Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Menghilangnya Nissa


__ADS_3

Setelah telepon di tutup, Nissa hendak meletakkan dompet Dicky di mejanya. Secara tak sengaja, ada selembar foto yang jatuh. Nissa memungutnya.


"Loh! Ini kan Ranty? Tapi, koq ada foto Ranty di dompet Dicky?" bathinnya.


Nissa buru-buru memasukkan foto itu ke dalam dompet Dicky. Dan tak lama kemudian, terdengar pintu kamarnya diketuk.


"Ya, Sebentar," kata Nissa segera bangkit dari duduknya.


Nissa buru-buru membuka pintu kamarnya. Ibunya ada di balik pintu.


"Nak, ada tamu nyari kamu. Katany mau ambil dompetnya," kata ibunya dari balik pintu.


"Iya, Bu. Tadi Nissa sudah hubungi orangnya. Sebentar, Bu. Saya temui orangnya," kata Nissa.


Nissa segera beranjak ke ruang tamu. Dia temui Dicky telah menunggunya.


"Maaf, Mas. Tadi saya mau kembalikan, tapi sudah kemalaman. Maunya besok saya balikin," kata Nissa memberikan dompet itu pada Dicky.


Dicky tersenyum manis. Dia amati isi dompetnya, dan secara tak sengaja, foto Ranty yang ada di dompetnya terjatuh. Dicky segera memungutnya. Wajahnya berubah sedih.


"Mbak, terima kasih sudah menyimpan dompet saya," kata Dicky.


Nissa tergelitik ketika melihat ada foto Ranty di dompet itu. Dia bertanya pada Dicky.


"Maaf, Mas. Mas kenal sama Ranty?" tanya Nissa.


Roman muka Dicky berubah. Dia tampak sedih. Dia keluarkan foto Ranty yang masih tersimpan di dompetnya. Dia menunjukkan foto itu.


"Nissa, ketika foto ini diambil, aku begitu bahagia. Sangat bahagia," katanya mulai mengenang masa-masa indahnya.


Dicky menahan kesedihannya. Dia diam sejenak, dan menghela nafasnya


.


"Awalnya, aku begitu senang dia akhirnya menerimaku. Aku merasa bersemangat jalani hari-hariku. Tapi, aku tak menyangka, ternyata Ranty menerima cintaku sebagai pelarian. Dia justru memilih pria lain yang tengah menjalin cinta dengan wanita lain," lanjutnya.


Dicky kembali memandangi foto itu. Dia berusaha tersenyum.


"Aku sakit sekali saat ini. Semua sudah aku lakiukan demi dia, tapi kini dia baru saja bertunangan dengan pria ini," kata Dicky sambil mengutak-atik hpnya.


Dia membuka instagramnya, dan menunjukkan live video dari Ranty pada Nissa. Dia pandangi Dicky dengan wajah keheraan.


"Mas, jadi Ranty itu pacarnya?" tanya Dicky.


Dicky hanya mengangguk. Dia seolah tak kuasa menahan kesedihannya. Mereka berdua kembali saling diam. Dicky segera memasukkan dompetnya ke saku bajunya.


"Ya sudah, Mbak. Saya permisi dulu. Selamat malam," kata Dicky berpamitan pada Nissa.


Dia bangkit dari duduknya, dan beranjak keluar. Dengan langkah gontai, Dicky berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir. Dia langsung pergi dari tempat itu.


Seoeninggal Dicky, Nissa melamun. Dia merasa iba pada Dicky yang dikhianati Ranty.


"Kasihan sekali dia," bathinnya.


Nissa segera beranjak dari ruang tamu, dan kembali masuk ke kamarnya. Sementara itu, di sebuah restoran tengah ada sebuah acara ulang tahun pernikahan. Ranty mengajak Rizal


hadir di acara itu.


"Stefi, tak terasa sudah tahun ke tiga kamu menikah. Semoga langgeng," kata Ranty sambil memeluk Stefi.


"Iya, terima kasih, Ranty," balas Stefi.


"Eh, iya. Kenalin. Calon suami gue, Riza," kata Ranty sambil merangkul mesra Rizal.

__ADS_1


Rizal sebenarnya merasa tak nyaman, namun dia berusaha tak menunjukkan perasaannya. Rizal berusaha tersenyum pada Stefi dan suaminya.


