
Flashback off.
Pesananku datang, aku dan Selim menyantap makanan nya sambil berbincang.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sehingga tadi bisa bertemu dengan mantan pacarmu disini?" tanyanya.
"Temanku memintaku untuk menemaninya pergi ke butik, dan aku manurutinya." aku menjelaskan,
"Setelah aku sampai di butik, dan menunggu 30 menit temanku tak kunjung datang, tiba-tiba datang Dafa dan bilang kalau temanku enggak bisa datang, Dafa yang menggantikannya." aku menjelaskan kronologinya,
"Mungkinkan temanmu dan Dafa bekerjasama untuk melakukan ini padamu?" Selim menyimpulkan dari ceritaku.
"Apakah yang dikatakan Selim benar?" terkaku, "Apa mungkin temanku sengaja melakukannya?" pikirku.
"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya. Selim menepuk pundakku menyadarkanku dari lamunan.
"Enggak, aku enggak melamun," bantahku, "Sebaiknya aku pulang sekarang, mumpung masih sore," saranku.
"Oke kamu pulang bareng aku saja, aku juga mau pulang," ajaknya.
"Enggak usah Selim, bukannya kamu harus kumpul bersama temanmu?" aku menolak.
"Aku sudah bilang ke mereka, kalau ada urusan dan akan segera pulang." Selim kekeh.
Akhirnya aku memutuskan untuk menerima ajakannya.
Ketika hendak mau masuk mobil, tiba-tiba ada yang memanggil Selim.
"Kak Selim, Dilara apa kalian berdua saling kenal?" tanya Rosa, "Apa kalian berdua jalan bareng?" ucap Rosa.
"Dilara ini, pacar kakak Ca," tutur Selim.
Oca panggilan Selim untuk adiknya yang bernama Rosa.
"Ceritanya panjang, nanti kakak ceritakan saja di rumah," tuturnya.
"Kenapa kakak enggak bilang,b kalau kakak pacaran sama temenku Dilara?" protes Rosa.
"Kakak enggak tahu kalau Dilara itu temenmu," ujarnya. "Kakak juga baru jadiannya belum lama ini, baru dua bulan sama," ungkapnya.
"Sekarang Kakak sama Dilarang pulang dulu." Selim beralasan.
Aku dan Selim bergegas masuk ke mobil dan meninggalkan Rosa.
__ADS_1
Akhirnya aku pulang di antarkan Selim untuk yang kedua kalinya.
Setengah jam kemudian aku dan Selim sampai di parkiran apartemen, Selim mematikan mesin mobilnya.
"Selim kenapa bilang pada Rosa, kalau aku pacarmu," tegurku, "kita cuman berpura-pura pacaran," bentakku.
"Tapi aku menganggapnya serius." tegasnya.
"Oke terima kasih tadi kamu sudah pura-pura jadi pacarku, menolongku dari gangguan Dafa," pujiku
"Aku enggak meminta kamu untuk melakukan," sanggahku.
Dengan senyum yang terlihat sedikit di paksakan dia menjawab "Oh begitu, apakah aku jadi korban keisengan kamu lag?"
"Aku juga enggak keberatan, aku beneran ingin jadi pacarmu,"ungjapnya,
"Jadi mulai detik ini juga kamu pacarku," tegasnya.
"Ayo aku antar kamu sampai depan unit mu," ajaknya.
Selim membuka sabuk pengaman dan turun duluan dari mobil.
Aku mengekori Selim tanpa bicara apapun, karna kesal Selim memutuskan sesuatu sendiri.
Setelah di deketati ternyata laki-laki itu seorang yang aku kenal, teman kantorku Dikra.
"Kak Dikra," sapaku, "Apa kakak sudah lama menunggu?" tanyaku.
"Aku sudah menunggu disini kurang lebih 20 menit," ujar Dikra, "Kenapa kamu enggak menjawab panggilan masuk di ponselmu?" tanya Dikra.
"Maaf Kak Dikrao, pnselnya aku silence," jelasku.
"Selim terima kasih sudah ngantar aku sampai disini, sekarang aku masuk dulu," ujarku.
"Tunggu dulu Dilara," pintanya.
Selim menarik tanganku membawaku sedikit menjauh dari tempat dimana Dikra berdiri.
"Apa kamu mengusirku begitu saja?" Setelah aku mengantarmu, "Apa kamu menerima tamu laki-laki malam hari?" tudingnya.
Selim marah tak jelas.
"Dia itu teman kantorku," jawabku.
__ADS_1
"Kalau kamu mengusirku, suruh laki-laki itu juga pergi," protesnya.
"Selim tadi kamu denger sendirikan?" Dia sudah menungguku disini selama 20 menit, "Mungkinkah aku harus mengusirnya begitu saja?" ucapku.
"Aku enggak peduli, itu bukan urusanku," sentaknya.
"Aku minta izinkan dia masuk sebentar saja," pintaku, "Beri dia waktu untuk menyampaikan maksud kedatangannya kesini, maksimal 15 menit saja," mohonku.
"Kamu janji cuman 15 menit," pintanya.
"Oke aku janji," ujarku.
Akhirnya Selim menurutiku dan pergi.
Dikra mengikutiku masuk ke dalam unitku.
"Siapa aki-laki yang tadi itu Dilara?"
"Apa dia pacarmu?" tanya Dikra, "Sepertinya dia enggak suka aku datang," tuding Dikra.
"Dia bukan siapa-siapa," ucapku.
"Dilara, aku kesini cuman mau ambil novel yang kamu pinjam," jelas Dikra, "Apakah kamu sudah selesai membaca bukunya?" tanya Dikra.
"Aku sudang selesai membacanya," kataku, "Maaf aku membuat kakak merepotkan harus mengambil sendiri novelnya," uajrku,
"Aku rencana mau balikin novelnya besok pulang dari tempat kerja," dalihku.
Aku bergegas ke kamar mengambil novel tersebut.
Aku memberikan novelnya pada Dikra.
"Aku jadi enggk enak sama kakak," kataku, "Sebagai permintaan maafku pada kakak, bagaiman kalau besok aku traktir kakak makan siang," saranku.
"Oke enggk apa-apa, jangan sungkan," kata Dikra, "Besok kamu mau traktir aku makan siang?" tanya Dikra.
"Itu juga kalau kakak enggak keberatan,"ujarku .
"Enggak, aku seneng bisa makan siang bareng sama kamu dan gratis lagi," canda Dikra.
"Oke besok kita makan siang bareng, di tempat makan yang ada di sekitar kantor saja,"saranku.
"Oke.Sudah aku sekarang pulang dulu," pamit Dikra.
__ADS_1
Dikra berpamitan bergegas pergi meninggalkan apartemen.