
Malam itu, ketika selesai sholat isya, Nissa dikejutkan dengan pesan do hpnya. Dia melihat. led di handphonenya menyala.
"Uhm, sepertinya ada pesan," katanya dalam hati.
Dia mengambil handphonenya, dan terkejut melihat ada pesan dari nomor tak dikenal. Nissa keheranan. Dia membuka pesan itu, dan betapa terkejutnya dia.
"Mas Rizal? Ah, ini pasti tak benar. Gak mungkin Mas Rizal berbuat jelek," katanya dalam hati.
Dia pandangi foto itu. Seolah tak percaya, air matanya menetes.
"Tapi, mengapa Mas Rizal.ke hotel? Kenapa, Mas? Kenapa?" katanya dalam hati.
Nissa begitu sedih. Namun tak cukup sampai di situ. Tiba-tiba telepon itu berbunyi. Dan, nomor yang tak di kenal itu meneleponnya.
"Halo." Nissa menerima panggilan itu.
"Hei, Nissa. Bagaimana dengan foto itu? Menarik bukan?" tanya seorang wanita dari balik telepon itu.
"Maaf, ini maksudnya mbak apa ya?" tanya Nissa yang mulai emosi.
Terdengar suara tawa lepas. Wanita di balik telepon itu tertawa lepas mengejek Nissa.
"Niss, asal loe tahu, Rizal lagi mabok berat. Dan, loe gak ada buat dia kan? Asal loe tahu, gue begitu senang ketika bermesraan ama cowok loe yang alim. Dan loe tahu, kita baru jadian. Dia
udah bosen ama loe yang sok alim," katanya.
Nissa yang mendengarnya begitu sedih. Dia seolah tak mempercayai perkataan orang itu.
"Mbak! Aku kenal Mas Rizal. Dia tak mungkin begitu," balas Nissa berusaha meyakinkan perasaannya.
Wanita itu tertawa.
"Nissa, loe naif amat. Emang foto itu tak metakinkan? Dasar loe cewek bego," balasnya sambil tertawa lepas.
Nissa mulai terhasut. Dia tak menduga foto itu begitu meyakinkan jawaban wanita itu. Nissa tak dapat lagi berkata-kata. Kecemburuannya muncul.
Tangisnya mulai terdengar. Wanita itu
kembali mengatakan sesuatu.
"Heh! Loe ingat kan yang tadi siang berantem sama loe? Loe udah ngerebut Rizal dari gue. Dan, asal loe tahu, gua sampai kapanpun gak rela loe dekat sama Rizal!" bentaknya sambil
menutup teleponnya.
Nissa terkejut. Dia lihat nomor telepon itu.
"Iiih! Siapa sih dia?" pikirnya.
Perasaan Nissa campur aduk. Dia letakkan teleponnya dan berbaring di ranjangnya.
"Ya Allah, Ya Rabb. Apakah Rizal memang melakukan tindakan yang melanggar laranganmu? Berilah aku petunjuk-Mu," katanya dalam hati.
Sementara itu, di rumahnya Ranty begitu puas. Dia tersenyum menyeringai.
"Nissa, lihat aja. Loe masih mau menerima Rizal setelah semua ini?" katanya dalam hati.
Ketika tengah melamun, Ranty di kejutkan dengan suara di hpnya. Dia ambil kembali hpnya, dan ternyata Dicky menghubunginya.
"Ranty, kita keluar, yuk," ajak Dicky.
"Uhm … Dicky. Aku baru aja pulang kerja. Gimana ya?" kata Ranty.
Dicky tersenyum manis. Dia rupanya telah berada di depan rumah Ranty. Melalui pagar depan rumah, dia melihat mobil Ranty yang terparkir di halaman depan.
"Oke, aku mengerti. Oh ya, kalo begitu, kita kencan di rumahmu saja, dan aku sudah di depan rumahmu. Aku ada di depan pagar rumahmu," balas Dicky yang memang ingin berkencan dengan Ranty.
Ranty terkejut. Dari kamarnya, dia menengok ke pagar depan rumahnya. Di sana tampak Dicky berada di depan pagar.Dia memencet bel di depan rumahnya.
"Sial! Dia pake kemari lagi," bathinnya.
Ranty begitu panik. Dia buru-buru berdandan seadanya. Dan, tak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk ibunya.
"Nak, di depan ada Nak Dicky," kata ibunya sambil mengetuk pintu kamar Ranty.
"Iya, Ma. Sebentar. Ranty lagi ganti baju," kata Ranty.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ranty yang telah berganti pakaian segera membuka pintu kamarnya, dan bersama ibunya dia temui Dicky yang telah duduk di ruang tamu. Ibunya Ranty berbicara sebentar dengan Dicky. Mereka tampak begitu akrab.
"Nak Dicky, tante masuk dulu ya. Tante senang Nak Dicky main kemari lagi," kata Ibunya Ranty.
Dicky tersenyum. "Terima kasih, Tante. Saya pinjam Ranty sebentar, Tan."
