Cinta Diktator

Cinta Diktator
Kejadian di malam itu.


__ADS_3

Aku dan Selim sampai di apartemen.


Aku berjalan menuju unit ku dengan lesu dan jantung ku rasa nya berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.


Perasaan ku saat ini tidak enak, tangan dan seluruh badan ku rasa nya dingin.


Selim mengantar ku sampai ke depan pintu unit ku.


Aku berjalan terlebih dahulu dan Selim mengikuti ku dari belakang.


Saat aku sedang berjalan dengan waspada tiba tiba Selim menyusul ku.


"Dilara cepet banget sih kamu jalan nya",Selim berjalan di samping ku dan mengepalkan tangan nya di jari jari ku.


"Dilara apa kamu merasa ketakutan??, kenapa tangan mu dingin sekali",Selim berkata sambil menggosok gosokan tangan nya dengan tangan ku.


"Ya sedikit",aku sedikit berbohong, sebenar nya saat ini aku benar benar ketakutan.


"Oh ya, apakah benar kamu cuman takut sedikit??, tapi aku lihat wajah mu juga pucat Dilara",Selim tersenyum sinis menggoda ku.


" Ya kan tadi aku habis makan jadi lipstik ku ke hapus mungkin itu yang bikin wajahku kelihatan pucat",aku menyangkal ucapan Selim.


"Oh ya sudah aku anterin kamu sampai loby aja ya Dilara",Selim menggoda ku lagi.


"Aahh Selim gak mau, pokok nya kamu harus anterin aku nyampe depan pintu",aku memaksa.


"Katanya gak takut",Selim meledek ku.


"Oh ya, saat mengantar mu pulang dari pesta ulang tahun nya Wita, waktu itu kamu menghubungi ku saat itu sebenernya terjadi sesuatu kan sama kamu, bukan hanya iseng??",Selim mencurigaiku.


"Kalau kamu gak mau cerita, aku anterin kamu sampai loby aja",Selim mengancam ku.


"Ok aku akan cerita, tapi nanti ceritanya di dalam unit ku dan kamu harus anterin dulu sampai depan pintu unit ku", aku membuat kesepakatan.


Dan akhirnya aku dan Selim pun sampai di depan pintu unit ku.


Setelah kunci pintu ku buka, Selim pun ku persilahkan untuk masuk.


"Selim kamu duduk dulu di situ", aku menunjuk ke sebuah sofa di ruang tamuku.

__ADS_1


Aku pun pergi ke dapur untuk mengambil segelas air untuk Selim.


Ku nyalakan televisi dengan volume kecil dan juga ku taruh segelas air di atas meja di depan sofa yang Selim duduki.


"Ayo tunggu apalagi cepetan cerita Dilara",Selim menagih janji ku.


Sebenar nya aku ragu untuk menceritakan nya, tapi aku sudah janji pada Selim.


Dan akhir nya aku pun terpaksa bercerita.


"Jadi sebenar nya saat itu aku telpon kamu karena ada laki laki yang mengikuti ku sampai depan pintu unit",aku mencoba menjelaskan sedikit sedikit.


"Apa?? kamu yakin laki laki itu mengikuti mu?? apa kamu kenal siapa laki laki itu Dilara",Selim kaget mendengar ceritaku.


"Gak tahu soal nya wajah nya tertutup masker dan dia memakai topi",aku menjelaskan.


"Apa yang laki laki itu lakukan padamu??, apa laki laki itu melukai mu Dilara",Selim panik.


"Ya waktu itu dia mengikuti mulai dari masuk lift sampai depan pintu unit ku, dia mencoba menarik tanganku, tapi dia kabur setelah aku berhasil menangkis tangan nya, aku telpon kamu hanya untuk memastikan laki laki itu benar benar sudah pergi",aku menjelaskan kejadian nya.


"Apa yang dilakukan laki laki itu sudah termasuk keriminal Dilara, kita harus segera melaporkan nya", Selim panik.


Aku hanya mengangguk, setelah mendengar semua yang dikatakan Selim benar.


