
Entah mengapa setelah mendengar penjelasan Rosa tentang masa lalu Selim yang pahit, tak terasa air mata ku terus mengalir.
Terpikir oleh ku bahwa nasehat Rosa itu ada benar nya juga, aku harus berbaikan dengan Selim dan aku pun langsung menghubungi Selim.
"Halo Selim, bisakah kamu datang ke apartemen ku sekarang juga?",aku berbicara dengan suara parau merasakan kesedihan Selim di masa lalu.
"Kenapa suara kamu seperti ini? apa kamu menangis? apa terjadi sesuatu pada mu Dilara?",Selim membrondong ku dengan beberapa pertanyaan.
"Aku baik-baik saja, ada yang aku ingin katakan pada mu Selim",aku berkata.
"Oke aku segera kesana sekarang",Selim mengakhiri panggilan nya.
Selim bergegas pergi menuju apartemen ku dengan tergesa-gesa.
"Ting tong, ting tong",Selim datang ke unit ku.
Aku membuka kan pintu dan langsung menyuruh Selim masuk.
"Selim, aku minta maaf, tolong maafkan aku",aku memeluk Selim sambil tersedu di pangkuan nya.
"Sssssttt, Dilara kamu kenapa nangis sampai segukan gini sih? maafin apa? kenapa kamu harus minta maaf",Selim memeluk dan mengelus-elus rambut ku.
"Pokoknya kamu harus maafin aku",aku tak bisa menjelaskan.
__ADS_1
"Ya ya oke maafin, tapi sudah kamu jangan nangis terus Dilara",Selim melepaskan pelukan nya dan mengusap air mataku.
"Mulai sekarang kamu boleh datang kesini dan nginep disini semaumu, kapanpun, aku juga akan masakin makanan buat kamu jika kamu ingin makan",aku berbaik hati.
"Apa serius? aku boleh nginep disini kapan pun Dilara?",Selim tak percaya.
"Ya kamu tidur di sofa, tapi kapan saja saat kamu ingin tidur di kasur, aku bisa tidur di sofa tukeran sama kamu",aku menjelaskan.
"Kamu baik sekali Dilara, apa yang membuat ku bisa berbaik hati padaku seperti Dilara?",Selim bertanya.
"Gak ada apa-apa",aku menimpali.
"Aku berharap perkataan mu bisa ku pegang dan kamu tidak akan menyesal dengan perkataan mu ini Dilara",Selim memperingatkan ku.
"Oke aku percaya padamu Dilara",Selim tersenyum senang.
"Bila kamu ingin kesini saat aku tak ada kamu masuk saja Selim",aku menawarkan.
"Apa boleh seperti itu Dilara?",Selim ragu.
"Ya boleh, sini aku bisikan kode unit ku, 210220",aku mendekatkan mulut ku ketelinga Selim.
"21 Februari 2020 apakah itu maksud nya Dilara? bukan nya itu hari ulang tahun adik ku Juwita?",Selim penasaran.
__ADS_1
"Ya kamu benar Selim",aku mengiakan.
"Tunggu aku tahu, apa kamu mengingat nya kerana hari itu pertama kali kita bertemu Dilara?",Selim mencoba menebak.
"Enggak bukan",aku mengelak.
"Mengaku saja padaku Dilara, itu artinya saat kita bertemu pertama kali di ulang tahun Juwita, kamu terkesan padaku kan Dilara?",Selim menuduhku.
"Apa?, itu gak mungkin Selim",aku masih mengelak.
"Sekarang kamu gak bisa mengelak lagi, karena aku merasakan hal yang sama saat kita pertama kali bertemu " Selim mencium pipiku.
"Aku ngantuk Selim, sekarang jam berapa?",aku terkejut Selim mencium ku dan membuat alasan.
"Sekarang baru jam 20:00, kamu sudah mengantuk Dilara?, apa karena kamu terus menangis itu yang membuat kamu ngantuk",Selim memperhatikan ku.
Tak ada jawaban dariku.
"Dilara apa kamu tidur?"Selim tersenyum dan mengelus-elus punggungku.
Aku tertidur di atas sofa di pangkuan Selim.
"Seperti nya Dilara sudah benar-benar terlelap tidur",Selim mengangkat tubuhku dan membaringkan nya di kasur.
__ADS_1
Selim kembali mencium keningku, dan bergegas pergi setelah menyelimuti ku.