Ibunya tertawa ringan mendengar canda dari Dicky. Dia segera masuk ke ruang tengah. Sepeninggal ibunya, Ranty tampak canggung menemani Dicky.
"****. Maaf, tadi aku banyak kerjaan. Ada meeting mendadak tadi,' kata Ranty.
Dicky memahaminya. Dia begitu sabar dengan sikap Ranty yang terkesan dingin terhadapnya.
"Udah, Ranty. Gak apa-apa. Oh ya, aku sudah pesan kue dan minuman buat kencan kita, Ran," kata Dicky.
Ranty terkejut. "K--Kencan?"
Dicky hanya mengangguk. Dia keluarkan hpnya, dan menunjukkannya pada Ranty.
"Loh, kamu serius pesan makanan untuk kencan?" tanya Ranty.
Dicky mengangguk. "Nih, lihat. Sebentar lagi sampai deh makanannya."
Tak lama kemudian, datang seorang driver ojol.mengantar makanan. Dicky menghampirinya, dan membayar sejumlah uang pada driver ojol tersebut.
"Bang, koq duitnya banyak banget. Nih gak ada kembalian," kata driver ojol itu sambil merogoh sakunya.
"Udah, bawa kembaliannya. Terima kasih," kata Dicky sambil membawa bungkusan kue dan minuman itu.
Dicky melangkah ke dalam dan menemui Ranty yang menunggunya di ruang tamu. Dia letakkan kue dan minuman itu di meja.
"Say, kita ke taman depan rumah aja, yuk. Yah, sambil nikmati malam ini," ajak Dicky.
Ranty terdiam. Dalam hati, dia berkata, "Waduh. Sebenarnya sih, ogah aku meladeni Dicky. Tapi, apa mau di kata. Kasihan juga aku kalo menolaknya."
Ranty berusaha tersenyum. Dia mengangguk menyetujui usulan Dicky. Dicky yang begitu riang membawa makanan dan minuman di balai-balai di halaman depan rumah Ranty. Halaman depan rumah Ranty memang seperti taman yang rindang dan indah. Di situ, terdapat balai-balai yang biasa dia gunakan ketilka beristirahat atau menenangkan diri. Sesampainya di
sana, Dicky membagikan makanan dan minuman itu di balai-balai.
"Ranty, ayo di cicipi," kata Dicky menawarkan.
Keesokan paginya, Rizal yang akan berangkat kerja menyalakan hpnya. Dia terkejut melihat banyaknya missed call dan pesan dari Nissa. Di bacanya pesan itu.
"Waduh! Ini pasti salah paham," katanya dalam hati.
Rizal berjalan keluar, dan langsung menghubungi Nissa. Awalnya, panggilannya di reject. Dia
tak menyerah. Kembali dia hubungi Nissa. Setelah beberapa kali menelepon Nissa, akhirnya teleponnya di angkat.
"Iya, Mas. Ada apa?"Terdengar Nissa menjawab telepon itu dengan nada marah.
"Nis, maaf. Aku semalam agak kurang enak badan. Aku belum sempat balas pesanmu," kata Rizal berusaha bersabar.
Nissa terdiam. Rizal kembali berbicara.
"Nissa, aku mau bicarakan ini. Bisa kita ketemu? Nanti ku jemput kamu," tanya Rizal. Terdengar Nissa menghela nafsnya. Dia tampak begitu sakit dengan provokasi Ranty.
"Baiklah, Mas. Aku tunggu," kata Nissa langsung menutup teleponnya.
Rizal terkejut. Dia tak menyngka Nissa semarah itu kepadanya. Rizal buru-buru sarapan, dan bersiap berangkat kerja. Dia sempatkan diri untuk menjemput Nissa. Tampak Nissa telah menunggu di depan rumahnya. Rizal menghentikan mobilnya di depan Nissa. Dia buka jendelanya dan menyapa Nissa.
"Niss, ayo masuk," kata Rizal.
Nissa hanya diam. Tanpa bicara, Dia membuka pintu mobil dan masuk. Rizal awalnya merasa heran, namun dia tetap sabar. Mereka pun segera pergi dari situ dan menuju ke sebuah taman.
Sepanjang perjalanan, Nissa hanya diam memandangi jalan. Rizal.yang melihat sikap Nissa yang tak biasa mencoba mengajaknya bicara.
"Nissa, koq kamu hari ini banyak diam. Apa yang salah dariku, Niss? Bagaimana keadaanmu?" tanya Rizal.
Nissa hanya menatap Rizal dengan wajah kecewa.
"Mas, aku baik-baik saja," jawabnya ketus.
Rizal berusaha sabar. Dia kembali diam sambil menduga-duga..Dan, tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah taman. Rizal mengajak Nissa duduk di sebuah gazebo di tengah taman. Nissa masih menatap Rizal dengan wajah marah.
"Nissa, kamu marah kepadaku karena semalam aku gak balas pesanmu?" tanya Rizal.
__ADS_1
Nissa menatap Rizal dengan mta berkaca. Air matanya perlahan menetes.
