Cinta Diktator

Cinta Diktator
Dinner.


__ADS_3

"Cup, cup. Dilara apa kamu berbohong pada mamah ku?" Selim menciumku dua kali tepat di atas bibir.


"Selim apa yang kamu lakukan? apa maksudmu, aku berbohong pada mamahmu?" aku tak paham dengan ucapannya.


"Diari reaksimu sekarang menunjukkan bahwa apa yang kamu katakan pada mamahku itu sebuah kebohongan." ternyata tadi Selim mengujiku.


"Em..." aku tak bisa menjawab.


"Dilara apa kamu mengakui nya? tapi sekarang terlambat, aku menganggap ucapanmu pada mamahku itu serius." Selim memaksa.


"Selim apa kamu enggak merasa kamu itu egois, gampang marah, suka memaksa, dan posesif?" aku kesal.


"Aku memang seperti itu, perlu kamu tahu juga kalau aku membutuhkanmu dan kamu harus selalu ada untukku." Selim tersenyum sinis.


Aku duduk di sofa memainkan ponsel tanpa menghiraukan omongan Selim.


Selim mengikutiku dan langsung membaringkan tubuhnya di sofa tempatku duduk, dengan posisi kepala di atas pahaku.


"Selim, apa aku ini bantal?." aku kaget sekaligus kesal.


Selim yang masih berbaring, berbicara menatap wajahku, "kamu ketahuan sekarang, kalau enggak pernah pacaran"


"Maksud kamu? apa kamu mencoba meledekku?" lagi-lagi aku enggak bisa menjawab.


"Sudah jujur saja kamu memang belum pernah pacaran? sehingga tadi saat aku menciummu dan sekarang aku sedang tidur di pangkuanmu, kamu merasa canggung." Selim tersenyum puas.


"Memang saat pacaran harus selalu seperti yang kamu katakan?" Aku punya prinsip sendiri.


"Apa? memang apa yang aku katakan? coba kamu katakan apa yang aku katakan?" Selim menggodaku.


"Aku ke toilet dulu sebentar." Aku berjalan menuju toilet.


"Dilara, kamu mau kemana? kamu jangan menghindar." Selim terus menggodaku.


Saat Aku masih di toilet, ada pesan masuk ke ponselku.


Selim penasaran, Mengintip apa isi pesan tersebut.


Dilara nanti jam 20:00 malam ini aku, Diana, dan April akan pergi ke toko buku, apa kamu ikut? Dikra juga ikut.


Selim kaget membaca pesan tersebut, pesan itu dikirim oleh Jihan.


Saat aku kembali dari toilet, Selim sedang duduk dan memainkan ponselnya.

__ADS_1


Aku membaca pesan masuk dari Jihan dan membalasnya.


"Dilara nanti malam kita dinner." Selim berbicara dengan matanya tetap melihat layar ponselnya.


"Nanti malam." aku kaget mendengar ucapan Selim.


"Ya nanti malam, apa nanti malam kamu sudah punya janji?" Selim berkata.


"Nanti malam jam 20:00 aku ada janji sama Jihan dan yang lainnya pergi ke toko buku." aku menjelaskan.


"Kita berangkat pergi untuk makan jam 19:00, nanti aku antar kamu ke toko buku. Kamu ketemuan di toko buku saja." Selim memberi saran.


"Oke setuju." aku senang.


"Aku pulang dulu, nanti jam 19:00 aku jemput kamu." Selim berpamitan.


Selim pergi meninggalkan apartemen.


Batas waktu Selim menjemputku tinggal satu jam lagi, setelah mengerjakan shalat magrib aku bersiap-siap.


"Aku mengenakan baju maroon longline knitted dress, sepatu ankle boots cokelat, dan sling bag cokelat dengan rambut yang di ikat biasa."aku melihat penampilan ku di cermin.


Aku berinisiatif menunggu Selim di parkiran.


