
Kita berdua tiba di apartemenku.
"Masuk dan beristirahatlah. Untuk malam ini kamu tidur disini untuk sementara," saranku pada Selim.
Selim berjalan ke kamar dan menjatuhkan badannya begitu saja di kasurku.
Aku datang menghampirinya, matanya terpejam setelah aku menyelimuti tubuhnya.
Aku duduk di samping tempat tidur, memperhatikan wajahnya yang sedang tertidur dan sesekali aku mengelus rambutnya.
"Apa kamu sudah tertidur? Apa kamu enggak akan mencuci mukamu terlebih dahulu?" tanyaku.
Tak satupun pertanyaanku yang di jawabnya, dia malah menggenggam telapak tanganku dan di letakkan di pipinya.
Melihatnya tertidur seperti sekarang ini aku jadi teringat pertengkarannya tadi dengan ibunya. Dia beberapa kali di bentak oleh ibunya. Aku berempati padanya dan membuatku menyadari betapa menyedihkan takdir yang di alaminya.
Aku merasa saat tertidur sekalipun raut wajahnya menunjukkan kesedihan.
Sepertinya Selim benar-benar sudah terlelap tidur, dengan sangat hati-hati aku melepaskan tanganku dari genggamannya agar tak membangunkannya. Setelah tanganku berhasil terlepas aku bergegas pergi ke ruang tv untuk tidur di sofa. Malam ini yang ketiga kalinya aku harus tidur di sofa.
Dari ruangan ini aku bisa melihat Selim yang sedang tertidur, begitupun sebaliknya Selim bisa melihatku dari kasur tempat dia tertidur sekarang. Karena antara kamar tidur dan ruang tv tak ada sekat, hanya lantai kamar tidur saja yang di buat lebih tinggi sebagai pembatasnya.
Ke esokan harinya.
Aku bangun, mandi, shalat dan membuat sarapan di dapur.
Selim pun terbangun dan mandi, dia memakai baju yang di pakai semalam, karena tidak membawa baju ganti.
Dia menyusulku ke meja makan untuk menyantap sarapan.
Disaat sedang sarapan ada yang meneleponku, tapi karena sedang makan dan tanganku kotor, jadi aku menerima telepon dengan membesarkan volume ponselku dan menaruhnya di meja.
"Halo Dilara minggu ini rencananya anak-anak mau ngadain reuni kecil-kecilan. Apakah kamu mau ikut?" tanya Dara.
Dara adalah salah satu temanku waktu SD, dia satu-satunya temen SDku yang nomor ponselnya masih aku simpan. Dia tinggal sekampung halaman denganku di Bogor. Sampai saat ini di masih menetap dan bekerja disana. Berbeda denganku, setelah lulus kuliah aku memilih merantau ke Jakarta.
"Reunian dengan teman-teman waktu SD? sepertinya seru!" kataku.
"Makanya kamu harus datang. Kalau yang sudah punya anak, pasti mereka akan membawa anaknya. Pasti tambah ramai banyak anak kecil," rayu Dara.
"Oke nanti aku kasih kabar lagi ikut apa enggaknya," jawabku, Aku mengakhiri panggilannya.
"Apakah kamu akan datang ke reuni?—, emosinya tak terbendung lagi. "Apakah kamu akan tetap datang meski aku melarangmu?" bentak Selim.
"Apa kamu ngelarangku untuk datang? Apa salahnya datang ke reuni? Ini kesempatan untukku bersilaturahmi dengan teman-temanku," protesku.
"Datang saja ke reuni itu, kalau kamu memaksa. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan padamu karena kamu memilih datang ke reuni," ancam Selim.
Selim menghentikan sarapannya, dan beranjak dari tempat duduknya "Aku sudah selesai, aku tunggu kamu di bawah."
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" gumamku, Aku heran melihat yang mendadak pergi.
Aku menyudahi sarapanku, dan membiarkan meja makan yang berantakan dengan piring kotor begitu saja.
Aku bergegas pergi menyusul Selim, aku takut dia tambah marah karena menunggu terlalu lama di bawah.
Seperti biasa hari ini sebelum berangkat kerja aku harus mampir dulu ke rumah Selim, karna dia harus mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.
Akhirnya aku sampai di kantorku.
Di tempat lain di kantor Selim.
Saat Selim sedang berjalan dari parkiran menuju ruang kerjanya, ponselnya berdering.
"Siapa nomor baru yang pagi-pagi nelepon?" gumam Selim, Melihat panggilan dari ponselnya.
"Halo, apakah saya bisa bicara dengan Selim?" tanyanya.
"Ya saya Selim. Anda sendiri siapa?" tanya Selim.
"Saya Mira ibunya Dilara. Saya dapat nomor ponselmu dari kakaknya Dilara. Katanya kamu itu pacarnya Dilara," tanyanya.