"Eh, Ran. Kapan nih loe nyusul? Kan udah ada calon, tinggal eksekusi loh," kata Stefi menggoda Ranty.


Ranty hanya tersenyum mendengar candaan Stefi, namun Rizal seperti tak nyaman. Dia hanya diam.


"Mas, aku ngobrol sama Ranty dulu ya. Kangen aku setelah lama sekali tak bertemu," kata Stefi pada suaminya.


Suami Stefi hanya mengangguk. Dia ajak Ranty berbicara di tempat yang lain. Suami Stefi mengajak Rizal berbjncang-bincang. Tampak Rizal begitu mudah mencairkan suasana. Tampak


sesekali canda ringan keluar dintara mereka.


Di tempat yang agak jauh, Stefi menatap kagum pada Rizal. Sementara Rizal tampak berbicang dengan suami Stefi, di sebuah ruangan Stefi dan Ranty bercakap-cakap.


"Cool man, Ranty. You're lucky girl," kata Stefi tersenyum manis.


Ranty tersenyum mendengar perkataan Stefi.


"Yah, gue cinta dia udah lama. Sekitar dua tahun lalu. Gue ingat ketika itu loe belum nikah. Ingat gak waktu mobil gue mogok?" tanya Ranty.


Stefi mengingat-ingat. "Ah ya, yang waktu itu gua sudah tunangan ama Albert, suami gue sekarang," katanya tertawa ringan.


Ranty mengingat kejadian ketika dia pulang liburan ke indonesia. Mereka berdua tertawa mengenang peristiwa itu.


"Loe sih. Gak cek bensin. Kalo kagak ada bensin, gimana mobil loe jalan?" kata Stefi tertawa.


Ranty tertawa lepas mengenang peristiwa itu.


"Ya itu, gua lupa. Padahal, loe dan beberapa orang berusaha dorong mobil supaya nyala, ternyata gak berhasil. Setelah di cek, bensinnya ternyata habis," kata Ranty tertawa lepas.


"Tapi untung loh, kamu mau ngerti," balas Stefi mengenang peristiwa itu.


Ranty tersenyum manis mengingat kejadian itu.


"Eh, tapi setelah kejadian itu, mobil gua mogok lagi. Mana hari telah petang lagi," katanya.


Ranty akhirnya menceritakan awal pertemuannya dengan Rizal. Stefi mendengarkannya dengan seksama. Dia terkesan dengan uniknya pertemuan pertama Ranty dan Rizal.


"Yah, sejak pertemuan itu, aku menyimpan perasaanku kepadanya. Aku terus simpan dia di hatiku, hingga sekarang," kata Ranty.


Stefi tersenyum mendengar kisah Ranty. dia mencubit gemas pipi chubby Ranty.


"Owh ... So Sweet," balasnya dengan senyum menggemaskan.


Kembali Ranty dan Stefi terlibat percakapan. Tak terasa, malam makim larut. Acara itupun berakhir. Rizal segera mengajak Ranty untuk pulang.


Seminggu setelah pertunangan itu, Nissa sama sekali tak pernah bertemu dengan Rizal. Bahkan, sekedar menghubunginya saja tidak. Di kantornya, Rizal berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Namun, di tengah lesibukannya, dia rasakan kerinduannya pada Nissa. Dia buka album foto di hpnya. Dia pandangi foto Nissa.


"Nissa, aku rindu kepadamu. Aku ingin bertemu denganmu," kata Rizal.


Matanya berkaca di tengah lamunannya. Dia teringat terakhir kali bertemu dengannya. Perasaannya hancur kala itu.


"Nissa, kau bagai bidadari hatiku. Aku berusaha move on darimu, namun tak bisa. Andai Allah kembali mempertemukan kita, aku janji akan sayangi kamu, dan apapun caranya, aku akan pertahankan," lanjutnya dalam hati.


Dia terus menatap foto Nissa layar handphonenya. Dia menyentuh layar hpnya untuk melepas kerinduannya pada Nissa. Tanpa sia sadari, Ranty datang ke ruang kerjanya. Dia melihat Rizal yang melamun sambil memandangi foto Nissa.


"Hei! Kamu masih mikirin cewek sok alim itu?!" bentak Ranty sambil merampas hpnya Rizal.


Rizal terkejut dengan kedatangan Ranty yang tiba-tiba merampas hpnya.


