Cinta Diktator

Cinta Diktator
Surprise tengah malam.


__ADS_3

Hari ini aku janji pada kakak iparku untuk datang ke rumahnya.


Aku bersiap-siap untuk pergi dan tiba-tiba bel unitku berbunyi.


Setelah kubuka pintu ternyata Selim yang datang.


"Apakah kamu mau pergi?" tanyanya.


"Aku mau pergi ke rumah kakakku," jawabku.


"Boleh aku ikut?" tanyanya.


"Boleh, tapi nanti kita mampir dulu di toko mainan. Aku mau beli mainan buat keponakanku," ujarku.


"Kamu punya keponakan?" tanyanya.


"Aku punya satu keponakan cowok, namanya Adam," ujarku.


Kita berdua mulai berkendara pergi menuju rumah kakakku.


Akhirnya setelah kita berkendara kurang lebih tiga puluh menit kita menemukan toko mainan dan mampir ke toko tersebut.


Aku dan Selim memilih mainan untuk di berikan kepada Adam.


"Aku mau beli ini juga buat Adam," katanya, Dia mendekap sebuah mobil-mobilan besar di dadanya.


"Wah besar sekali! pasti Adam senang. Aku beli xylophone saja, sepertinya lucu kalau Adam memainkannya," ucapku.


Setelah bermacet-macetan aku dan Selim sampai di rumah kakakku.


"Assalamualaikum," ucapku.


"Wa'alaikum salam," Terdengar sahutan dari dalam rumah.


Kak Mayang membukakan pintu sambil menggendong Adam


"Hai Adam, kamu ganteng banget sih keponakanku," tuturku, Aku gmes mencium pipi Adam.


"Ayo masuk! silahkan duduk," ajak kak Mayang.


"Sini Adam, kamu coba tante gendong," pintaku, Aku merangkul Adam dan menggendongnya.


"Pah, ini ada Dilara datang," teriak Kak Mayang pada suaminya.


"Tante bawa mainan buat Adam xylophone dan mobil-mobilan. Adam suka enggak mobil-mobilnya?" clotehku.


"Mobil-mobilannya besar banget, terimakasih tante dan om. Sudah ngasih Adam mainan," tutur kak Mayang.


Suami kak Mayang sekaligus kakak kandungku turun dari lantai dua rumahnya, menghampiri kami.


"Adam senang nih, di kasih mainan sama tantenya," ucap kak Yusup.


Aku dan Selim bersalaman dengan Kak Yusuf.


"Bagaimana kabarmu Dilara, baik? Kata ibu, kamu sudah dua bulan enggak pulang ke rumah," tanya kak Yusuf.


"Kabarku baik kak. Aku malas pulang, sebulan yang lalu aku sempat sekali ketemuan sama mamah," jawabku.


"Pulang ke rumah sendiri kok malas," sindir kak Yusuf.


"Kakak tinggal ke dapur dulu, untuk membuat minuman," pamit kak Mayang.


"Siapa cowok ini Dilara? Apa kamu enggak akan memperkenalkannya pada kakak?" tanya kak Yusuf.


"Dia Selim kak, pacarku," jawabku.


"Beneran pacaran atau cuman sekedar untuk setatusmu saja Dilara?" tanya Kak Yusuf.


"Dari dulu sampai sekarang memang kakakku yang paling mengerti aku," gumamku,


"Beneran pacaranlah," jawabku, Dengan terbata.


"Silahkan di minum, seadanya saja hidangannya," kata kak Mayang.


"Saya kakaknya Dilara, nama saya Yusuf dan ini istri saya Mayang," tutur kak Yusuf.


"Jadi sekarang tantenya Adam sudah punya pacar, berarti Adam bakalan punya om," ledek kak Mayang.


"Saya ingin serius sama Dilara, kak,"katanya.


"Sini Dilara, kakak saja yang pangku Adam," pinta kak Mayang.


Aku memindahkan Adam ke pangkuan kak Mayang.


"Selim tinggal terpisah dengan ibunya, dia tinggal sendirian. Ibunya tinggal tak jauh dari rumahnya.


"Ayo Dilara kita tidurkan Adam di kamar," ajak kak Mayang.

__ADS_1


Aku dan kak Mayang membawa Adam naik ke lantai dua.


Hanya Kak Yusuf dan Selim yang masih mengobrol di ruang tamu lantai satu.


"Kamu harus sabar menghadapi sikap Ara yang cuek dan mungkin dia tak akan mudah memahami perasaanmu.


Kak Yusuf minta maaf jika selama kamu pacaran dengan Ara, kamu merasa sakit hati olehnya," mohon kak Yusuf.


"Aku merasa kalau Dilara itu enggak benar-benar menyukaiku, aku merasa hanya memiliki cinta sepihak," keluh Selim.


"Apa benar seperti itu? Mungkinkah Ara masih mengharapkan cinta masa kecilnya?" tebak kak Yusuf.


"Siapa nama cinta masa kecilnya itu kak? Apa namanya Dikra?" tanya Selim.