Flashback on
__ADS_1
Kak Yusup langsung menelepon ibuku setelah aku pulang dari rumahnya. Dia memberi tahu kalau aku, adiknya telah memiliki seorang pacar.
Mira adalah ibuku, aku memutuskan tinggal di apartemen setelah bekerja dan semenjak ayahku meninggal lima tahun yang lalu, ibuku tinggal sendirian di kampung halamanku di Bogor. Ibuku tidak bekerja karena sudah cukup tua, untuk biaya hidupnya dia mengandalkan dari gaji pensiunan ayahku dan uang pemberian dari aku dan kakakku.
"Ya benar saya Selim pacarnya Dilara. Ada apa ya tante, mendadak menelepon. Saya kaget, enggak menyangka tante menelepon saya," tutur Selim.
"Enggak ada apa-apa. Tante ingin mengobrol sedikit, bolehkan? Saat ini tante tidak mengganggu kamu kan?" tanyanya.
"Enggak kok, enggak mengganggu sama sekali," kata Selim.
"Kamu sudah lama pacaran sama Dilara?" tanyanya.
"Enggak, belum lama ini," jawab Selim.
"Iya tante kaget pas kakaknya bilang kalau Dilara sudah punya pacar. Dia enggak pernah cerita apa-apa sama tante. Karena akhir-akhir ini dia jarang pulang ke rumah.
Meskipun jarak dari apartemennya ke rumah tante hanya butuh dua jam perjalanan itupun kalau macet," tuturnya.
"Dilara juga enggak pernah cerita tentang tante ataupun keluarga yang lainnya. Kemarin baru pertama kalinya dia kenalin saya sama kakaknya," tutur Selim.
"Kapan tante bisa bertemu denganmu? tante juga ingin bertemu langsung denganmu. Bagaimana kalau kamu datang saja ke rumah tente?" titahnya.
"Saya juga ingin datang mengunjungi tante. Banyak yang saya ingin ceritakan tentang Dilara tapi saya takut Dilara akan marah. Sebaiknya kita bertemu di tempat lain saja," saran Selim.
"Bagaimana kalau hari ini saja kita bertemu," usulnya.
"Hari ini ya—, Selim berhenti berbicara sejenak, untuk berpikir. "Hari ini sepertinya bisa sepulang saya dari tempat kerja, sehabis magrib," tutur Selim.
"Oke boleh. Biar tante sekalian mau bermalam di tempatnya Dilara," ujarnya.
"Tante dari Bogor ya? Tante mau aku jemput? Biar saya minta supir saya untuk menjemput tante, kirimkan saja alamatnya," usul Selim.
"Oke boleh, kalau tidak merepotkan. Sudah ya tante tutup dulu teleponnya, sampai ketemu di Jakarta," tuturnya, Mengakhiri panggilan teleponnya.
Di kantor di tempat kerjaku.
Saat jam makan siang, mendadak Dara meneleponku.
Ketika aku sedang bergelut dengan kebimbanganku, Selim meneleponku.
Dia mengatakan hari ini tidak bisa menjemput karena ada urusan.
Setelah mendapat kabar itu dari Selim, aku merasa jalanku terbuka untuk bisa datang ke reuni.
Sehabis shalat magrib aku mulai bersiap-siap untuk pergi. Aku memakai blues lengan panjang warna putih, celana kulot warna navy, menggunakan sling bag, memakai plat shoes dengan warna yang sama dengan celana, dan rambut yang di gerai.
Akhirnya aku kumpul bersama teman-temanku di Arborea cafe, sebuah cafe berkonsep taman.
Ternyata yang datang ke reuni cuman sekitar kurang lebih sepuluh orang. Aku duduk bersebelan dengan Dara.
Saat aku perhatikan ternyata gebetanku waktu SD pun datang. Tak ada yang berubah darinya masih mempesona sama seperti lima belas tahun yang lalu saat kita SD. Aku mencoba mencuri perhatian di hadapannya. Namun tak sedikitpun pandangannya teralihkan padaku. Akhirnya aku menyerah tapi kabar baiknya kita semua di masukan dalam sebuah grup chat, jadi ada kesempatan aku bisa berkomunikasi dengannya.
Di tempat lain dimana Selim sedang menunggu ibuku di sebuah cafe tempat keduanya akan bertemu.
Tak perlu menunggu lama akhirnya ibuku datang ke cafe tersebut di antar langsung supirnya Selim.
Selim menyambut ibuku dengan menyalaminya dan cipika-cipiki. Keduanya pun mulai mengobrol.
"Setelah tante bertemu langsung denganmu, tante semakin yakin kalau kamu cocok untuk anak saya Dilara," tuturnya.
