Cinta Diktator

Cinta Diktator
Awal dari masalah


__ADS_3

Saat aku mau berlari pergi menerobos hujan, tiba-tiba ada yang menarik tanganku dari belakang.


Terdengar suara laki-laki yang sedikit marah.


Dan seketika suara itu menghentikan langkahku.


"Apa kamu mau sakit?" Tanganku di lepaskan olehnya, "Apa kamu mau lari di tengah hujan dengan halter dress mu itu...?" Suaranya terdengar keras mengimbangi hujan yang sedang turun saat itu.


Aku penasaran siapa laki-laki yang menyumpahiku sakit dan menarik tanganku ini.


Untuk menjawab rasa penasaran, aku menoleh kebekang untuk melihat siapa laki-laki ini.


"Laki-laki yang memakai kemeja toska, jas double breasted navy, celana slim fit senada, tingginya kurang lebih170cm, dengan rambut spiky, dan jam tangan kulit di tangan kirinya, dia yang duduk di samping kursiku tadi?" Gerutu ku dalam hati, "Apa yang dia lakukan?" Aku bergidik ngeri.


"Setidaknya pakailah ini!" Dia membuka jasnya dan menggantungkannya di kedua bahuku.


"Enggak usah, enggak apa-apa." aku bermaksud membuka jas yang menggantung di kedua bahuku.


Namun tiba-tiba tangannya menahan tanganku agar jasnya tetap menggantung tepat di bahuku.


"Pakai saja." Dia sedikit kesal.


"Kamu yang tadi duduk di samping kursiku?" Aku meliriknya, "Apa urusanmu di dalam sudah selesai?" Aku merasa dia mengikutiku.


"Aku yang tadi duduk di sebelahmu." Dia mengusap lengan bajunya yang basah terkena air hujan, "Urusanku suadah selasai." dia menimpali sambil terlihat melamun.


Flashback on.


"Kak Selim, kakak kapan datang?" Wita kaget melihat kakaknya, "Aku kira kakak enggak akan datang ke pesta ulang tahunku."Wita tersenyum senang.


Dia adalah kakak tirinya Wita dan sekaligus kakak tirinya Rosa namanya Selim Zayyn Ibrahim.


Ibunya Selim, Diana menikah lagi dengan ayahnya Wita, dari pernikan itu ibunya Selim memiliki 2 anak perempuan yang masih gadis yaitu Juwita yang biasa di panggil Wita, dan Rosa kakaknya Wita.


"Selamat ulang tahun Wita." Selim memeluk adik tirinya dan tidak lupa memberinya hadiah yang di bungkus kertas kado.


"Apa ini?" Wita mengacungkan kadonya, "Aku hanya mendapat sebuah kado kecil dari kakakku yang sekarang sudah sukses." Wita protes.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau hadiah apa dariku Wita?" Selim bertanya.


"Aku ingin hadiah mobil mewah dari kakak." Wita menegaskan.


"Buka saja kadonya, mungkin itu isinya kunci mobil." Selim tersenyum.


"Apa aku beneran boleh membuka kadonya sekarang?" Wita antusias, "Apa bener kado ini isinya kunci mobil?" Wita meragukannya. "Kakak tidak sedang bercandakan?" Wita buru-buru membuka kado yang diberikan Selim.


"Pelan-pelan saja membukanya Wita." Selim menggodanya, "Kakak enggak akan mengambil kembali hadiahnya."


Wita kaget setelah kado tersebut berhasil ia buka.


"Beneran kunci mobil?" Wita ragu dengan apa yang di lihatnya, "Kakak beneran memberiku mobil?" Wita memastikan kunci tersebut asli, "Tapi dimana mobilnya?" Wita mencurigai Selim.


"Mobilnya ada di garasi rumah kakak, STNKnya baru keluar bulan depan." Selim menjelaskan, "Kalau kamu enggak percaya besok lihat saja sendiri ke rumah." Selim mencubit pipi adiknya.