"Kakak lupa namanya, tapi sepertinya bukan Dikra.


Jadi dulu waktu di sekolah dasar Ara pernah suka sama teman sekelasnya, tapi Ara hanya memendamnya dalam hati.


Sampai terakhir dia putus dengan pacarnya sampai sekarang dia bilang masih belum move on dari cinta masa kecilnya itu," ungkap kak Yusuf.


"Apa sampai sekarang Dilara masih suka bertemu dengan cinta masa kecilnya itu?" tanya Selim.


"Enggak, semenjak Ara tamat SD sampai sekarang belum pernah bertemu sekalipun,


Ara selalu berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya lagi dan bisa dekat dengannya," ujar kak Yusuf.


"Jadi Dilara masih terjebak angan-angan di masa kecilnya, ujar Selim.


"Ya Dilara juga pernah bilang, jika suatu hari dia bertemu dengan cinta masa kecilnya dan secara kebetulan cowok itu menyukainya juga, dia akan berpacaran dengan cinta masa kecilnya meskipun Ara sendiri sudah memiliki pacar," ungkap kak Yusuf.


"Jadi Dilara akan memutuskan pacarnya dan memilih cinta masa kecilnya itu," ujar Selim.


"Tapi tenang saja itu suatu yang tak mungkin terjadi, cowok itu enggak menyukai Ara sama sekali. Dia saja yang sangat terobsesi dengan cinta masa kecilnya," ujar kak Yusuf.


"Tak ada yang tak mungkin kak, jika semuanya sudah di takdirkan.


Terima kasih kakak sudah bercerita tentang Dilara," ucap Selim.


"Pokoknya kamu harus perjuangkan perasaanmu itu, jika memang itu benar.


Setelah Adam tertidur aku dan kak Mayang turun lagi ke lantai satu.


"Apa yang kakak lakukan pada Selim, sehingga Selim jadi murung begini? Apa kakak mengatakan rahasiaku pada Selim?" tudingku.


"Ya sedikit, kakak hanya mencoba memberi tahu sifat burukmu," ujar kak Yusuf.


"Kak Yusuf, kak Mayang aku pamit pulang sekarang, terimakasih sudah menerimaku di rumah kalian," tutur Selim.


"Ya aku pulang sekarang. Kamu menginap saja disini," pinta Selim.


"Enggak aku juga mau pulang bareng kamu saja," jawabku.


"Kenapa kalian buru-buru pulang? Makan siang saja dulu di rumah kakak," usul kak Mayang.


"Ya sudah kalau kalian mau pulang sekarang. Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa mobilnya," ujar ka Mayang.


"Dilara kakak ingin bicara sebentar sama kamu," pinta kak Yusuf.


"Aku tunggu di depan saja Dilara," ucap Selim, Dia berjalan ke luar rumah.


"Dilara tinggalkan Selim! menjauhlah darinya jika kamu tidak mencintainya," saran kak Yusuf.


"Aku sudah meminta putus padanya beberapa kali. Tapi dia menolaknya, dia enggak mau putus denganku," tuturku.


"Kamu jahat mempermainkan perasaan orang yang tulus suka padamu. Kakak tak pernah mengajarkanmu itu!" bentak kak Yusup.


"Hiks hiks hiks. aku menangis terisak. Beneran kak aku enggak bohong, dia yang enggak putus denganku," tuturku, Aku mengusap air mataku dan berjalan menyusul Selim.


"Kenapa kamu menangis Dilara?" tanya Selim.


"Apa yang kamu katakan tentangku pada kak Yusuf? Apa kamu mengadukanku padanya?" bentakku.


"Apa kak Yusuf memarahimu?" tanya Selim


Aku masih menangis tak menjawab Selim.


"Aku pinjam ponselmu, aku akan bicara dengan kak Yusuf," pinta Selim, Dia mengulurkan tangannya.


"Enggak usah. Aku memang salah, kakakku pantas marah padaku,


"Aku merasa kalau kamu itu selalu minta dikasihani orang lain, selalu mencari orang untuk mendukungmu" ungkapku.


"Maafkan aku, gara-gara kelancanganku kakakmu marah padamu, aku mohon sekarang kamu ikut dulu aku ke rumah nenekku sebentar," mohon Selim.


"Untuk apa? Apa kamu akan mengadukanku pada nenekmu juga?" bentakku.


"Enggak kamu jangan salah paham, aku cuman mau bicara dengannya," tutur Selim.

__ADS_1


Akhirnya setelah satu jam perjalan mobil yang di kendarai Selim berhenti di depan sebuah rumah bergaya industrial yang tidak terlalu luas namun terlihat sejuk kerena banyak pepohonan.


Kita berdua masuk ke rumah itu dan terlihat seseorang yang sudah berumur sedang membaca buku di rumah tersebut.


"Nek, nenek maafkan Selim semua ini salah salahku. Selim yang menyebabkan ayah meninggalkan mamah dan akhirnya mereka berpisah," ucap Selim, Dia menangis terisak pada neneknya.


