Cinta Diktator

Cinta Diktator
Titik terendah.


__ADS_3

Ternyata seminggu terakhir ini ibunya Selim, menyuruh seseorang untuk mengikutinya dan melaporkan semua hal yang terjadi pada Selim.


Kabar Selim putus pun ibunya sudah mengetahuinya.


Tak pikir panjang lagi, bagi ibunya ini adalah kesempatan untuk melanjutkan perjodohan Selim dengan Lea ke tahap selanjutnya.


Di sisi lain keadaan Selim saat ini setelah seminggu yang lalu putus mentalnya tidak setabil. Selama seminggu terakhir dia sering melamun, tatapan matanya terlihat seperti kosong.


Saat ibunya meminta Selim untuk bertunangan dengan Lea, dia tak menjawab hanya raut wajahnya saja yang terlihat kesal sekaligus sedih.


Tiga hari kemudian pertunangan pun tiba, Selim merasa ini sudah yang kesekian kalinya ibunya membunuh kebahagian sekaligus masa depannya.


Selim memakai kemeja maroon dan jas single breasted berwarna hitam yang tidak di kancingkan. Baju, jas, sepatu semua yang Selim kenakan untuk pertungannya semuanya di siapkan oleh ibunya termasuk cincin berlian yang akan di sematkan Selim di jari manis Lea.


Selim menolak berangkat menuju acaranya memakai supir, Selim memilih mengendarai mobilnya sendiri.


Acara pertunannya diadakan di rumah Lea, lebih tepatnya dihalaman belakang rumah Lea. Acaranya bertema outdoor dengan dekorasi bunga hidup.


Lea sangat cantik dan sexi memakai gaun jenis mermaid cut out waist strepless red dengan rambut yang di sanggul sederhana dan bando yang terbuat dari batu-batuan mulia sebagai aksesoris sanggulnya.


Saat semua persiapan acaranya sudah siap, kedua keluarga besar sudah berkumpul dan sudah sampai waktunya ke acara inti yaitu pemasangan cincin.


Tapi ternyata Selim sebagai pasangan pria dari wanita yang akan bertunangan malam ini belum datang.


Semua orang di acara tersebut menanyakan keberadaan Selim.


Akhirnya Selim muncul dan dia langsung memakaikan cincin berlian di tangan kiri jari manis Lea, setelah itu Selim langsung pergi begitu saja, dia berniat meninggalkan acaranya.


Tapi Lea mengejarnya, saat keduanya sudah berjalan jauh dari kerumunan orang yang datang di acara tersebut, Lea menampar Selim tanpa sepatah katapun dia pergi kembali berbaur dengan yang lain.


Sedangkan Selim terus berjalan pergi menuju tempat mobilnya di parkir, meski sebelumnya sempat tertegun karena tamparan tangan Lea yang membuat pipi kanannya berubah warna sedikit kemerahan.


Selim marah karena Lea menamparnya, dia membuka jas yang di pakainya dan membantingnya ke jok samping kemudi.


Kabar pertunangan Selim pun sampai ketelingaku, pada saat itu sehari sebelum acara pertunangannya aku mendapat telepon dari Wita adik tirinya Selim, dia memberi tahu bahwa Selim akan bertunangan dengan Lea.


Wita juga mengundangku untuk datang ke acara pertunangan itu.


Aku memutuskan untuk tidak menghadiri acara pertunangannya dan lebih memilih untuk pergi ke rumah kak Yusuf ke Bogor di antar taxi.


Setelah beberapa saat aku berkendara, kurang lebih 1 KM lagi aku sampai ke rumah kak Yusuf di dalam taxi aku menangis, karena aku tidak bisa menahannya lagi.


Sesaat setelah sampai di depan halaman rumah kak Yusup, aku berlari sambil menangis menuju ke depan pintu.


Aku langsung merangkul Kak Mayang, setelah dia membukakan pintu untuk ku.


Dengan raut wajah gelisah Kak Mayang bertanya "Kenapa kamu menangis Dilara? Apa telah terjadi sesuatu padamu?" tanya kak Mayang.


