Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Di rumahnya, Hasan yang mendengar keinginan Ranty melalui Rendy, rekan kerja sekaligus sahabatnya merasa senang. Rupanya gayung bersambut. Hasan menyetujui perjodohan itu.Dia


menyambut gembira usulan Randy.


"Uhm, bagus itu. Oh ya, kapan kita bisa bertemu, Randy?" tanya Hasan yang begitu antusias.


Randy diam sejenak. Dia tamoak berfikir panjang.


"Begini saja, Pak Hasan. Saya coba setelah saya pulang dari luar pulau. Kebetulan esok hari saya berangkat ke Kalimantan. Ada project nih di sana. Setelah itu, barulah kita bicarakan hal


ini," kata Randy.


"Oke. Saya setuju dengan usulan anda. Sampai ketemu dua minggu lagi," kata Hasan.


"Iya, Pak Hasan. Assalamu'alaikum," kata Randy menutup percakapan.


"Wa'alaikum Salam, Pak Randy," balas Hasan.


Telepon pun di tutup. Randymemandangi Ranty yang duduk di sebelahnya. Ranty tampak begitu antusias untuk mengetahui hasil percakapan ayahnya dengan Hasan.


"Pa, bagaimana?" tanya Ranty yang begitu antusias.


Randy tersenyum manis. "Nak, Pak Hasan setuju menjodohkanmu.dengan Rizal."


"Benarkah, Pa?" tanya Ranty dengan nada senang.


Randy hanya mengangguk. Ranty yang begitu bahagia langsung memeluk ayahnya. Randy yang begitu memanjakan Ranty membelai lembut kepala putrinya


"Papa, terima kasih. Ranty begitu bahagia bisa bersanding dengan Mas Rizal," kata Ranty di pelukan Randy, ayahnya.


Bersamaan dengan itu, ibunya yang membawakan minuman hangat untuk ayahnya datang. Dia tampak keheranan melihat Ranty begitu bahagia.


"Eeh, Pa. Koq hari ini kita lihat anak kita begitu bahagia?" tanya Citra, ibunya Ranty.


"Ma, anak kita akan menikah," kata Randy dengan senyum bahagia.


Citra keheranan, namun tampak senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya.


"Oh ya? Sama siapa?" tanya Citra.


"Sama Mas Rizal, Ma," sahut Ranty sambil tersenyum memandang ibunya.


Citra begitu terkejut. Dia tampak berusaha menutupi ketidak setujuannya. Ranty yang begitu bahagia mencium ayah dan ibunya, lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya. Sepeninggal Ranty, Citra dan Randy membicarakan perjodohan itu.


"Pa. Koq papa mau jodohin Rizal sama Ranty? Mama kurang setuju," kata Citra.


"Ma, Rizal kan anak yang baik. Kenapa sih, koq mama tidak suka Ranty bersanding dengannya," kata Randy.


Citra menghela nafas panjangnya. Sebuah alasan yang tak terduga pun diucapkan Citra.


"Papa, Ranty itu terlalu manja. Rizal berhak dapat wanita yang mandiri. Memang, Rizal anaknya baik. Tapi, apa dia bisa bahagia hadapi kemanjaan putri kita?" kata Citra.

__ADS_1


Randy terdiam. Dalam hati, dia membenarkan perkataan istrinya.


"Iya sih, Ma. Tapi, mau bagaimana lagi? Dianya begitu," kata Randy dengan nada pasrah.


Mereka berdua terdiam. Tampak kebingungan di wajah mereka. Sementara itu, Rizal yang baru


pulang bekerja hendak masuk ke kamarnya. Ketika akan menyentuh pintu kamarnya, Hasan memanggilnya. Sebagai anak, Rizal menghampirinya.


"Nak, Papa mau bicara kepadamu. Ayo, kita bicara di ruang tengah," ajak ayahnya.


Rizal menurut. Dia kesampingkan kepenatannya demi menyenangkan sang ayah. Di ruang tengah sudah ada Farida, ibundanya Rizal.


"Iya, Pa. Apa yang mau papa bicarakan sama Rizal?" tanya Rizal dengan nada lembut.


"Begini, Rizal. Tadi, Pak Randy menelepon papa. Dia mengatakan jika Ranty, mencintaimu. Nah, kebetulan, kamu kan sudah saatnya menikah. Papa berniat menjodohkan kamu dengan


Ranty," kata Hasan menjelaskan maksudnya.


Rizal terkejut bak di sambar geledek. Dia yang tahu tabiat Ranty berusaha menolaknya.


"Papa, Rizal mohon maaf sebelumnya. Rizal sudah memiliki wanita pilihan Rizal sendiri," kata Rizal berusaha menolak perjodohan itu dengan lembut.


Hasan terkejut. Dia tak menyangka kali ini Rizal menolak keinginannya. Wajahnya tampak marah, namun beruntung Farida berhasil membujuknya.


"Pa, sudahlah. Beri kesempatan Rizal berfikir. Bukankah Rizal sudah punya wanita pilihan? Mengapa papa tak beri dia kesempatan memperkenalkannya?" bisik ibunya untuk menenangkan Hasan.


Hasan memandang Rizal dengan wajah kecewa. Tampak sakit hati di wajahnya.


Hasan yang begitu kecewa menjawabnya dengan ketus.


"Tidak! Kamu menikah dengan Ranty, atau kamu bukan anak papa lagi," bentak ayahnya.


Rizal berlutut di depan ayahnya. Dia peluk kaki ayahnya, dan menangis memohon restu dari ayahnya.


