Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Gagalnya Perjodohan


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Dicky terdiam, sementara Vonny begitu asyik menikmati minumannya. Dia lihat, Dicky tampak sedih. Vonny akhirnya membuka pembicaraan.


“Dicky. Kamu kenapa? Koq sedih gitu?” tanya Vonny.


“Oh. Uhm … aku gak apa-apa, Vonny,” kata Dicky dengan perasaan gugup.


Vonny tersenyum. Dia ambilkan Dicky minuman dari restoran tempat mereka memesan makanan tadi.


“Dicky, udahlah. Nikmati dulu nih minumannya. Minuman ini enak loh. Cobain deh,” kata Vonny sambil memberikan minuman itu pada Dicky.


Dicky hanya diam dan menerimanya. Ketika itu, Lampu lalu lintas menyala warna merah. Dicky menghentikan mobilnya, dan meminum minuman itu. Dia sedikit tenang.


“Vonny, kita pergi ke taman aja ya. Kita makan siang di sana,” ajak Dicky.


“Iya, ****. Aku keburu lapar ini,” kata Vonny.


Dicky tersenyum manis. Setelah lampu hijau menyala, dia arahkan maobilnya ke sebuah taman di pinggiran kota Jakarta. Sesampainya di sana, Vonny membawa makanan dari restoran tadi. Mereka duduk di sebuah bangku sambil menikmati makan siangnya.


“Eh, Dicky. Kamu tadi koq kelihatan sedih? Apa karena aku suruh kamu hapus foto Ranty di hpmu?” tanya Vonny.


Dicky diam sesaat. Dia pandangi Vonny sambil tersenyum manis.


“Vonny, aku sedih karena kita gak jadi makan di restoran tadi. Itu karena pertengkaran kita tadi,” kata Dicky.


Vonny tersenyum simpul. Dia memandang jauh ke depan, memandangi dua anak kecil yang bermain ceria di kejauhan.


“Sayang, lihat kedua anak itu. Mereka begitu ceria bermain. Kamu tahu, mengapa aku marah tadi?” tanyanya.


Dicky hanya menggeleng. Sambil menatap kedua anak yang bermain dengan ceria, Vonny akhirnya kembali berbicara.


“Sayang, aku tahu kamu mungkin masih sakit dikhianati Ranty. Tapi, mengapa tak kau relakan dia? Kau lihat Annisa? Dia disakiti Ranty, namun dia bisa ikhlas. Dia bisa menerima dan tak dendam pada Ranty,” kata Vonny.


Vonny kembali memandangi Dicky. Dengan lembut, dia menyentuh pipi kirinya.


“Sayang. Apapun kelebihan dan kekuranganmu, aku akan menerimanya. Kamu tak perlu lagi larut dalam kesedihanmu. Ayolah, Dicky. Hapus dendammu pada Ranty. Biarlah kita hiasi


hari-hari kita dengan cara kita,” kata Vonny dengan nada lembut sambil memandangi wajah Dicky.


Dicky terdiam. Perlahan, dia menyadari kebenaran ucapan Vonny. Dengan lembut, Dicky memegangi tangan kanan Vonny, dan menciumnya.


“Baiklah, Sayang. Aku akan lupakan dendamku pada Ranty, dan akan mencoba mencintaimu,” balas Dicky.


Vonny tersenyum manis. Namun, Dicky tampak mengernyitkan wajahnya setelah mencium tangan Vonny. Dicky seolah mengendus bau tak sedap.


“Eh, Sayang. Tadi kamu pake parfum apa?” tanyanya menggoda Vonny.


“Aku pake parfum biasanya deh. Emang kenapa?” tanya Vonny keheranan.


Dicky tampak mengendus-endus. Dia tertawa ringan.


“Kamu pake minyak sinyong-nyong ya?” tanya Dicky dengan nada menggoda.


“Nggak. Ih, enak aja. Parfumku Hugo Boss asli,” balas Vonny dengan nada sengit.


