Cinta Diktator

Cinta Diktator
Sesuatu yang aneh


__ADS_3

Aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, gosok gigi, dan berganti pakaian.


"Melelahkan sekali hari ini, mimpi apa aku semalam sampai kejadian ini menimpaku." aku mengasihani diriku sendiri


Aku membaringkan tubuhku di kasur.


"Aku ingin pergi tidur lebih cepat dan bermimpi yang indah, sehingga aku bisa melupakan kejadian tadi." aku memcoba memejamkan mataku.


"Kenapa mataku tak mau terpejam, padahal aku merasa ngantuk sekali."aku insomnia.


Aku mencoba memejamkan mataku sekali lagi, tapi tetap tak bisa.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Aku terus berpikir.


Akhirnya aku ingat, aku harus menghubungi Selim, untuk memastikan dia selamat sampai rumahnya.


Aku ambil ponselku dan menekan angka satu, aku kemarin sengaja menyimpan nomornya di kontak darurat.


"Dia belum menerima panggilanku." aku terus menghubunginya.


Ternyata pirasatku benar, tak sia-sia aku mempertaruhkan harga diriku untuk meminta nomor ponsel seorang laki-laki.


Walaupun aku merasa malu sendiri, saat mengingat aku sedang meminta nomornya.


Akhirnya dia menjawab panggilanku.


"Halo Selim, apakah kamu sudah sampai rumah dengan selamat?" aku bertanya.


"Apakah kamu mengkhawatirkanku?" Selim balik bertanya.


"Apakah saat akan pulang kamu berpapasan dengan seorang laki-laki di lorong apartemen?" aku balik bertanya padanya dan mengabaikan pertanyaannya.

__ADS_1


"Tidak, enggak ada siapa-siapa di lorong apartemen, memang ada apa?" Selim mulai penasaran.


"Apakah di lift juga tidak ada siapapun?" aku mencari informasi.


"Apakah tadi ada sesuatu yang terjadi padamu?" dia mulai curiga, "Sebenarnya siapa laki-laki yang kamu cari itu?" dia bertanya, "Apakah dia pacarmu?" dia mencoba menebaknya, "Apakah kamu takut pacarmu marah? melihatmu diantar olehku?" dia memberondongku dengan banyak pertanyaan.


"Enggak, enggak terjadi apa apa." aku masih berbohong.


"Maafkan aku Selim, untuk saat ini aku tidak bisa menceritakannya padamu." gumamku.


"Oke, kalau kamu enggak mau jujur sama aku, aku matikan ponselnya." Selim langsung memutus sambungannya.


Hoam ...sekarang aku benar-benar merasa mengantuk, aku memejamkan mataku.


Di rumah Selim.


Apakah Dilara benar baik-baik saja?


Aku sangat mengkhatirkannya, terserahlah, lebih baik aku tak memikirkannya lagi.


Selim memilih untuk melakukan ritual membersihkan dirinya, sebalum akhirnya terlelap tidur.


Ke esokan harinya di rumah Selim.


Karena hari ini hari minggu, setelah shalat subuh Selim kembali lagi tidur, dan bangun pukul 07:00.


Selim keluar dari kamarnya turun ke lantai satu rumahnya untuk sarapan.


Dan di meja sudah tersedia menu wajib sarapan sehat Selim, ada dua potong roti sandwitch isi alpukat, segelas susu putih UHT, dan segelas air putih yang telah disiapkan asistennya semenjak tadi.


Tak lama kemudian ponsel yang berada di kamarnya berbunyi, dia bergegas ke kamarnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"Selim sedang apa kamu sekarang?" Terdengar suara laki-laki. "Apa sore ini kamu sibuk?


"Bisakah nanti sore kamu datang ke cafe coffe. Sudah lama kita enggak kumpul bareng." dia terus bertanya pada Selim.


Laki-laki itu adalah Rafka teman deketnya Selim semenjak kuliah.


"Sore ini, oke aku berangkat jam 4 sore." Selim menerima ajakkannya, "Memang siapa saja yang akan datang?" Selim berbincang dengan temannya sambil menuruni tangga menuju meja makan.


"Riza, Faisal, Aries, dan Juna juga datang katanya, formasi lengkap untuk sore ini." Rafka menyebutkan teman yang lainnya.


"Oke sampai ketemu nanti sore." Selim menutup panggilan ponselnya.


Tiba waktu Selim untuk bertemu dengan teman-temanya.


Selim bersiap untuk pergi ke cafe coffe, dengan memakai hodie burgundy, celana jeans, dan snikers senada hitam.


20 menit kemudian mobil Selim sampai di parkiran cafe tersebut, dan dia bergegas masuk.


Dari kejauhan Selim melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki yang dirinya kenal, ternyata perempuan itu Dilara.


Dan sepertinya Dilara juga melihatku.


"Hei sayang, aku disini."aku memanggil Selim dan berjalan ke arah nya.


"Benar saja tebakanku, Dilara benar melihatku dan sekarang memanggilku." gumam Selim


"Apakah Dilara sedang iseng padaku lagi?seperti yang dia lakukan semalam." Selim mencoba menerka maksudku.


Dengan sedikit keheranan karena panggilan sayang yang dilontarkanku padanya, Selim mengikuti permainanku.


"Apakah kamu sudah menunggu lama?" Selim mengusap rambutku, "Maaf tadi di jalan sedikit macet, jadi aku terlambat." Selim meladeni mengikuti permainanku.

__ADS_1


__ADS_2