Cinta Diktator

Cinta Diktator
Melamar kekasihku.


__ADS_3

Selim sampai di kantor dan langsung masuk ke ruangan kerjanya.


Di ruangan kerjanya berjejer buket bunga dari berbagai jenis dan warna yang bermacam-macam.


Buket-buket bunga tersebut di dapat dari kiriman teman, saudara, karyawan, dan rekan bisnisnya sebagai ucapan selamat untuk memperingati hari kelahirannya.


Baginya pemandangan ini sudah biasa kerap kali terjadi di hari ulang tahunnya.


Seringkali Selim sibuk berbicara di telepon menerima ucapan selamat dari kenalan lainnya.


Pagi ini Selim meeting dengan karyawannya, mengenai persentase target penjualan.


Sudah menjadi kebiasaan ketika meeting selesai, Selim dan karyawannya mengobrol santai di ruangan tersebut.


"Pak apakah kita boleh mengajak pasangan ke pesta ulang tahun bapak nanti malam?" tanya seorang karyawan.


"Ya silahkan, bawa pasangan masing-masing.


Bicara soal pesta, saya jadi teringat acara gethring perusahaan. Rencananya untuk gethring tahun ini akan di adakan akhir bulan depan, jadi sekitar dua bulanan lagi.


Jadi mulai besok kalian bisa voting untuk menentukan tempat tujuan gethring kita.


Kalau tidak ada yang di tanyakan lagi, saya rasa cukup sekian untuk meeting pagi ini," tutur Selim.


Akhirnya semua orang yang ada di ruangan tersebut membubarkan diri dan kembali ke kerjaannya masing-masing.


Di tempat kerjaku.


Saat aku sedang mengerjakan sebuah laporan di meja kerjaku, ada seorang security kantor yang mendatangiku dan memberiku sebuah paperbag.


Security itu bilang kalau paperbag ini di antar oleh kurir, untukku.


Dan benar saja di dalam paperbag tersebut ada sebuah kotak kardus berwarna merah dan diatasnya bertuliskan namaku.


Saat aku buka kotak tersebut terdapat sebuah dress lengan panjang bermotif bunga dan berwarna peach dari kain chiffon.


Terpikir olehku untuk menelepon Selim untuk mencoba menanyakan dari mana datangnya dress ini.


"Selim, apakah kamu yang mengirim dress ini untukku?" tanyaku.


"Apakah dressnya sudah sampai? Aku ingin nanti malam kamu pakai dress itu, karena aku akan meminta hadiahku padamu, jadi nanti malam jam 19:00 aku akan jemput kamu," tuturnya.


"Apakah kamu akan mengajak aku dinner?" tebakku.


"Ya anggaplah seperti itu," ucapnya.


"Baiklah kalau begitu, aku tutup teleponnya ya," kataku.


Akhirnya aku sampai di apartemenku setelah seharian bekerja di kantor.


Aku mandi dan bersiap untuk pergi bersama Selim.


Aku memakai dress yang tadi siang di berikan Selim padaku, memakai sepatu heels dan memakai headband sebagai aksesoris rambut.


Tepat sesudah shalat magrib Selim menjemputku, dia memakai kaos putih dan blezer berwarna biru senada dengan celana, serta memakai sepatu dan jam tangan hitam.


Akhirnya kita berdua pergi dan kita di mengobrol di tengah perjalanan.


"Ternyata dress yang aku pilihankan untukmu cocok juga, sekarang kamu terlihat sangat cantik," pujinya, Selim tersenyum melirikku.


"Bagus kalau begitu, aku juga suka dressnya. Kamu yang berulang tahun, kenapa aku yang di kasih hadiah?" tanyaku.


"Kamu bersiap-siap saja. Setelah kita sampai aku akan langsung meminta hadiahku," tuturnya.


"Sebenarnya kita mau kemana Selim? Kamu bukan membawaku ke hotelkan?" tanyaku.


