
Ranty yang kecewa karena rencananya gagal kembali menemui Vonny dan Dicky. Wajahnya tampak ditekuk. Dia diam saja sambil mengaduk aduk minuman di depannya. Dicky yang baru
kembali dari toilet memandangnya keheranan. Di tepuknya pundak Ranty.
"Ranty. Koq loe aduk-aduk minuman gue kayak ngaduk semen gitu?" tanya Dicky sambil tertawa.
Ranty seperti tersadar. Buru- buru dia berikan gelas itu pada Dicky. Dia cari minuman miliknya.
"Loh, kemana minuman gua?" tanya Ranty.
Vonny tersenyum sambil memandangi Dicky. Ranty keheranan.
"Ran, bukannya minuman loe tadi udah habis sebelum loe temuin tuh cowok? Koq loe bisa lupa?" kata Vonny dengan tawa kecil.
Ranty berfikir. Dia mengernyitkan dahinya. Dicky yang begitu mencintai Ranty menyentuh pundaknya.
"Ranty, sudahlah. Jangan jutek gitu. Saya tahu kamu sedang memikirkan tuh cowok," kata Dicky menghibur Ranty.
Dicky begitu sabar menghadapi Ranty yang begitu manja. Dia lanjutkan nasehatnya.
"Ranty, untuk apa kamu paksain cinta pada dia jika dia tak mau menerima cintamu? Aku serius mencintaimu, Ran. Aku menyayangimu, dan aku mau terima kamu dengan semua kekuranganmu, walau kamu selalu menolakku," kata Dicky.
Ranty terdiam. Dalam hati, Dicky ada benarnya.
"Tuh, Ranty. Sudah lah. Jangan paksain cinta loe pada Rizal. Biarkan dia bahagia dengan Nissa. Daripada loe ngarepin cinta dari cowok yang udah nerima cinta cewek lain, udah lah. Loe terima cinta Dicky yang udah jelas loe kenal," kata Vonny menasehati Ranty.
Ranty berfikir. "Uhm … apa mending aku terima cintanya Dicky saja?" bathinnya.
Ranty terdiam sejenak. Dari kejauhan dia melihat Rizal begitu bahagia bersama Ranty. Dia merenungi perkataan Vonny.
"Baiklah, ****. Gue terima cinta loe. Terima kasih loe begitu sabar dan pengertian sama gue," kata Ranty.
Dicky tersenyum manis. Dia menggenggam kedua tangan Ranty dan menciumnya.
"Ranty, cintaku kepadamu tak kalah dengan cintamu pada dia. Aku alam berusaha mengerti kamu," kata Dicky dengan senyum mesra.
Vonny tersenyum manis. Dia merasa lega akhirmya Dicky jadian dengan Ranty yang selama ini dia kejar-kejar.
"Oke, karena kalian sudah jadian, saya ucapkan selamat menjalani hari-hari kalian. Tapi, gue minta traktirannya," kata Vonny tertawa ringan.
Dicky tersenyum manis, namun Ranty tetap berwajah datar. Dicky sebenarnya mengetahui. Namun, dia menyadari perasaan Ranty.
"Ya sudah, loe boleh pesan menu yang loe mau, Von," kata Dicky.
Vonny mencatatkan menu yang dia inginkan. Setelah selesai, dia serahkan kertas itu.
"Eh, koq cuman Vonny. Lha gue mana?" tanya Ranty tiba-tiba.
Ranty berusaha menampakkan senyumnya.Dicky begitu senang melihat Ranty yang mulai ceria.
"Nah, Ranty cayang, silahkan catat pesananmu," kata Dicky memberikan kertas pesanan pada Ranty.
Ranty mencatat menu pesanannya. Setelah itu, Dicky memanggil pelayan. Dia berikan kertas pesanan pada pelayan. Sepeninggal pelayan, Dicky yang baru saja jadian dengan Ranty
berusaha menghiburnya.
"Say, aku seneng banget kamu terima cintaku. Makasih ya Ran," kata Dicky tersenyum manis pada Ranty.
"Iya, ****. Sama-sama," balas Ranty yang masih belum sepenuhnya mencintai Dicky.
"Yeee … yang baru jadian nih. Koq gue jado obat nyamuk," kata Vonny tertawa ringan.
