
Rizal masih duduk termenung di taman itu. teleponnya kembali bergetar. Perasaan bersalahnya pada Nissa membuatnya malas bekerja.
Dilihatnya panggilan masuk di layar handphonenya, namun dia tak meresponnya. Rizal mendiamkannya. Dia terdiam, dan terus terdiam.
Ayahnya yang mendengar kinerja Rizal yang kian menurun begitu murka. Dia mencoba menelepon Rizal, namun tak diangkat. Beberapa kali dia mencobanya, dan hasilnya sama.
“Brengsek! Keterlaluan kamu, Rizal!” bentaknya sambil mendobrak meja di ruang tengah.
Farida yang mendengarnya begitu terkejut. Dia coba bertanya pada Hasan, suaminya.
“Pa, koq papa marah-marah begitu?” tanya Farida.
“Itu, Ma. Rizal ini bagaimana?! Masak sudah jam segini masih aja belum datang ke kantor. Mana sekarang, beberapa klien harus bertemu. Brengsek tuh anak. Emang kenapa sih dia?!”
kata Hasan dengan emosi.
Dan tak lama kemudian, handphonenya kembali berbunyi, Hasan mengangkatnya. Ternyata dari kantor. Dia terkejut mendengar kabar dari perusahaannya.
“Apa?! Pak Beny dan Pak Reyhan akan batalkan kerjasama dengan kita?!" kata Hasan dengan nada terkejut.
“Iya, Pak. Mereka kecewa karena Pak Rizal tidak datang juga ke kantor. Padahal, ini pertama kalinya kita dapat klien besar seperti mereka loh, Pak,” kata orang kantor.
Hasan begitu panik. Dia langsung mengambil alih tapuk pimpinan.
“Hen, bilang sama mereka, sebentar lagi meeting dimulai. Saya yang akan memimpin meeting,” kata Hasan.
“Baik, Pak. Akan saya sampaikan,” kata orang itu. Hasan langsung menutup teleponnya.
"Sial. Terpaksa deh!" bathinnya sambil bergegas ke kamarnya.
Buru-buru dia berganti dengan pakaian dinas dan langsung berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor, Hasan buru-buru masuk dan memulai meeting. Beruntung, Pak Beny mau bertahan. Namun, Pak Reyhan memilih hengkang dan berniat membatalkan rencana kerja samanya.
Hasan begitu kecewa dengan sikap Rizal. Setelah meeting, Hasan langsung pulang ke rumah. Wajahnya tampak lesu. Dia langsung duduk di kursi ruang tengah. Farida mendatanginya. Sebagai seorang istri, dia dekati suaminya, dan mengajaknya bicara.
“Pa, bagaimana meeting tadi?” tanya Farida.
“Uhft! Kita rugi, Ma. Beruntung satu klien berhasil papa pertahankan. Tapi, Pak Reyhan membatalkannya. Kita rugi, Ma. Ini gara-gara Rizal yang tidak datang ke kantor,” kata Hasan dengan nada lesu.
Farida berusaha mengerti. Dia pijat punggung suaminya dengan lembut sambil menghiburnya.
“Pa, sudahlah. Papa yang sabar. Dinamika kehidupan, kadang kita jaya kadang kita di bawah. Sekarang kita rugi, siapa tahu besok kita dapat gantinya,” kata Farida berusaha menghibur suaminya.
Hasan yang masih lesu diam sejenak. Kemarahannya pada Rizal begitu besar.
“Ma, kalo Rizal begini terus, perusahaan kita bisa bangkrut. Tuh anak harus di beri pelajaran. Seenaknya saja memimpin perusahaan,” kata Hasan dengan nada tinggi.
Farida yang mengerti gelagat suaminya mencoba mengingatkan suamiya.
__ADS_1
“Pa, apa tak sebaiknya kita tanyakan baik-baik sama Rizal? Bukankah selama ini Rizal selalu menuruti kemauan papa?” kata Farida berusaha menenangkan suaminya.
“Ma, seorang anak sudah sepatutnya menurut pada orang tua. Sudah sepatutnya seorang anak membayar hutang budinya pada kita,” kata Hasan dengan nada tinggi.
“Tapi Pa, apakah salah jika kita beri sedikit ruang untuk Rizal menentukan pilihannya? Bukankah kita sudah cukup mengarahkan dia di masa kanak-kanak? Sekarang, Rizal sudah dewasa. Mengapa kita tak biarkan saja dia menentukan jalan hidupnya sendiri?” tanya Farida
pada Hasan.
“Cukup, Ma. Anak kita bagaimanapun tetap milik kita. Kitalah yang berhak menentukan masa depannya. Kitalah yang lebih tahu apa yang terbaik buat anak kita. Sudahlah, Ma. Jangan terus
memanjakan Rizal,” bentak Hasan pada Farida.
Farida yang mulai terpancing emosinya diam. Dia menghela nafasnya. Dengan lembut, dia tetap mengingatkan suamiya.
“Pa, semua yang di sekitar kita milik Allah SWT, termasuk anak kita. Kita memang di wajibkan mengarahkan anak ke jalan yang benar, tapi Allah yang menentukan kemana jalan hidupnya.
Bukan kita,” kata Farida mengingatkan suaminya.
Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Farida. “Diam, Ma. Akulah yang lebih tahu tentang apa yang terbaik buat anak kita!”
Farida memegangi pipi kirinya. Air matanya berlinang. Dia langsung pergi meninggalkan suaminya yang masih marah. Farida langusng masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Di
dalam kamarnya, Farida menangis sejadi-jadinya.
Siang harinya, Rizal yang sudah tak semangat bekerja pulang ke rumah. Dan, baru saja dia masuk ke dalam rumah, ayahnya mendatanginya. Dia menampar keras Rizal.