"Kenapa emang kalau ke hotel? Jangan-jangan kamu berpikir yang enggak-enggak lagi," ledeknya.


"Jadi beneran ke hotel? Mau ngapain ke hotel?" tanyaku penasaran.


"Ya dinner. Sebenarnya mamah membuatkan aku pesta ulang tahun di hotel. Dia mengundang teman-temanku, keluarga dan juga partner bisnis mamah juga. Jadi nanti disana bakalan banyak orang," ungkapnya.


Benar saja yang di katakan Selim, setelah kita sampai di hotel tempat acaranya di ruangan tersebut sudah banyak orang yang datang.


Tapi ruangannya cukup luas, bisa di tempati kurang lebih sekitar seratus orang. Dindingnya di hiasi dengan kain berwarna biru dan silver yang menjuntai dari atas langit-langit sampai ke lantai.


Langit-langitnya di hiasi dengan balon helium berwarna biru dan silver yang mengapung, terdapat bunga anyelir berwarna merah dan peach tergantung di bagian lain langit-langit.


Seating party dengan gaya square table dan kursi tiffany berwarna sikver menjadi pilihan untuk membuat tamu yang datang lebih nyaman.


Setiap meja menggunakan taplak berwarna silver dari kain shantung silk, di atasnya di letakan pas bunga kaca berisikan bunga anggrek putih di dalamnya, dan terdapat empat set alat makan yang di letakan di tiap sudut meja tersebut.


Kita berdua masuk dan mendatangi ibunya Selim dan ke dua adiknya yang kebetulan saat itu mereka sedang berkumpul dan duduk di tempat yang sama.


Kita berdua menyalami dan menyapa ibunya Selim.

__ADS_1


"Kamu sudah datang Selim? Kamu langsung buka saja acaranya," tutur Karina, Ibunya Selim.


Selim pun berjalan kedepan menuju mimbar yang telah di sediakan dan langsung berbicara.


"Assalamu alaikum wr. wb.


Di hari ulang tahunku yang ke 30 tahun ini aku akan sedikit bercerita. Semenjak aku di lahirkan hingga sekarang, aku mengharapkan kasih sayang dari keluargaku.


Tapi sepertinya sampai detik ini aku merasa tak ada yang menyayangiku hahaha,— aku tak bisa menahan ketawa.


Enggak mungkin keluargaku tak menyangiku, buktinya hari ini mereka membuatkan aku pesta ulang tahun yang megah.


Hari ini aku ingin melamar kekasihku Dilara Syafiya," tutur Selim, Dengan wajah pucatnya, dia masih berdiri mendungguku.


Semua orang melihat kiri kanan dan berbisik membicarakanku.


Saat aku memutuskan untuk datang menghampirinya, dia tersenyum senang dan membuat wajahnya yang tadi pucat menjadi merah merona.


"Sebenarnya sebelumnya aku pernah di tolak oleh Dilara dan ini lamaranku yang kedua kalinya. Aku senang akhirnya sekarang kamu menerima lamaranku.


Di saat Selim akan menyematkan cincin di jariku, mendadak Selim terdiam.


"Kamu datang menghampiriku itu artinya kamu menerima lamarankukan?" tanya Selim. Aku mengangguk, mengiakan.


"Kamu menerima lamaranku karena kamu memang menyukaikukan?" tanya Selim.


Selim bertanya untuk yang ketiga kalinya "Kamu menerima lamaranku bukan terpaksa kerana sekarang di lihat banyak orang?" sindir Selim.


"Aku enggak terpaksa, aku benar-benar menyukaimu," jawabku.


Setelah mendengar jawabanku, dia langsung memakaikan cincinnya di jari manisku dan mencium keningku.


Terdengar riuh tepuk tangan dari semua tamu yang datang di ruangan itu.


Akhirnya sampai ke acara inti, memotong kue ulang tahun. Telah tersedia kue red velvet yang bertuliskan Happy birthday My Son yang di letakkan di atas meja tepat di samping mimbar.


