
"Bolehkah aku ikut pulang ke rumahmu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," pintaku.
Akhirnya kita telah sampai di rumah.
Aku masuk rumah, mengekori Selim.
Dia menyuruhku duduk di sofa ruang tamunya. Dia membawakanku air botol mineral dari dapur.
Dia sok sibuk mondar-mandir tak jelas di ruang kerja rumahnya.
"Bisakah aku bicara denganmu sekarang?" tanyaku, Setengah berteriak.
Dia sekarang sibuk dengan kertas-kertas di atas meja kerjanya, masih enggan duduk berhadapan denganku.
"Kamu tahu nomor ponsel mamahku dari mana?" tanyaku.
"Maksud kamu apa?" ucap Selim.
"Kamu jangan pura-pura enggak ngerti apa yang aku tanyakan! Bagaimana kejadian awalnya sehingga kalian bisa ketemuan? tanyaku.
Selim berjalan dari meja kerjanya menghampiriku dan berkata "Mamah kamu yang menelepon aku duluan dan dia ingin bertemu denganku" jawabnya.
"Kenapa kamu enggak memberitahuku dulu kalau kamu mau bertemu dengan mamahku?" tanayaku.
"Aku tidak memberitahumu karena menurutku ini pertemuan pribadi antara aku dan mamahmu," belanya.
"Apa yang kamu katakan pada mamahku tentangku? Apa kamu tahu kalau semalam mamahku memarahiku saat aku baru saja datang ke apartemen? Kamu ngomong ke mamahku kalau aku enggak suka sama kamu kan?" tanyaku.
"Seharusnya kamu enggak usah marah, kalau kamu enggak ngerasa seperti itu?" protes Selim.
"Gara-gara kamu semalam aku bertengkar dengan mamahku," tuduhku.
"Kenapa kamu menyalahkanku? Benarkan kalau semalam kamu ketemuan dengan laki-laki?" sindirnya.
"Aku tidak hanya berduaan dengan laki-laki itu, aku bersama teman-temanku yang lain juga," belaku.
"Aku tahu kalau kamu mencintai orang lain," katanya.
"Siapa orang lain yang kamu maksud? Aku harus bagaimana agar kamu percaya kalau aku menyukaimu? Haruskah aku berada di dekatmu selama 24 jam? Sebenarnya semua ini karena sifatmu yang cemburuan," ungkapku.
"Aku tahu kamu akan meminta putus denganku karena cinta masa kecilmu.
Apa sekarang kamu sudah bertemu dengannya? Jadi kapan kamu akan putus denganku? Apa sekarang? Atau besok?" tuding Selim.
Aku tak bisa berbicara apapun. Aku kaget karena Selim tahu tentang cerita cinta masa kecilku.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu kaget aku tahu rahasiamu?" tanya Selim.
"Maafkan aku kalau selama kita berpacaran, kamu jadi enggak akur dengan mamahmu," mohonku.
"Itu bukan salahmu, aku lebih memilih enggak akur dengan mamahku daripada harus berpacaran dengan orang yang tidak aku suka," tuturnya.
"Aku enggak mau kamu terus-terusan seperti ini, jadi aku ingin kita putus. Aku anggap kita tak pernah saling mengenal. Sebaiknya juga kita enggak usah berteman," tuturku.
__ADS_1
Dengan mata yang berkaca-kaca Selim tak berkata sepatah katapun, dia menahan tangisnya hanya menunduk lesu di sofa.
Setelah hening beberapa menit, akhirnya Selim bersuara.
"Aku akan pergi beristirahat di kamarku, untuk saat ini aku enggak bisa mengantarmu pulang. Aku akan menyuruh supirku untuk mengantarmu," katanya, Selim berjalan menuju kamarnya. Dia mengusirku begitu saja.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan menolak untuk di antar supirnya Selim, aku lebih memilih naik taxi.
Di tengah perjalan hujan yang cukup deras turun dan tak ada payung di dalam tas yang ku bawa, sedangkan jarak dari parkiran ke lobby lumayan jauh.
"Bagaimana nantinya aku berjalan dari parkiran sampai ke lobby? Aku bisa basah kuyup kalau hujannya belum reda juga," gumamku.
Taxi yang ku tumpangi berhenti di parkiran.
Aku ragu untuk membuka pintu taxi, karena di luar hujan.
"Bismillah," ucapku dalam hati. Aku membuka pintu taxi dengan mata tertutup.
"Kenapa tak ada air hujan yang menetes ke kepalaku? Apakah hujannya telah reda?" gumamku.
Aku terkejut saat membuka mata ternyata Selim memayungiku.
Aku langsung mencoba keluar dari tudung payungnya, akan tetapi dia menarik tanganku dan menahannya agar aku tetap di dalam payungnya.
"Kamu bilang enggak akan mengantarku. Kenapa kamu ada disini?" tanyaku.
"Aku sampai disini tepat waktu kan? Sehingga bajumu tak basah karena air hujan," tuturnya.
"Pulang sekarang! kamu cukup mengantarku sampai disini saja," pintaku.
