
Hari berganti hari. Seminggu sudah Nissa menjalin hubungan cinta dengan Rizal. Nissa begitu bahagia menjalin cinta dengan Rizal. Namun, perjalanan cinta mereka tak mulus. Ranty yang begitu mencintai Rizal tak terima.
Ketika pagi hari, Nissa yang hendak berangkat kerja di kejutkan dengan sebuab mobil mewah
yang berhenti di depannya.
"Lho, mobil siapa ini?" tanyanya dalam hati.
Tampak pintu depan di buka. Dan keluarlah Ranty dari mobilnya. Pakaiannya begitu modis. Dia
dekati Nissa.
"Heh! Jadi, lo Nissa?" kata Ranty dengan tatapan tajam.
Nissa terkejut. Dia heran dengan Ranty yang memandanginya dengan wajah marah.
"Maaf, Mbak. Maksudnya apa ya?" tanya Nissa.
Ranty hanya tersenyum sinis menatap Nissa. Dia dorong tubuh Nissa.
"Owh! Lo gak tahu?" katanya berkacak pinggang.
Dia dekati Nissa. "Lo gak tahu atau pura-pura gak tahu? Jangan belagak suci lo, Nissa," kata
Ranty sambil menampar Nissa.
Nissa terkejut. Dia pegangi pipinya yang terasa panas sambil menatap Ranty.
"Ape lo lihat-lihat gua? Lo gak puas? Lo gak terima?!" bentak Ranty.
Nissa menatap Ranty dengan wajah sedih.
"Mbak! Maaf, saya benar-benar gak tahu maksud mbak," kata Nissa dengn wajah sedih.
Ranty yang emosi kembali menatap Nissa dengan wajah marah.
"Owh, jadi lo gak ngaku juga?! Belagak alim lo,, Nissa!" kata Ranty dengan senyum sinis.
Nissa yang benar-benar tak tahu maksud perkataan Ranty membalas perkataan Ranty dengan nada tinggi.
"Ya ampun, mbak. Beneran aku gak tahu maksud perkataan mbak. Kenapa sih mbaknya ngotot banget?" balasnya.
Ranty menatap marah. Dia mencengkram pundak Nissa dengan keras
"Nissa! Lo jadian kan sama Rizal? Kurang ajar kamu, Nissa! Jauhin Rizal, karena Rizal itu
milik gue! Paham!" bentak Ranty.
Nissa terkejut. Bak di sambar geledek, Nissa terpaku. "Astaghfirullah. Mbak, dia yang suka
sama aku. Apa aku salah mencintai Rizal?"
Ranty kembali hendak menampar Nissa, namun Nissa langsung menangkapnya.
"Ranty, kamu gak bisa menghalangi keinginan Rizal. Kenapa kamu begitu marah kepadaku?"
kata Nissa dengan nada lembut sambil memegangi tangan Ranty.
Ranty menepis kasar pegangan Nissa. Dia dorong Nissa dengan keras.
"Heh!! Lo gak pantas bersanding sama Rizal. Dia harus jadi milik gue," bentak Ranty.
Nissa hanya menggelengkan kepalanya sambil mengelus dadanya. Perasaanya begitu sedih.
Ranty yang sudah puas melabrak Nissa langsung naik ke mobilnya. Dia pacu mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Ranty, Nissa begitu sedih. Dia biarkan dua angkot melewatinya.
"Ya Allah, salahkah aku mencintai Rizal? Beri aku jalan, Ya Allah," doanya dalam hati.
Nissa berusaha tenangkan dirinya. Setelah dia tenang, dia cegat angkot yang lewat dan
__ADS_1
berangkat ke tempat kerjanya. Sesampainya di tempat kerjanya, Nissa tampak sedih. Syifa
yang melihat kesedihannya medekatinya.
"Eleh-eleh … yang baru jadian koq lagi galau?" tanya Syifa.
Nissa hanya diam. Dia tampak sedih. Syifa berusaha menghiburnya. Dia sentuh lembut
pundaknya.
"Nissa, cerita dong. Kalo sedih jangan di pemdam," kata Syifa.
Nissa menghela nafasnya. Matanya berkaca. Tampak air matanya menetes.
"Syifa, tadi aku di labrak sama orang. Aku gak tahu harus gimana?" kata Nissa mulai
menceritakan masalahnya.
Syifa yang mendengarnya terkejut.
"Lho, bukannya yang suka kamu itu Rizal duluan? Gimana sih tuh orang? Terus, dia bilang apa sama kamu?" tanya Syifa dengan nada agak tinggi.
Syifa menyeka air matanya. Dia menghela nafas menahan sakit hatinya.
"Fa, dia minta aku jauhi Rizal. Padahal, aku begitu sayang sama dia. Aku … aku tak ingin
menjauhi pria yang bertaqwa sepertinya. Aku sayangi dia bukan karena hartanya," kata Nissa
yang tak mampu kenahan tangisnya.
Syifa memeluk Nissa yang mulai menangis. Dia tenangkan sahabatnya.
"Sssh … ssh … Nissa, kalo Rizal jodohmu, dia tak akan kemanpun. Jangan takut dengan
amcaman dia," katanya menenangkan Nissa.
Namun, dalam hatinya dia begitu marah.
"Uhm … lihat saja, siapa wanita itu. Aku gak akan biarkan dia sakiti Nissa," katanya dalam hati.
"Oke, sekarang aku coba dekati Rizal," bathinnya.
Dia mengirim pesan pada Rizal. Pesan untuk ajakan makan siang. Di kantornya, Rizal yang
mendengar suara di hpnya membaca pesan Ranty. Dia mengernyitkan dahi.