“Hei! Darimana saja kamu, hah! Kenapa kamu tak datang ke kantor?!” bentak Hasan dengan wajah marah.
“Rizal! Jawab pertanyaan papa. Darimana saja kamu?!” bentaknya sekali lagi.
“Maaf, Pa. Rizal pusing,” kata Rizal dengan nada lembut.
Rizal semakin emosi. “Apa?! Pusing?! Rizal, asal kamu tahu, kamu buat perusahaan rugi besar! Kita kehilangan relasi besar, Rizal!” bentaknya.
Hasan merasakan dadanya mulai sakit, namun kemarahan yang sudah di ubun-ubun membuatnya tak memperdulikan rasa sakitnya. Dia kembali membentak Rizal.
“Rizal! Apa sih maumu?! Kenapa kamu makin hari makin malas?!” lanjutnya sambil bersiap menampar Rizal.
Mendadak, Hasan merasakan dadanya sakit. Dia mulai batuk-batuk, dan kepalanya pusing. Rizal berusaha menolongnya, namun Hasan menepis tangannya.
“Pergi kamu, anak tak berguna. Pergi!!” bentaknya tanpa memperdulikan sakit di dadanya.
Rizal tak beranjak, dan tak lama kemudian, Hasan pingsan. Beruntung Rizal berhasil menangkapnya.
“Bi, tolong kemari,” teriak Rizal sambil berusaha menahan tubuh ayahnya.
Pembantunya segera mendatangi Rizal. Dia membantu Rizal menggotong Hasan yang tengah pingsan ke sofa di ruang tengah. Farida yang mendengar teriakan Rizal segera ke ruang tengah. Dia begitu panic melihat suaminya pingsan.
“Nak, segera telepon Dokter Wisnu,” perintah ibunya.
__ADS_1
Rizal menurut. Dia segera menghubungi dokter langganan ayahnya. Rizal menceritakan kondisi ayahnya pada Dokter Wisnu. Setelah mendengar penjelasan Rizal, Dokter Wisnu berjanji akan segera datang. Dan, tak lama kemudian, datanglah dia di rumah Rizal. Dokter itu memeriksa kondisi Hasan. Dia suntikkan obat ke tubuh Hasan. Setelah selesai, Dokter Wisnu membuat resep obat dan memberikannya pada Rizal.
“Pak Rizal, tensi Pak Hasan begitu tinggi. Dia harus lebih banyak istirahat,” kata Dokter Wisnu.
Dokter Wisnu menjelaskan kondisi badan Pak Hasan secara detail. Dan setelah selesai menjelaskan, Dokter itu segera pergi kembali ke rumah sakit.
Sepeninggal dokter Wisnu, Farida
menjelaskan permasalahan yang dialami Hasan. Mendengar penjelasan Farida, Rizal merasa bersalah pada Hasan. Dia cium tangan ayahnya dan berkata di tengah tangisnya.
“Pa, maafkan Rizal yang lalai dengan tanggung jawab. Rizal janji, akan kembalikan keuntungan perusahaan kita. Rizal janji tak akan pulang sebelum Pak Reyhan kembali bekerjasama dengan
kita,” kata Rizal berjanji.
Setelah itu, Rizal langsung membersihkan wajahnya, dan kembali bersiap berangkat. Dia hendak menemui Pak Reyhan dan membujuknya untuk kembali bekerja sama dengan
perusahaanya. Farida berusaha mencegahnya.
“Nak, kamu jangan pergi. Kasihan papa,” kata Farida.
Rizal hanya menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, dia pegang pundak ibunya.
“Ma, Rizal janji akan dapatkan kembali kerjasama yang hilang itu. Insya Allah, Pak Reyhan mau kembali bekerja sama dengan kita. Sudah dulu, Ma. Rizal berangkat kerja,” kata Rizal bersalaman dengan ibunya sambil mencium tangannya.
Rizal segera pergi meninggalkan rumah. Dia segera memacu mobilnya menuju ke kantor Pak Reyhan.
Sore itu, di tempat lain, Dicky mendatangi Vonny yang tengah makan siang sendiri. Wajahnya tampak lesu.
"Eh loe, ****. Duduk gih. pesen apa gitu. Daripada garing loh," kata Vonny.
Dicky tersenyum manis.
"Iyalah Von. Masak kemari gak pesan apa-apa," balas Dicky
Dicky melihat menu masakan di cafe itu. Ketika tengah memilih menu, mendadak Ranty datang dan melabrak Dicky.
"****! Loe ngomong apa sama Rizal?" bentak Ranty pada Dicky.
Dicky yang memang sudah benci pada Ranty menatapnya dengan tatapan tajam.
"Loe mau tahu? Fine. Gue ngomong kecewa ama pertunangan loe dan dia. Udah puas?!" balas Dicky dengan nada tinggi.
Ranty hendak menampar Dicky, namun Vonny mencegahnya.
"Ranty! Sudah. Ngapain sih musti ribut?" kata Vonny.
"Von, gegara dia ngomong gitu ke Rizal, dia gak merespon telepon gue. Dia jadi benci ama gue. Pasti karena dia," balas Ranty menyalahkan Dicky.
Dicky yang tak terima di salahkan Ranty langsung menjawab dengan tawa mengejek.
__ADS_1
"Ranty, kenapa loe gak tanya langsung ama Rizal? Bukannya loe seneng udah buat Nissa patah hati? Bukannya loe sudah dapatin Rizal? Udah, buruan sono pergi. Temuin tuh pangeran loe. Kali aja loe bakal dapat door prize," balas Dicky dengan tawa mengejek.
Ranty yang merasa jengkel langsung pergi dari tempat itu.