
Selim merasa tak ingin cepat kembali pulang kerumahnya.
Kenyataan bahwa ibunya sampai saat ini tidak bisa memahami perasaannya dan selalu membuatnya kecewa, sehingga saat ini juga membuatnya merasa ingin pergi jauh.
Ting tong.
"Ada apa Selim?" Kenapa kamu malam-malam kesini?" tanyaku.
Setelah lama dia berpikir kemana dia harus pergi untuk menghilangkan kepenatannya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke apartemenku.
"Bolehkah aku masuk?" pintanya, Selim nyelonong masuk begitu saja dan langsung membaringkan tubuhnya di kasurku.
"Apa makan malamnya sudah selesai?
Kenapa kamu enggak langsung pulang ke rumahmu?" tanyaku.
Tak ada jawaban darinya, dia mengacuhkanku.
"Kenapa diam saja? Apa kamu sudah tidur?" ujarku.
"Malam ini aku enggak mau pulang ke rumah, izinkan aku tidur disini," ucapnya.
"Apa kamu mau tidur dengan mengenakan kemeja mu itu?" tanyaku.
Selim tak menjawabku lagi.
"Terpaksa aku tidur di sofa malam ini," gumamku.
Saat mataku baru terpejam lima menit, ponselku berdering.
"Halo Dilara, apa kak Selim saat ini ada di rumah mu?" tanya Rosa,
"Bagaimanapun caranya paksa dia untuk segera pulang kerumahnya," ujar Rosa.
Dia langsung mengakhiri panggilannya.
"Selim bangun!" pintaku, Aku menggoyangkan badan selim, membangunkannya.
"kamu dengarkan tadi Rosa menghubungiku, menyuruhmu pulang," tuturku.
Selim tak menghiraukanku, tak ada jawaban sedikitpun darinya.
Setelah Selim tak kunjung bangun, aku memutuskan untuk kembali tidur.
Ke esokan harinya.
Saat aku sedang memasak sarapan di dapur, Selim bangun.
"Sepertinya tidurmu semalam pulas, jam segini baru bangun," ledekku.
Selim pergi ke kamar mandi tak menimpaliku.
Selim menghampiri ke dapur, dia memelukku erat dari belakang dan meletekan dagunya di bahuku.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan Selim!" bentakku.
Selim tak menghiraukanku, memelukku semakin erat.
"Apa kamu sudah mencuci muka dan menggosok gigi?" tanyaku.
"Ya, Aku mencintaimu," bisiknya.
"Ayo kita ke meja makan!" ajakku, Aku pergi menghindarinya.
Selim masih berdiri mematung di dapur.
"Kamu harus segera pulang ke rumah, kalau tidak mamahmu pasti akan marah," celotehku di meja makan.
"Hari ini weekend, aku enggak mau buru-buru pulang," ujarnya, Dia menghampiriku ke meja makan.
"Terus kamu mau disini seharian?" tanyaku.
"Ini apartemen pacarku, jadi aku boleh seharian disini," godanya.
"Kenapa kamu yang memutuskan? hari ini banyak pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan," keluhku.
"Semua pekerjaan rumah bisa aku kerjakan mulai dari nyuci, nyapu, dan ngepel, tenang pokoknya nanti aku bantu," ungkapnya.
Setelah selesai makan aku mulai beres-beres.
"Aku saja yang mencuci piring," pintanya, Dia membawa piring kotor untuk mencucinya ke dapur.
Suara gemericik air dari dapur terdengar olehku, dia mulai mencuci piringnya.
"Aku merasa ragu dia bisa mencuci piring," gumamku meragukannya.
Pyar....
Benar saja saat sedang menyapu di kamarku, terdengar suara benda jatuh dan aku langsung berjalan menuju dapur.
Saat aku sampai di dapur terlihat olehku piring itu sekarang sudah menjadi pecahan kecil dan menyebar di lantai.
"Kenapa kamu menghancurkan piringnya?" tanyaku.