"Meskipun kakak beneran ngasih aku mobil, tapi tetap saja aku enggak bisa mengendarainya sendiri, karena mamah tak memberi ku izin." Wita cemberut kecewa.


"Gampang itu bisa di atur."Selim mengedipkan matanya,


"Kakak memang the best." Wita mengacungkan kedua jempolnya,


"Terimakasih kakak, aku doakan semoga kakak cepat dapat jodoh." Wita mencubit pipi kakaknya.


Dari kejauhan Selim melihat ibu dan ayah tirinya. Ibunya bernama Karian, dia melambaikan tangan pada Selim.


Selim membalasnya dengan senyuman.


Pada saat itu juga Selim berpamitan pada Wita untuk pulang.


Dan Selim pun pergi meninggalkan Wita, tanpa menemui orang tuanya.


Wita sudah tak heran kenapa Selim bersikap seperti itu.


Ibunya sangat membenci Selim semenjak bercerai dengan ayahnya, karena ayahnya memiliki wanita idaman lain yaitu Rebeca.


Saat itu Selim berumur 3 tahun, dia di bawah oleh ayah kandungnya Ruslan.

__ADS_1


Tapi sebulan kemudian Rebeca meminta Ruslan menikahinya dan pindah kerja di Jerman, di karenakan Rebeca sendiri setahun terakhir ini berkarir menjadi desiner di Jerman.


Pada saat itulah Selim ditinggal di pantiasuhan oleh ayahnya, dengan maksud agar Selim tidak menjadi penghalang pernikahannya.


Ruslan berjanji pada Selim akan kembali secepatnya, tetapi 2 tahun kemudian ayahnya tidak kunjung menjemputnya.


Saat itu usia nya 5 tahun, Selim mendengar kabar dari pengurus panti bahwa ayahnya tidak akan kembali, dan Selim akan di jemput ibu kandungnya sendiri yaitu Karina.


Semenjak itulah Selim tinggal bersama Karina, ayah barunya, dan kedua adik tirinya.


Semenjak itu juga Selim selalu di siska oleh ibunya, di jadikan pelampiasan kemarahannya. Karina merasa penyebab percerainnya adalah karena Selim.


Saat Selim akan bergegas pulang, Karian melihat dan menghampiri Selim.


"Selim apa kamu mau pergi begitu saja?" Karina membentak Selim, "Kenapa kamu hanya tersenyum?" Karian kesal.


Selim tetap diam tak bergeming.


"Apa kamu tidak akan menyapa orang tuamu dan tak menganggap lagi aku ibumu?" Karian terus bertanya.


Selim menimpali ibunya "Bagaiman kabar mamah, apa baik-baik saja?" Selim mencium kedua pipi ibunya.


"Mamah baik-baik saja." ibunya menjawab ketus, "Dari yang mamah lihat sekarang ini sepertinya kamu juga baik-baik saja." ibunya menimpali balik Selim.


"Aku baik-baik saja itu semua karena mamah yang selalu mendoakanku." Selim tersenyum.


"Kamu jangan jadi sombong karena sudah bisa hidup sendiri dan bisa sukses." Karina menunjuk-nunjuk Selim,


"Kamu harus selalu ingat mamah, karena aku satu-satunya orang tuamu. Walaupun mamah tak pernah mengurusmu tapi tetap orang tua mu." Karina menasehati.


"Mamah jangan salah paham, aku tak pernah berpikir seperti itu." Selim menimpali.


"Ayo ikut mamah, kamu akan mamah kenalkan pada beberapa teman bisnis mamah." Karina menarik tangan Selim.


Karina mengenalkan Selim pada beberapa rekan bisnisnya dan mengobrol seputar bisnis yang mereka jalankan.


Setelah Selim merasa cukup mengobrol, dia pun berpamitan pulang.

__ADS_1


__ADS_2