"Nanti malam Selim akan bertunangan dengan orang lain," kataku.


"Selim bertunangan? bukannya kamu dengan dia masih pacaran?" tanya kak Mayang.


Kak Mayang mengajakku duduk di ruang tv, dan kak Yusuf juga ada disana sedang mengajak adam bermain.


"Aku sudah putus dengan Selim seminggu yang lalu," jawabku.


"Kamu dan Selim kelihatannya saling mencintai, apa ada masalah diantara kalian berdua?" tanya kak Mayang.

__ADS_1


"Karena kamu selingkuh dengan teman sekolahmu Dilara?" tuduh kak yusuf.


"Enggak kak bukan karena itu aku putus. Aku deket sama temen sekolahku, itu cuman akal-akalan aku saja biar bisa putus dengnnya," jawabku.


"Haruskah kamu waktu itu membawa-bawa kakak juga dalam strategi putusmu, apakah itu agar dapat meyakinkan Selim?" tanya kak yusuf.


"Ya kak, karena Selim tak terima jika alasannya hanya karena ibunya tak setuju kami pacaran.


Selim bilang padaku dia akan merasa lebih menderita kalau aku putus dengannya.


Tapi aku lebih enggak tega lagi kalau Selim harus sering bertengkar gara-gara aku, dan sesekali ibunya melakukan kekerasan padanya," kataku.


"Jika itu sudah keputusanmu kamu harus bisa menerimanya, mungkin ini jalan terbaik untuk kamu dan Selim.


Jadi mulai sekarang kamu berusaha melupakannya, apalagi sekarang Selim sudah bertunangan." tutur kak Yusuf.


Aku pun hanya bisa menangis di pangkuan Kak Mayang, hingga tertidur di sofa ruangtamu. Aku baru terbangun saat handphone ku berdering, dan ternyata Selim yang menelponku.


"Halo, kamu dimana Dilara? Bisakah kamu sekarang keluar? Aku di depan pintu apartemenmu.


Ternyata setelah Selim berputar-putar gak jelas dengan mobilnya, dia memutuskan untuk datang menemuiku.


"Aku sekarang sedang di rumah kakak ku di Bogor. Bagaiman acara pertunangannya lancar?" tanyaku.


"Oooh kamu sudah tahu kalau aku baru saja bertunangan? Jadi kamu pergi ke Bogor untuk mengadukanku ke kakakmu?" tanyanya.


"Ya aku harus memberitahu kakakku bahwa, seorang Selim Zayn Ibrahim itu mudah sekali move on" ledekku.


"Kamu jangan asal menuduhku Dilara shafiya, aku sekarang juga akan ke Bogor untuk menjemputmu, aku akan menjelaskan semuanya padamu," jelasnya.


"Bagaimana perasaan Lea kalau baru saja bertunangan, tapi tunangannya langsung menemui perempuan lain?" tanyaku.


"Gak usah Selim, aku mau menginap dua hari di rumah kakakku, aku nanti pulang sendiri," kataku.


"Ok kalau kamu bisa pulang sendiri, tapi kamu harus janji saat aku datang untuk menemui mu, kamu harus mau menemuiku," kata Selim.


"Ya aku janji," jawabku lagi.


Selim pun mengakhiri panggilannya.


Pada minggu malam saat aku baru saja mau membaringkan tubuhku di kasur, bel apartemenku berbunyi.


Aku beranjak untuk membukakan pintu.


"Hai!" Sapa Selim padaku. Kamu masih ingatkan janjimu kemarin ditelepon?" tanya Selim.


"Ya masuklah," kataku.


Aku dan Selim duduk berhadapan di ruang tamu apartemenku.


"Kapan kamu kembali dari Bogor?" tanya Selim.


"Tadi sore kurang lebih pukul 5 aku sampai," jawabku.


"Dilara aku lapar, bisakah kamu buatkan makanan untukku?" tanya Selim.


