Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Duka Almira


__ADS_3

Ketika tengah menyeberangi jalanan, sebuah mobil yang melaju kencang tiba-tiba muncul ke arah mereka berdua. Rahmat yang menyadarinya berusaha menyelamatkan Almira.


"Mira! Awas!" teriak Rahmat mendorong Almira.


"Aaakh!" Almirah terpekik kaget ketika tia jatuh di tepi jalan.


CKIIIIT!!! BRAK!! Kecelakaan pun tak terhindarkan. Rahmat terpental beberapa meter setelah tertabrak mobil yang melaju kencang. Kecelakaan itu mengundang perhatian orang di


sekitarnya.


Mobil itu berhenti agak jauh dari tempat Almira jatuh. Pemgemudianya turun.


"Hei,gimana sih loe? Kalo nyetir hati-hati dong!" bentak seorang tukang parkir pada orang itu.


"Maaf, tadi aku keburu," kata orang itu.


Tukang Parkir itu membalas, "Yee, keburu ya keburu, bang. Loe kagak lihat disini jalanan. rame, banyak orang jalan. Kalo keburu berangkat kemarin aja, bang. Loe musti tanggung jawab."


Pengemudi itu mengerti.


"Baiklah, aku akan tanggung jawab," kata orang itu.


Dia berjalan ke arah kerumunan. Sementara, Almira yang merasakan kesakitan berjalan ke arah kerumunan. Dilihatnya Rahmat telah terkapar bersimpah darah. Buru-buru dia berjongkok dan memeluk Rahmat. Dia coba menepuk pipi kirinya dengan lembut.


"Sayang … Sayang … ," kata Almira berusaha membangunkan Rahmat.


Rahmat tak bergerak. Almira kembali mencoba membangunkan Rahmat, namun dia tetap tak bergerak.


"Sayang … sayang … bangunlah. Please … jangan tinggalkan aku," kata Almira yang tangisnya mulai pecah.


Almira menangis sambil memeluk Rahmat. Dia cium keningnya.


"Sayang … mengapa kau pergi begitu cepat?!" Almira menangis histeris.


Dia peluk jasad kekasihnya yang telah tiada. Sementara, pengemudi itu begitu panik. Dia pegang nadinya, dan ternyata meninggal. Pengemudi itu merasa bersalah. Dia berkata pada Almira


"Mbak, maaf. Dia sudah tiada. Saya akan bertanggung jawab. Tolong, hubungi keluarganya," kata orang itu berusaha membujuk Almira.


Almira memandangi orang itu. Dia menatapnya dengan nada marah.


"Kenapa kamu buat dia meninggal? Kenapa?!" bentaknya.


Orang itu terdiam. Dia hanya menunduk. Sesorang mendekati Almira.


"Mbak, dia ada benarnya. Dia mau tanggung jawab loh," kata orang itu membujuk Almira yang tengah menangis.


Almira segera tersadar. Sejenak, dia pandangi orang itu, lalu Almira segera mengambil hpnya. Dia hubungi ayahnya Rahmat. Tak lama Almira menelepon, dan dia pandangi orang itu.


"Sebentar lagi ayahnya akan kemari," kata Almira di sela isak tangisnya.


Orang itu mengangguk. Dia ikut membantu membantu membawa jenazah Rahmat ke tepi jalan.


Dan, tak lama kemudian, ayahnya Rahmat datang. Dia datang bersama istrinya.


Almira dan orang yang menabraknya menemui ayah dan ibunya Rahmat.


"Pak, maaf. Saya tak sengaja menabrak anak bapak. Saya siap jika bapak menempuh jalur


hukum," kata orang itu.


Ayahnya Rahmat memandangi orang yang menabrak anaknya dengan wajah sedih. Dia menghela nafasnya.


"Nak. Dia adalah harapanku. Adik-adiknya masih kecil," kata Ayahnya Rahmat.


Orang itu terdiam. Dia menundukkan wajahnya. Ibunya mendekati Almira.


"Nak, kami begitu sedih kehilangan anak kami, tapi kami ingin semuanya segera selesai," kata ibunya Rahmat.


Orang itu mengerti. "Baik, Bu. Saya akan menyerahkan diri ke Polisi," katanya.


Dia hendak mengambil handphonenya. Namun, ayahnya Rahmat mencegahnya. Dia pandangi orang itu


"Nak, sudahlah. Kami ikhlas menerima kepergian anak kami," kata ayahnya Rahmat.


"Tapi, Pak …. " Perkataan orang itu di putus oleh ibunya Rahmat.


