Cinta Diktator

Cinta Diktator
Kekhawatiran


__ADS_3

Cring, pintu lift terbuka sampai di lantai tujuan.


"Akhirnya sampai juga." aku bisa bernapas lega.


Akupun keluar lift dengan langkah tergesa.


"Kenapa laki-laki tadi terus mengikutiku, mungkin dia tinggal di lantai yang sama denganku." Aku mencoba positif thinking,


"Bukankah semua penghuni di lantai yang sama denganku semuanya perempuan." aku baru menyadarinya.


"Kalau lewat jam 21:00 tamu dari luar enggak boleh masuk kecuali urgent, jadi siapa laki-laki yang terus mengikutiku ini?" jantungku berdegup kencang, "Tenang Dilara, tenang." Aku menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diriku sendiri.


Tiba-tiba laki-laki yang mengikutiku itu menarik tanganku, dan tanganku refleks menangkis tangannya.


Tidak berpikir panjang lagi, aku merogoh ponsel dari kantong celanaku dan aku tekan angka 1.


Laki-laki tadi terus berjalan mengikutiku.


Dengan jalan setengah berlari aku mendekatkan ponsel, ketelingaku berharap orang yang aku hubungi menjawab.


"Tolong aku, aku di lantai 6 no 4." aku berbicara setengah berbisik.


Dia mencoba merebut ponsel yang sedangku pakai, namun tidak berhasil.

__ADS_1


Dia terus mengikutiku sampai ke depan pintu unitku. Beberapa langkah lagi aku sampai di depan pintu unitku, setelah sampai aku langsung menekan password unitku dan masuk.


Di depan loby.


Tidak berpikir lama lagi Selim yang mendapat panggilan masuk di ponselnya, langsung bergegas turun dari mobil dan lari menuju lantai 6.


Aku terduduk lesu di balik pintu unitku, baru tersadar kalau ponselku masih tersambung.


"Halo Dilara?" Terdengar suara dari ponselku, "Apa yang terjadi?" Dia masih berbicara, "Kenapa kamu diam saja?" dia bertanya, "Kamu baik-baik saja?" dia tak henti-hentinya bicara, "Aku segera kesana, jangan tutup telponnya." Sekarang tak terdengar lagi suara dari ponselku, hanya terdengar suara orang berlari.


Dia naik lift menuju lantai 6, beberapa saat kemudian sampai di lantai 6. Matanya dengan teliti mencari unit nomor 4, hanya butuh beberapa detik untuknya menemukan pintuk yang tertulis angka 4 dengan refleks dia menekan belnya.


Sekali bel berbunyi, aku belum mau membuka pintunya. Dia menekan bel yang kedua kali nya, namun aku enggak membuka pintunya juga.


"Dilara, apa kamu di dalam?" dia menempelkan telinganya ke pintu, "Buka pintunya, ini aku selim." Dia berteriak dan terlihat akan mendobrak pintunya.


Akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintunya, tapi tak berani memperlihatkan diriku yang sedang gemetaran.


Di balik pintu, aku merapihkan penampilanku yang sedikit berantakan karena panik dan mengelap air mataku yang sempat menetes.


"Aku baik baik saja." Aku berbicara sambil bersembunyi di balik pintu, hanya kepalaku saja yang terlihat keluar.


"Benar kamu baik baik saja?" Dia memperhatikan wajahku, "Tapi raut wajahmu menunjukan kalau kamu tidak baik-baik saja." dia mengkhawatirkan ku.

__ADS_1


Selim mencoba mendorong pintunya agar terbuka sedikit lebih lebar.


Namun tanganku menahannya.


Dengan kaki yang masih lemas dan tangan gemeteran aku berbicara di balik pintu.


Aku benar-benar baik-baik saja" aku berbohong, "Tidak ada yang terjadi, tadi aku hanya iseng."


"Kamu tidak sedang berbohong kan Dilara?" Selim tidak percaya dengan pengakuanku.


"Apakah kamu tahu maksud seorang perempuan minta nomor ponsel laki-laki duluan?" Aku membohinya lagi, "Itu buat iseng, sama aku juga iseng melakukannya."aku berkilah.


"Jadi sekarang kamu pulang saja, aku ngantuk, mau bobo." akupun pura-pura menguap agar meyakinkan.


"Maaf aku sudah iseng, jd aku berhasil membuatmu panik." aku tersenyum mencoba mencairkan suasana.


"Apa menurutmu lucu?" Selim berteriak, "Apa lucu membuatku serangan jantung?" Selim tersenyum kecewa.


"Apa kamu marah?" Aku berpura-pura tak terima, "Aku tadi sudah meminta maaf, jadi itu terserahlah, kamu berhak marah." aku pasrah,


"Aku masuk dulu, kalau sudah sampai kabarin aku, oke Selim."aku berlalu dan menutup pintu nya.


Setelah menunggu beberapa saat, aku membuka pintuku kembali untuk memastikan Selim tak ada di depan pintu.

__ADS_1


"Selim sudah tak ada lagi di depan pintu, sepertinya dia sudah pergi " aku merasa lega.


Meskipun aku menyesal telah membohonginya. Aku merasa telah membuatnya benar-benar akan mengalami serangan jantung.Tapi aku enggak bermaksud seperti itu, aku enggak ingin membuatnya khawatir.


__ADS_2