Tiba-tiba, keduanya terdiam. Rupanya ada bau busuk yang menyengat. Dicky tampak mengendus-endus sambil mengernyitkan wajahnya. Dia seolah mencium bau tak sedap. Dan, perlahan Vonny merasakan bau tak sedap. Dia menutup hidungnya.


“Eh, kamu kentut ya? Ugh! Baunya koq busuk gini?” tanya Vonny sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


“Ih, enak aja! Kamu kali yang kentut Von. Beneran, baunya busuk banget nih!” balas Dicky sambil menutup hidungnya. Mereka berdua saling tuduh.


“Yeee! Enak aja! Iya, Nih! Koq tiba-tiba bau begini?” balas Dicky yang tak tahan dengan bau


menyengat itu.


Vonny merasakan ada sesuatu di kakinya. Sesuatu yang sedikit basah. Karena penasaran, dia lihat sandal yang dia pakai.


“Loh, koq ada kayak lumpur?” tanyanya.


Vonny yang penasaran membuka sendalnya dan melihatnya.


Dan, aroma busuk itu makin kuat.


Vonny mengernyitkan wajahnya karena aroma busuk itu. Begitu pula dengan Dicky. Ternyata,


aroma busuk menyengat itu dari sendalnya.


“Ueeek! Sial! Gua injak kotoran anjing!” kata Vonny serasa mau muntah.


Dicky segera menggendong Vonny dan menyuruhnya duduk di bangku taman itu. Dia


mengambil sandal itu, dan mencucinya hingga bersih. Setelah bersih, mereka segera beranjak


meninggalkan taman itu dan kembali bekerja.


Malam semakin larut. Rizal yang tengah terlelap tidur mendadak terbangun ketika tengah malam.


“Ya Allah! Mengapa aku bermimpi tentang Nissa?” tanyanya dalam hati.


“Ya Allah. Aku akan menikah dengan Ranty, tapi mengapa makin dekat pernikahanku, keraguanku pada Ranty makin menjadi?” bathinya.


Dilihatnya jam dinding di kamarnya. Pukul 00:30 dini hari. Rizal langsung buru-buru ambil wudhu dan sholat malam. Dia melaksanakan sholat hajad dan sholat istikharah yang ditutup


dengan shalat witir. Setelah


melaksanakannya, dia berdo’a.


“Ya Allah, semakin mendekati pernikahanku dengan wanita pilihan papa, aku semakin ragu. Namun, aku ingin bahagiakan ayahku. Berilah aku petunjuk-Mu, Ya Allah. Jika memang Ranty jodohku, berilah aku kekuatan untuk mencintainya sepenuh hatiku, namun jika memang Nissa adalah jodoh yang Kau kirimkan untukku, berilah aku jalan untuk bersatu dengannya. Ya Allah, kabulkanlah segala do’a dan pintaku,” kata Rizal di dalam do’anya.


Setelah menutup do’a, Rizal kembali tenang. Dia telah pasrah dengan kehendak-Nya, dan dengan tenang dia kembali terlelap di dalam tidurnya.


Hari itu tiba. Di sebuah gedung, Almira dan Said tengah melangsungkan pernikahan. Banyak sekali tamu dan undangan yang hadir. Setelah akad nikah, acara langsung dilanjutkan dengan


resepsi pernikahan. Tampak beberapa undangan datang dan memberi ucapan selamat pada Almira dan Said. Namun, di tengah acara itu, datang seorang tamu yang tak diundang. Dia adalah Connie, pacar Willy. Connie langsung berjalan mendekati Ranty yang tengah berdua


dengan Rizal.


“Owh! Rupanya loe disini seneng-seneng sama cowok lain. Loe tega ya ngerebut Willy dari gue!” bentak Connie.


“Eh! Jaga mulut loe!” bentak Ranty.


Dia hendak menampar Connie, namun Connie begitu sigap. Dia tangkap tangan Ranty dan menatapnya dengan tajam.


“Loe bilang apa?! Jaga mulut gue?! Heh! Jaga kelakuan loe ama cowok lain!” balas Connie.


