
Sore harinya, setelah pulang kerja Ranty yang telah berdandan dengan cantik bersiap menuju ke sebuah cafe seperti yang telah dia janjikan.
Dia membawa sebuah map dan laptop dari meja kerjanya. Hatinya begitu berbunga-bunga.
Sesampainya di sana, dia duduk di sebuah meja. Dia letakkan tas kerjanya di bawah, dan mengeluarkan laptop serta mapnya lalu di taruh di atas meja. Tak lupa, Ranty memesan minuman sambil menunggu Rizal datang.
Dan, tak lama kemudian Rizal pun datang.
"Maaf, tadi saya sedang banyak pekerjaan, jadi datang sedikit terlambat," kata Rizal dengan nada ramah.
Ranty mempersilahkan Rizal duduk, dan dia menyalakan laptopnya.
"Oh ya, Pak Rizal. Ini ada proposal project kita. Silahkan di pelajari dulu," kata Ranty dengan senyum manisnya.
Rizal menerimanya. Dia membaca proposal yang ada di map itu. Dia mempelajarinya. Rizal mengambil pensil dan menandai poin-poin yang tak dia pahami. Setelah selesai, dia kembalikan proposal itu pada Ranty.
"Ranty, ada beberapa poin di proposal itu yang tak aku pahami. Bisa kamu jelaskan?" tanya Rizal.
Ranty membaca poin-poin itu. Dia tersenyum manis.
"Baiklah, Pak Rizal. Saya akan jelaskan poin-poin itu," kata Ranty dengan senyum manisnya.
Ranty mulai menjelaskan poin-poin itu. Rizal mendengarkan dengan seksama penjelasam itu.
Rupanya Rizal tertarik dengan proposal itu. Ranty kembali menyerahkan proposal itu pada Rizal.
Rizal menandatanganinya.
"Baiklah, Bu Ranty. Senang sekali bermitra dengan anda," kata Rizal berjabat tangan dengan Ranty.
"Saya mewakili perusahaan Randy sangat senang bermitra dengan anda," balas Ranty.
Rizal mengangguk dengan senyum manisnya.
"Oh ya, Pak Rizal. Mumpung kita disini, sekalian saya presentasikan project kita." Ranty langsung menunjukkan layout di laptopnya.
Ranty mulai mempresentasikan project-projectnya. Rizal begitu antusias mendengarnya. Beberapa kali Rizal melayangkan pertanyaan, dan Ranty menjawabnya dengan baik.
Semuanya tampak wajar. Dan setelah selesai, Maghrib pun tiba.
"Bu Ranty, terima kasih atas presentasinya. Saya begitu tertarik dengan project ini. Oh ya, saya mau sholat maghrib dulu," kata Rizal.
Ranty mengangguk.
"Oh ya, sekalian kita makan malam disini, kebetulan ada yamg ingin saya bicarakan lagi," kata Ranty berupaya mengulur waktu.
Rizal tak.menyadari trik Ranty. Dia percaya begitu saja. Ketika Rizal berjalan ke surau yang ada di restoran, Ranty diam-diam.menyiapkan rencananya untuk merusak hubungan Nissa dan
Rizal. Ranry segera memesan makan malamnya.
Tak lama setelah makan malam itu tiba, Rizal yang baru selesai sholat maghrib langsung duduk di depan Ranty.
"Pak Rizal, silahkan di nikmati makan malamnya," kata Ranty dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
Rizal hanya tersenyum manis. Dia langsung menyantap makan malamnya. Ranty berusaha memikat Rizal. Ketika tengah makan malam bersama Rizal, Ranty iseng memegangi tangan
Rizal.
"Ranty, maaf. Please jangan merusak suasana ini," kata Rizal berusaha bersabar.
Ranty hanya tersenyum. "Maaf, saya terbawa suasana di cafe ini," katanya dengan tenang.
Rizal mulai tampak kikuk dengan sikap Ranty. Suasana romantis di cafe itu rupanya membuat Rizal kikuk. Setelah makan malam selesai, Ranty kembali merapatkan rencana project itu.
Namun, diam-diam dia memegani tangan Rizal. Rizal yang merasa risih mulai kehabisan kesabaran.
“Ranty, kita ini rekan kerja. Tolonglah, jangan kau rusak hubungan baik kita,” kata Rizal.dengan nada agak tinggi.
Ranty terdiam. Wajahnya tampak kecewa.
“Rizal, maaf. Aku … aku …’” kata Ranty dengan nada gugup.
Rizal kembali menghela nafasnya. Dia berusaha bersikap sabar menghadapi Ranty.
“Ranty, kita sedang dalam jam kerja. Jadi, bersikaplah professional. Kamu tak ingin jika hubungan kerjasama perusahaan kita terganggu, kan?” kata Rizal mencoba bersabar menghadapi sikap manja Ranty.
Ranty tetap diam. Dia kemasi barang-barangnya dan beranjak pergi tanpa pamit pada Rizal.
Dia segera pergi ke kasir untuk membayar menu yang dia pesan, lalu beranjak keluar. Rizal yang tak ingin ada permasalahan yang tak selesai berusaha mengejarnya. Ketika Ranty akan membuka pintu mobilnya, Rizal memegangi tangannya.
“Ayolah, Ranty. Bersikaplah professional. Bukankah ayahmu mempercayakan perusahaannya kepadamu?” kata Rizal.