"Sebelumnya saya minta maaf sama tante, sebenernya saya telah melamar Dilara kemarin, tanpa meminta izin terlebih dahulu pada tante," ungkap Selim.
"Benarkah? Selamat kalau begitu tante ikut seneng, berarti itu artinya kamu serius sama Dilara," katanya.
"Sebenarnya kalau saya boleh cerita sama tante, Dilara itu sepertinya enggak serius sama saya. Dia enggak menganggap saya pacarnya," tutur Selim.
"Mungkin karena Dilara itu anak manja, jadi kelihatannya enggak serius. Nanti biar tante yang menasehatinya," usulnya.
"Karena sudah malam, sebaiknya sekarang tante aku antar pulang," kata Selim.
Selim telah sampai di apartemenku mengantar ibuku pulang. Ternyata Dilara tak ada di apartemennya.
Di saat bersamaan Selim akhirnya tahu bahwa saat ini Dilara belum pulang. Segeralah Selim meneleponku.
__ADS_1
"Kamu dimana Dilara? Sudah malam begini belum pulang," tanya Selim.
"Aku lagi kumpul sama teman-temanku," jawabku.
"Sekarang sudah malam, kamu harus segera pulang. Posisi kamu dimana sekarang? Aku akan menjemputmu," tutur Selim.
"Aku di jalan Gatot Subroto, di Arborea cafe," kataku.
Selim langsung mengakhiri panggilannya.
Selim melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak bisa. Saat ini dia sedikit ngebut.
Setelah sampai ke cafe Arborea, dia langsung menarik tangan dan menyeretku masuk ke dalam mobilnya.
"Apa yang tadi itu teman-temanmu? Kok aku enggak kenal orang-orangnya," ucap Selim.
"Mereka teman-temanku waktu SD," jawabku.
"Jadi—, Selim mencoba mencari kata yang pas, agar tidak terjadi pertengkaran.
"Jadi kumpul-kumpul tadi itu reuni?" tanya Selim
"Iya reuninya di majukan jadi hari ini," jawabku.
"Kenapa kamu enggak bilang padaku? Apa kamu sengaja melakukannya? Dan pergi diam-diam," tuduh Selim.
"Aku tidak bisa menolak, karena aku di paksa temanku untuk datang," jawabku.
Setelah itu kita tak saling berbicara lagi sampai akhirnya sampai di apartemenku.
Selim langsung balik badan tak bicara sepatah katapun.
Saat aku masuk ke unitku terlihat ada seseorang yang perawakannya sama dengan ibuku duduk di sofa ruang tv.
Setelah aku hampiri ternyata benar saja dia ibuku.
"Mam—, Aku terkejut melihat mamahku datang ke apartemenku, aku merasa ada sesuatu yang janggal.
"Mamah, kok ada disini. Kapan mamah datang? Kenapa enggak bilang kalau mamah mau datang?" tanyaku.
"Mamah sengaja enggak ngasih tahu, mau bikin surprise," tuturnya.
"Aku senang mamah datang kesini," kataku.
"Kamu habis dari mana, jam segini baru pulang?" tanyanya.
"Aku habis reuni sama teman SDku, mamah ingatkan Dara tetangga kita," jawabku.
Tak ingin di tanya hal yang lebih mendalam lagi tentang reuni, aku memilih pergi untuk mencuci muka.
kita berdua tidur bareng di ranjang yang sama. Karena belum mengantuk kita berdua mengobrol. Dan sampailah pada obrolan tentang Selim yang membuatku teramat sangat terkejut.
"Kata kak Yusuf kamu sudah punya pacar, apakah benar Dilara?" tanyanya.
"Ya benar mah," jawabku mengiakan.
"Kenapa kamu enggak cerita sama mamah? Selim kan mau serius sama kamu, buktinya dia melamar kamu," tuturnya.
"Kok mamah tahu Selim melamarku?" tanyaku.
"Sebenarnya hari ini mamah menginap disini karena habis ketemuan sama Selim," tuturnya.
"Kok bisa mamah ketemuan sama Selim? Apa yang dia bicarakan sama mamah? Apa dia mengadukanku pada mamah?" tuduhku.
"Tidak kita mengobrol biasa saja," tuturnya
"Bohong aku tak percaya. Dari awal aku merasa mamah mendadak datang kesini itu janggal. Enggak biasanya mamah enggak ngasih tahu aku dulu," keluhku.
"Mamah enggak nanya yang aneh-aneh kok pada Selim. Dia juga cerita hal-hal yang biasa saja," tuturnya.
"Pokoknya aku enggak suka mamah ketemuan diam-diam sama Selim di belakangku," protesku.
Alhasil akhirnya malam ini kita berdua tidur saling memunggungi karena masalah Selim.
__ADS_1