__ADS_1
"Von, gak ada nih obat nyamuk. Yang ada hanya panah asmara. Kamu tahu siapa panahnya?" tanya Dicky mencoba mencairkan suasana.
Vonny berfikir. "Loh, koq ngangkut ke panah asmara?"
"Iya daripada nyangkut ke pagar, kan nanti baju jadi robek," balas Dicky sambil tertawa.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Ranty yang awalnya jutek akhirnya ikut tertawa. Dan, tawa mereka terputus setelah pelayan mengantar makanan untuk mereka bertiga.
"Nah, makanan tiba. Ayo makan," kata Dicky membuka percakapan.
Mereka betiga akhirmya makan. Sesekali terdengar percakapan diantara mereka. Di sela-sela itu, sesekali Dicky menampakkan kemesraannya pada Ranty.
Sementara itu, di meja lain tampak Rizal.bersiap ke tempat kerja. Dia pamit pada Nissa, Syifa dan Izam.
"Say, aku mau ke tempat kerja. Makasih ya kamu temani aku makan siang," kata Rizal pada Nissa.
Nissa tersenyum manis. Wajahnya merona seolah begitu tersanjung.
"Iya, Say. Hati-hati di jalan," balasnya dengan nada mesra.
Rizal tersenyum manis. Dia pegang tangan Nissa dengan lembut. Nissa hanya diam dan tersenyum manis. Setelah itu, dia berpamitan pada Syifa dan Izam.
"Aku balik dulu, ya. Sekalian, titip yayangku yang pipinya lagi kemerahan," kata Rizal sambil bercanda.
Nissa yang merasa malu mencubit mesra lengan Rizal. Rizal tertawa ringan sebelum akhirnya berlalu dari mereka bertiga. Sepeninggal Rizal, Syifa menggoda Nissa.
"Ciye … yang mesra nih. Loe tahu gak, lihat loe ama Rizal bikin gue baper," kata Syifa.
Izam tertawa renyah. "Ya elah , Fa. Kayak nonton sinetron aja," katanya.
Mereka bertiga tertawa ringan. Izam melihat jam tangannya. Eh, sebentar lagi waktunya kerja. Yuk kita kembali," ajak Izam.
Mereka bertiga segera bangkit dari duduknya. Izam membayar sejumlah uang di kasir sebelum akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan cafe itu.
"Uhm … meetingnya di hotel. Oke, kebetulan sekali," katanya dalam hati.
Ranty mengambil sebuah botol berisi cairan bening. Dia tersenyum menyeringai.
"Lihat aja, Rizal. Dengan obat bius ini, aku akan membuat Nissa memutuskanmu," katanya dalam hati.
Ranty langsung pergi menuju kantor Rizal. Sesampaimya di sana, Ranty berusaha bersikap profesional sebagai rekan kerja. Dia menemui Rizal.dan memberikan berkas yang berasal dari
ayahnya.
"Uhm, jadi meetingnya nanti sore?" tanya Rizal terkejut.
"Iya. Padahal baru seminggu lalu kita bahas ini. Biasanya sih, mereka memutuskan dalam waktu dua minggu, atau paling cepat sepuluh hari dari sekarang. Entah, mengapa mereka
memajukan keputusannya," kata Ranty.
Rizal mengerti. Dia mengajak Ranty berangkat untuk meeting di tempat yang telah ditentukan. Di tengah perjalanan, Ranty terus mencuri pandang.
Dan, setelah sore harinya sampailah
mereka di hotel yang di maksud.
Di sana, mereka langsung menuju ke sebuah aula yang di gunakan sebagai ruang meeting. Ranty mulai menjalakan aksinya.
Ketika Rizal tengah mempresentasikan proposal kerjasamanya, Ranty diam-diam mencampurkan obat bius itu ke dalam air mineral yang di bawa Rizal. Meeting itu berjalan lancar.
"Pak Rizal. Kami begitu senang dengan presentasi tadi. Baiklah, silahkan bapak dan ibu tanda tangani kontrak kerjasama ini," kata perwakilan klien itu sambil menyerahkan kontrak kerjasama.