"Rizal. Aku kecewa dengan kamu. Aku kira, kamu begiru setia. Ternyata, kemarin sore kamu justru ke hotel bersama wanita lain," kata Nisaa dengan nada marah.
Rizal keheranan. Dia kebingungan.
"Nissa, aku memang kemarin sore ke hotel, urusan meeting." Rizal mencoba menjelaskan.
Rizal berusaha menahan emosinya. Dia nenatap Nissa yang tampak marah sekaligus sedih.
"Nissa, aku kemarin memang pergi dengan Ranty, rekan kerjaku," lanjutnya
.
Belum selesai Rizal berbicara, Nissa yang terbakar cemburu langsung marah. .
"Oh, jadi wanita yang bersamamu itu bernama Ranty?" kata Nissa yang terbakar cemburu.
Nissa bangkit dari duduknya. Dia belakangi Rizal sambil melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Rizal, mengapa tak kau terima saja cinta dia? Mungkin kamu bisa bermesraan dengan wanita itu," katanya ketus.
Nissa berbalik menatap Rizal. Dia keluarkan hpnya. Dia buka pesan yang dikirim Ranty.
"Mas! Asal kamu tahu, aku bukan wanita yang terlalu posesif. Aku fahami kesibukanmu. Tapi, foto ini yang buat aku marah sama kamu, Mas!" bentak Nissa.
Nissa memberikan handphonenya. Sambil marah, dia berkata, "Mas, lihat itu! Jujur, Mas. Aku begitu kecewa melihat foto-foto itu," katanya dengan nada marah sekaligus cemburu.
Rizal terkejut. Dia tak menyangka, Ranty berbuat sejauh itu. Dia geleng-gelengkan kepalanya.
"Nissa, foto ini tak seperti perkiraanmu. Aku ketika itu tiba-tiba pusing," kata Rizal menjelaskan yang menimpanya.
Nissa memandangi wajah Rizal dengan nada marah.
"Owh! Tidak seperti yang aku kira?! Lalu kenapa tuh cewek mesra-mesraan gitu?" bentaknya dengan nada cemburu.
Rizal berusaha tenang. Dia pandangi Nissa.
"Nissa, aku berani bersumpah atas nama Allah. Waktu itu, aku tiba-tiba pusing, dan pingsan," kata Rizal.dengan wajah sungguh-sungguh.
Rizal.bangkit dari duduknya. Dia pegang lembut tangan Nissa.
"Nissa, sore itu aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku pusing, lalu pingsan. Dan, aku tak tahu jika aku sampai begitu,"lanjutnya.
Nisaa terdiam. Dia memandangi Rizal yang bersungguh-sungguh. Rizal menghela nafasnya.
"Nissa, aku tak ingin berpaling dari wanita sepertimu. Kamulah yang ada di hatiku, Annisa Rahmatus Saudah," kata Rizal berusaha meyakinkan Nissa.
Nissa terdiam. Dia mulai melunak. Rizal kembali berusaha menjelaskan perasaannya pada Nissa.
"Nissa, aku menyayangimu karena ketaqwaanmu. Please, Nissa. Percayalah kepadaku. Aku dan Ranty beneran gak ada apa-apa. Aku dan Ranty hanya rekan kerja," kata Rizal berusaha meyakinkan Nissa.
Nissa begitu terenyuh mendengar perkataan Rizal yang begitu lembut. Air mata haru membuat matanya sembab. Dia merasa bersalah pada Rizal.
"Mas, maafkan aku. Aku begini, karena aku sayang sama kamu. Aku ingin, kita bisa merajut cinta yang diridhoi Allah," balas Nissa.
Nissa tersenyum haru sambil memegang erat kedua tangan Rizal.
"Mas, maafkan aku yang tak tabayyun. Aku sudah tak mempercayaimu," lanjutnya meminta maaf.
Rizal tersenyum manis.
"Niss, kita duduk dulu," ajak Rizal.
Nissa mengangguk. Dia kembali duduk di gazebo itu. Rizal menyentuh lembut pundak Nissa sambil tersenyum mesra.
"Nissa, aku sudah memaafkanmu. Dan, aku begitu senang kau cemburui aku. Karena cemburu itu tanda sayang," kata Rizal dengan senyum manis.
Nissa tersenyum bahagia. "Terima kasih, Mas. Maaf ya. Nanti kedepannya aku akan lebih sabar dan tabayyun."
Rizal tersenyum manis. Dia kembali menggenggam lembut tangan Nissa. Setelah permasalahan diantara mereka selesai, Rizal menggandeng tangan Nissa berjalan ke mobil yang terparkir tak jauh dari taman itu. Tanpa sepengetahuan mereka, Ranty mengintainya dari jauh.
"Brengsek! Rencana gue gagal lagi. Awas loe, Nissa. Gua gak akan nyerah buat dapetin Rizal!" bathinnya.
Ranty memandangi mobil Rizal.yang berjalan meninggalkan taman itu.
__ADS_1