Cinta Diktator

Cinta Diktator
Penguntit


__ADS_3

Flashback off


"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" Aku mencoba menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.


"Enggak, aku sedang berpikir." dia mengerutkan dahinya, "Sekarang sudah malam sudah jam 21:20, bagaimana kalau kamu aku antar pulang?" dia menawarkan diri,


"Kamu pulang sendiri kan?" Dia berharap aku menerima tawarannya.


"Enggak usah, sekarang belum terlalu malam dan jalanan masih ramai." Aku melirik sekitar jalan di depanku, "Biar aku naik taxi online saja." Aku berusaha menolaknya, "Aku tidak mau merepotkanmu."


"Apa naik taxi online? Dia meragukan perkataanku, "Kenapa enggak sekalian naik busway saja, biar enggak nanggung bahayanya?" Dia memarahiku, "Perempuan jam setengah sepuluh mau naik taxi online, gila ya kamu." Dia terus mengumpatku.


"Kenapa dia mengumpatku terus?" aku kesal, "Dia berniat menolongku enggak sih?" gerutuku dalam hati.


Tiba-tiba dia menarik tanganku dan menyeretku pergi.


Dia terus memegang tanganku "Ayo kita ke parkiran, aku akan mengantarmu pulang."


Beberapa langkah kemudian kita sampai di depan sebuah mobil kecil, berwarna merah, bertuliska KIA, dan mobil tersebut merupakan salah satu produk korea.


Dia berdiri di sebelah pintu kanan mobil merah tersebut.


"Masuklah!" dia berdiri menunggu aku masuk.


Aku masuk lewat pintu kiri, duduk di kursi depan di samping kemudi, dan tak lupa memasang sabuk pengaman.


"Kemana kamu pulang?" Dia bertanya dan hendak bersiap malajukan mobilnya, setelah dia selesai memasang sabuk pengaman miliknya.


"Ke apartemen Altuera, jalan Edelwis." Aku menjawab tanpa melihat ke arahnya.


"Apa kamu tinggal sendiri?" dia mulai menanyaiku.


Aku enggan menjawab, dan mencoba untuk mencari cara mengalihkan pembicaraannya.


Apakah mungkin dia ini pacarnya Wita, atau pacarnya Rosa." hati kecilku menduga-duga.


"Apa kamu kenal Wita dan Rosa?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku sudah kenal lama, bahkan kami cukup dekat." dia menjawab sambil fokus nyetir.


"Apa kamu pacar Rosa atau Wita?" Aku meliriknya, "Kalau kamu kakaknya menurutku enggak mungkin, karena kamu enggak mirip mereka berdua." aku mencoba menjawab pertanyaanku sendiri.

__ADS_1


"Menurutmu aku lebih cocok menjadi pacar Rosa atau Wita?" Dia tak menjawab pertanyaanku, malah seperti meminta saran.


"Kalau pertanyaan itu aku tak bisa menjawab." aku menganggap pertanyaannya konyol.


"Tapi mereka berdua sama-sama pintar." aku berkata,


"Rosa itu seumuran denganku, kalau Wita mungkin 4 atau 3 tahun lebih muda dariku." Aku mengatakan apa yang ku tahu tentang mereka.


"Yang aku tahu sepertinya mereka berdua juga belum punya pacar." aku terus mengutarakan opiniku.


"Ternyata orang sepertimu suka bergosip juga ya." dia tersenyum.


"Memang aku orang seperti apa menurut mu?" aku meminta penjelasan.


"Enggak aku enggak berani menilaimu secara langsung." dia beralasan.


"Enggak apa-apa katakan saja, justru kalau kamu tidak mengatakannya itu membuatku penasaran." dia memaksaku.


"Kamu itu orang yang aneh." dia mengerutkan dahinya, "Kamu menilai seseorang sesuai dengan keyakinan yang ada di pikiran mu, meski itu belum tentu benar." dia mencoba menilaiku.


"Aku sadar kalau aku memang orang aneh, bukan kali ini saja ada yang bilang aku orang aneh. Orang lain juga menjauhiku karena menganggapku aneh." aku mengakui.