__ADS_1
Setelah kesepakatan tercapai, Rizal dan Ranty menanda tanganinya, dan meeting itu selesai ketika hari mulai petang. Terdengar adzan maghrib berkumandang.
"Pak, sudah adzan maghrib. Kita sholat berjamaah, yuk," ajak Rizal.
Perwakilan Klien itu menyetujui ajakan Rizal.
"Ranty, kamu juga ikut jamaah?" tanya Rizal.
Ranty yang tak pernah sholat berusaha mencari alasan.
"Uhm … maaf, Pak Rizal. Saya lagi halangan," jawab Ranty pura-pura.
Rizal tersenyum manis. Dia sama sekali tak curiga dengan rencana busuk Ranty.
"Ranty, aku mau sholat mghrib dulu. Kamu tunggu di lobby sebentar ya," kata Rizal.
Ranty tersenyum sambil mengangguk. Dia berjalan ke lobby hotel menunggu Rizal yang tengah sholat maghrib. Ranty harap-harap cemas dengan rencananya. Dan, tak lama kemudian Rizal keluar bersama perwakilan klien. Perwakilan klien itu langsung pulang, sementara Rizal masih di lobby.
"Ugh, aku haus sekali, " kata Rizal sambil mengambil air mineral yang dia bawa.
Rizal meminumnya.
"Alhamdulillah, hausku hilang," katanya dengan perasaan lega.
Ranty tersenyum dalam hati. Dia pura-pura mengajak Rizal untuk pulang, namun ketika akan berdiri, Rizal.merasakan kepalanya begitu pusing.
"Pak Rizal, anda baik-baik sajakah?" tanya Ranty.
"Ugh! Kepalaku pusing … aduh … pusing sekali …." Rizal.memegangi kepalanya, dan akhirnya pingsan.
Momen ini dimanfaatkan Ranty. Ketika Rizal pingsan, Ranty diam-diam mengambil handphone Rizal.
Dia mencari kontak Nissa, dan menemukannya.
"Uhm … Nissa. Lihat aja, gue bakal buat loe mutusin Rizal," bathin Ranty sambil mencatat nomor hp Nissa.
Ranty memposisikan Rizal yang pingsan seolah terlelap di pamgkuannya. Dengan senyum mesra, dia belai lembut kepala Rizal yang pingsan di pangkuannya. Tak lupa, Ranty mengabadikan beberapa foto yang pura-pura mesra itu dan mengirimkannya pada Nissa.
"Uhm … lihat Nissa. Gua mau tahu gimana reaksi loe," bathinnya.
Setelah puas, Ranty mengembalikan posisi Rizal, dan dia berpura-pura meyadarkan Rizal.
Ranty telah mempersiapkan rencana itu dengan matang. Dia yang membawa minyak kayu putih menyadarkannya. Dia dekatkan botol minyak kayu putih itu di hidung Rizal.
"Ugh! Di mana aku?" kata Rizal.yang mulai membuka mata.
"Kamu tadi sepertinya kelelahan. Bagaimana kondisimu?" tanya Ranty.
Rizal mengernyitkan dahinya. Dia menghela nafasnya.
"Udah mendingan, tadi pusing banget," kata Rizal.
Ranty tersenyum. Ya sudah, aku yang setir mobil, ya. Nanti langsung aku antar kamu pulang ke rumah. Kamu mungkin kecapekan," kata Ranty.
Rizal.mengangguk. Ranty mengantarkan Rizal.pulang ke rumah. Sesampainya di sana, Rizal yang masih pusing langsung masuk kamar dan tidur. Pak Hasan menemui Ranty
"Nak Ranty, terima kasih mengantar Rizal pulang. Maaf merepotkan Nak Ranty," kata Hasan dengan senyum ramah.
"Gak apa-apa, Om. Oh ya, saya mau langsung pulang. Ini mau ambil mobil ke kantornya Pak Rizal," kata Ranty berpamitan.
Hasan mengerti. "Ya sudah, hati-hati di jalan ya Nak. Salam buat papamu."
__ADS_1
Ranty mengangguk. Dia langsung naik taksi ke kantornya Rizal untuk mengambil mobilnya, dan langsung pulang.
Malam itu, di kamarnya, Ranty tersenyum senang karena rencana jahatnya berjalan lancar.