
Siang itu, Dicky dan Vonny tengah makan siang di café milik Fahmi. Di sana, Fahmi tampak keheranan melihat Dicky dan Vonny tampak mesra.
“Eh, ****. Seingat gue, loe kan dulunya sama Ranty. Koq, sekarang tiba-tiba berubah?” tanya Fahmi.
Dicky terdiam. Wajahnya kembali tampak sedih. Vonny yang tak ingin Dicky kembali mengenang luka lamanya langsung berkata pada Fahmi.
“Mi, please. Jangan tanyain itu. Kasihan Dicky,” katanya sambil memegangi tangan Dicky.
Fahmi mengagguk tanda mengerti. Dia kembali teringat sesuatu. Sesuatu yang telah lama dia pendam. Fahmy langsung duduk bergabung dengan Dicky dan Vonny.
“Oh ya, sudah beberapa lama aku tak lihat Ranty. Kemana ya dia? Aku sempat kiri pesan, dia tak balas,” kata Fahmi pada Vony.
“Mungkin dia ada urusan lain, Mi. Emang kenapa koq tiba-tiba kamu bicara tentang dia?” tanya Vonny.
Fahmi hendak menjawab, namun dia pandangi Dicky yang masih tampak sedih. Fahmi pun mengurungkan niatnya.
“Uhm, udah deh. Lupain aja,” kata Fahmi singkat.
Pandangannya beralih ketika melihat seorang pelanggan masuk. Dia lihat pegawainya belum banyak yang datang. Buru-buru Fahmi bangkit dari duduknya.
“Eh, ada pelanggan datang. Aku tinggal dulu ya,” kata Fahmi.
Vonny hanya mengangguk. Fahmi langsung pergi melayani pelanggan itu. Belum selesai pelanggan itu, datang satu lagi pelanggan. Fahmi tampak sibuk melayani pelanggan.
Sementara itu, Dicky dan Vonny menikmati makan siang itu sambil bercakap-cakap.
“Vonny, aku ingin melepas bayang-bayang Ranty. Aku sudah mantap memlihmu, Von. Tapi, aku ingin menegaskan sekali lagi. Apakah kamu bersedia selalu menemaniku? Jujur, aku saat ini tengah mencari pendamping hidup. Aku ingin ada seorang wanita yang selalu ada buat aku,” kata Dicky pada Vonny.
Vonny tersenyum manis. Dia pandangi Dicky dengan tatapan lembut, dan dengan mesra, dia pegangi tangan Dicky.
“Dicky, aku siap untuk selalu ada buat kamu. Aku tulus mencintaimu, Dicky. Mungkin, ini terlalu cepat. Namun, entah kenapa aku tak butuh waktu lama untuk meyakini pilihanku. Aku yakin dengan pilihanku,” kata Vonny dengan nada lembut.
Dicky menghela nafasnya. Dia tersenyum manis, dan mengeluarkan kotak kecil dari saku bajunya. Dia buka kotak itu.
“Vonny, terimalah cincin ini sebagai tanda keseriusanku kepadamu,” katanya dengan nada lembut.
Dicky memasangkan cincin emas itu di jari manis Vonny. Vonny memandanginya dengan senyum manis.
“Von, mungkin ini hanya cincin sederhana yang tak seberapa nilainya, dan mungkin ini belum resmi aku melamarmu. Tapi, ini adalah bukti kesungguhanku untuk menerimamu sebagai pelengkap tulang rusukku,” kata Dicky berkata bak seorang pujangga.
Vonny tertawa ringan. “Ya elah, ****. Tumben loe bergaya bak pujangga.”
“Yah, anggap saja pujangga kesiangan. Maklum, dulu aku kuliah di sastra, eeeh malah gagal. Akhirnya DO dan masuk deh ke manajemen, dan ketemu loe, Fahmi, dan … ,” kata Dicky memutus perkataanya.
“Dan … Ranty. Iya,kan? Udah, ****. Loe kalo mau move on, maafkan dia. Berdamailah dengan masa lalu,” kata Vonny dengan nada lembut.
Dicky tersenyum simpul. Dia mengangguk, lalu mencium tangan Vonny.