"Loh … Ranty ajak makan siang? Waduh … gimana ini? Aku udah janji sama Nissa," katanya dalam hati.
Rizal membalas pesan Ranty. Dia menyatakan ketidak sanggupannya. Di kantornya, Ranty
begitu marah.
"Iiih! Koq gak mu sih? Apa jangan-jangan nanti makan siang dengan Nissa? Bemer-bener itu
orang. Awas aja, kamu Nis," bathinnya.
Ranty kembali putar otak. Dia berfikir bagaimana dia dapat simpatinya Rizal. Akhirnya, dia menemukan sebuah ide. Dia segera mengubungi seaeorang untuk menjalankan rencananya. Dan, teleponnya pun di jawab.
"Halo, Pak Alfan. Tolong saya pesan kue blackforest satu. Nanti uangnya saya transfer berikut alamat pengirimannya," kata Ranty melalui telepon.
"Oke, tapi kebetulan pesanan ibu belum ready. Mungkin nanti menunggu sekitar setengah jam,"
kata orang di balik telepon.
Ranty begitu tenang. Dia hanya tersenyum tipis.
"Udah, Pak. Gak apa-apa. Yang penting, sebelum siang kue harus selesai," kata Ranty.
"Siap, Bu. Pesanan ibu segera kami proses," kata orang di balik telelpon.
Ranty mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya menutup teleponnya. Dia membuka
__ADS_1
aplikasi internet bankomg dan memtransfer sejumlah uang. Screenshot tanda bukti transfer dan alamat pemgiriman dia beri ke orang itu.
Setelah itu, Ranty tersenyum puas. Dia kembali
bekerja.
Waktu terus berjalan. Tak terasa, hari telah siang. Rizal yang begitu berbunga-bunga mengirim pesan pada Nissa. Dia mengajak Nissa makan siang. Sementara itu, Nissa yang tengah sibuk menjahit di kejutkan dengan suara di hpnya. Dia membuka pesan itu.
"Rizal ngajak makan siang. Uhm … bagaimana ini? Aku tak ingin nanti terjadi pertengkaran
lagi," katanya dalam hati.
Nissa begitu bimbang. Dia tampak kebimgungan. Dia seperti gugup untuk membalas pesan itu.
Karena ragu, Nissa kembali meletakkan hpnya. Dia lanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit.
Dia selesaikan pekerjaannya. Dan setelah pekerjaannya selesai, dia kembali mengambil hpnya.
"Uhm … jam istirahat sebentar lagi, tapi aku bingung bagaimana menjawabnya," katanya dalam hati.
Syifa yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya mengemasi meja nya. Dia bersihkan meja jahitnya dari potongan kain. Dan ketika jam istirahat, dia heran melihat Nissa yang begitu bimbang.
'Nis, kamu kenapa lagi, sih? Kayaknya, hari ini galau mulu. Dari tadi aku lihat mantengin pesen
si doi mulu. Bales dong, kasihan tuh si doi nugguin balesan loe," goda Syifa sambil tertawa.
Nissa terdiam. Dia tampak.gugup di goda Syifa.
"Dia ngajakin makan siang, Fa. Tapi, aku takut terjadi pertengkaran lagi,' kata Nissa.
Syifa menggelengkan kepalanya. Dia heran melihat Nissa yang begitu galau. Dan tak lama
kemudian bel tanda istirahat berbunyi.
"Ya udah, ayo kita keluar, siapa tahu nanti kamu tenang," ajak Syifa.
Syifa menarik tangan Nissa dan mengajaknya keluar. Dan, sebuah kejutan datang. Rizal
ternyata menunggunya di depan tempat kerjanya.
"Nissa, yuk kita makan siang. Tadi kebetulan aku ada kerja di luar. Jadi, sekalian aja jemput
kamu," kata Rizal dengam senyum manisnya.
Deg! Nissa tampak gugup. Dia merasa bersalah pada Rizal karena tak balas pesannya. Dia
pandangi Syifa seolah mengisyaratkan perasaan gugupnya. Namun, jawaban Syifa justru diluar dugannya.
"Mas Rizal, Nissa begitu rindu sama anda. Makanya dia begitu gugup. Kelihatannya gugup, tapi dalam hatinya berbunga-bunga," kata Syifa memandangi Nissa.
Nissa mencubit lengan Syifa.
"Syifa! Apa-apaan sih kamu," katanya berbisik.
Syifa mengaduh kesakitan, namun senyumnya muncul. Dia isyaratkan Nissa untuk
menurutinya. Rizal yang melihat Nissa begiti gugup langsung menggandengnya.
"Ayolah, Say. Mau ya. Aku udah berharap benar kita makan siang bareng," ajak Rizal.
Nissa yang begitu gugup hanya menganggukkan kepalanya. Dia ikuti kemauan Rizal untuk makan siang bersama. Sementata itu, Ranty hendak mengajak Rizal makan siang. Ketika jam istirahat, dia datangi kantor Rizal sambil membawa kue yang tadi di pesannya. Dia bertanya pada bagian resepsionis.
"Maaf, Pak Rizalnya ada?" tanyanya.
Petugas resepsionis itu menjawabnya dengan ramah.
"Maaf, Pak Rizal tadi dinas luar. Mungkin sehabis istirahat baru datang. Tadi ada meeting
mendadak di luar," kata petugas resepsionis dengan nada ramah.
Ranty berusaha menyembunyikan kekecewaanya. Dia langsung pergi dengan nada kecewa. Dia masuk ke mobilnya dan langsung pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Iiih! Sial! Tapi aku tak akan menyerah. Apapun caranya, aku harus dapetin Rizal. Harus!"
katanya dalam hati sambil memacu mobilnya ke sebuah tempat.