Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Pindah Ke Lain Hati


__ADS_3

Malam itu, di sebuah café, Dicky tengah duduk bersama Willy, mantannya Ranty. Mereka tengah bercakap-cakap.


“Willy, loe pinter banget ngerayu Ranty. Gue aja berulang kali nembak Ranty selalu gagal,” kata Dicky.


Willy tersenyum. “Dick, yang tergila-gila ke gue itu kan Ranty. Gua mah gak ada rasa ama dia.”


Tak lama kemudian, terdengar suara handphone Willy berbunyi.


“Bhro, sebentar. Gua ada project,” kata Willy sambil beranjak dari duduknya.


Dia berjalan keluar café, dan mengangkat teleponnya.


“Halo, Say,” jawab Willy.


“Willy, loe ada di mana? Gue kangen nih. Gua mo curhat,” balas seorang wanita di seberang.


“Uhm, gua ada di jalan. Loe ada di mana?” tanya Willy.


Wanita itu memberitahukan posisinya. Willy tersenyum manis dan menyanggupinya. Tak lama kemudian, telepon pun ditutup. Dia kembali menemui Dicky yang masih menikmati minumanya.


“Bhro, gue cabut dulu ya. Gebetan gue nunggu,” kata Willy.


“Oke. Thanks bhro,” balas Dicky.


Willy segera berlalu. Dia pergi ke parkiran mobil dan langusng memacu mobilnya pergi dari café itu. tak lama kemudian, Vonny yang tampak suntuk pergi ke café itu. Dia yang melihat Dicky langsung duduk di depanya.


Dicky terkejut melihat Vonny yang wajahnya tampak bersungut.


“Von, koq hari ini loe gak ceria kayak biasanya. Kenapa?” tanya Dicky.


“Dick, gua baru aja putus ama cowok gue,” kata Vonny.


Dicky keheranan. Dia selama ini tak pernah tahu jika Vonny ternyata sudah punya cowok.


“Cowok? Loe emang udah pacaran?” tanya Dicky.


“Iya, ****," jawab Vonny singkat.


Dicky terkejut. Dia tak menyangka bahwa selama ini Vonny ternyata sudah punya pacar. Bahkan, di instagramnya, Vonny tak pernah mengekspose hubungan percintaannya. Berbeda sekali dengan Ranty yang kerap memamerkan kemesraannya dengan Rizal.


“Von, emangnya kamu ada masalah apa sih? Koq sampai putus ama cowokmu? Padahal, selama ini aku lihat kamu ceria dan baik-baik saja,” kata Dicky keheranan.


Vonny menghela nafasnya. Wajahnya tampak sedih. Rupanya,


permasalahannya begitu banyak,


namun dia tak menampakkannya.


“Dicky, gue dan Alvin udah setahun ini pacaran. Awalnya, kita saling cinta. Namun, sebulan ini dia tiba-tiba menjauhiku. Telepon ku tak diangkat, pesanku tak di balas. Dan, baru kemarin aku lihat dia bersama wanita lain,” katanya dengan mata berkaca.


Dicky terdiam sejenak. Dalam hati, dia merasa iba dengan Vonny yang senasib dengannya. Dicky mencoba menenangkan Vonny.


“Von, kamu yang sabar ya. Mungkin, Alvin bukan jodohmu,” kata Dicky berusaha menenangkan dirinya.


“Tapi, ****. Aku tak terima dia khianati aku,” kata Vonny.


“Loh, mengapa Von? Kenapa tak biarkan dia bahagia dengan wanita itu?” tanya Dicky.


Vonny menyeka air matanya. Dia berusaha menahan emosinya.


“Aku tak terima karena selingkuhannya adalah tanteku sendiri,” kata Vonny di tengah tangisnya.


Dicky terperanjat seolah tak percaya. Dia tahu betul tantenya Vonny itu sudah setengah baya, dan juga berbadan gemuk. Dicky berusaha menahan tawanya. Wajahnya memerah menahan


tawa.

__ADS_1


“Von, kamu serius? Koq, dia mau sama tantemu?” tanya Dicky keheranan.


Vonny menunjukkan foto mesra Alvin dan tantenya di hpnya. Dan, Diky begitu terkejut. Dia tahu siapa Alvin. Dicky teringat akan orang yang pernah menyakiti adiknya.


“What?! Kamu … serius pacaran ama nih orang?” tanya Dicky.