"Malam ini aku berniat untuk memberi Dilara cincin, semoga saja Dilara suka dan menerimanya." Selim mencium sebuah cincin three stone ring berwarna perak yang dia pegang.


Aku memutuskan memekai t-shirt putih, jaket denim, dan celana jeans.


Setelah semuanya siap, Selim berangkat menuju apartemen Dilara dengan mobil KIA miliknya.


Tak perlu menunggu lama, mobil Selim datang, aku langsung masuk ke mobilnya dan kita langsung berangkat.


Di perjalanan di dalam mobil.


"Tumben kamu sudah standbay di parkiran, apa kamu sudah enggak sabar dinner sama aku?" Selim tersenyum menggodaku.


"Kalau kita enggak cepat berangkat, nanti takut kemalaman pulangnya, aku harus ke toko buku dulu." aku menjelaskan.


"Jadi yang bikin kamu enggak sabar itu, ingin segera pergi ke toko buku, siapa yang akan kamu temui disana?" Selim menyulut emosiku.


"Aku akan bertemu Jihan, Diana, April dan yang terpenting adalah aku enggak sabar ingin segera membeli sebuah buku yang aku suka dan aku ingin segera membacanya ." Aku mencoba tenang.


"Aku juga suka baca buku, kapan-kapan kita ke toko buku bersama." Selim berkata.

__ADS_1


Akhirnya aku dan Selim sampai di sebuah restoran, aku dan Selim masuk dan duduk di salah satu kursi di restoran tersebut.


Waitress menghampiri kita berdua.


"Kamu saja yang pesan, aku pesan yang sama dengan apa yang kamu pesan." Selim berkata.


"Mbak aku pesan sosis teriyaki, ayam asam manis, capcay goreng, pudding custrad, dan lemon tea, untuk dua orang." aku memesan.


"Satu lagi saya minta air mineral." Selim menambahkan.


"Baik, silahkan di tunggu pesanannya." Waitress itu pergi untuk menyiapkan yang kita pesan.


Tak lama kemudian makanan pesanan kita datang, aku dan Selim langsung menyantapnya.


"Dilara, kenapa kamu makan dengan tergesa-gesa seperti itu? apa kamu lapar?" Selim heran melihat caraku makan.


"Aku lapar Selim, maaf kalau aku makan dengan enggak sopan." aku berkata.


"Kenapa kamu melirik jam terus? apa kamu takut telat pergi ke toko buku?" Selim mencurigaiku.


"Enggak, gimana enak makanannya, apa kamu menyukainya?" aku mengalihkan pembicaraan.


"Lumayan, mungkin rasanya akan lebih enak bila kamu yang masak." Selim memujiku.


"Kapan-kapan aku masak buat kamu, tapi aku enggak pintar memasak." aku berkata.


"Oke kamu janji. Malam ini kamu terlihat begitu cantik. Mungkinkah kamu akan bertemu seseorang yang spesial?" Selim menyindirku.


"Jadi kemarin-kemarin aku enggak cantik." aku menggoda Selim.


"Kemarin kamu enggak cantik sekarang." Selim mencoba melucu.


Tak terasa aku dan Selim sudah menghabiskan semua makanan di meja. Saat melirik jam tanganku waktu sudah menunjukan jam 20:25. Aku harus segera mengajak Selim pulang.


"Selim ayo kita pulang, kamu sudah selesai makan? nanti aku kemalaman pergi ke toko buku." aku gelisah.


Selim akan mengambil cincin dari saku celananya dan berniat memberikannya padaku.


"Dilara tunggu sebentar." Selim menahanku pergi.


"Ayo nanti saja ngobrolnya, ini sudah telat. Nanti Jihan dan yang lainnya terlalu lama menungguku." aku memaksa Selim untuk segera pulang.


"Oke aku bayar tagihan dulu, kamu tunggu di parkiran." Selim kecewa karena tidak jadi memberikan cincin itu padaku.

__ADS_1


Aku dan Selim pergi menuju toko buku yang tak jauh dari restoran tempat kita makan.


__ADS_2