Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Kepergian Ranty


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Ranty akhirnya diperbolehkan pulang ke rumahnya. Sesampainya disana, Rizal mendorong kursi rodanya dan membantu Ranty berbaring di kamarnya.


"Zal, Thanks ya selama ini sudah semangati aku," kata Ranty.


"Sudah, Ranty. Kita sesama manusia kan harus saling bantu," kata Rizal.


Ranty melihat jam dindingnya. Dilihatnya, hari telah siang.


"Rizal, aku mau istirahat dulu. Kamu gak balik kerja di kantor?" tanya Ranty.


Rizal tersadar. Dia melihat arlojinnya.


"Oh, iya. Ya sudah. Ayo saya bantu minum obat," kata Rizal sambil membantu Ranty duduk di


tempat tidurnya.


Ranty segera mengambil obatnya dan meminumnya. Setelah selesai, Dia tersenyum manis.


"Rizal. Terima kasih selama ini kamu setia menemaniku. Sudah saatnya, kamu pikirkan masa


depanmu," kata Ranty.


Rizal mengernyitkan dahinya. Dia tampak keheranan.


"Ran, koq ngomong gitu sih?" tanya Rizal.


"Rizal, please. Aku tahu kamu masih menyayangi Nissa. Bahagiakan dia," kata Ranty.


Rizal hanya mengelengkan kepalanya.


"Ranty, sudahlah. pikirkan kesembuhanmu. Aku akan tetap temani kamu," kata Rizal.


Ranty tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sejenak, dia merasa begitu pusing.


Mendadak, hidungnya mimisan. Rizal terkejut.


"Ranty, istirahatlah. Kamu jangan sampai kelelahan," kata Rizal begitu panik.


Rizal membantu Ranty berbaring. Dia ambil tissue dan membersihkan darah yang keluar darihidungnya. Ranty pun akhirnya terlelap. Rizal yang begitu khawatir dengan keadaan Ranty segera memanggil dokter.


Sepuluh menit kemudian, dokter yang menangani Ranty datang. Dia mengecek kondisi Ranty.


"Rupanya ada darah beku di otaknya. Beruntung ini lekas terdeteksi," kata dokter sambil


memberikan suntikan pada Ranty.


Setelah itu, Dokter keluar menemui ayah dan ibunya Ranty. Mereka berbicara di ruang tengah, Dokter menjelaskan kondisi Ranty.


"Pak, Bu. Rupanya waktu terjadi kecelakaan, Ranty sempat mengalami benturan di kepalanya. Ada pembekuan darah di otaknya," kata Dokter.


"Apa?! Tapi, apakah berbahaya, Dok?" tanya Citra.


Dokter itu tersenyum. Dia menenangkan kedua orang tua Ranty.


"Berbahaya kalau dibiarkan. Beruntung kondisi ini segera terdeteksi, sehingga lekas di tangani.


Semoga Ranty lekas sembuh ya," kata Dokter sambil menuliskan resep obat untuk Ranty.


Citra dan Randy bernafas lega. Setelah memberi resep, dokter itu segera pamit dan kembali ke rumah sakit. Sepeninggal dokter, Rizal kembali ke kantornya.


Sore harinya, Rizal duduk termenung di sebuah taman. Dia tampak bimbang dengan perkataan


Ranty.


"Ranty, aku memang tak mencintaimu. Tapi, aku tak tega meninggalkanmu dalam kondisi


begini. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dalam hati.


Rizal memandangi jalanan di taman itu dengan tatapan kosong. Ketika tengah termenung,


Nissa yang secara tak sengaja jalan-jalan melihat Rizal yang termenung. Dia menyapanya.


"Rizal. Koq melamun?" tanya Nissa tiba-tiba.

__ADS_1


Rizal terkejut. "Oh ... Uhm ... nggak. Aku lagi cari angin koq."


"Kamu gak bisa bohongi aku, Rizal. Jujurlah. Apa yang jadi bebanmu?" tanya Nissa.


Rizal terdiam. Dia menghela nafasnya sejenak.


"Nissa. Ranty ingin aku melupakannya. Dia ingin aku bahagiakan kamu," kata Rizal.


Rizal bangkit dari duduknya. Dia memandang jauh ke depan.


"Nissa, sejujurnya hingga saat ini, aku tak bisa mencintai Ranty. Tapi, aku tak ingin


meninggalkannya dalam kondisi begini," kata Rizal.


Dia pandangi Nisaa yang masih duduk di bangku. Sambil mengusap keningnya, Rizal kembali melanjutkan perkataannya.


"Nissa, aku bingung harus bagaimana terhadap Ranty," katanya dengan perasaan sedih.


Rizal tertunduk lesu. Nissa bangkit dari duduknya, dan menyentuh lembut pundak Rizal.


"Zal, aku akan coba bicara pada Ranty. Antar aku menemui dia," pinta Nissa.


Rizal mengangguk. Dia ajak Nissa ke rumah Ranty. Sesampainya di sana, Nissa di sambut


hangat oleh ayah dan ibunya Ranty. Mereka akhirnya bertemu Ranty yang masih berbaring di tempat tidurnya.


"Ranty, bagaimana kondisimu?" tanya Nissa.


"Syukurlah, aku sudah sedikit baikan. Hanya, kakiku belum bisa di gerakkan," kata Ranty.


"Bersabarlah, Ranty. Insya Allah kamu akan bisa kembali berjalan," kata Nissa.


Ranty memandangi Rizal dan Nissa. Dia menyuruh keduanya mendekatinya.


"Rizal, Nissa. Terima kasih kalian telah baik kepadaku," kata Ranty memegangi tangan Nissa dan Rizal.


Dia sejenak memandangi keduanya.