Rizal terkejut mendengar perkataan Connie. Dia menatap Connie dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Mbak, tolong jangan asal bicara. Ranty itu calon istri saya,” kata Rizal pada Connie.


Connie tertawa mengejek Rizal. Dia tertawa lepas di depan para tamu dan undangan, termasuk orang tua Rizal.


“Para hadirin sekalian, dengerin saya. Cowok di depan saya ini ternyata lugu level dewa. Dia gak sadar jika calon bininya adalah tukang ngerebut cowok orang!” kata Connie dengan tawa


lebar.


Ranty yang merasa malu mendorong Connie dan menamparnya.


“Hei! Pergi kamu dari sini!” bentak Ranty.


“Kenapa?! Loe malu?! Loe mau lihat buktinya?” balas Connie sambil mengeluarkan beberapa foto.


Dia melemparkan foto-foto itu di tengah kerumunan orang, dan satu foto jatuh di depan Rizal. Sebelum pergi, Connie menatap Ranty dengan senyum kemenangan.


“Ranty! Silahkan loe ambil Willy. Dan asal loe tahu, Willy gak pernah cinta sama loe!” kata Connie sambil memberikan selembar foto pada Ranty.


Connie yang merasa puas langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ranty terdiam memandangi foto yang diberikan Connie. Dia begitu malu dan menyesal karena menuruti emosi sesaatnya.


Dan kini, dia menanggung malu. Dia menghampiri Rizal untuk mencoba menjelaskan foto itu.


“Sayang, foto itu tak seperti dugaanmu,” kata Ranty mencoba menjelaskan duduk perkaranya.


“Owh! Lalu, mengapa kau begitu naif? Kau tahu, aku sudah mulai mencintaimu, Ranty. Tapi apa?! Ini balasanmu?!” kata Rizal dengan mata berkaca.


Wajahnya tampak marah dan kecewa. Rizal hendak berlalu, namun Ranty berusaha mencegahnya.


“Rizal. Please, percayalah kepadaku. Ini pasti aku di jebak,” kata Ranty memohon.


Rizal kembali menatap Ranty dengan wajah kecewa.


“Ranty! Sudah jelas kamu yang salah, tapi tega ya kamu cari kambing hitam. Jujur, aku kecewa denganmu. Dan asal kamu tahu, hubungan kita berakhir sampai disini. Kembalilah pada cowok


itu, Ranty!” kata Rizal dengan nada kecewa.


“Rizal, please. Maafkan aku,” pinta Ranty sambil berlinang air mata.


Dia pegangi tangan Rizal, namun Rizal melepaskanya.


“Ranty, cukup! Aku putuskan untuk sendiri saat ini!” balas Rizal dengan perasaan kecewa.


Dia lepaskan peganangan tangan Ranty, dan meninggalkannya begitu saja. Rizal tak perduli dengan tangisan Ranty. Dia berjalan ke arah ayah dan ibunya. Dia pandangi ayahnya yang menjodohkannya.


“Pa. maafkan Rizal yang telah durhaka pada papa. Rizal memilih untuk sendiri saat ini,” kata Rizal sambil memberikan foto itu pada ayahnya.


Rizal langusng pergi dari gediung itu. Dia memacu mobilnya ke suatu tempat. Semua handphonenya dia matikan. Sepeninggal Rizal, Hasan mendatangi Ranty yang tengah menangis. Sambil memegangi dadanya, dia pandangi Ranty dengan wajah kecewa.


“Ranty! Tega kamu khianati kepercayaan Om selama ini,” kata Hasan pada Ranty dengan wajah kecewa.


“Om, Ranty bisa jelaskan semuanya. Tolonglah, Om. Percayalah pada Ranty,” pinta Ranty pada Hasan.


Tanpa berkata-kata, Hasan menampar Ranty dengan keras. Dia rasakan dadanya begitu sesak setelah menampar Ranty.


“Pergi kamu dari sini, Ranty! Pergi dan jangan mengharap Rizal!” bentak Hasan.


Ranty merasakan dadanya begitu sesak. Dia begitu malu pada semua orang di sana. Ranty langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan ke parkiran sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2