Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Usaha Ranty


__ADS_3

Ranty yang begitu jengkel.memacu mobilnya. Dan secara tak sengaja dia melihat mobil Rizal tengah terparkir di sebuah food court. Perasaan marahnya muncul.


"Iiih! Brengsek! Ternyata disini rupanya dia," katanya dalam hati.


Ranty membuka jendela mobilnya. Dilihatnya Rizal yang tengah makan siang dengan Nissa. Tampak sesekali mereka tertawa ceria, sehingga membuat Ranty begitu marah. Dia segera


pergi meninggalkan mereka berdua.


Sementara itu, Fahmi yang baru saja membuka cafenya di kejutkan dengan kedatangan Ranty yang begitu mendadak. Tanpa bicara, Ranty langsung duduk di sebuah kursi. Sebagai pemilik


cafe , Fahmi menyambutnya dengan ramah.


"Selamat siang, … Ibu Ranty yang …." Fahmi terkejut melihat Ranty yang begitu jutek. "Yah, kok cemberut? Tuh muka kok bejek amat?" katanya keheranan.


"Gue suntuk nih! Sebel!" kata Ranty dengan nada jengkel.


Dilihatnya, Ranty membawa kue. Fahmy begitu tergoda. Iseng, Fahmy menggodanya. Dengan gaya bak anjing pelacak, dia seolah mengendus aroma kue.


"Uhm … ini … ini koq gua cium ada yang lewat nih … aroma apa ini?" tanyanya sambil meniru anjing pelacak.


Ekspresinya begitu lucu. Ranty yang melihat perilaku Fahmi berusaha menahan tawa. Dia lihat Fahmi seperti mengincar kue yang dia bawa.


"Eh, loe emang tahu aja, ya kalo gue bawa kue," katanya sambil tersenyum.


Fahmi tertawa lepas. "Nah gitu dong, Ran. Masak data di mari muka dilipet kayak cucian bejek gitu."


"Udah, Mi. Nih gua kebetulan bawa kue. Ayo di cicipin selagi hangat," ajak Ranty sambil membuka kotak kue itu.


Tampak kue blackforrest yang begitu menggugah selera. Dengan pisau yang di sertakan dalam kue, Ranty memotong kue itu.


"Wah, tumben cafenya belum buka, ternyata eh ternyata, ada putri cantik bawa kue nih," kata Dicky yang datang secara tiba-tiba.


Ranty dan Fahmi reflek memandangi Dicky yang datang secara tiba-tiba. Ranty yang mengetahui perasaan Dicky kepadanya memasang wajah sedikit malu.


"Eh, Ranty. Boleh minta blckforrestnya gak nih? Aromanya enak sekali, tercium sampai parkiran depan," katanya bercanda.


"Ehem! Ini koq roman-romannya ada apa-apa deh," kata Fahmi berdehem sambil memandangi Ranty.


"Iih, apaan sih, Mi," kata Ranty dengan wajah memerah. "Udah, Mi. Buruan ambil piring. Kita makan bareng aja nih kue," lanjutnya.


Fahmi segera mengambil piring lebar. Dilihatnya beberapa pegawai telah siap. Sambil mengambil piring, dia buka cafenya. Sementara menunggu Fahmi mengambil piring, Dicky duduk di sebelah Ranty. Dia berusaha mendekatinya.


"Ranty, kamu koq kelihatan lesu gitu. Kenapa?" tanyanya.


Ranty terdiam sejenak. Dia sebenarnya enggan menceritakan perasaannya. Karena tak kuat menahan sesak di dadanya, Ranty pun menceritakan permasalahannya.


"****, gua sebel sama cewek yang namanya Nissa," bisiknya.

__ADS_1


Dicky yang merasa tak mengenalnya mengernyitkan dahinya.


"Nissa? Nissa siapa, Ran?" tanya Dicky dengan berbisik.


Ranty menceritakan apa yang membuatnya begitu sakit hati. Dia ceritakan kejengkelannya pada Nissa hingga melabraknya tadi pagi. Dicky hanya menggelengkan kepalanya.


"Ranty. Dengerin aku. Sudahlah, percuma kamu paksain cintamu pada dia jika dianya milih Nis … Nis … aduh … siapa sih tadi. Nissan atau apa tadi namanya?" kata Dicky berusaha mengingat-ingat.


"Nissa, ****. Cewek itu namanya Nissa. Bukan Nissan. Mentang-mentang loe punya dealer ama bengkel mobil, tahunya merk mobil mulu," kata Ranty sambil memonyongkan bibirnya.


Dicky tersenyum melihat Ranty memonyongkan bibirnya. Dia sentuh lembut pundaknya.


"Ranty, maaf. aku becanda," kata Dicky.


Ranty tetap diam sambil memonyongkan bibirnya sambil membuang muka. Dicky berusaha sabar dengan sedikit sifat manja Ranty.


"Duuuh, Putri cantik koq lagi ngambek? Kalo ngambek … malah kelihatan cantik …," kata Dicky dengan senyum manis.