__ADS_1
“Von, kamu tahu gak apa yang buat aku begitu cepat memantapkan diri memilihmu?” tanya Dicky.
Vonny hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu itu selain lucu, cantik, juga mampu mencegahku dari sifat dendam.” Dicky tersenyum manis memandangi Vonny.
Tak terasa, waktu jam istirahat telah habis. Mereka berdua segera pergi dari café itu, dan kembali ke tempat kerjanya. Sepeninggal Dicky dan Vonny, Ranty yang baru saja dibicarakan Fahmi tiba-tiba datang ke café itu. Dia langsung duduk di sebuah meja di pojokan. Fahmi
segera menghampirinya.
“Eh, panjang umur loe. Baru aja gua bicarain loe, eeeh ternyata langusng nongol,” kata Fahmi menyambut kedatangan Ranty.
Ranty hanya diam. Dia berusaha tersenyum sambil menyeka air matanya yang masih menetes. Fahmi keheranan melihatnya.
“Loh, Ranty. Kamu kenapa? Koq sedih kelihatannya?” tanya Fahmi.
“Mi, buatin gua kopi racikanmu, dan gua pesen ayam gperekyang estra pedes,” kata Ranty yang berusaha mengalihka pembicaraan.
Fahmi memandangi Ranty sejenak. Dia melihat kesedihan di wajahnya, namun tak sampai hati untuk menanyainya. Dia langsung beranjak menyiapkan pesanan Ranty. Agak lama ranty menunggunya, dan tangisnya kembali muncul. Ketika Fahmi datang, dilihatnya Ranty melipat
tangannya di atas meja dan berlinang air mata. Isak tangisnya terdengar lirih.
“Ranty, kamu kenapa? Ayo dong, ceritakan maslahmu ke aku,” kata Fahmi sambil menyajikan pesanan Ranty.
Ranty terdiam. Dia sejenak memejamkan matanya, dan menyeka air mata yang masih menetes. Setelah merasa sedikit tenang, Ranty akhirnya menceritakan permasalahan yang menimpanya. Dari cerita Ranty, akhirnya Fahmi tahu bahwa ternyata Dicky sudah putus dengan Ranty, dan kini Ranty akhirnya gagal menjalin cinta dengan Rizal. Fahmi begitu terenyuh mendengar kisah sedih itu.
“Hei! Tunggu!” teriak Rizal dengan wajah marah.
Dicky terkejut mendengar teriakan Rizal. Dia pandangi Rizal yang berlari ke arahnya. Rizal yang tampak marah langsung mendekati Dicky dan melayangkan pukulannya, dan mengenai wajah Dicky.
Dicky yang terkejut menatap Rizal dengan tajam. Dia membalas pukulan Rizal dan mengenai wajahnya. Mereka sejenak saling pandang dengan tatapsn tajam.
“Heh! Kamu ingat sama aku kan?! Tega ya kamu ngerusak pertunanganku!” bentak Rizal.
Dicky tersenyum sinis. Dia tatap Rizal yang tengah marah.
“Owh! Apa masalahmu, Hah! Aku sudah gak ada urusan sama kamu!” balas Dicky sambil mendorong tubuh Rizal.
Karena dorongan keras Dicky, Rizal mundur beberapa langkah. Dia yang tak terima mendekati Dicky dan hendak memukulnya sekali lagi, namun Dicky begitu sigap. Dia tangkap tangan Rizal dan menepiskannya dengan kasar.
“Heh! Denger! Ini kantorku. Apa sih maumu?!” kata Dicky dengan nada tinggi.
Rizal menatap Dicky dengan wajah marah. Dia menatap Dicky dengan tatapn tajam sambil tersenyum sinis.
“Owh! Kamu lupa dengan pertemuan kita sebulan yang lalu? Kamu paksa aku untuk putus dengan Ranty, atau kau yang bertindak. Apa kamu lupa?!” bentak Rizal.
Dicky terdiam sejenak. Dia berusaha mengingat-ingat. Setelah beberapa saat, Dicky kembali teringat. Dengan pandangan tajam, dia pandangi Rizal.