"Ranty! Apa-apaan sih kamu? Masuk ke ruang kerjaku udah gak salam, main rebut hpku aja. Pulangin hpku!" balas Rizal dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Kamu keterlaluan, Rizal. Kamu sudah bertunangan dengan aku, sekarang kamu malah mikir wanita sok alim itu," bentaknya.


Ranty membanting hp milik Rizal ke lantai. Hp itu pun pecah. Kemarahan Rizal mencapai puncak. Dia mendorong Ranty dan memunguti handphonenya.


"Cukup, Ranty! Keterlaluan kamu!" bentaknya.


Rizal segera pergi dari tempat kerjanya. Dia beranjak keluar kantor.


"Hey, Rizal! Tunggu! Mau kemana kamu?!" teriak Ranty sambil berlari mengejar Rizal.


Rizal tak menggubris. Dia langsung masuk ke mobilnya dan tancap gas meninggalkan Ranty di parkiran.


"Iiih! Sial! Kenapa sih kamu selalu mikirin cewek sok alim itu?!" teriaknya diparkiran mobil.


Ranty yang kecewa segera beranjak pergi dari tempat itu. Sementara itu, di suatu tempat, Rizal.menghentikan laju mobilnya. Dia pegangi hpnya yang di banting Ranty. Ternyata, hp itu masih menyala, namun layarnya retak.


Rizal segera pergi ke tukang servis hp, dan memperbaikinya.


"Bang, kalo perbaiki hp ini berapa?" tanya Rizal.


Tukang servis itu mengamatinya. Dia lihat kerusakannya. Tak lama kemudian, tukang itu menemui Rizal dan membawa spare part.


"Kisarannya sekitar lima ratus ribuan, Mas," jawab tukang servis itu.


Rizal menyetujuinya. Akhirnya, tukang itu segera memperbaiki hp Rizal. Tak lama kemudian, hpnya kembali bagus. Rizal membayar sejumlah uang dan langsung pergi. Diam-diam, Rizal mencari kabar mengenai Nissa. Dia coba menghubungi Nissa.


"Yah, tak diangkat," bathinnya.


Rizal kembali mencoba menelepon Nissa, tapi tetap sama. Akhirnya dia coba kirim pesan melalui WA, ternyata di blokir. Rizal akhirmya pergi ke tempat kerjanya Nissa. Ketika itu, dia melihat Syifa dan Izam. Rizal mendatanginya.


"Syifa, kamu ingat aku kan? Nissa ada?" tanya Rizal pada Syifa.


Syifa hanya diam. Wajahnya menunjukkan ekspresi kurang suka. Izam akhirnya menjawab


pertanyaan Rizal.


"Mas, Nissa sudah keluar dua hari lalu. Katanya keluar kota," kata Izam menjelaskan.


"Keluar kota? Kemana, Mas?" kata Rizal begitu antusias.


"Maaf, Mas. Dia tidak bilang mau kemana," kata Izam.


Kembali Rizal kecewa. Rizal kembali bertanya pada Syifa. Dia tahu Syifa dan Nissa adalah sahabat karib.


"Fa, kamu kan temen dekatnya Nissa. Kira-kira, kamu tahu nomor hpnya Nissa? Soalnya saya hubungi hpnya gak aktif. Saya kuatir ada apa-apa dengan dia," kata Rizal


Syifa yang kecewa dengan Rizal menjwab ketus.


"Mas, bukannya mas harusnya kuatirin tuh cewek belagu pilihan Mas. Ngapain tanya-tanya Nissa segala?" ktanya dengan nada tinggi.


Rizal tercekat. Perasaan bersalahnya muncul.


"Terima kasih," balas Rizal singkat.


Rizal langsung beranjak tanpa menoleh kebelakang. Dia pacu mobilnya ke suatu taman dan berhenti di situ. Rizal yang tengah berjalan seorang diri di taman itu. Wajahnya tampak kusut.


"Nissa, mengapa harus kau yang aku cintai?" bathinnya.


Dia merenung di sebuah bangku di tepi jalan. Wajahnya tampak sedih.


"Ya Allah, Ya Rabb. Aku menyayangi Nissa karena-Mu. Namun, mengapa kini aku harus menyakitinya? Mengapa aku harus akhiri semuanya?" Rizal berlinang air mata dengan perpisahan itu.


Kenyataan pahit itu harus dia telan setelah Hasan, ayahnya yang memaksanya menerima Ranty sebagai pendamping hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2