"Aku tak sengaja menjatuhkannya, aku baru pertama kalinya mencuci piring," ujarnya, Dia membersihkan pecahan piring itu di lantai.
"Aku yang mencuci piring, kamu bantu aku ngelap piring saja," usulku.
"Akhirnya mencuci pirinyanya selesai juga. Ternyata kalau di kerjakan bersama lebih cepat selesai.
Apa yang harus aku lakukan lagi untuk membantumu?" tanyanya.
"Enggak usah, kamu duduk disana saja nonton tv," pintaku.
__ADS_1
"Oke aku akan pergi menonton tv saja, sepertinya kamu takut aku menghancurkan perabot lagi," candanya.
Aku hanya tersenyum mendengar candaannya.
Tak lama kemudian saat aku sedang menjemur baju di balkon, Selim menghampiriku.
"Wah indah sekali balkonnya! Banyak sekali tanaman bunga disini," ujarnya.
"Selain bisa untuk menjemur pakaian, lumayan masih bisa di taruh berberapa pot bunga," tuturku.
Aku mendekorasi balkonku dengan memanfaatkan rumput sintesis, menanam beberapa bunga dalam partner box, dan ada sebagian bunga yang di tanam di rak dinding.
Aku juga meletakkan dua kursi beserta meja yang terbuat dari papan kayu.
"Aku bantu kamu menjemur pakaian," usulnya.
Saat dia akan mengambil pakaian yang akan di jemurnya, dia menaruh kembali pakaian tersebut, karena ternyata celana dalamku yang diambilnya.
Untuk menghilangkan kecanggungannya dia akhirnya memilih untuk melihat-lihat bunga.
"Apa nama bunga cantik ini?" tanyanya, Selim menunjuk sebuah bunga berbentuk terompet berwarna ungu.
"Nama bunga itu Petunia," jawabku.
"Kalau yang warna putih, ini bunga rose kan?" tanyanya.
"Ya lebih tepatnya lagi rose musk. Bila kamu buka di dalam bunga itu ada biji yang di tumbuhi rambut, dan rambut tersebut bisa menyebabkan iritasi pada kulit," tuturku.
"Ternyata bunga ini berbahaya juga," ujarnya.
"Ayo kita masuk ke dalam." ajakku.
Kita berdua masuk dan menonton tv sambil menyantap cemilan.Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata kak Mayang yang meneleponku.
Kak Mayang adalah kakak iparku, dia menikah dengan Kakakku Yusuf. Setahun yang lalu mereka di karuniai seorang anak laki-laki yang beri nama Adam.
"Halo Dilara, bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Mayang.
"Kabarku Alhamdulillah baik, bagaimana kakak sekeluarga baik-baik saja?" tanyaku.
"Alhamdulillah kami sekeluarga baik-baik saja semuanya sehat." tutur Mayang.
"Bagaimana perkembangan keponakanku? Sudah bisa apa saja keponakanku sekarang?" tanyaku.
"Adam pinter banget makannya, dia sekarang sudah bisa ngomong mama,
Kapan kamu mau main ke rumah kakak?" tanya Mayang.
"Mungkin besok aku main ke rumah kakak," jawabku.
"Sore ini saja, kakak jemput kamu, Nanti kita belanja sekalian makan. Bagaiman kamu setuju?" tanya Mayang.
"Oke. Kalau begitu kakak jemput aku sehabis magrib saja," tuturku.
"Oke sampai ketemu nanti sore, kakak tutup dulu yang telponnya," kata Mayang.
"Oke kalau begitu aku pulang sekarang," katanya.
Di rumah Selim
Selim terkejut saat sampai di rumahnya, karena mamahnya sedang duduk di ruang tamu menunggu Selim.
Selim menghampiri dan duduk berhadapan dengan mamahnya.
"Mamah kira hari ini kamu tidak akan pulang, berani sekali kamu semalam menginap di rumah perempuan.