__ADS_1
“Iya, aku ingat, Rizal.” Dicky tersenyum sinis. “Aku ingat sekarang. Oh ya, bukannya kamu harusnya sudah bahagia dengan Ranty sementara Nissa kau biarkan menangis di atas pernikahanmu? Lalu, ngapain kamu salahkan aku? Asal tahu, aku sudah move on dari Ranty.
Silahkan ambil dia, Rizal.”
Rizal hendak menyangkal, namun dia teringat akan kesedihan Nissa, dia tercekat. Rizal tak mampu membalas perkataan pedas itu. Dicky kembali tersenyum sinis. Dia menggelengkan kepalanya.
“Rizal … Rizal. Kau begitu naif!” lanjutnya.
Dicky tersenyum sinis menatap Rizal.
“Rizal, kamu itu baik di mata banyak orang. Tapi tidak di mataku. Kamu tak lebih dari seorang pecundang yang merampas kebahagiaanku. Dan kamu tahu apa yang aku rasakan?” kata
Dicky dengan nada tinggi.
Rizal yang tak terima dengan tuduhan Dicky akhirnya membalas ucapan Dicky.
“Heh! Pertunanganku denga Ranty berakhir sudah. Dan kamu tahu kenapa aku marah?! Kamulah penyebabnya. Kamulah yang merusaknya. Dan sekarang, hatiku hancur sudah. Sekarang, apa kamu sudah puas dengan penderitaanku?!” bentak Rizal sambil berlinang air mata.
Dicky terkejut mendengar perkataan Rizal. Dia tak menyangka ada yang merusak hubungan Rizal dan Ranty. Dia terdiam sejenak. Dia berjalan melewati Rizal, dan berdiri di belakangnya.
Sambiil menghela nafas panjang, Dicky berusaha menenangkan dirinya.
“Rizal! Ketika kau rebut Ranty dariku, kamu mau tahu apa yang aku rasakan? Aku malu pada ayah dan ibuku, Rizal. Kamu tahu kenapa?” balas Dicky dengan nada tinggi.
Rizal kembali berdiri di depan Rizal. Tatapan kemarahannya tampak.
“Ketika Ranty memilihmu, aku sudah terlanjur bawa orang tuaku untuk melamarnya,” balas Dicky dengan mata berkaca.
Dicky terdiam. Dia akhirnya mulai berkata.
“Jauh-jauh dari Surabaya aku bawa ayah dan ibuku untuk melamar Ranty. Pagi itu, mereka datang ke rumah Ranty untuk melamarnya. Jauh-jauh aku dari Surabaya membawa seserahan, dan apa yang kami dapat? Rumah kosong. Namun apa yang menyakitkan? Aku dapat informasi dari satpam di rumah Ranty bahwa kau melamarnya lebih dulu, Rizal!” lanjutnya dengan nada marah.
Dicky tersenyum sinis memandangi Rizal.
“Asal kamu tahu, Rizal. Orang tuaku sangat kecewa kepadaku. Mereka datang jauh-jauh dari Surabaya dengan tangan hampa. Tapi, yang lebih menyakitkan adalah tuduhanmu sekarang, Rizal. Ternyata, kau memang pecundang!” kata Dicky.
Rizal begitu emosi. Dia mengira Dicky tak mau mengakui perbuatannya. Kembali Rizal memukul wajah Dicky. Dicky yang tak terima membalas pukulan Rizal. Pertengkaran sengit puntak tehindarkan. Keduanya saling pukul dan tendang. Beruntung seorang cleaning servis
datang melerai pertengkaran itu.
‘Sudah! Tolong jangan ribut disini. Aduh … malu dilihat orang-orang,” kata orang itu.
Akhirnya pertengkaran itu berhasil di lerai. Dicky yang masih emosi sempat berkata pada Rizal.
“Rizal! Aku memang sakit hati ketika Ranty memilihmu. Tapi asal kamu tahu, aku tak pernah menyuruh orang untuk merusak hubunganmu dengan Ranty. Kalo kamu gak percaya terserah. Aku siap bersumpah atas nama Tuhan!” kata Dicky dengan nada tinggi.
Rizal akhirnya mengalah. Dia langsung pergi meninggalkan tempat itu, dan mengambil mobilnya yang di parkir di bengkel tambal ban depan kantor Dicky.
__ADS_1