
Pagi hari di apartemen ku.
Saat aku sedang duduk di meja makan menikmati sarapan pagi, hp ku berbunyi.
"Halo Dilara, Selim semalam ngamuk lagi, dia ngacak-ngacak kamar dan pintu kamar nya di kunci dari dalam, Dialara kamu harus datang ke rumah Selim sekarang juga, kamu harus bertanggung jawab, pasti gara-gara kamu kan Selim ngamuk lagi?",Rosa bicara di balik telpon.
"Oke aku akan mampir ke rumah Selim sebelum pergi ke kantor",aku menimpali.
Rosa mengakhiri panggilan nya.
Aku merasa bersalah pada Selim, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Selim sebelum berangkat kerja.
Hari ini aku memakai kemeja putih panjang dan blezer hitam, pencil skirt hitam serta sepatu wedge hitam.
Akhirnya aku sampai di depan rumah Selim setelah 15 menit perjalan naik taxi.
"Permisi bu, apa Selim ada di rumah?",aku bertanya pada seorang ibu paruh baya yang sedang menyapu teras rumah Selim.
"Oh mas Selim ada dikamar nya, mbak ini siapa ya?",ibu paruh baya itu bertanya.
"Saya temen nya Selim, nama saya Dilara",aku menyodorkan tangan.
Ibu paruh baya itu pun menjabat tanganku.
"Saya bi Minah asisten rumah tangga disini, silahkan masuk dan duduk mbak Dilara",bi Minah mempersilahkan.
"Selim nya dimana bi?",aku bertanya.
"Mas Selim ada dikamar nya, dari kemarin sore mas Selim gak keluar-keluar, kamar nya di kunci dari dalam",bi Minah bercerita.
"Emang kenapa bi, kok Selim seperti itu?",aku bertanya.
__ADS_1
"Seperti nya mas Selim kemarin itu habis bertengkar sama pacar nya, mas Selim nyampe rumah ngacak-ngacak barang, sudah dua kali kejadian seperti ini?",bi Minah menjelaskan.
"Bibi tahu siapa pacar nya Selim?", aku pura-pura bertanya.
"Enggak, kalau bibi tahu siapa pacar nya mas Selim, sudah bibi marahin tuh pacar nya, tega banget pacar nya sama mas Selim, bibi kira mbak Dilara ini pacar nya",bi Minah kesal.
"Kamar Selim dimana bi?",aku bertanya.
"Mba Dilara mau mendatangi nya? kamar nya di lantai dua, dari tangga belok kanan. Coba saja mbak Dilara bujuk soal nya kasian dari kemarin belum makan",bi Minah menyarankan.
Aku pun naik menuju lantai dua rumah Selim.
"Tok, tok, Selim buka pintu nya, ini aku Dilara",aku mengetuk pintu kamar Selim.
Selim membuka pintu kamar nya, dia pergi mencuci muka ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.
Saat aku masuk ke dalam kamar, aku terkejut melihat banyak sekali barang-barang yang yang tergeletak di lantai dan di atas kasur.
Selim keluar kamar mandi, dan duduk di sofa di samping ku.
"Kemarin aku bilang apa Selim?, kalau marah jangan ngacak-ngacak barang",aku kesal.
"Aku gak mau putus sama kamu, Dilara",Selim mencengkram kedua tangan ku.
"Hahaha, kamu lucu ya Selim",aku tak bisa menahan tawa.
"Dilara kok kamu ketawa sih, aku serius",Selim cemberut.
"Kamu yang bilang sendiri putus kemarin, tapi sekarang gak mau putus, itu kan lucu",aku ngeledek Selim.
"Aku ingin selamanya memiliki mu, tapi karena kamu bareng terus sama Dikra, aku jadinya emosi",Selim menjelaskan.
__ADS_1
"Kamu harus nya percaya sama aku, Selim",aku terbawa emosi.
"Percaya apa Dilara?",Selim bertanya.
"Walau pun aku deket sama Dikra, tapi aku sayang sama kamu",aku menjelaskan.
"Apa?, coba katakan sekali lagi Padaku Dilara",Selim menggodaku.
"Cup"aku menjawab keraguan Selim dengan mencium kening nya.
"Aku sekarang percaya, kalau kamu sayang sama aku",Selim tersenyum dan mengelus rambut ku.
"Arghh dasar ya kamu Selim, jadi kalau kamu lagi marah dan merajuk, agar kamu gak marah lagi aku cukup mencium mu, itu mau mu Selim?",aku kesal.
"Ya benar, simpel kan Dilara, kamu gak perlu membuang tenaga untuk berdebat dengan ku saat ku marah",Selim tersenyum licik.
"Aku harus berangkat ke kantor sekarang, nanti aku telat",aku bergegas keluar dari kamar Selim.
"Apa kamu gak buatin aku sarapan dulu Dilara?",Selim mengikuti dibelakangku.
"Kapan-kapan saja, sekarang aku harus segera berangkat kerja",aku mempercepat jalanku.
Saat aku sedang berjalan menuju pintu, Selim mendahului dan menghalangi jalanku.
"Cup, cup, hati-hati di jalan, hari ini aku gak bisa mengantarmu pergi ke kantor Dilara",Selim mencium kedua pipiku.
"Oke gak apa-apa, kamu hari ini masuk kerja kan Selim?",aku bertanya seraya pergi menuju halaman rumah Selim.
"Ya aku kerja hari ini", Selim menimpali.
Aku bergegas pergi, berjalan menuju jalan depan rumah Selim untuk menunggu taxi lewat.
__ADS_1