"Dilara sebenarnya aku tak menginginkan kita putus dan aku juga sudah memaafkanmu. Aku berharap kemarin malam itu pertemuan terakhirmu dengan laki-laki lain tanpa tidak ada aku yang mendapingimu. Jadi mulai saat aku ingin kamu berubah dan tidak mengulangi kebiasaan burukmu itu lagi," tuturnya.
"Sudahlah Selim, tolong beri aku kesempatan untuk bernapas sejenak dari hubungan kita yang membuatku sesak," jawabku.
"Maafkan aku, jika selama kita berpacaran aku egois, tapi menurutku wajar jika aku melarang pacarku bertemu laki-laki lain sekaligus mantan pacarnya sendiri," jawabnya.
Selim berbicara sambil sesekali melihat ke atas menahan air matanya.
Dia pun pergi tanpa membawa payungnya.
Aku masuk dan langsung menjatuhkan badanku ke atas kasur, mencoba memejamkan mataku.
Ke esokan harinya saat jam pulang kerja.
Diluar depan lobby kantor.
"Hai Jihan, tumben kamu sendirian. Kemana teman-temanmu yang lain?" kataku, Memanggilnya dari agak sedikit jauh.
"Teman-temanku yang lain sudah pulang duluan. Oh ya, tadi aku lihat Selim sudah menunggumu di parkiran di sebelah kanan lobby," tutur Jihan.
"Ah benarkah? Tapi sepertinya dia bukan datang untuk menjemputku. Dia tak memberiku kabar, kalau mau menjemputku," kataku.
"Mungkin dia lupa memberimu kabar atau dia mau memberimu surprise. Kamu temui saja dulu kesana," kata Jihan.
__ADS_1
"Aku yakin Selim datang kesini bukan untuk menjemputku. Mulai saat ini dan seterusnya dia enggak pernah jemput aku lagi," kataku.
"Kenapa seperti itu? Apa kamu sedang marahan dengannya?" tebak Jihan.
"Lebih dari sekedar marahan, aku sudah putus dengannya," jawabku.
"Apa putus? Kamu putus dengan Selim? Kapan kalian putus?" tanya Jihan.
"Aku putus kemarin sore dengannya, sepulang dari tempat kerja. Hubungan ini membuat kita merasa tertekan," jawabku.
"Hahaha, sepertinya itu cuman alasanmu saja Dilara. Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua?" tampiknya. Jihan tak mempercaiku.
Aku merasa lebih bebas setelah putus dengan Selim. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk berkumpul dengan teman-temanku.
Hari ini juga begitu, libur weekend kali ini rencananya aku dan teman-temanku akan pergi ke bioskop dan makan.
Aku baru sadar ternyata selama empat bulan hubunganku dengan Selim, kita berdua enggak pernah sekalipun pergi ke bioskop.
Selama empat bulan ini aku selalu di buat sibuk olehnya.
"Aku sama Selim sudah putus," jawabku
"Kenapa kalian putus? Siapa yang meminta putus duluan?" tanya April
"Aku yang meminta putus duluan karena aku mencintai orang lain," jawabku.
"Gila ya kamu, memilih putus dengan seseorang yang perfect seperti Selim. Sungguh tragis kisah cinta Selim, di putuskan dengan hubungan yang baru di jalin selama empat bulan," sesal Jihan.
"Hahaha, aku enggak percaya alasanmu putus karena kamu mencintai orang lain. Apa orang itu lebih tampan dari Selim? Atau lebih mapan dari Selim?" tanya April.
Setelah April selesai berbicara, karena mendengar perkataannya itu Diana langsung melemparkan tisu ke badannya.
"Emang kita melihat laki-laki itu dari ketampanan dan kekayaannya saja? Cinta itu enggak memandang dari hal itu saja. Buktinya Dilara memilih putus dengan Selim," kata Diana.
"Tapi Dilara itu tipe orang yang setia, buktinya Dilara masih berteman sama kita dari semenjak dia masih jadi sales sampai sekarang sudah jadi sekertaris.
Jadi enggak mungkin bisa begitu saja berpaling dengan dari Selim. Pasti ada sesuatu?," tuding Jihan.
"Apa kamu masih berkomunikasi dengannya?" tanya April
"Enggak, aku meminta padanya untuk jangan menghubungiku lagi. Aku juga bilang padanya kalau aku dengannya tidak bisa berteman setelah kita putus," tuturku.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua? Ini itu bukan sifat kamu yang sebenarnya.
Enggak mungkin kamu tega melakukan ini padanya atau pada siapapun," bentak Jihan.
"Aku kecewa dengan sikap kamu pada Selim. Dengan kejadian ini yang tadinya aku memihak padamu sekarang aku lebih memilih memihaknya. Tapi kita semua boleh berteman dengan Selim kan?" tanya Diana.
"Kenapa aku harus melarang kalian berteman dengan Selim?, tak ada alasan aku melakukan itu, tuturku.
Setelah mendengar perkataanku, Diana beranjak dari kursinya dan Jihan mengekorinya. Mereka pergi begitu saja meninggalkanku dan April.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri meskipun April menawarkan untuk mengantarku pulang, tapi aku menolaknya.
__ADS_1