
Selim menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan depan toko buku.
Aku keluar dari mobil.
Selim membuka kaca samping mobilnya dan berkata "Kamu jangan pulang sampai larut malam."
"Oke, terima kasih sudah mengantarku." aku melambaikan tangan padanya.
Selim pergi dengan mobilnya.
Aku masuk ke toko buku, disana Jihan dan yang lainnya sedang menungguku.
"Kamu kenapa terlambat Dilara?." Jihan bertanya.
"Maaf ya, tadi aku ada urusan." aku menjelaskan.
"Sudah sana kamu sama Dikra cari buku yang kalian suka!"Jihan mengusirku. "Aku, Diana, dan April mau cari buku bersama."
Aku dan Dikra akhirnya pergi berdua mencari buku yang akan kita beli.
"Kamu mau beli buku apa Dilara?" Dikra mencari buka yang mungkin menarik untuk dia baca.
"Aku mau beli buku Bukan Cinta Biasa." aku menimpali.
"Apa buku itu bagus menurutmu?" Dikra penasaran.
"Menurutku bagus, genrenya romantis dan sedihnya juga ada." aku menjelaskan.
"Apa kalian sudah selesai memilih buku yang akan dibeli?" Jihan bertanya padaku dan Dikra.
"Sepertinya saat ini belum ada buku yang mau aku beli, mungkin di lain waktu aku akan kembali lagi kesini." Dikra melirik sekeliling rak buku.
"Sudah ayo kita pergi dari sini, kita mampir dulu ke restoran cepat saji, apa kalian semua setuju?" April memberi saran.
"Setuju." Jihan dan Diana kompak menjawab.
"Dilara, Dikra gimana kalian berdua mau ikut kami enggak?" Diana bertanya pada kita berdua.
"Oke boleh." Dikra menjawab singkat.
Aku hanya mengangguk, mengikuti saran mereka.
"Aku akan membayar buku yang kamu inginkan." Dikra pergi ke meja kasir.
Setelah selesai di toko buku kami langsung meluncur ke restoran cepat saji.
Kami memesan beberapa makanan. Kami menyantapnya sambil ngobrol ngaler-ngidul tak jelas.
__ADS_1
"Gak terasa sudah malam saja sih, sudah jam 21:40." Aku harus segera pulang.
"Aku antarkan kamu pulang Dilara." Dikra menawarkan diri.
"Aku dan Dikra pulang duluan, terima kasih untuk hari ini." aku berpamitan pada Jihan dan yang lainnya.
"Oke Dilara hati-hati di jalan." Diana dan yang lainnya kompak menjawab.
Aku pulang di antar Dikra dengan mobilnya.
Di perjalan pulang kita berdua ngobrol.
"Dikra, terimakadih sudah membelikan buku ini." Aku mengacungkan buku tersebut
"Sama-sama, aku senang bisa jalan bareng kaya tadi." Dikra berkata.
Akhirnya aku sampai di apartemenku, sedangkan Dikra sendiri langsung pulang.
Saat aku keluar dari lift menuju unitku, ponselku berbunyi dan langsung aku angkat.
"Halo Dilara, kamu sudah pulang?" Selim berbicara lewat ponsel.
"Sudah baru saja aku masuk ke unitku." aku sedikit berbohong.
"Kok malam banget sih pulangnya." Selim berkata dengan nada tinggi.
"Tadi macet. Sudah dulu Selim, aku capek mau langsung tidur." aku langsung mengakhiri panggilannya.
Setelah cuci muka dan gosok gigi aku pergi tidur.
Ke esokan harinya di apartemen ku.
Ting tong, ting tong.
Aku kaget terbangun dari tidurku dan langsung membuka pintu.
"Apa kamu baru bangun Dilara?" Selim bicara di depan pintu unitku.
"Tadi aku tidur lagi setelah shalat subuh." aku menjelaskan.
"Ayo kita jalan-jalan di taman depan apartemenmu." Selim menarik tanganku.
"Sebentar Selim aku ganti baju dan cuci muka dulu." aku masuk ke kamar mandi.
"Aku tunggu kamu di loby." Selim berteriak dari depan pintu.
Setelah aku selesai ganti baju, aku langsung menyusul Selim ke taman.
__ADS_1
Akhirnya kita berdua jalan-jalan di taman. Setelah merasa lelah berkeliling, kita kembali ke unitku.
"Kamu mau minum apa Selim? akan aku ambilkan." aku bergegas menuju dapur.
"Ambilkan aku air putih saja." Selim duduk di sofa ruang tamu.
"Apa semalam di toko buku kamu bertemu dengan Dikra?" Selim berbicara dari ruang tamu.
"Kok kamu tahu Selim." aku membawa air putih dari dapur.
"Kemarin aku enggak sengaja melihat pesan di ponselmu." Selim menjelaskan.
"Apa kamu marah Selim?" aku bertanya.
"Percuma marah, itu sudah terjadi. Apa kamu akan terus diam-diam pergi sama Dikra?" Selim mulai emosi.
"Kenapa kemarin kamu enggak melarangku pergi sama Dikra? setelah kamu tahu aku akan pergi dengannya." aku menyalahkan Selim.
"Aku takut kalau kita berdua akan bertengkar." Selim beralasan.
"Kemarin atau sekarang sama saja, pada akhirnya kita berdua akan bertengkar juga." aku memberi pembelaan.
"Aku sama Dikra hanya berteman, aku dengan dia enggak ada apa-apa." aku mencoba menjelaskan.
"Berteman dengan laki-laki itu tidak mungkin." Selim tak percaya.
"Terserahlah, memang kenyataannya aku dan Dikra hanya berteman." aku tak mau kalah.
"Kalau memang berteman enggak perlu ngobrol berlama-lama, enggak usah jalan bareng, makan bareng, cukup sekedar menyapa saja sudah itu cukup." Selim mulai emosi.
"Kemarin aku jalan sama teman-temanku juga, enggak cuma berdua." aku membela diri.
"kamu sudah tahu, kalau Dikra juga mau ikut ke toko buku. Kenapa kamu enggak menolak ikut?" Selim nyolot.
"Kamu mau aku menghindar dari dia?" aku membentaknya, "Oke jika itu yang kamu mau." aku kesal.
"Kamu kalau lagi sama dia itu lupa waktu dan juga lupa padaku, apa semalam kamu pulang larut malam?" Selim mengintrogasiku.
"Aku pulang lebih dulu dari teman-temanku, aku sudah berusaha pulang lebih cepat." aku berkata jujur.
"Lebih baik kamu pulang bareng temen-temenmu, dari pada pulang lebih awal tapi diantar Dikra." Selim menghinaku.
"Aku pulang malam salah, pulang cepat juga salah. Ap mau mu sebenarnya?" aku kesal.
"Tak perlu bertanya apa mauku, seharusnya kamu tahu sendiri batasanmu jika sudah punya pacar." Selim menasehatiku.
"Sudah jangan di bahas lagi Selim, aku minta maaf dan aku janji enggak akan terlalu dekat dengan Dikra.
__ADS_1
Sekarang Selim sebaiknya kamu pulang aku hari ini sibuk banyak yang harus di kerjakan." aku mengusir Selim.
Dengan menunjuk kan raut wajah kecewanya, Selim pergi tanpa berkata apapun.