"Tadi kamu belum menjawab pertanyaanku, apa kamu tinggal Sendiri?" Untuk kedua kalinya dua dia mengulangi pertanyaannya.


"Kamu jangan sombong, bukan kamu saja yang sendiri. Dari aku kecil sampai sekarang aku sendirian." dia berkata.


"Aku gak percaya, kalau dari kecil sampai sekarang kamu sendirian." aku meragukan perkataannya.


"Memang aku enggak benar-benar tinggal sendirian." Dia terlihat sedikit melamun, "Tapi sampai saat ini orang-orang yang berada di dekatku tak perhatian kepadaku." Saat ini dia terlihat seperiti sedang kesepian,


"Walaupun ada orang di sekitarku, tetap aku merasa sendiri." Dia terlihat sedih saat mengatakannya.


"Apa sekarang kamu sedang curhat?" Aku tersenyum menggodanya.


"Maaf aku tak bermaksud curhat padamu, tapi dengan mudahnya mulutku ini berbicara sendiri."dia sendiri tak sadar mengatakannya.


Tiga puluh menit kemudian kita berdua sampai di depan apartemen Altuera.


Dia menghentikan laju mobilnya di parkiran depan loby apartemen.


"Terima kasih sudah mengantarkanku." Aku bergegas membuka pintu mobil dan turun.

__ADS_1


"Hampir saja lupa, sekarang sudah jam 22:00 sudah malam. Aku takut penguntit yang pernah menggangguku mencoba untuk usil lagi." aku bergidik mendadak takut,


"Bagaimana ini?" Aku kebingungan, "Haruskan aku meminta nomor ponsel dia, orang yang mengantarku ini?" aku ragu-ragu, "Aku harus meminta nomor ponselnya untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi." pikiranku tidak karuan.


Aku berbalik, aku memutuskan untuk memberanikan diri meminta nomor ponselnya.


Saat mobil itu hendak bergegas untuk melaju kembali, aku mencoba menghentikannya.


Tok, tok, aku ketok kaca mobil orang yang mengantarku tadi.


Dan kaca depan sebelah kiri mobil itu terbuka.


Dengan perasaan malu, dan setengah ketakutan aku mencoba mengutarakan maksudku kepadanya.


"Bisakah aku minta nomor ponselmu?" Aku berbicara sambil meremas-remas jari tanganku.


"Apa kamu sudah terpikat olehku?" dia tersenyum menggodaku, "Kamu langsung meminta nomor ponselku agar bisa lebih dekat denganku?" Dia menuduhku.


"Menurutku, kamu enggak terlalu buruk." Aku balik menggodanya, "Aku merasa kamu orang aneh sepertiku juga." Aku membalasnya.


Dia akhirnya mengabulkan permintaanku, dia menyebutkan nomor ponselnya.


"Jadi menurutmu kita memiliki kesamaan?" Dia bertanya.


"Menurutku begitu." Aku dengan cepat menjawabnya, "Terimakasih untuk nomor poselnya, oh ya aku simpan nomor ini dengan memberinya nama apa ya?" Aku modus ingin mengetahui namanya.


"Aku Selim." Dia berkata, "Simpan saja dengan nama itu." Dia seperti heran, setengah tak percaya,


"Kok bisa seorang perempuan tanya nomor ponsel laki-laki duluan" hati kecilnya berkata.


"Oh oke, aku Dilara." aku menyebutkan namaku dan pergi.


Aku masuk ke lobby apartemen, saat ini di lobby dan lift sepi tak ada orang.


Hanya ada 2 security yang menjaga di pintu masuk loby.


Aku masuk lift dan menekan angka 6.


Tiba-tiba ada seorang laki-laki memakai topi putih, memakai masker bergambar api masuk, dan menekan tombol yang sama dengan yang aku tekan.


Dis terus memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

__ADS_1


"Kenapa perasaanku enggak enak begini seperti ini?" gerutuku dalam hati.


"Kenapa lama sekali?" aku terus memperhatikan floor designator, "Aku merasa tak kunjung sampai di lantai tujuanku." aku merasa was-was dan ingin segera sampai.


__ADS_2