"Nak, ini sudah suratan takdir. Kami sudah ikhlas menerimanya," kata ibunya Rahmat.

__ADS_1


Orang itu mengeluarkan kartu namanya, dan memperkenalkan diri.


"Baik, Bu. Saya Dicky. Semua biaya pemakanan saya tanggung," kata Dicky sambil memberikan kartu namanya.


Ibunya Rahmat menerima kartu nama Dicky. Tak lama kemudian, ambulan datang. Almira dan Dicky mengantar jenazah Rahmat ke rumahnya.


Sesampainya di rumah duka, tetangga Rahmat berkumpul. Tampak teman-teman kuliah Rahmat datang ke rumah duka.


Malam semakin larut. Said yang tengah beristirahat di kamarnya di kejutkan oleh suara di hpnya.


"Almira?" katanya dalam hati.


Said menerima telepon dari Almira. Dan, dia begitu terkejut mendengar kematian Rahmat.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, kapan kejadiannya Mira?" kata Said melalui telepon.


Di tengah isak tangisnya, Almira akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Said merasa sedih kehilangan teman sebaik Rahmat.


"Mira, aku akan kesana sebentar lagi. Kamu yang sabar ya. Semoga amal kebaikan Rahmat di terima Allah SWT," kata Said menutup teleponnya.


Said lamgsung bersiap. Dia ganti pakaiannya dan kelluar kamar. Ketika hendak berangkat, Said di tegur ayahnya.


"Said, kamu malam-malam gini mo kemana?" kata Rasyid.


Said langsung menjawab.


"Anu, Pa. Said mau ke rumah teman," jawabnya.


Rasyid keheranan. "Koq pake anu segala. Jangan-jangan, kamu mau ngapelin Hajar lagi?"


Said terkejut. Dia mengira ayahnya pernah tahu perbuatannya.


"Ng--nggak, Pa. Nggak koq," katanya gugup.


Rasyid menantapi wajah Said yang gugup.


"Jangan bohong kamu, Said," kata Rasyid menatap tajam Said yang gugup.


"Sumpah, Pa. Demi Allah. Aku mau jemput Almira," kata Said berusaha meyakinkan.


Rasyid menatap Said. Dia tersenyum.


Said keheranan. "Kejadian? Kejadian yang mana, Pa?"


"Waktu kamu pertama bertemu Almira, ingat kan?" tanya ayahnya.


Said teringat kejadian itu. Wajahnya memerah menahan malu. Dia sadari kelemahannya jika dia canggung, yaitu sakit perut mendadak. Karena keanehannya itulah dia kerap di juluki raja toilet oleh saudaranya.


"Yah itu kan dulu, Pa. Itu karena aku makan nasi kabuli yang kelewat pedas," kata Said menutupi alasan sebenarnya.


Rasyid tersenyum mengingat kejadian itu. Said langsung pergi memacu mobilnya ke rumah Rahmat.


Sesampainya di sana, Said menemui orang tua Rahmat.


"Bu, saya turut berduka atas meninggalnya Rahmat," kata Said pada ibunya.


"Terima kasih, Nak," balas ibunya Said.


Said melihat Almira membacakan surat yasin untuk kekasihnya. Air matanya tak berhenti menetes membasahi pipinya. Dia dekati Almira.


"Mira, aku turut bela sungkawa," bisiknya.


Almira sejenak menghentikan bacaannya. Dia pandaangi Said yang ada di sampingnya. Almira mengangguk. Dia berusaha tersenyum di tengah tangisnya. Dia lanjutkan membaca surat yasin


di depan jenazah kekasihnya.


Said memandangi wajah Rahmat untuk yang terakhir kalinya. Dia bacakan suratul fatihah untuk Rahmat. Dan, dia bacakan surah yasiin. Setelah selesai, Said mengajak Almira untuk pulang.


Almira mengangangguk.


Setelah berpamitan, Said mengantar Almira pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, Almira membisu. Air mata masih menetes di pipinya.


"Mira, aku tahu kamu begitu sedih. Kamu yang sabar, ya. Aku juga sedih dengan kepergian Rahmat," kata Said berusaha menenangkan Almira.


Almira hanya diam. Said melihat ada cincin di jari Almira, dan Almira terus memandangi cincin itu.


"Said, aku tak menyangka. Cincin ini ternyata adalah pertanda … ," kata Almira yang terputus ucapannya.

__ADS_1


Said melihat Almira kembali menangis. Dia berusaha menenangkannya.