"Kenapa kamu membahas itu lagi? Nenek menganggap mamahmu tak pernah menikah dengan ayahmu. Mamahmu sekarang sudah bahagia dengan keluarga barunya," ujar Nenek.


"Tapi nenek masih menanggap aku cucu nenekkan? Bolehkah aku datang kesini kapan saja?" tanya Selim.


"Cucuku cuman Rosa dan Juwita," jawab Nenek, Ketus.


"Nenek aku mohon terima aku sebagai cucumu,


Nek, yang aku lakukan dari umurku lima tahun hingga sekarng hanya meminta orang untuk mengasihaniku dan meminta agar mereka tak meninggalkanku. Aku juga meminta itu dari nenek," tutur Selim.


Nenek itu tak bergeming melanjutkan membaca buku.


Nenek baru sadar bahw Selim tak hanya datang sendiri ke rumahnya tapi dia membawa seorang gadis.


"Siapa nama kamu sayang? Apa kamu pacarnya Selim?" tanya nenek, Mengelus-elus tanganku.


"Namaku Dilara nek, aku pacarnya Selim," jawabku.


"Kamu cantik sekali! Tolong kamu jangan tinggalin Selim! Kasihan enggak ada yang sayang sama dia," ledek nenek, Mengedipkan mata padaku.


Aku tersenyum mendengar ucapan nenek.


"Kenapa nenek meledekku? Apakah aku harus kembali ke panti asuhan dan tinggal disana? Seharusnya waktu itu mamah jangan menjemputku ke panti kalau akhirnya sekarang dia membuangku lagi," keluh Selim.


"Kamu harusnya bersyukur mamahmu sudah merawatmu. Lakukan yang mamahmu perintahkan padamu. Jangan membantahnya jika kamu benar-benar tidak ingin di tinggalkan olehnya," ujar Nenek.


"Kalau keinginan mamah bertolak belakang dengan keinginanku sendiri, Selim enggak janji nek. Aku pamit pulang nek," tutur Selim.


"Kamu boleh kapanpun datang kerumah nenek tapi—, nenek mengacungkan jarinya.


"kalau kamu mau datang kesini syaratnya harus bareng Dilara," tutur nenek.


Selim senang mendengar ucapan nenek dan langsung memeluknya.


Akhirnya aku dan Selim telah sampai di rumah masing-masing.


Saat aku sedang tertidur pulas alarmku berdering.


Jam berapa ini? Apa sudah pagi? Kenapa alarmku berdering? Aku masih belum membuka mataku.


Akhirnya aku menyerah, terpaksa bangun untuk melihat alarm di ponselku, ternyata baru jam 12 malam.


Setelah aku lihat alarm itu ternyata mengingatkan bahwa hari ini tanggal 1 Juni Selim berulang tahun.


Aku langsung menelpon Selim untuk mengucapkan selamat padanya.


Sepertinya tidurnya pulas sekali, panggilanku enggak ada jawaban.


Akhirnya setelah aku mencoba panggilan yang kedua, Selim menjawab.


"Halo Selim, kamu sedang tidur?" tanyaku, Basa-basi.


"Iya. Apa ini sudah pagi lagi? Aku merasa baru tertidur sebentar," jawabnya, Dia berbicara setengah sadar.


"Enggak ini masih malam. Sepertinya aku ganggu, tadinya aku mau bicara sesuatu sama kamu," kataku, Aku tak sanggup menahan ketawa.


"Enggak kok, enggak ganggu. Kamu mau bicara apa? katakan saja!" katanya.


"Selamat ulang tahun Selim, hari ini kuota umurmu berkurang satu tahun," ucapku.


"Aaah, hari ini aku ulang tahun ya.Kamu ingat hari ulang tahunku?" tanyanya.


"Ingat dong. Nanti kamu marah lagi kalau aku enggak ingat. Apa yang kamu minta dariku?" tanyaku.


"Cuma satu permintaanku, aku kasih tahu besok saja," jawabnya.


"Oke, aku tutup dulu teleponnya," jawabku.


"Tunggu dulu Dilara, Terimakasih sudah menjadi orang pertama yang memberiku ucapan selamat," katanya.


"Iya. Sudah ya sekarang aku tutup teleponnya," kataku, Mengakhiri percakapanku dengannya.


Ke esokan harinya di rumah Selim.


Saat sedang sarapan Selim di telepon oleh ibunya.


"Hallo Selim, mamah akan menyiapkan pesta ulang tahun untukmu. Acaranya malam ini akan di mulai pada jam 19:00 di hotel Blue Sky Palace. Mamah sudah mengundang teman-tamanmu dan kenalan mamah juga," tuturnya.


"Kenapa mamah enggak bilang dulu kalau mau bikin pesta ulang tahunku?" tanyanya.


"Ya sudah kamu tinggal datang saja, mamah sudah merencanakannya jauh-jauh hari," tuturnya.

__ADS_1


"Iya nanti aku ke sana," jawabnya, Selim menutup panggilannya.


Setelah sarapannya selesai Selim berangkat ke tempat kerjanya.


__ADS_2