Semua tamu kompak menyanyikan lagu ulang tahun berbahsa inggris.


Potongan pertama kue tersebut di berikan kepada Karina.


Tak sedikit tamu yang menyalami Selim untuk mengucapkan Selamat dan memberikan hadiah.


Aku duduk berdua berhadapan dengan Selim dan kedua orang tuan beserta kedua adiknya duduk berkumpul di sebelah kursi di tempat kita duduk.


Di saat bersamaan Lea mendatangi meja kita berdua.


"Selim selamat ulang tahun dan Selamat juga untuk pertunangnnya dengan Dilara," kata Lea, Dia menyalami, serta cipika-cipiki dengan Selim, juga memberikan sebuah kado padanya dan setelah itu dia pergi.


Tante Karina berlari menahan Lea pergi, mereka terlihat berbincang dan sesekali tante Karina mengelus-elus rambut Lea. Tak lama kemudia Lea pun akhirnya benar-benar pergi tak terlihat lagi olehku.


Pestanya pun berakhir pada jam 22:00, aku pulang ke apartemen di antar Selim.


Ke esokan harinya.


Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke tempat kerjaku.


Aku mengerjakan beberapa laporan yang harus selesai hari ini.


"Pril, April kesini dulu sebentar," kataku sambi menguap, Aku memanggil April yang kebetulan lewat samping mejaku.


"Masih nguap saja jam segini, kamu semalam begadang Dilara?" tanya April.


"Semalam aku tidur jam setengah dua belas malam, jadi masih ngantuk," jawabku.


"Tumben tidur larut malam, biasakan jam sembilan malam sudah tidur," kata April.


"Semalam aku habis dari acara ulang tahunnya Selim," jawabku.


"Kemarin pacarmu ulang tahun? Berarti aku juga harus membeli hadiah untuk pacarmu dong, biar aku bisa lebih dekat dengannya," kata April.


"Coba saja kalau bisa," candaku.


"Kenapa tadi kamu memanggilku?" tanya April.


"Nanti istirahat kita order gado-gado yuk!" ajakku.


"Oke boleh, aku biasa ya pedes. Ya sudah aku balik ke mejaku," kata April.


Selim meneleponku saat aku sedang memeriksa emai di PCku.


"Dilara nanti pulang kerja aku jemput kamu, soalnya mamahku minta kita berdua datang kerumahnya malam ini juga," kata Selim.


"Apa ada hubungannya dengan kamu melamarku semalam? Apa mamahmu marah karena kamu melamarku?" tanyaku.


"Kamu tenang saja, jangan takut sama mamahku. Aku enggak salah melamar kamu, aku melamarmu karena aku menyukaimu.

__ADS_1


"Oke, kamu tunggu saja di parkiran pada saat jam pulang kerja," jawabku.


Jam pulang kerja pun tiba.


Aku ke luar menuju parkiran bersama ketiga temanku.


"Kenapa kamu membawa bunga Pril," tanya Diana, dia melihat April membawa buket bunga mawar merah.


"Bunga ini hadiah ulang tahun untuk pacarnya Dilara dariku," kata April.


"Kamu serius mau kasih bunga itu pada Selim?" tanyaku, Aku kaget mendengar perkataan April.


Dengan polosnya April mengangguk.


"Memangnya kapan pacarmu ulang tahun Dilara?" tanya Jihan.


"Kemarin tanggal 1 juni," jawab April.


"Kenapa kamu yang jawab, aku kan bertanya pada Dilara," protes Jihan pada April.


"Tunggu sebentar. Coba perhatikan Dilara sepertinya ada yang beda darinya," ucap Dara.


Seketika langkah kami semua terrhenti, Dara dan kedua temanku memperhatikanku.


"Coba lihat sepertinya ada yang mengkilau melingkar di jari manisnya Dilara," sindir Dara.