Mamah sudah menunggu kamu pulang ke rumah ini selama dua jam," tutur Karina.
"Semalam aku cuman numpang istirahat di apartemen Dilara," tutur Selim.
"Apa kamu enggak punya rumah? Apa kamu enggak punya teman laki-laki? sehingga memutuskan tidur di apartemen Dilara," bentak Karina.
" Aku minta maaf, enggak seharusnya aku tidur di apartemen Dilara," ucap Selim, Tertunduk menyesali kesalahannya.
"Apa kamu ingin mamah hipertensi mamah naik? Gara-gara kamu masih berhubungan dengn Dilara," tegur Karina.
"Aku enggak pulang semalam karena kecewa sama mamah, aku enggak mau dijodohkan," protes Selim.
"Kalau begitu aku bukan mamahmu lagi," tegas Karina, Akhirnya Karina pergi meninggalkan rumah Selim.
Di aparremenku.
Waktu magribpun tiba, tak lama kemudian kakak iparku datang menjemputku.
Aku dan kakak ipar langsung pergi menuju supermarket untuk berbelanja.
Akhirnya tak terasa kita sudah menghabiskan waktu selama dua jam untuk berbelanja dan makan.
"Ayo kita pulang sekarang! Kakak sudah meninggalkan Adam terlalu lama," ajak Mayang.
"Aku sepertinya enggak jadi main ke rumah kakak, mungkin besok saja aku ke rumah kakak," tuturku.
"Oke.Kalau begitu kakak pulang duluan. Kamu hati-hati langsung pulang, jangan mampir kemana-mana," titah mayang.
"Oke siap. Kakak juga hati-hati jangan ngebut mengendarai mobilnya," kataku.
Di saat aku sedang menunggu taxi di depan pintu masuk supermarket, mendadak hujan turun.
Terpaksa aku kembali ke dalam supermarket untuk berteduh. Disaat bersamaan ponsel di dalam tasku berdering.
"Halo, kamu sudah pulang Dilara?" tanya Selim setengah berteriak.
"Belum. Aku sekarang masih di supermarket," jawabku.
__ADS_1
"Kamu sudah malam begini belum pulang? Sekarang sedang turun hujan juga, kenapa belum pulang?" bentak Selim.
"Aku sudah mau pulang dari tadi. Cuman karena hujannya terlalu deras, aku menunggu reda dulu hujannya," tuturku.
"Tunggu aku sebentar, jangan kemana-mana. Kirimkan alamatnya, aku jemput kamu sekarang," titah Selim.
Saat Selim sedang di jalan untuk menjempuku, Selim mendapat sms dari Lea. Akan tetapi Selim tak membaca pesan tersebut.
Saat itu hujan sudah reda, Selim datang ke tempat aku dan Lea berada sekarang.
"Kamu datang kesini untuk menjemputku?" kata Lea.
"Ya, tentu." Selim mengiakan.
"Aku kira kamu enggak akan datang karena kamu enggak membalas pesan dariku,
Kenalkan ini Dilara, dia menemaniku disini sampai kamu datang," tutur Lea, Memperkenalkanku pada Selim.
"Kamu kenal Dilara?" tanya Selim pada Lea.
"Enggak kita berdua baru berkenalan disini," ujarnya.
"Apa kamu sedang menunggu seseorang yang akan menjemputmu juga?" tanya Selim padaku.
"Enggak. Aku pulang naik taxi, aku sekarang cuman menemani Lea," tuturku.
"Ya, aku tadi meminta Dilara untuk menemaniku saat dia menggu taxi," kata Lea.
"Lea karena sekarang sudah ada yang menjemputmu, jadi aku pulang duluan," pamitku.
"Kamu pulang bareng aku dan Lea saja," kata Selim.
"Kemana aku dan Selim harus mengantarmu?" tanya Lea.
"Aku pulang ke jln Edelwis," jawabku.