Vonny hanya mengangguk. “Awalnya dia romantis, ****. Tapi ternyata … dia khianati aku. Dia hanya manfaatin duitku doang. Mana yang nyebelin, ternyata selain tanteku, dia juga ngegebetin ibuku.”


Dicky hanya menggelengkan kepalanya.


“Duh, tuh orang kelainan kali, Von. Udah, Vonny manis. Cup … jangan nangis lagi. Ambil sisi positifnya. Ngapain kamu terusin ama tuh orang. Ntar nanti nenek-nenek juga di gebetin,” kata Dicky berusaha menenangkan.


Vonny yang mendengar perkataan Dicky keheranan. Tangisnya berhenti. Dia pandangi Dicky sambil mengernyitkan dahinya.


“Apa? Loe barusan bilang apa, ****?” tanya Vonny yang penasaran dengan perkataan Dicky.


“Uhm … Von, sudah. Jangan sedih. Tuh orang gak bener, ngapain diterusin?” kata Dicky.


“Nggak, tadi aku sempet dengar kamu bilang … Vonny manis. Emang aku manis?” kata Vonny yang mulai tersenyum.


Deg! Perasan Dicky campur aduk. Dalam hati, Dicky menyesali perkataanya yang lepas kendali. Dia masih mencintai Ranty, namun kini dia tak sengaja memberi harapan pada Vonny yang bersahabat dengan Ranty.


“Waduh! Sial! Kenapa aku kelepasan bicara?” bathinnya.


Dicky mendadak terdiam. Wajahnya pucat pasi. Namun, Vonny tersenyum ke arahnya. Dia menyentuh lembut tangan Dicky.


“Dick, koq mendadak bengong gitui?” tanya Vonny dengan senyum manisnya.


“Uhm … Gimana ya? Waduh, Von. Maaf. Aku tadi kelepasan bicara. Maaf, Von,” kata Dicky hendak berlalu, namun Vonny mencegahnya.


“Dick, please. Jangan pergi. Temani aku,” pinta Vonny.


Dicky menghela nafasnya. Dia hanya mengangguk. Vonny kembali tersenyum manis, sementara perasaan Dicky berkecamuk hebat. Satu sisi hatinya menyesal dan satu sisi hatinya


Sejenak, suasana beku. Namun, perlahan Dicky berhasil mencairkan suasana. Sambil menikmati makan malamnya, mereka terlibat dalam pembicaraan ringan. Perlahan, Vonny mulai mencintai Dicky, terlebih setelah tahu Dicky dikhianati Ranty.


Di kamarnya, Ranty begitu emosi. Berulang kali Rizal mengirim pesan, namun tak dia balas.


“Iiih! Ngapain sih dia kirim pesan?” bathinnya.


Ranty yang masih emosi mengabaikannya. Dia teringat akan Willy, sang mantan. Pikiran setan pun menghinggapi dirinya.


“Ranty, selama ini usahamu sia-sia. Udah, mendingan kamu sama mantanmu aja,” kata suara hatinya.


“Tidak, Ranty. Kamu sudah bertunangan. Kasihan ayahmu jika kamu nodai pertunangan ini,” kata suara hati satunya.


Ranty terdiam. Perasaan hatinya berkecamuk. Namun, emosi sesaatnya yang sudah memuncak akhirnya memilih mencari pelarian. Ranty memutuskan untuk mencoba merajut tali cintanya dengan Willy. Ranty mencoba menghubungi Willy, dan panggilannya di terima.


“Ya, Ranty. Ada apa?” tanya Willy di balik telepon.


“Will, gua suntuk nih. Kita bisa ketemuan?” tanya Ranty.


Willy terdiam, namun senyum tersungging di bibirnya.


“Akhirnya loe kena, Ranty. Gua akan manfaatin harta loe,” kata Willy dalam hati.


Willy tersenyum penuh kemenangan. Dia akhirnya menjawab.


“Ran, kalo sekarang kayaknya gak bisa deh. Besok siang bagaimana?” tanya Willy.


“Oke, Deh. Besok siang di tempat tadi. Bagaimana?” tanya Ranty.


“Oke, Ranty,” balas Willy singkat.


Telepon pun ditutup. Di kamarnya, Willy begitu senang. Dia tersenyum puas setelah berhasil membuat Ranty berpaling kepadanya.