"Kalian baik-baik ya. Semoga kalian bahagia," kata Ranry sambil tersenyum manis.


"Ranty. Insya Allah hubunganku dan Rizal baik-baik saja. Oh ya, Ranty. Mengapa tak


kau lanjutkan saja pertunanganmu dengan Rizal? aku sudah ikhlas koq. Kita saat ini tetap


berteman," kata Nissa.


Ranty terdiam sejenak, namun dia kembali tersenyum.


"Nissa. Bagiku setelah pertunangan sudah berakhir sudah tak ada harapan untukku. Aku sudahdua kali mengecewakan orang yang mencintaiku dengan tulus," kata Ranty dengan wajah sedih.


Matanya berkaca mengingat dia khianati Dicky. Ranty begitu sedih mengingat itu.


"Nissa, kini Dicky dan Vonny sudah berbahagia. Namun, melihat Dicky yang begitu tulus


mencintai Vonny, aku menyesal mengkhianati Dicky," katanya sambil mengusap air matanya.


Ranty kembali terdiam. Dia oandangi Nissa.


"Nissa, kamu begitu baik." Sejenak Ranty memandangi Rizal. "Dan kamu Rizal, kamu rela


korbankan perasaanmu demi ayahmu."


Ranty terdiam sejenak. Air mata penyesalanya kembali menetes. Dia pandangi Rizal dan Nissa


bergantian.


"Kalian berdua sudah aku sakiti, namun kini kalianlah yang masih setia menemaniku. Please ... biarkan aku satukan kalian kembali," kata Ranty mulai menangis.


Nissa memeluknya. "Sssh ... Ranty. Sudahlah. Kamu tak perlu pikirkan itu. Biarlah nanti Allah


yang menentukannya. Sekarang ini, kamu fokus pada kesembuhanmu."


Ranty menangis di pelukan Nissa. Dia begitu merasa menyesal.

__ADS_1


"Ranty, sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. berdamailah dengan masa lalu, dan melangkahlahke depan," kata Nissa menenangkan Ranty


Perlahan, Ranty mulai tenang. Keceriannya mulai muncul. Dan hubungan mereka bertiga mulaiakrab. Sesekali Nissa mengajak Ranty bercanda.


Tepat, ketika malam tiba, Rizal dan Nissa


mohon diri untuk kembali. Sepeninggal mereka berdua, Ranty termenung.


Waktu terus berjalan. Hari berganti hari. Sudah berapa bulan berlalu. Persahabatan Ranty dan


Nissa kian erat. Begitu pula dengan Rizal.


Ranty kini dapat berjalan, walau masih pincang. Sejak kecelakaan itu, Ranty lebih sering


berdiam diri di rumah. Siang itu, Nissa yang telah menjadi sahabat Ranty tengah berkunjung


bersama Vonny. Rupanya, Vonny tengah hamil 3 bulan.


"Von, lo kelihatan buncit nih sekarang," kata Ranty.


'Yah, namanya hamil. Awalnya aku kira sakit perut. Setelah cek, ternyata hamil," kata Vonny


dengan senyum manis.


"Selamat ya Von. Sebentar lagi lo jadi nyokap," canda Ranty.


Mereka bertiga tertawa lepas. Ranty lalu menanyai Nissa.


"Nissa, sudah tiga bulan berlalu. Bagaimana hubunganmu dengan Rizal?" tanya Ranty.


Nissa terdiam. Dia hanya tersenyum simpul.


"Ranty, aku dan Rizal tetap berteman seperti sedia kala," kata Nissa.


Ranty hanya tersenyum. Namun, dalam hatinya dia begitu sedih. Hanya saja Ranty tak


menampakkannya. Mereka tetap akrab.


Setelah sore datang, pulanglah Vonny dan Nissa. Sepulangnya mereka berdua, Ranty memutuskan untuk pergi ke luar negeriDia mengambil telepon, dan menghubungi tantenya di Amerika.


"Halo, Ranty," sapa tantenya melalui telepon.


"Tante, Ranty memutuskan untuk menerima tawaran tante tempo hari. Ranty mau mengelola restoran tante di California," kata Ranty.


"Ya sudah. Kamu yakin dengan pilihanmu?" tanya tantenya.


"Iya, Tan. Ranty ingin memulai kehidupan yang baru di sana," balasnya


"Ya sudah. Nanti tante atur keberangkatanmu. Persiapkan dokumenmu, Nak," kata tantenya.


Ranty menyanggupinya. Dan, tak lama kemudian dia tutup teleponnya. Dia langsung


persiapkan dokumen-dokumennya.


Malam harinya, Ranty bersiap berangkat ke bandara. Dia menunggu taksi datang. Dan, tak


lama kemudian datanglah taksi yang di pesan.


"Nak, baik-baiklah kamu di tempat bibi," kata Citra memeluk Ranty.


"Iya, Ma. Ranty nanti pasti kembali kemari lagi," kata Ranty sambil menangis haru di pelukan


ibunya.


Randy memandangi putrinya yang hendak berangkat. Dia belai lembut putrinya.


"Nak, baik-baiklah di sana. Kami pasti akan sempatkan diri mengunjungimu," kata Randy.


Ranty memeluk erat ayahnya sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi yang membawanya ke


bandara.


Setibanya di sana, dia langsung menunggu di lobby. Tepat tengah malam, Ranty masuk ke pesawat dan berangkat ke Amerika. Di dalam pesawat, dia pandangi cincin di tangannya.

__ADS_1


"Rizal, cincin ini aku simpan sebagai kenangan kita. Semoga dengan kepergianku kamu bisa


bahagia dengan Nissa," kata Ranty dalam hati.


__ADS_2