarin aku ngaji. Assalamu'alaikum, Zam," kata Wiwin tersenyum manis.


Izam mengangguk dengan senyum ramah. Dia balas salam itu, "Wa'alaikum Salam, Win."


Sebelum berlalu, Wiwin berbisik pada Syifa, "Syifa, ungkapin perasaanmu."


Syifa sedikit membelalakkan matanya, namun Wiwin langsung berlalu meninggalkan Syifa.


Sepeninggal Wiwin, Syifa memandangi Izam sambil tersenyum. Izam mengajaknya pulang.


"Syifa, sudah malam. Kita pulang, yuk," ajak Izam.


Syifa hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka jalan berdua meninggalkan masjid. Di tengah perjalanan, Syifa berusaha menahan perasaanya. Dia tampak gugup.


"Duh, aku sudah gak bisa nahan perasaanku. Apa ini saatnya aku ungkapkan perasaanku?"


tanyanya dalam hati.


"Mas Izam. Uhm … Syifa mau bicara," kata Syifa dengan perasaan berdebar-debar.


Izam memandangi Syifa dengan senyum ramahnya.


"Ya sudah. Apa yang mau Syifa bicarakan?" tanya Izam.


Syifa menghentikan langkahnya. Dia pejamkan sejenak matanya. Dan setelah perasaannya tenang, dia mulai bicara.


"Mas Izam. Syifa … Syifa … suka dengan Mas Izam." Syifa menunduk malu sambil meremas mukena yang dia bawa.


Wajahnya bersemu merah menahan malu. Izam terperanjat dengan ungkapan Syifa. Dia pandangi Syifa seolah tak percaya.


"Syifa? Kamu … kamu serius dengan perkataanmu?" tanya Izam dengan nada terkejut.


Syifa hanya mengangguk sambil menunduk malu. Tangannya terus meremas-semas mukena yang dia bawa. Perasaannya berdebar-debar. Dia begitu khawatir cintanya bertepuk sebelah


tangan.


Izam terdiam sesaat. Dia tutup mulutnya dengan tangan kanannya. Dia tampak kebingungan. Syifa yang melihat Izam kebingungan mencoba menenangkannya.


"Mas Izam, m--maaf. Maaf jika perkataan Syifa menyinggung Izam," kata Syifa dengan perasaan berdebar-debar.


Izam sejenak terdiam. Dalam hati, dia merasa tak percaya dengan ungkapan Syifa.


"Syifa, apa benar kamu suka kepadaku?" bathinnya.


Dia pandangi Syifa seolah tak percaya. Wajahnya tampak sedih.


"Nggak, Syifa. Kamu serius suka dengan aku?" tanya Izam.


Syifa memandangi Izam. Dia tersenyum lembut sambil memegangi tangannya.


"Mas Izam. Aku serius suka sama kamu. Kamu tahu gak kalau aku begitu cemburu Dengan kedektanmu pada Nissa. Juga, aku pernah cemburu ketika kamu bertemu dengan klien," kata

__ADS_1


Syifa berterus terang.


Izam terdiam. Dia berdiri membelakangi Syifa. Dalam hatinya, Izam berkata, "Syifa, kamu begitu baik. Tapi, apa pantas aku bersanding bersamamu? Apa pantas kamu dapatkan duda


sepertiku?"


Ingatan Izam kembali pada kejadian dua tahun lalu. Dia terdiam.


---ingatan Izam---


Suatu malam, Izam tengah mengantarkan istrinya yang tengah hamil. Namun sebuah musibah


terjadi. Ambulan yang membawa istrinya tertabrak truk yang remnya blong. Sopir ambulan dan istrinya tewas seketika. Ambulan yang membawanya ringsek.


Keesokan paginya, Izam terbangun di rumah sakit. Dia terkejut melihat dirinya do rumah sakit.


"Ugh! Dimana aku?!" katanya terkejut.


Dia lihat orang tua dan mertuanya berdiri di sebelahnya. Mereka memandangi Izam dengan perasaan iba.


"Pak, Bu. Bagaimana Aisyah?" tanyanya.


Ayah dan ibu mertuanya menatapnya dengan sedih, namun berusaha menenangkan Izam.


"Nak, kamu yang sabar. Aisyah dan anakmu sudah tiada, Nak," kata Ayah mertuanya.


"Apa?! Aisyah meninggal?!" Izam menantap ayah mertuanya.


Tangisnya pecah. Izam yang begitu menyayangi Aisyah tak dapat menahan kesedihannya.


---ingatan Izam---


Izam menghela nafasnya. Dia kembali menatap Syifa. Dia ceritakan masa lalunya. Syifa begitu terkejut mengetahui cerita kelam Izam.


"Syifa. Aku masih begitu sedih kehilangan istri dan anakku. Aku belum move on dari mendiang Aisyah," kata Izam.


Syifa hanya tersenyum mendengar jawaban Izam. Dia pegangi tangannya. Izam menghela nafasnya.


"Syifa. Tahu mengapa aku lebih dekat dengan Nissa di bandinhkan kamu? Karena kamu ingatkan aku pada mendiang Aisyah. Keceriaan dan sifat humorismu ingatkan aku pada


mendiang Aisyah," katanya dengan nada sedih.


Syifa tersenyum manis. Dia coba tenangkan Izam.


"Izam. Aku mengerti. Aku pahami keadaanmu. Aku janji, akan sayangi kamu seperti halnya Aisyah, mendiang istrimu," kata Syifa.


Izam terdiam. Dia kembali menatap Syifa dengan lembut.


"Baiklah, Fa. Aku akan menerima cintamu, walau aku masih belum sepenuhnya move on dari Aisyah," kata Izam.


Izam memegangi kedua tangan Syifa.


Syifa mengerti. "Terima kasih mas sudsb terima cinta Syifa. Syifa ngerti. Syifa serahkan semuanya pada Allah. Semoga kita berjodoh, Mas."


Izam tersenyum memandangi Syifa.


"Amin, Syifa," balasnya singkat.


Mereka berdua segera berjalan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Syifa menjadi bulan-bulanan. Robby selalu menggoda Syifa yang baru saja pulang dari masjid.


Ayah dan ibunya tersenyum melihat Syifa bercanda dengan Robby, adiknya.


Sementara itu di kamarnya, Nissa tengah berbunga-bunga. Dia tengah membalas pesan dari Rizal. Ketika tengah asyik berbalas pesan, terdengar pintu di ketuk.


"Sebentar," kata Nissa sambil meletakkan handphonenya di tempat tidur.


Dia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Tampak ibunya di depan pintu.


"Nak, ibu minta tolong sebentar. Belikan ibu obat batuk," kata ibunya terbatuk-batuk.


Nissa hanya diam dan mengangguk.


"Ya udah, Bu. Nissa berangkat dulu. Ibu tunggu sebentar," kata Nissa.


Nissa segera mengenakan hijabnya dan perhi keluar rumah. Dia berjalan ke sebuah toko di depan rumahnya. Tak lama kemudian, dia datang dan membawakan obat batuk untuk ibunya.

__ADS_1


"Bu, ini obatnya. Semoga Allah sembuhkan penyakit ibu melalui obat ini," kata Nissa membantu ibunya minum obat.


Ibunya begitu terharu. Dia begitu senang dengan kepatuhan Nissa.


__ADS_2