
Pagi ini seperti biasa aku bangun jam 04:45, ku lihat Selim masih tertidur lelap di sofa ruang tamu ku.
Aku bergegas untuk mandi dan shalat subuh.
Tak lama kemudian Selim terbangun dari tidur nya mendengar alarm hp nya berbunyi.
Selim pun beranjak dan pergi mandi.
Aku mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, merapihkan tempat tidur, mencuci baju, menyapu dan menyiram tanaman.
"Dilara, apa setelan training ini sengaja kamu siapkan untuk aku pakai??",Selim berbicara dari balik pintu kamar mandi.
"Ya pakai saja, aku sengaja menyiapkan nya untuk kamu",aku menimpali Selim dari dapur.
Selim keluar kamar mandi memakai training berwarna merah milikku yang telah aku siapkan.
Selim pun shalat subuh di musholah rumahku, satu ruangan yang tak jauh dari kamar mandi.
"Akhir nya kerjaan rumah ku beres semua pas jam 05:30",aku beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
Selim pergi ke ruang tv untuk melihat berita setelah ia selesai shalat subuh.
Hari ini aku membuat sarapan roti panggang di olesi alpukat dan telur dadar dengan tambahan sedikit minyak zaitun dan garam serta susu UHT.
"Selim ayo sarapan",aku memanggil Selim ke meja makan.
"Kalau sekarang aku lagi mimpi, aku gak mau bangun dari tidurku",Selim berkata seraya duduk di meja makan.
"Maksud kamu apa Selim, aku gak ngerti?",aku gak bisa menangkap maksud perkataan nya.
"Ya aku gak lagi mimpi kan sekarang?, bisa tidur di tempat kamu, di siapin baju, di masakin, sarapan bareng, nanti berangkat kerja bareng"Selim menjelaskan.
aku hanya diam, tak memperdulikan penjelasan Selim.
"Habiskan sarapan nya, kamu semalam cuma makan sedikit",aku menyodorkan dua tangkap sandwich pada Selim.
"Dilara apa sekarang kamu sedang perhatian pada ku?",Selim terkejut dan merasa senang.
"Aku gak nanti nya disalahin sama mamah kamu kalau kamu sakit gara-gara aku gak kasih kamu makan",aku gengsi mengakui nya.
"Mamah ku semalam bilang, ingin ajak kamu makan di luar sabtu besok",Selim berbicara dengan mulut penuh sandwich.
"Mamah kamu ngajak aku makan diluar?, ada apa sih penasaran",aku setengah tak percaya.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, mamah aku cuman ingin ngobrol sama kamu",Selim berkata.
"Apa mamah kamu tahu kalau kamu tidur di tempatku, apa mamah kamu gak akan marah kalau tahu anak kesayangan nya gak pulang semalam",aku menggoda Selim.
"Pasti asisten rumah tangga ku bilang ke mamah kalau aku gak pulang. Aku bukan anak kesayangan mamahku jadi ku sudah biasa di marahin",Selim pasrah.
"Tapi Selim kamu juga ikut kan, makan bareng sama aku dan mamah kamu?",aku menyakinkan diriku.
"Enggak mamah aku cuman ngajak kamu saja, aku nanti yang anter jemput kamu ketemu mamah",Selim menimpali.
"Aku gak mau kalau begitu",aku kesal.
"Aku tahu kamu sayang sama aku, jadi kamu harus menemui ibuku",Selim menjelaskan.
"Apa hubungannya dengan itu",aku tak paham.
"Ya pokok nya kamu harus meyakinkan mamah ku kalau kamu sayang sama aku",Selim memaksa.
"Emang aku pernah bilang kalau aku sayang sama kamu Selim?",aku menggoda Selim.
"Walaupun kamu gak pernah bilang, tapi aku tahu kalau kamu sayang padaku dari caramu menatap ku dan perhatianmu padaku",Selim berkata dengan pedenya.
"Tapi aku merasa biasa saja. Apa aku berbohong kepada mamah mu?",aku tak terima dengan ucapan Selim.