Sementara, Fahmi yang melihat Dicky merayu Ranty dari kejauhan hanya tersenyum Dia berniat mengerjai Ranty dan Dicky.


Teng … teng … teng … ! Tiba-tiba Fahmi muncul dengan membawa piring lebar dan sendok kecil. Dia tersenyum melihat Dicky yang berusaha merayu Ranty.


"Rayu terus, Bos Dicky! Yeee, lagi kasmaran nih. Gua jadi obat nyamuk dong …. " Fahmi tersenyum memandangi Ranty yang mulai tersenyum.


Ranty berusaha mengalihkan pembicaraan Fahmi.


Fahmi menaruh piring itu di meja. Ranty segera menaruh kue itu di atas piring dan membaginya menjadi potongan-potongan kecil. Setelah itu, mereka kembali terlibat dalam sebuah


percakapan. Terkadang canda ringan muncul dari percakapan itu.


Sejenak, Ranty mulai melupakan kejengkelannya. Tak terasa, jam istirahat pun berakhir. Ranty segera pamit dan kembali ke tempat kerjanya. Dia


segera memacu mobilnya ke kantor. Dan di tengah perjalanan, tak sengaja dia melewati tempat kerja Nissa.


Di lihatnya Nissa hendak menyeberang ke tempat kerjanya. Ranty yang terbakar


cemburu langsung menambah kecepatan mobilnya. Mobil pun melaju kencang.


Syifa yang melihat mobil melaju lencang segera berteriak mengingatkan Nissa.


"Nissa!! Awas ada mobil ngebut!" senrunya.


Nissa terkejut. Dan mobil itu begitu dekat.


"Kyaaa!!!" Nissa menjerit ketakutan.


Namun tiba-tiba seseorang menariknya ke tepi jalan sehingga Nissa selamat. Mobil itu berhenti. Terdengar suara ban berdecit.

__ADS_1


Syifa dan beberapa teman kerjanya yang melihat kejadian itu mendatangi Nissa dan pria yang menyelamatkannya.


"Nis, loe gak apa-apa?" tanya Syifa.


"Uhm … gak apa-apa, Fa." Nissa tampak shock dengan kejadian barusan.


Dan di luar dugaan, mobil mewah itu mundur dan berhenti di tempat yang agak jauh. Seorang wanita cantik turun dan mendekatai Nissa. Wanita itu adalah Ranty yang terbakar cemburu. Dia


dekati Nissa yang masih shock.


"Owh! Loe masih selamat rupanya, dan owh … loe ada pangeran baru ya? Ck … ck … ck … ." Ranty tersenyum mengejek Ranty.


Pria itu memandang marah pada Ranty.


"Heh, Mbak. Kalo bicara di jaga dong! Situ sendiri niat nabrak mbak ini, kan?" bentaknya.


Perkataan pria itu memancing reaksi kemarahan teman kerja Nissa. Mereka menatap marah pada Ranty. Namun, Ranty tak gentar. Dia begtu enteng mengejek Nissa dan teman-temannya.


"Iya. Gua mau nabrak dia. Tapi, dia selamat, kan?" kata Ranty dengan santai seolah tak bersalah.


Dia dekati Pria yang menyelamatkan Nissa. Dia pandangi pria itu dengan senyum sinis.


"Udah, loe lain kali jangan sok jago," ejek Ranty.


Pria itu langsung naik pitam. Dia hendak melayangkan tamparannya, namun Nissa mencegahnya.


"Mas, sudah. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Gak baik," kata Nissa mengingatkan pria itu.


Ranty memandangi Nissa dengan tajam. Dia menunjuk ke arah Nissa.


"Nissa, lihat aja nanti. Gua bakal buat perhitungan buat loe!" bentaknya sambil berlalu.


Ranty segera masuk ke dalam mobil mewahnya, dan langsung tancap gas. Semua orang yang melihat Ranty tampak emosi. Syifa hanya menggelengkan kepala melihat keangkuhan Ranty.


"Iih, siapa sih tuh cewek? Belagu amat," kata Syifa dengan nada jengkel.


"Entahlah. Aku juga heran. Tapi sudahlah, Fa. Mending kita kerja aja," balas Nissa.


Syifa mengerti. Akhirnya, mereka kembali masuk ke tempat kerjanya. Di kantornya, Ranty begitu emosi.


"Awas, kamu, Nissa. Aku akan cari cara laim buat pisahin kamu sama Rizal," katanya dalam hati.


Ranty duduk di ruang kerjanya. Dia sibukkan diri dengan pekerjaannya. Dan, di tengah pekerjaannya, rupanya ada kerjasama dengan perusahaan Rizal yang harus di bahas.


Dia mencoba mengajak Rizal makan malam dengan kedok membahas kerjasama bisnis.


"Uhm … oke. Mungkin dengan cara ini aku bisa dapatkan Rizal," bathinnya.

__ADS_1


Dia menghubungi Rizal dan mengatur janji. Setelah mendapat respon, Ranty tersenyum. Dia segera berdandan dan bersiap menunggu Rizal di sebuah cafe.


__ADS_2