
Tiba-tiba Karina datang ke kantor menenteng sebuah paper bag di lengannya.
Dia mendatangi ruangan kerja anaknya.
"Apa ini mah?" Selim membuka paper bag tersebut.
Paper bag tersebut berisi kemeja winchester shirt berwarna biru.
"Besok malam di rumah mamah ada acara makan malam bersama," ujar Karina, "Jadi besok malam kamu datang ke rumah jam 19:00 dan pakailah kemeja itu," kata Karina.
"Apa ini makan malam spesial?" tuding Selim, "Sehingga mamah membelikan baju untukku pakai," tanya Selim.
"Sangat spesial untuk mamah dan kamu juga." ujar Karina.
"Sangat spesial karena kamu akan mamah jodohkan dengan wanita pilihan mamah," gumam Karina.
"Oke mah aku pasti datang," ucap Selim. Selim merasa senang mendapat undangan makan malam, dia tersenyum pada Karina .
Karena ibunya selama ini tak membolehkan Selim datang ke rumah begitu saja tanpa seizinnya.
Meskipun Selim selalu ingin datang menemui ibunya setiap saat meski hanya untuk menyapanya.
"Ingat besok kamu datang sendiri," sentak Karina, "Jangan ajak yang lain soalnya ini makan malam keluarga." jelas Karina.
Setelah merasa urusannya selesai, Karina pergi dari ruangan kerja Selim.
"Andai saja aku besok bisa mengajak Dilara juga dan bisa memperkenalkan kepada semuanya," gumam Selim.
Dia hanya bisa menghela napas, menyayangkan keputusan ibunya.
Pada saat bersamaan Selim teringat padaku dan langsung menghubungiku.
"Halo Dilara, nanti pulang kerja aku jemput." Selim menawarkan diri.
"Oke, kamu tunggu saja di parkiran depan kantorku." pintaku.
"Akhirnya tiba waktu untukku pulang kerja," gumamku.
Aku menggeliat mengendorkan rasa pegal di tubuhku.
Saat aku samapi ke parkiran, aku melihat Selim sudah menunggu untuk menjemputku.
Di saat yang sama ketiga teman kantorku melihatku dan Selim, mereka menghampiri kita berdua.
"Dilara kamu di jemput siapa?"
"Apakah dia pacarmu?" tanya Jihan.
"Perkenalkan dia Selim, pacarku," kataku.
Selim tersenyum kepada Jihan.
"Akhirnya sekarang kami tahu juga pacarmu," goda Apri, "Aku kira kamu enggak punya pacar," ujar April.
"Ternyata selama ini kamu menyembunyikannya pada kami," sindir Jihan, Dia menyenggol tanganku.
"Tapi ada benarnya juga kamu menyembunyikannya, kalau enggak Diana bisa menggodanya," komentar April.
"Sepertinya bukan Diana saja yang akan menggoda pacarku, buktinya sekarang kalian sedang menggodanya." candaku, Membalas perkataan mereka.
"Kamu tahu saja Dilara." Diana angkat bicara.
"Aku sama Selim pamit, pulang duluan,"pamitku, "Aku melambaikan tangan pada mereka."
Mereka kompak menjawab "Daah, hati-hati di jalan." Mereka membalas melambaikan tangan.
Di perjalan pulang dari kantor aku dan Selim ngobrol.
"Bagaimana kerjaanmu di kantor, lancar?" tanyaku
"Alhamdulillah lancar, hari ini di kantor banyak yang harus aku kerjakan," ucapnya, "Nanti aku enggak mampir lansung pulang ke rumah," katanya.
"Enggak biasanya kamu minta langsung pulang, Apa kamu ada urusan lain?" tebakku.
__ADS_1
"Mamah memintaku datang malam ini untuk makan malam di rumahnya," jelasnya
"Oh itu bagus, kamu bisa berkumpul dengan keluarga," jawabku.
"Kenapa Selim enggak mengajakku?"
"Apa dia enggak mau memperkenalkanku dengan keluarganya?" gumamku.
Akhirnya kita sampai di apartemen dan Selim menurunkanku di parkiran.
Selim melanjutkan perjalanan pulang kerumahnya.
Tiba saatnya Selim pergi ke rumah ibunya untuk makan malam.
Selim memakai kemeja yang kemarin di berikan ibunya.
Setelah Selim sampai di rumah Karina, dia tak melihat satupun orang seningga dia berinisiarif mencari keberadaan kedua adiknya.
Akhirnya Selim menemukan kedua adiknya Rosa dan Wita yang pada saat itu keduanya sedang berada di taman belakang rumah.
Wita kaget melihat Selim datang dengan penampilan yang berbeda dari biasa nya.
"Kak Selim rapih banget malam ini, kemeja yang kakak pakai juga cocok banget," puji Wita.
"Oh ya, kemeja ini mamah yang belikan," ungkap Selim.
"Apa kakak tahu kalau makan malam kali bukan malam biasa?" papar Rosa,
"Sampai mamah sendiri yang membelikan baju untuk kakak pakai malam ini."
"Mungkin kalau kakak tahu, ada maksud lain di acara makan malam, kakak enggak akan datang kesini," tuding Rosa
"Maksud kamu bukan makan malam biasa apa Rosa?" tanya Selim.
"Asal kakak tahu, mamah bikin acara makan malam ini kali untuk menjodohkan kakak dengan wanita pilihan mamah," beber Rosa.
"Kak Selim, kakak jangan salah paham sama mamah," pinta Wita.