__ADS_1


“Uhm … akhirnya pundi uang gua kembali muncul,” bathin Willy.


Di waktu yang sama, Ranty merasa lega karena berhasil membalas sakit hatinya pada Rizal. Ranty tak menyadari jika Willy yang selama ini di matanya begitu sayang adalah bajingan yang di manfaatkan Dicky untuk merusak hubungannya dengan Rizal.


Ketika tengah melamun, Ranty


dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kamarnya.


“Ya, sebentar,” kata Ranty sambil beranjak dari tempat tidurnya.


Ranty membuka pintu kamarnya, dan ternyata ibunya ada di balik pintu itu.


“Ya, Ma. Ada apa?” tanya Ranty.


“Nak, ada Rizal di ruang tamu. Temui dia sana. Ibu lagi buatin minuman untuk dia,” kata Ibunya.


Ranty terkejut, namun kemarahannya pada sikap Rizal membuatnya malas untuk menemui tunangannya. Dengan langkah gontai, dia temui Rizal di ruang tamu. Ranty memasang wajah tak ramah pada Rizal.


“Tumben kamu cari aku,” kata Ranty.


Rizal hanya diam. Dia seolah terpaksa menemui Ranty.


“Ranty, aku kemari ingin minta maaf. Aku tahu, aku tak pernah mencintaimu, tapi aku merasa bersalah membuat kamu marah siang tadi,” kata Rizal.


Ranty hanya menatap Rizal dengan tatapan sinis.


“Owh, baru nyadar kamu? Selama ini, aku berusaha bersabar. Tapi apa? Apa yang kau lakukan?” kata Ranty dengan nada marah.


Rizal hanya diam. Ranty kembali melanjutkan perkataanya.


“Rizal. Aku juga manusia yang punya batas kesabaran. Jangan mentang-mentang kamu disukai wanita lantas kamu seenak hatimu berbuat,” balas Ranty dengan nada sengit.


Percakapan mereka terhenti ketika ibunya Ranty menghidangkan minuman untuk Rizal.


“Nak Rizal, silahkan diminum. Maaf, hanya hidangan sederhana,” kata ibunya Ranty.


“Terima kasih, Tante,” jawab Rizal singkat.


Ibunya beranjak meninggalkan Ranty dan Rizal di ruang tamu. Sepeninggal ibunya, Ranty melanjutkan perkataannya.


“Rizal, aku sudah lelah kau anggap bukan siapa-siapa. Aku lelah, Rizal. Sekarang, terserah apa maumu. Mau kembali ke Nissa atau ikuti perkataan orang tuamu? Pikirkanlah, Rizal,” lanjutnya.


Rizal terdiam. Dalam hatinya, dia menyadari jika selama ini dia terlalu dingin pada Ranty. Rizal mencicipi minuman yang dihidangkan ibunya Ranty. Dia merenung sejenak.


“Ranty, maafkan aku jika selama ini aku terlalu dingin kepadamu. Aku janji akan perbaiki sikapku kepadamu,” kata Rizal dengan nada menyesal.


Ranty menghela nafasnya. Dia pandangi Rizal dengan tatapan tajam. Perasaannya kembali luluh.


Ranty mulai tenang.


“Baiklah, Rizal. Aku akan beri kamu kesempatan. Tapi, aku minta sesuatu kepadamu. Kamu siap?” tanya Ranty.


Rizal yang merasa bersalah mengalah. Dia mengangguk. Ranty akhirnya mengungkapkan keinginannya.


“Nikahi aku secepatnya, Rizal. Aku tunggu keputusanmu,” kata Ranty.


Rizal sejenak terkejut. Dia tak menyangka Ranty meminta persyaratan itu. Ranty tersenyum sinis melihat keterkejutan di wajah Rizal.


“Kenapa? Keberatan?” tanya Ranty mengejek Rizal.


Rizal diam senejak. Dia kembali berfikir. Dan setelah agak lama, dia akhirnya mengambil keputusan.


“Baiklah, Ranty. Aku akan bicarakan dengan papa. Setelah pernikahan Almira kita akan menikah. Tapi aku minta sama kamu, Ranty. Please, jangan kecewakan aku setelah ini. Aku ingin kita terbuka untuk saling memahami,” balas Rizal dengan nada tenang.


Ranty hanya diam dan mengangguk. Sejenak, mereka berdua saling diam. Karena hari telah malam, Rizal langsung pamit untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2