“Rizal, aku mau tanya sesuatu kepadamu. Selama ini, kamu anggap aku sebagai apa?” tanya Ranty pada Rizal dengan mata berkaca.
Rizal sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ranty, namun dia tetap tenang. Dengan senyum manis, dia mejawabnya.
“Ranty, kita adalah rekan bisnis. Tak lebih. Ayolah, bersikaplah professional,” kata Rizal berusaha bersikap sabar.
Ranty merasa sakit. Namun, dia berusaha tegar. “Baiklah. Tapi asal kamu tahu, Rizal. Aku menginginkan lebih dari itu. Oke, meeting selesai. Aku mau pulang dulu,” kata Ranty dengan
menahan rasa kecewa.
Ranty segera masuk ke dalam mobilnya dan memacunya meninggalkan tempat itu. Rizal yang tak memahami maksud Ranty hanya menggelengkan kepalanya. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan tempat itu. Di tengah perjalanan, Ranty meneteskan air
mata. Di dalam mobilnya, dia tumpahka kesedihanya.
“Rizal, mengapa kau memilih gadis sok alim itu? mengapa kau tak mengerti jika cintaku tak kalah dari dia? Mengapa, Rizal?” teriaknya di dalam mobil.
Ranty berusaha fokus di tengah emosinya yang parah. Namun, dia tak menyadari jika ada seseorang yang menyebrang. Ranty buru-buru menginjak rem mobilnya, namun dia tak sempat
menghindari kecelakaan itu. Mobilnya menabrak orang yang menyeberang.
“Waduh! Celaka, aku menabrak seseorang.” Ranty tampak panik.
Dia hentikan mobilnya. Dilihatnya jalanan begitu sepi. Karena jalanan sepi, Ranty yang khawatir menghadapi kemarahan warga segera pergi dari tempat itu.
Sementara itu, Almira yang diam-diam menjalin hubungan cinta dengan Rahmat tengah berjalan di sekitar kampus. Malam itu kebetulan ada Kuliah tambahan di kampus. Ketika jam
__ADS_1
kosong, Rahmat mengajak Almira makan di sebuah cafe seberang kampus.
"Sayang, kita makan di cafe baru,yuk. Ada promo," ajak Rahmat.
"Ah, kamu Say. Giliran promo aja, selalu di depan. Mirip sama iklan Yamaha aja deh," kata Almira dengan senyum manis.
Rahmat tertawa. "Mira … Mira. Kamu itu koq ingat aja sama iklan."
Almira tertawa ringan. Dia mengangguk menyetujui ajakan Rahmat. Mereka berjalan kaki menuju ke cafe itu. Setelah menyeberang jalan yang cukup ramai di depan kampus, sampailah mereka di cafe itu. Mereka langsung duduk dan memesan menu makanan. Sambil menunggu pesanan tiba, Almira dan Rahmat terlibat dalam sebuah perbincangan.
"Mira, aku begitu senang andai kita bisa bersama selamanya," kata Rahmat dengan wajah sedikit risau.
Almira memadangi raut wajah kekasihnya yang tak biasa. Dia keheranan.
"Iih, Sayang. Kamu koq ngomong gitu sih? Ayolah, masa depan kita tak tahu, Rahmat," kata Almira dengan senyum manisnya.
Dilihatnya ada yang berbeda dengan sinar wajah Rahmat. Dia tampak begitu tampan, namun sedikit pendiam. Almira merasakan ada yang berbeda dari kekasihnya, namun dia pendam
perasaan itu.
"Mira, aku selalu sayang kepadamu. Kamu tahu, aku selalu berharap kita bisa membina keluarga yang sakinah. Tapi, … sepertinya aku harus ikhlaskan itu," kata Rahmat dengan wajah sedih.
Almira terkejut. Dia merasa begitu sedih.
"Ya Allah, apa yang salah dengan dia?
Mengapa dia berkata seolah akan pergi jauh?" tanyanya dalam hati.
Percakapan mereka terputus ketika pesanan mereka datang. Setelah pelayan itu pergi, Rahmat mengambil sebuah kotak kecil berisi cincin.
"Mira, aku punya sesuatu buat kamu," katanya.
Dia buka kotak kecil itu. Almira terkejut. Dia pandangi Rahmat dengan perasaan heran.
"Mira. Semoga kamu suka dengan cincin sederhana ini," kata Rahmat sambil memakaikan cincin itu di jari manis Almira.
Almira terdiam. Dia pandangi cincin itu. Dia teringat akan sebuah mimpi yang dia alami beberapa hari terakhir.
"Ya Allah … pertanda apakah ini," katanya dalam hati.
Almira merasakan kecemasan, namun dia berusaha menutupinya. Dia kembali tersenyum pada kekasihnya. Dengan lembut, dia genggam tangan kekasihnya.
"Terima kasih, Sayang. Aku begitu meyikainya," kata Almira dengan senyum manisnya.
Rahmat tersenyum manis.
"Yuk, kita makan malam," ajak Rahmat.
Almira dan Rahmat segera melahap makan malamnya. Dalam hati, dia rasakan sesuatu yang salah dengan kekasihnya.
Dia terus memikirkan itu. Dan, setelah makan malam, Adzan isya
berbunyi. Rahmat mengajak Almira sholat di sebuah surau. Tak lama kemudian, mereka berjalan kembali ke kampus.
__ADS_1