"Apakah enggak ada yang memberimu makan?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku malas makan, aku ingin makan masakanmu" jawabnya.


"Kenapa cincin tunangannya tak kamu pakai?" tanyaku.


"Aku lupa tidak memakainya lagi, setelah tadi aku mandi," jawab Selim.


Setelah mendengar jawaban Selim aku mengurungkan niatku untuk memasak makanan untuknya dengan alasan capek.


Karena merasa kecewa padaku akhirnya Selim pergi.


Di kantor Selim.


Lea pagi-pagi datang membawakan Selim sarapan ke kantornya, Lea marah-marah karena semenjak Selim pergi begitu saja dari pertunangan setelah memakai cincin dijari manisnya, dari hari itu sampai detik ini Selim tak pernah membalas chat Lea ataupun menerima telepon darinya.


Lea pun masuk ke ruangan Selim.


"Makanlah ini aku buat sendiri khusus buat kamu," kata Lea.


Lea menyodorkan sebuah kotak makanan yang berisi kimbab, Selim bisa melihat isinya tanpa membukanya karna itu transparan.


"Aku tak suka kimbab." jawab Selim.


Sebenarnya Selim menyukainya, tapi karena Lea berbohong tentang kimbab itu bikinannya, karena terlihat bahwa kotak itu kemasan dari toko.


"Makanlah sedikit saja." Lea membuka kotak tersebut, agar Selim memakannya.


"Jangan memaksaku Lea, aku enggak mau," jawab Selim.


"Kamu tak menghargaiku Selim." Lea membuang kotak yang berisi kimbab tersebut ke dalam tong sampah yang ada di ruangan tersebut.


"Kenapa kamu membuang makanannya Lea?" tanya Selim.


"Terserah aku dong, karena makanan ini milikku!" jawabnya.


Sejam kemudian setelah Lea pergi, sekarang giliran ibunya Selim yang datang ke ruangan kerjanya.


Dia tiba-tiba datang dan langsung memukul dada dan wajahnya beberapa kali dengan tas jinjing yang dibawa ibunya.


"Dasar anak sialan!


Hari ini aku sedang sibuk, kamu terus saja merepotkanku. Apa aku harus mengurusimu terus?


Kamu gak usah bekerja lagi, aku gak butuh uangmu, aku akan mengembalikan semua uang yang telah kamu berikan padaku," bentak ibunya.


Terlintas bayangan dulu saat ayahnya meninggalkan dia dan ibunya. Karena waktu itu Selim masih kecil dia hanya bisa mengandalkan ibunya.


Setiap pagi dan siang hari dia hanya makan nasi putih dan telur ceplok bikinannya sendiri, karena ibunya berangkat kerja saat dia masih tertidur dan sering pulang larut malam.


"Aku takut kelaparan, jika aku tidak bekerja." jawab Selim.


"Kamu tak perlu bekerja, menikahlah dengan Lea dan buat dia bahagia, hidupmu pasti senang.


Mamah tahu kalau kamu suka uang dan gak mau hidup sengsara, buktinya saat ayahmu memberimu setengah kekayaannya kamu langsung memaafkan kesalahannya begitu saja dan sekarang kamu malah membenci mamah, padahal mamah yang selalu ada di sampingmu dan juga mengurusmu," ungkapnya.


"Aku membenci mamah bukan kerana mamah tidak memberiku uang, tapi aku benci mamah karena mamah membuatku selalu dikasihani dan disepelekan orang lain dari dulu hingga sekarang.


Aku dibicarakan teman-temanku dan pekerja kantorku, kalau aku selalu dipukuli oleh mamah dan akhirnya aku tak punya kebanggaan lagi terhadap diriku sendiri." jawab Selim.

__ADS_1


Ibunya Selim membalas perkataan Selim dengan mengacak-acak kertas-kertas termasuk semua yang ada di meja kerjanya Selim.


Setelah merasa puas Ibunya pun pergi meninggalkan Selim yang menahan tangis di ruangan yang berantakan.


__ADS_2