"Mamah kemarin bilang padaku, cuma ingin memperkenalkan
"Dasar anak kecil, percaya saja kamu di bohongi sama mamah," sambung Rosa.
"Awalnya memperkenalkan pada kak Selim, tapi ujung-ujungnya mamah ingin kak Selim menikah dengan wanita itu," tuding Rosa.
"Kalau benar seperti itu sebaiknya kak Selim sekarang juga kabur saja," saran Wita.
"Percuma kalau sekarang kak Selim kabur, itu akan membuat mamah marah," duga Rosa.
"Terus sekarang apa yang harus kak Selim lakukan?" rengek Wita
"Sekarang kak Selim terpaksa harus mengikuti aturan main mamah," anjur Rosa.
"Kenapa kamu baru memberi tahu kakak sekarang tentang perjodohan ini," debat Selim.
"Apa kamu sengaja bersekongkol dengan mamah?" tuding Selim.
"Mamah pasti akan memarahiku kalau aku memberi tahu kakak," duga Rosa.
"Karena hanya aku yang tahu kalau kakak akan di jodohkan," bela Rosa.
"Apa kamu takut mamah tidak memberi mu uang jajan kalau dia memarahimu Rosa?" bentak Selim.
"Kak Rosa jahat, kalau aku tahu pasti aku sudah kasih tahu kakak," bela Wita
"Dasar penjilat," tuduh Rosa,
Rosa marah dan memukul Wita.
"Rosa kamu jangan kasar pada adikmu," bela Selim.
Selim menenangkan wita dengan mengusap-usap rambutnya.
"Kakak juga sama saja pura-pura nurut sama mamah," tuding.
__ADS_1
Terdengar suara ramai dari dalam rumah.
"Kak Selim, kak Rosa ayo kita masuk, sepertinya tamunya sudah datang," ajak Wita pada kedua kakaknya.
Benar saja saat mereka sampai di dalam rumah ada dua orang yang datang, mungkin ini tamu yang ibunya Selim maksud.
Mereka semua akhirnya mengobrol di ruang tamu sambil menikmati cemilan sebelum sampai ke acara intinya.
Di ruangan itu sekarang sudah ada Karina ibunya Selim, kedua adiknya Rosa dan Wita, dua orang tamu perempuan dan juga Selim sendiri.
Ibu nya Selim memulai percakapan.
"Jadi begini Selim, mamah pernah bilang punya calon untukmu dan akan di kenalkan padamu," tutur Karina.
"Jadi makan malam kali ini mamah mau memperkenalkannya sama kamu," ungkap Karina.
Dan ini dia wanita cantik yang akan jadi jodoh kamu," ujar Karina.
Wanita berambut lurus berwarna coklat, memakai baju lengan terbuka selutut dari kain satin berwarna darknes green itu memperkenalkan dirinya.
"Hei Selim, senang berkenalan dengan mu.
Nama ku Azalea panggil saja aku Lea," ucap Lea, "Dan yang di samping ku ini ibuku, Dian," tutur Lea.
"Lea ini anak bungsunya tante Dian, dia anak yang pintar, bisa menyelesaikan kuliah S1 kurang dari empat tahun," tutur Karina.
"Dia sekarang menjabat sebagai manager di perusahaan ayahnya," puji Karina.
"Jadi gimana Selim, tanggapan kamu mengenai Lea, apa kamu menyukainya," tanya Karina
"Aku sudah punya pacar, mamahkan tahu sendiri," ungkap Selim.
Selim merasa kesal pada ibunya karena akan di jodohkan.
"Selim maksud kamu Dilara?" tanya karina, "Mamah tidak setuju kamu pacaran dengannya," tegasnya.
"Kamu itu hanya cinta sesaat sama Dilara," bentak Karina.
"Aku dari awal serius sama Dilara, aku berniat menikahinya," sanggah Selim.
Selim kecewa dengan perkataan ibunya.
"Untuk saat ini Selim belum memiliki perasaan pada Lea," ujar Karina,
"Mungkin harus lebih saling mengenal dulu, jadi itu semua perlu waktu," tutur Karina.
"Pada akhirnya antara kamu dan Lea akan saling mencintai," duga Karina.
"Betul apa yang dikatakan bu Karina harus ada pendekatan dulu diantara keduanya," ucap Dian.
Dian ibunya Lea sependapat dengan apa yang di katakan Karina ibunya Selim.
"Sepertinya sekarang sudah waktunya makan malam, dan makanan juga sudah siap," tutur Karin,
"Ayo bu Dian, Lea kita ke meja makan," ajak Karina.
Akhirnya sampailah ke acara inti hari ini makan malam bersama.
Telah tersaji beberapa makanan diatas meja.
"Pada saat itu mereka makan dengan serius tak ada satupun diantara mereka yang bicara di meja makan.
Akhiakan malam selesai juga dan mereka kembali lagi mengobrol di ruang tamu.
"Mah aku akan langsung pulang saja, aku capek mau istirahat," tutur Selim,
"Kenapa kalau lagi di rumah mamah, kamu suka ingin cepat pulang?" tanya Karina.
"Mamah aku ke sini cuman untuk makan malam sama mamah dan adik-adik ku, makan malam keluarga," jawab Selim,
"Kenapa sekarang ada orang lain juga," debat Selim.
Selim beranjak dari kursinya dan bergegas pergi.
__ADS_1
"Tunggu Selim," teriak Karina, "Kamu mau pergi kemana?" pekik Karina.