
"Apakah kamu sudah menunggu lama?" Selim mengusap rambutku, "Maaf tadi di jalan sedikit macet, jadi aku terlambat" Selim meladeni mengikuti permainanku.
"Dilara, siapa laki-laki ini?" Selim berpura-pura menunjukan rasa cemburu kepada laki-laki yang sedang bersamaku.
Selim tak memberi kesempatan pada laki-laki itu untuk bicara sepatah katapun.
"Aku Selim, pacarnya Dilara" Selim menyodorkan tangan, dia berkenalan dengan laki-laki itu.
"Aku Dafa." dia menjawab ketus.
Ekspresi Dafa berubah pucat, setengah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Apakah itu benar Dilara?" tanya Dafa, "Kamu sudah melupakanku?" rajuknya, "Aku menganggap hubungan kita belum berakhir," sanggahnya.
"Aku hanya mencoba memberi waktu diantara kita berdua untuk saling menyakinkan perasaan kita masing-masing," kilahnya.
" Sekarang aku rasa Dilarang sudah yakin untuk menjadi pacarku." Selim menimpali omongannya.
Aku memilih tak berbicara sepatah katapun di situasi seperti ini.
Selim menarik tanganku, dan pergi meninggalkan Dafa sendirian.
Disaat yang sama Dafa masih berdiri mematung memperhatikan aku dan Selim pergi.
Dafa itu mantan pacarku. Dia masih berdiri mematung memperhatikan aku dan Selim pergi.
__ADS_1
Aku baru putus dengan Dafa dua minggu yang lalu, setelah berpacaran selama lima belas bulan.
Alasan kita berdua putus karena Dafa terlalu protektif padaku.
Aku dan Selim berjalan menuju kafe tak jauh dari tempat tadi.
Sebuah kafe, yang di kaca depannya bergambar cangkir kopi bertuliskan Cafe Coffe, dengan arsitektur bangunan modern minimalis bernuansa abu-abu dan hitam.
Sepertinya arm chair menjadi pilihan pemilik cafe untuk menambah suasana santai menikmati kopinya.
"Dilara, aku datang kesini untuk menemui teman-temanku, sepertinya mereka disana." Selim menunjuk kerumunan laki-laki yang tengah duduk berbincang di meja barisan kanan pintu masuk cafe tersebut.
"Kita duduk disini saja Selim," ajakku. "Apakah kamu bisa menemaniku 5 menit saja, sampai Dafa benar benar pergi," pintaku.
Aku memilih duduk di sebuah kursi dipinggir jendela cafe.
"Aku akan menghampiri temen-temenku dulu, enggak enak mereka sudah lama menungguku," ucapnya.
Selim beranjak dari kursi menuju meja ketiga di barisan kafe.
Terlihat dari tempatku duduk, Selim mulai menyalami teman-temannya dan berbincang.
Selang beberapa menit, waitress datang memberikan kertas menu yang bisa dipesan di cafe tersebut.
Aku memesan dua gelas es mocacino dan dua lava cake matcha.
__ADS_1
Selim balik lagi ke mejaku dan duduk kembali di kursi tadi, dimana ia duduk.
"Aku sudah memesan makanan untukmu," kataku, "Kenapa kamu cepat sekali kembali ke meja ku?" tanyaku.
"Aku merasa senang Selim kembali ke meja ini," gumamku.
"Sepertinya sekarang aku enggak bisa barsama temen-temenku dulu," ungkapnya,
"Aku takut kalau meninggalkamu sendirian ada yang akan mengganggu kamu lagi kayak tadi," rayunya.
"Ternyata kamu bisa merayu juga," candaku.
"Siapa Dafa itu?" tanyanya.
"Dia mantan pacarku," tuturku.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Dafa?" Selim bertanya, "Apakah Dafa dan laki-laki yang kamu cari di apartemenmu semalam, itu orang yang sama?" Selim mengintrogasiku.
Flashback on.
Pukul 12:30 di apartemenku.
Aku mendengar ponselku berdering dan aku langsung menjawab panggilan ponselku.
"Hallo Dilara, Apa nanti sore jam 4 kamu bisa mengantarku membeli baju di butik langganan kita?" pinta Rianti temanku.
__ADS_1
"Oke aku bisa, tumben pergi sore hari," kataku. "Enggak biasanya Rianti ajak aku pergi sore hari," gumamku.
"Lagi ingin saja pergi sore hari," ujarnya, "Sudah dulu ya Dilara, sampai jumpa di butik" Rianti mengakhiri panggilannya.