"Mira, yang sabar ya. Allah pasti punya rencna yang lebih baik buat kamu," kata Said berusaha menenangkan Almira.


Almira terdiam. Dia masih begitu sedih dengan kepergian Rahmat yang begitu cepat.


"Semoga amal ibadah Rahmat di terima di sisi-Nya," lanjutnya.


Almira yang masih merasa kehilangan orang yang dia cintai hanya mengangguk.


Dan, tanpa terasa mereka akhirnya sampai di rumah Almira.


"Said, terima kasih ya kamu antar aku," kata Almira.


Said tersenyum. "Sudah, Mira. Aku ikhlas. Toh, Rahmat juga sahabatku."


Almira langsung turun.


Said yang sempat melihat Pak Hasan berniat mengantarkannya. Dia


khawatir ada apa-apa.


"Mira, aku antar ya," kata Said menawarkan jasa.


Almira hanya mengangguk. Dia langsung masuk ke rumahnya. Dan, kekhawatiran Said terbukti. Dia melihat dari mobilnya Pak Hasan memarahi Almira. Dia segera mematikan mobilnya dan turun.


"Mira! Apa yang kamu lakukan?!" bentaknya.


Almira yang masih berduka hanya diam. Hasan kembali menghardiknya.


"Hei! Jawab pertanyaan papa. Kemana saja kamu?!" bentaknya.


Said melihat Pak Hasan mencengkeram kasar bahu Almira.


"Om, sudah. Jangan marahi Mira. Tadi Mira ikut saya bertakziah," kata Said.


Kemarahan Pak Hasan mereda. Namun, kecurigaannya kembali ketika dia melihat cincin di jari Almira.


"Mira! Itu cincin dari siapa?" tanya ayahnya penuh rasa curiga.


Said langsung mengarahkan pandangannya ke jari Almira. Almira yang ketakutan tak menjawab.


"Mira! Cincin itu dari siapa?! Jawab!" bentak Hasan.


Almira kembali pecah tangisnya. Said langsung tanggap. Dia mencoba berbohong.


"Uhm … Om. Uhm … tadi saya mampir ke toko cincin. Dan, rupanya cincin itu saya lihat cocok untuk Mira. Jadi, saya belikan untuk dia, dan … inilah," kata Said dengan sedikit gugup.


Dengan tajam, dia pandangi Almira dan Said secara bergantian.Pak Hasan diam sejenak. Namun, senyumnya langsung lebar.


"Oh, rupanya kamu ingin segera melamar Almira. Papa senang banget. Baiklah, saya akan hubungi Pak Irsyad," kata Hasan dengan rasa senang.


Dia langsung masuk ke dalam dengan riang. Sementara, Said dan Almira saling berpandangan. Tampak wajah Almira begitu terkejut, sementara Said tampak bingung.


"Waduh, Mira. Ini gimana?" tanya Said dengan wajah kebingungan.


Said yang begitu kebingungan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dan, tak lama kemudian Said mendengar handphonenya berbunyi. Dan, dia begitu terkejut.


"Waduh, mampus gue!" katanya berbisik.


Dia terima telepon ayahnya.


"Ya, Pa." Said menerima telepon itu dengan rasa was-was.


"Said, kamu ini koq bisa-bisanya bikin kejutan buat papa," kata Rasyid di balik teleponnya.


"Tapi, Pa. Said tak tahu apa maksud papa," kata Said dengan nada terkejut.


"Ah, kamu, Nak. Pake acara rahasia-rahasia segala," kata Rasyid dari balik telepon


Said mencoba menjelaskan, namun penjelasannya di putus ayahnya. Dia makin kelihatan kikuk. Dan, tak lama kemudian telepon pun di tutup. Said menyimpan handphonenya dengan wajah kebingungan. Dan, tak lama kemudian Pak Hasan menemui Said.


"Nak Said, Kapan kamu melamar anak saya?" tanyanya.


Said kebingungan. Keringat dinginnya bercucuran. Dan, mendadak dia merasa sakit perut. Berulang kali Said buang gas di depan Almira.


"Uhm … waduh, maaf Om. Koq mendadsk saya kembali mual." Said memegangi perutnya.

__ADS_1


Almira yang baru saja menangis mendadak ingin tertawa. Dia tampak berusaha menahan tawanya melihat kelucuan Said. Pak Hasan langsung mengantarkan Said ke toilet.


Sepeninggal Said dan Pak Hasan, Almira buru-buru masuk ke kamarnya. Dan di dalam kamarnya, dia tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2