Refleks tangan April memegang jari-jari tanganku.


"Wah indahnya cincin ini!" komentar April.


"Apakah kemarin Selim melamarmu di pesta ulang tahunnya?" tanya Diana.


Aku mengangguk, mengiakan.


"Dia melamarmu di hadapan banyak orang," tanya April, Penasaran.


Dengan sedikit tersenyum, aku mengangguk lagi.


"Selamat ya Dilara, ucap Jihan, Dia memelukku di ikuti oleh April dan Diana.


Selim telah menunggu di parkiran.


April mendatangi Selim yang tengah berdiri di samping mobilnya.


"Happy brithday Selim, dan selamat juga atas pelajarannya," ucap April, Dia memberikan buket bunga yang dibawanya.


"Terimakasih, bunganya indah," ucap Selim, Dia mencium aroma bunga itu dengan hidungnya.


Akhirnya kita berdua pergi menuju rumah ibunya Selim.


Tiga puluh menit kemudian kita sampai di rumah Ibunya Selim.


Kita berdua masuk dan ibunya Selim tengah duduk di ruang tamu menunggu kami berdua.


"Aku mandi sebentar, kamu ngobrol sama mamah dulu," ucap Selim, Dia meninggalkanku berdua dengan ibunya di ruang tamu.


"Saya sampai detik ini tidak menyetujui hubungan kamu dan Selim dan sampai kapanpun enggak akan setuju," tutur tante Karina.


Aku tertunduk diam tak merespon perkataan tante Karina, dan pamit untuk meminta izin pergi ke toilet padanya.


Aku merasa perlu ke toilet untuk menenangkan perasaanku yang terasa sesak di dada kerana perkataannya.


Saat aku kembali ke ruang tamu, di situ sudah ada Selim berbincang dengan tante Karina.


"Kamu kenapa? Apa kamu habis menangis? Apa yang mamahku katakan padamu?" tanya Selim padaku.


"Enggak, tante enggak mengatakan apapun," kelitku, Aku duduk di samping Selim.


"Aku enggak percaya, pasti mamah mengatakan sesuatu pada Dilara kan?" tuding Selim.


"Kemarin apa yang kamu lakukan di hadapan mamah, di hadapan Lea dan kelurganya, serta di hadapan semua tamu? Apa kamu tahu betapa malunya mamah meminta maaf dan menjelaskan kepada Lea dan keluarganya apa yang terjadi kemarin?" ungkap tante Karina.


"Aku sudah bilang sama mamah, kalau aku enggak setuju kalau mamah bikin pesta untukku," kata Selim.


"Jadi kemarin itu kamu sengaja mempermalukan mamah untuk balas dendam? Hingga sekarang kamu enggak bisa memaafkan mamah, karena mamah berpisah dengan ayahmu. Kamu selalu mengingat kesalahan itu, jadi kamu sekarang selalu menganggap semua yang mamah lakukan untukmu itu salah," tutur tante Karina.


"Kira berdua impas. Mamah juga membenciku kan? Enggak mau melihatku? Makanya mamah baru menjemputku setelah tiga tahun aku tinggal di panti asuhan," tuding Selim.


"Kamu benar, mamah enggak mau melihatmu, jadi sebaiknya kamu kembali ke panti asuhan. Jangan harap mamah datang lagi untuk menjemputmu. Kamu harusnya bersyukur dan melupakan kejadian di masa lalu bukan malah menentang semua keinginan mamah," protes tante Karina.


"Mamah enggak tahukan, kalau setiap malam aku ketakutan, aku menangis memanggil-manggil mamah?" tutur Selim.


"Selim sudah, jangan katakan apapun lagi. Ayo sekarang kita pulang!" ajakku, Aku mengajak Selim pulang agar pertengkaran diantara dia dan ibunya tidak semakin kisruh.


Akhirnya aku dan Selim pergi begitu saja meninggalkan tante Karina tanpa berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2