"Terserahlah, tapi sebaiknya kamu jujur dengan perasaan kamu terhadap ku",Selim menyerah.
"Dilara gak usah membahas yang lain deh, males jadinya aku ngomong sama kamu",Selim cemberut.
"Selim sudah jam 06:45 aku harus segera berangkat kerja",aku bergegas mengambil tas dan higheels ku.
"Dilara tunggu, aku sudah bilang kan hari ini kita berangkat bareng",Selim mencegat ku.
"Ya oke buruan nanti aku telat",aku kesal.
"Tapi nanti kerumah ku dulu, aku mau ganti baju",Selim berkata.
"Nanti aku telat dong nyampe kantor?",aku gak setuju.
"Sebentar doang, kalau nanti kamu telat biar aku yang jelaskan ke CMO mu, Daniel.
Aku dan Selim pun pergi menuju rumah Selim terlebih dahulu sebelum ke kantor.
Mobil yang aku dan Selim tumpangi pun berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang luas nya kurang lebih 60m2.
__ADS_1
Dari gerbang sampai pintu masuk terhampar luas rumput peking tumbuh memenuhi halaman rumah.
Ada jalan setapak yang terbuat dari batu alam berukuran kecil sebesar bola bekel berwarna putih susu untuk jalan kaki di sepanjang jalan di kedua samping jalan tersebut di tanami aglonema berwarna merah.
Di depan rumah tersebut di tanami beberapa tanaman hias seperti pohon palem, lemon lime draceana, schefflera arboricola, pucuk merah, beberapa pot sanseviera.
Di samping kanan jendela rumah nya tumbuh menjuntai tanaman sirih gading.
Sedangkan di samping kiri jendela ada dinding air terjun dan di tanami beberapa tanaman hijau.
Di samping kanan dinding ada beberapa tanaman vertikal dengan pot-pot kecil yang di sangga kayu.
Di samping kiri dan kanan pintu masuk ada pot lumayan besar yang di tanami philodendro.
Di di depan jendela kiri dan kanan lantai dua ada beberapa tanaman yang di letakkan di pot gantung.
Selim pun masuk ke rumah tersebut dengan tergesa-gesa, sementara aku menunggu di mobil.
10 menit kemudian Selim pun keluar dengan mengenakan kemeja polos warna maroon, celana warna camel dengan jas warna senada yang di sangkutkan di tangan kanan nya.
"Kamu gak menunggu lama kan Dilara",Selim bergegas melajukan mobil nya.
"Enggak",aku santai menjawab.
Aku dan Selim melanjutkan perjalanan menuju kantorku sambil mengobrol.
"Rumah kamu seperti enak ya adem, banyak tanaman-tanaman hijau",aku mulai mengobrol.
"Ya aku suka tanaman. Kalau kamu suka kapan-kapan main kerumah ku ya Dilara",Selim fokus menyetir.
"Apa kamu mendekor halaman rumah mu sendiri",aku bertanya.
"Ya aku cuman sedikit mengungkapkan ide ku, selebih nya itu ide mamahku",Selim menjelaskan.
"Apa kamu nyaman tinggal dirumah mu?",aku terus bertanya.
"Apa kamu sendiri akan merasa nyaman Dilara, jika kamu tinggal di rumahku?",Selim balik bertanya.
"Mungkin, aku gak tahu",aku tak tahu harus menjawab apa.
"Aku saat ini merasa belum nyaman tinggal di rumah ku, mungkin kalau kamu tinggal bersama ku juga di rumah itu aku merasa nyaman. Aku mendesain rumah itu agar kamu nyaman",Selim menggombal.
"Apaan sih kamu, rumah kamu saja sudah di bangun dari sebelum kamu kenal aku",aku kesal.
__ADS_1
"Ya maksud ku membangun rumah ku itu untuk masa depan ku dan kamu itu masa depanku",Selim terus menggombaliku.
Aku pun tersipu malu terus-terusan di gambalin Selim.