Tapi entah kenapa aku merasa ketakutan sekali dan itu membuatku merasa ingin menangis, tak terasa air mataku mengalir membasahi kedua pipiku.


Saat Selim melihatku sedang menangis, dengan refleks Selim memelukku.


Entah mengapa saat aku berada dalam pelukan Selim, aku malah menangis sejadi-jadinya sampai sesegukan.


"Kamu tenang ya Dilara, sekarang kan kamu gak sendiri ada aku dan aku pastikan akan selalu berusaha menemanimu, akan mencoba berusaha untuk selalu ada untuk mu",Selim menepuk-nepuk punggungku.


"Tapi menurutku gak perlu melaporkan nya, karena aku baik baik saja dan sekarang pun tidak terjadi apa apa",aku meyakinkan Selim.


"Ok kita gak usah melaporkan nya, tapi aku harus selalu yang anterin kamu sampai depan pintu unit mu, jika kamu pulang dari manapun saa larut malam",Selim menajukkan syarat.


"Ok",aku mengangguk menyetujui syarat yang di ajukan Selim.


"Apa kamu sebelum nya pernah punya musuh Dilara?, atau kamu pernah menyakiti seseorang sehingga orang tersebut dendam dan meneror mu",Selim mencoba menebak.

__ADS_1


"Ya aku punya mantan dan sampai sekarang dia gak terima kalau hubungan kita sudah putus, dia beberapa kali minta terus balikan. Tapi saat kejadiannya dia sedang jaga malam di rumah sakit",aku menjelaskan.


"Kita tidak tahu apakah apa yang dikatakan mantan mu benar atau tidak. Untuk mengetahui kebenaran nya kita harus bertanya pada pihak rumah sakit tempat mantan mu bekerja",Selim memberi saran.


"Aku belum memastikan nya, aku percaya padanya begitu saja",aku berkata.


"Apa akhir-akhir ini ada orang yang mencurigakan di sekitar apartemen, atau ada orang lain yang mengalami hal yang sama dengan mu?",Selim terus mengintrogasiku.


"Aku gak tahu, aku tak begitu memperhatikan orang-orang di sekitar saat aku berpapasan dengan mereka",aku menjelaskan.


"Apa kamu mengingat sesuatu yang terlupakan dari teror sms yang kamu terima kemarin?",Selim mengingatkan.


"Sepertinya orang yang meneror ku ini kenal aku, karena dia tahu namaku",aku berkata.


"Sekarang coba kamu hubungi lagi nomornya Dilara",Selim memberi saran.


Aku pun menuruti saran Selim untuk menghubungi nomor yang meneror ku.


Tapi setelah ku coba sampai 3 kali, dia mengangkat telpon nya tapi tak pernah bicara.


"Apa mungkin yang meneror itu temen kamu, dia coba ngeprank kamu untuk kejutan ulang tahun mungkin",Selim terus mencoba menebak semua kemungkinan.


"Enggak, ulang tahun ku masih dua bulan lagi masih lama",aku membantah nya.


"Ya sudah nanti kita pikirkan lagi masalah ini, semoga saja tak ada lagi yang meneror kamu",Selim menghiburku.


"Aamiin",aku mengamiinkan doa Selim.


"Sekarang aku pulang dulu, jangan lupa kunci pintu dan satu lagi, telpon aku kalau terjadi sesuatu",Selim berpamitan.


Saat Selim melangkah kan kaki nya menuju pintu dia tiba-tiba membalikkan badan nya.


"Haruskah aku menemani mu disini sampai kamu tertidur Dilara?",Selim menawarkan diri.


"Gak usah, nanti kamu kemalaman pulang nya",aku menolak.


"Tapi aku khawatir kamu gak bisa tidur semalaman",Selim terus mengkhawatirkan ku.


"Gak.Kalau pun aku gak bisa tidur, aku tinggal minum obat tidur saja. Aku gak mau merepotkan mu dan sebaik nya kamu pulang saja sekarang",aku mengusir Selim.

__ADS_1


Dengan berat hati Selim pun meninggalkan ku dan pulang.


__ADS_2