"Berarti diantara kita bertiga aku yang paling duluan turun," tutur Lea.
"Enggak usah nanti merepotkan, aku pulang naik taxi saja," tolakku.
"Kamu pulang bareng kita saja, tenang saja nanti Selim antar kamu sampai rumah,
Ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menemaniku," ungkapnya, Lea menggandeng tanganku dan memaksaku ikut pulang bersama dengannya dan Selim.
Lea duduk di kursi depan di samping Selim dan aku duduk di kursi belakang.
"Aku lupa memperkenalkanmu dengan Selim,
Dia ini Selim, kita berduan kenalan semalam saat makan malam di rumahnya," tutur Lea.
"Oh ya, jawabku singkat.
"Iya. Jadi mamahnya Selim sengaja mengundangku makan malam, untuk menjodohkan aku dengan Selim," tutur Lea.
Selim kaget mendengar perkataan Lea, dan mendadak menghentikan mobilnya.
"Lea, sebenarnya Dilara itu pacarku," kata Selim.
"Hahaha, kamu lucu ya Selim. Ternyata kamu bisa bercanda juga," kataku.
Aku dan Selim bertatapan lewat spion depan mobil, mengisyaratkan Selim untuk tidak mengatakan bahwa aku dengannya berpacaran.
"Maksudnya kamu dan Dilara berpacaran?" tanya Lea pada Selim, Lea tak percaya dengan apa yang diktaakan Selim.
"Selim cuman bercanda. Aku baru bertemu tadi dengan Selim, enggak mungkin aku berpacaran dengannya," ungkapku.
"Hahaha, Selim ada-ada saja," Lea tertawa.
"Mungkin saja, kalau aku suka pada pandangan pertama padanya. Dilara juga suka sama aku, berarti aku dengannya bisa pacaran," sindir Selim.
"Hahaha, tapi sayangnya Dilara enggak suka sama kamu," Ledek Lea.
"Apa benar yang di katakan Lea, kamu enggak menyukaiku?" tanya Selim padaku.
"Kenapa jadi keterusan sih bercandanya?" tuturku.
"Ya Selim, sudah jangan menggoda terus teman baruku. Nanti Dilara enggak mau berteman lagi denganku." Lea membelaku.
Aku merasa enggak nyaman selama di perjalan, karena Selim sengaja terus-terusan menyindir hubunganku dengannya.
Akhirnya kami sampai di depan rumah Lea, dian pun turun.
Aku dan Selim melanjutkan perjalanan.
"Sebenarnya aku datang itu untuk menjemput kamu, aku enggak tahu kalau Lea minta aku untuk menjemutnya. Kebetulan sekali kamu dan Lea berada di tempat yang sama," ungkap Selim.
"Pada akhirnya setiap kebohongan pasti angkat terungkap juga," ujarku.
"Aku tidak berbohong padamu, aku cuman belum menceritakannya saja padamu. Aku merasa belum bisa menceritakannya," ujar Selim.
Akhirnya sampai di parkiran apartemen, aku pun turun.
"Dilara tunggu, aku ingin bicara sebentar," pinta Selim, Dia keluar dari mobilnya dan akhirnya kita berbicara di parkiran.
"Apa kamu tahu apa alasanku kemarin tidak pulang ke rumah? tanya Selim,
Aku kecewa pada mamahku karena menjodohkanku dengan Lea," tutur Selim.
"Kamu terima saja perjodohannya, karena pilihan mamahmu itu pasti yang terbaik," usulku.
"Apa yang kamu katakan itu benar-benar tulus? Merelangkan orang yang kamu cintai untuk orang lain," tutur Selim.
"Apa kamu akan menentang keputusan mamahmu?" tanyaku.
__ADS_1
"Meskipun keputusan mamahku itu yang terbaik, tapi aku sudah memilikimu dan menurutku kamu itu terbaik untukku," tutur Selim.
"Aku naik dulu, terima kasih sudah mengantarku," tuturku.