"Pa, Rizal mohon, biarkan Rizal bersanding dengan wanita pilihan Rizal," pintanya sambil memeluk erat kaki ayahnya.


Hasan tak menggubris. Dia menepis kasar pelukan Rizal.


"Baru kali ini, kamu anak yang papa banggakan buat papa kecewa," katanya singkat.


Hasan langsung beranjak dan tak pernah perdulikan Rizal. Ibunya menenangkan Rizal yang masih menangis sambil berlutut.


"Ma, Rizal menyayangi Nissa, bukan Ranty. Rizal mohon, restui hubungan Rizal dengan Nissa," kata Rizal di tengah tangisnya.


Ibunya membantu Rizal bangun. Dia memeluknya untuk meenangkan anaknya.


"Rizal, mama pasti merestui hubunganmu dengan Nissa jika dia baik," katanya menenangkan Rizal.


Hari berganti. Sudah lima hari, Hasan begitu kecewa dengan penolakan Rizal.


Ibunya berulang kali membujuk Hasan untuk menerima wanita pilihan Rizal, namun Hasan tetap menolaknya. Kekecewaannya membuat Hasan akhirnya terbaring sakit.

__ADS_1


Hari itu di siang harinya, Rizal pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal di rumahnya. Ketika melewati kamar ayahnya, Rizal secara tak sengaja mendengar percakapan ayah dan ibunya dari luar kamar.


"Pa, sudahlah. Kenapa Papa jodohkan anak kita? Rizal sudah selalu menuruti kemauan papa, kenapa sekalipun papa tak beri kesempatan dia memilih jodohnya?" kata Farida.


"Tidak, Ma. Papa tetap tak akan pernah merestui hubungan dia dengan Nissa, atau siapapun! Keputusan papa sudah final, Ma," kata Hasan dengan ketus.


Rizal begitu sedih. Dia dalam kebingungan yang luar biasa. Dia buru-buru berangkat ke tempat kerjanya. Sesampainya di tempat kerja, Rizal begitu kebingungan.


"Papa sepertinya memberikan aku jodoh yang salah, tapi, bagaimana caranya aku beritahu dia?" tanyanya dalam hati.


Dia termenung. Cukup lama dia merenung. Akhirnya, Rizal memutuskan untuk membawa Nissa ke rumahnya. Dia hubungi Nissa, dan menyampaikan keinginannnya. Nissa menyetujuinya.


Sore harinya, Rizal menjemput Nissa yang baru pulang kerja. Dia bawa Nissa ke rumahnya. Sesampainya di sana, Farida menyambut Rizal yang membawa Nissa ke rumah.


"Ma, kenalkan. Ini Nissa, wanita pilihan Rizal," kata Rizal pada Farida.


Farida tersenyum manis. Dia begitu senang dengan pilihan Rizal.


"Nak Nissa, ayo masuk. Masya Allah, kamu begitu menyejukkan. Oh ya, saya panggil papa. Sebentar ya," kata Farida dengan perasaan senang.


Farida memanggil Hasan yang masih berbaring di kamarnya. Dia sampaikan kekagumannya pada Nissa. Namun, Hasan tetap tak mau menemuinya.


"Pa, wanita pilihan Rizal itu muslimah yang taat. Orangnya cantik, juga lembut. Mama suka jika dia jadi menantu kita," kata Farida membujuk suaminya.


Hasan tetap bersikeras. Farida terus membujuknya, hingga suaminya akhirnya mau mencoba menemui Nissa. Mereka berjalan menemui Nissa dan Rizal di ruang tamu. Nissa berusaha bersikap ramah pada Hasan, kendati Hasan memandanginya dengan tatapan


sinis.


"Pa, kenalkan. Ini Nissa, wanita pilihan Rizal," kata Rizal memperkenalkan Nissa.


Hasan menatap Nissa dengan sorot mata dingin. Namun, dia tetap duduk menemani di ruang tamu. Suasana perkenalan itu begitu dingin. Nissa berusaha mencairkan keadaan, namun


rupanya sikap ayahnya Rizal semakin membuat Nissa tak nyaman. Tepat jelang adzan maghrib, Nissa bermaksud untuk pulang.


"Tante, Nissa mau pulang dulu, kebetulan sudah mau maghrib," kata Nissa hendak pamit.


Namun, Farida mencegahnya. "Eeh, Nisaa sholat disini saja," bujuk Farida.


Nissa begitu senang dengan sambutan ramah Farida, ibunya Rizal. Namun, dia merasa tak nyaman dengan dinginnya sikap Hasan, ayahnya Rizal. Nissa akhirnya memilih untuk pulang. Nissa berpamitan pada ayah dan ibunya Rizal. Hasan tetap bersikap sinis, namun berbeda dengan Farida. Farida yang menyukai Nissa justru memeluknya erat-erat.


"Nissa, jangam kapok kemari. Tante senang sekali dengan kunjunganmu," katanya dengan senyum manis.


"Insya Allah, Tante," kata Nissa dengan senyum simpul.


Rizal mengantarkan Nissa pulang. Seeninggal Nissa, Hasan berjalan masuk ke dalam


kamarnya. Farida mengikutinya. Di dalam kamar, Farida membujuk Hasan untuk merestui hubungan Rizal dengan Nissa.


"Pa, tuh. Lihat. Wanita pilihan Rizal baik, loh. Restui saja hubungan mereka," bujuk Farida.


Namun, ketidak sukaan Hasan masih tampak. Dengan ketus, Hasan berkata, "Sebaik apapun Nissa, Papa tak akan merestui hubungan mereka!"

__ADS_1


__ADS_2