Cinta Diktator

Cinta Diktator
Pertemuan yang terkenang


__ADS_3

Dengan perasaan panas dingin aku pergi ke pesta ulang tahun mantan adik kelasku, saat itu kita kuliah di universitas swasta yang sama.


Meskipun kita tidak sejurusan, tapi aku dengannya sudah sangat akrab, bahkan aku sudah menaggapnya adikku sendiri.


Hari ini sabtu tanggal 21 februari 2020.


Aku Dilara Shafiya 25 tahun, pertama kalinya pergi ke sebuah pesta.


Teman sekantorku memberi saran padaku untuk memakai halter dress warna biru tua, memakai high heels, dan harus menggerai rambut, jika ingin tetlihat elegan seperti anak orang kaya.


"Aku kurang percaya pada temanku, kenapa harus warna biru tua untuk terlihat elegan?" Aku bertanya-tanya,


"Tapi harus bagaimana lagi masa aku harus pakai peasant dress kesukaanku?" aku ragu.


"Bisa saja aku memilih sendiri pakaian yang akan aku pakai..."aku terus berpikir.


"Tapi aku tahu sendiri mantan adik kelasku ini dari keluarga kaya, enggak mungkin aku datang dengan penampilan biasa, yang ada aku jadi pusat perhatian." aku merasakan pergolakan batin.


Sudahlah aku harus tetap masuk dan memberikan kado mahal ini ke mantan adik kelasku.


Dan tidak lama kemudian aku menemukan mantan adik kelasku Juwita Salsabila yang hari ini berulang tahun ke 20.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun adikku sayang." aku cipika-cipiki dan memberikan hadiahnya.


"Kamu cantik sekali sayang, semoga panjang umur dan semoga kuliahnya cepat selesai." aku memanjatkan sedikit doa untuknya.


"Terimakasih kakakku tersayang, sudah datang ke pesta ulang tahunku." Juwita tersenyum gembira, Tapi kakak jahat sama aku." Juwita merengut melihat penampilanku.


"Kakak bingung dan juga penasaran, apa yang membuat kakak di bilang jahat?" kataku, "Apa karna kakak cuma memberimu satu hadiah?" Aku mencoba meledek mantan adik kelasku ini.


"Kakak jahat. Wita yang berulang tahun, tapi kakak lebih cantik dariku." Juwita pura-pura menangis dengan mengucek matanya.


Juwita memanggil namanya sendiri dengan panggilan Wita.


"Mungkin mereka lagi bersama tamu yang lain." Wita kebingungan dan baru menyadari bahwa ayah dan ibunya sudah tidak ada lagi di tempat mereka tadi berdiri.


"Kakak sudah makan?" Wita mengusap pipiku, "Sana kakak cicipi makanannya dahulu!" Wita


mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kakak akan duduk disana saja." aku menunjuk ke sebuah meja di paling belakang dan meninggalkan Wita.


Kurang lebih 5 menit aku duduk, tiba tiba ada suara laki-laki dari samping kursi.

__ADS_1


"Apakah kursi ini kosong?" dia menunjuk sebuah kursi.


"Disitu kosong, anda boleh duduk". aku mempersilahkan duduk.


"Aku boleh duduk disini?" dia sekali lagi bertanya.


Aku mengangguk.


Akhirnya setelah mendapat izin dariku, dia duduk persis di samping kursiku.


Setelah aku melihat jam di tanganku, aku merasa harus pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul 21:00.


Pada saat berniat beranjak dari kursiku, dia bertanya padaku.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" dia melirikku, "Apa kamu mengenal Wita?" dia memulai pembicaraan.


"Wita mantan adik kelasku waktu di universitas."aku menjawab pertanyaan dengan posisi setengah berdiri,


"Maaf aku harus pergi sekarang." aku pergi meninggalkannya menuju ke luar ruangan.


Sesampainya di luar mendadak turun hujan gerimis. Saat aku mau berlari pergi menerobos hujan, tiba-tiba ada yang menarik tangan ku dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2