Cinta Diktator

Cinta Diktator
Gelap mata.


__ADS_3

Sudah hampir seminggu tak ada kabar dari Selim, semenjak terjadi pertengkaran antara aku dengan Selim karena masalah cincin.


Hingga saat ini aku tak begitu memikir kan nya, mungkin Selim sudah menemukan tambatan hati lain, meskipun kita berdua belum putus tapi aku tak bisa memaksakan perasaan Selim.


Rutinitas ku beberapa hari ini cuman ke kantor dan apartemen.


Kalau sudah merasa bosen di apartemen, sesekali aku ajak Dikra, atau temen ku yang lain hangout hanya sekedar untuk makan atau pergi belanja.


Sore ini sepulang dari tempat kerja rencana nya aku dan Dikra mau makan malam bareng di luar.


Aku pulang kerja bareng bersama Dikra untuk pergi makan malam.


Sesampainya di restoran aku dan Selim memesan beberapa makanan.


Saat sedang menunggu pesanan, aku melihat Selim sedang makan tak jauh dari meja ku dan Selim makan.


"Aku gak salah lihat kan itu Selim, tumben dia makan sendirian di tempat umum seperti ini."gerutu ku dalam hati.


Walaupun aku sedang makan bersama Dikra, tapi perhatian ku tertuju pada Selim.


Tak lama kemudian aku melihat waitress mengantar makanan ke meja Selim.


Saat aku sedang memperhatikan Selim, dia melihat ke arah ku, dan Selim pun menghentikan makan nya, minum seteguk air, meninggalkan selembar uang kertas di atas meja kemudian Selim pun pergi.


"Apa tadi Selim melihat ku, maka nya dia langsung pergi."aku merasa was-was.


Aku meminta untuk segera pulang tak lama setelah selim pergi, karena aku merasa tak enak hati melihat Selim.


Akhirnya aku sampai di apartemen ku dengan di anter Dikra.


Aku ganti baju, cuci muka, gosok gigi dan kemudian pergi tidur.


Ke esokan hari nya aku seperti biasa bangun dan shalat subuh.

__ADS_1


Saat aku akan pergi ke dapur untuk membuat sarapan telpon ku berbunyi.


"Halo Dilara, tadi malam sekitar jam sebelas Dikra berkelahi sama Selim."Jihan berbicara di balik telpon.


"Apa yang menyebabkan diantara Selim dan Dikra berkelahi Jihan?"aku penasaran.


"Aku gak tahu apa penyebab nya, tapi Dikra terluka dia mendapat 3 jahitan di pelipis nya."Jihan menjelaskan.


"Bagaimana keadaan Dikra sekarang, apa dia baik-baik saja?"aku khawatir.


"Dikra sekarang sudah pulang ke rumah nya, dia baik-baik saja. Masalah Dikra dengan Selim pun sudah selesai, Dikra tidak melaporkan Selim ke polisi dia memilih untuk berdamai."Jihan berbicara panjang lebar.


Aku mengakhiri panggilan Jihan dan langsung bergegas ke rumah Dikra.


Sesampai nya di rumah Dikra, ketika ku masuk ke rumah nya ku lihat Dikra sedang berbaring di sofa.


"Dikra bagaimana keadaan mu sekarang, aku khawatir saat mendengar kamu terluka gara-gara Selim."aku mengungkapkan rasa kekhawatiran ku.


"Ya ampun wajah kamu sampai memar-memar seperti ini, apa ini sakit?"aku menyentuh pipi kanan Dikra yang memar.


Dikra hanya tersenyum dan menurunkan tanganku dari pipi nya.


"Bagaimana kejadian nya sehingga Selim melakukan ini padamu?".aku mulai bertanya.


"Semalam sepulang dari nganterin kamu ke rumah, di jalan aku mendapat telpon dari no baru. Dia mengaku kalau dia Selim pacar mu dan mengajak aku ketemuan.


Setelah kita bertemu tanpa bicara apapun, Selim langsung memukulku beberapa kali di wajah."Dikra menjelaskan detainya.


"Atas nama Selim aku minta maaf pada mu Dikra, tolong kamu maafkan dia. Selim itu orang nya gampang marah, emosian."aku memelas.


"Kenapa kamu meminta maaf untuk Selim, apa kamu sangat mencintai nya?"Dikra tak terima.


"Karena aku tahu Selim gak ada maksud untuk melukai mu, itu semua karena salahku, Selim hanya salah paham."aku membela Selim.

__ADS_1


"Kamu gak usah khawatir besok juga luka nya sudah sembuh, justru aku khawatir pada mu takut nya Selim melukai kamu juga."Dikra terlihat sedih.


"Tenang saja itu tak akan terjadi, aku akan mencoba untuk menenangkan nya. Aku pamit pulang sekarang, sampai jumpa besok di kantor."aku bergegas pergi.


Aku pun telah sampai di unitku kembali.


Aku malas beraktifitas hanya berbaring di kasur ku tanpa melakukan apapun, mengingat apa yang telah di lakukan Selim pada Dikra itu membuat ku sangat kecewa.


Ting tong, ting tong.


Saat ku buka pintu ternyata Selim yang datang, tanpa basa-basi lagi aku melampiaskan kemarahanku.


Plak...aku menampar Selim.


"Untuk apa kamu menemuiku lagi, aku tak ingin melihat wajah mu."aku mengeluarkan emosiku.


"Aku tahu aku sudah di campakan oleh mu, aku juga tahu laki-laki itu yang membuat ku mencampakan oleh mu."Selim pasrah.


"Sampai kapan kamu terus berprasangka buruk sama Dikra, sehingga kamu tega melukai nya."aku kecewa.


"Mungkin kamu bisa pura-pura gak peka pada perasaan Dikra, tapi aku gak bisa. Aku merasa Dikra terus berusaha merebut mu dariku."Selim muram.


"Haruskah kamu sampai tega melukai nya?, apa kamu akan melukai ku juga?. Kamu harus ingat Selim, belum tentu juga kita berjodoh."aku mengingatkan Selim.


"Walaupun aku tahu kita belum tentu berjodoh, tapi apakah aku harus mengizinkan laki-laki lain mendekatimu. Harusnya kamu mengerti jika memang kamu benar-benar mencintaiku, kamu takkan mau di dekati laki-laki lain."Selim tak mau kalah.


"Oke mungkin disini aku yang salah, mungkin juga kamu marah gara-gara cincin ini kan, sekarng aku kembalikan."aku menaruh cincin di tangan Selim.


Kedua mata Selim tertuju pada cincin ditangan nya, air mata membasahi pipi nya.


"Sebaik nya kita gak usah ketemu dulu."aku mengakhiri pembicaraan.


Selim pun mengusap air matanya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2