
Tanpa sepengetahuan ku Selim setiap hari masih tetap datang ke kantor ku pada saat jam pulang kerja.
Dia memperhatikan ku dari jauh.
Memperhatikan aku keluar dari kantor dan dengan siapa aku pulang.
Aku merasa Selim saat sayang dan mengkhawatirkan ku, tapi aku kesal juga kalau dia menyembunyikan sesuatu padaku.
Pernah beberapa kali saat aku naik busway Selim mengikuti dengan mobil nya di belakang.
Hari ini seperti biasa aku naik busway untuk pulang kerumah ku dari kantor.
"Seperti nya hari ini Selim tak mengikutiku, syukurlah." aku mengela napas lega.
Saat ini aku merasa lelah sekali kepala ku mumet rasanya, dan terpikir oleh ku untuk merileks kan tubuh ku dengan mengoleskan masker kunyit di wajah ku.
Terdengar bel unit ku berbunyi saat aku sedang berbaring di sofa menunggu masker di wajah ku kering dan aku pun langsung membuka nya.
Seorang kurir ojek online menyodorkan buket cokelat.
" Ini dengan ibu Dilara Syafiya, ini bu kiriman dari pak Selim."kurir tadi pun langsung pergi.
Aku heran, maksud nya apa Selim ngasih cokelat lewat kurir, kenapa dia gak datang sendiri saja.
Saat aku baru mau duduk untuk menelpon Selim, bel unit ku berbunyi lagi.
Ternyata kali ini Selim datang langsung sendiri membawa buket bunga mawar.
Aku meminta Selim untuk duduk dan menunggu ku sebentar untuk mencuci masker di wajah ku.
Aku berjalan mendatangi Sekim sambil mengelap air di wajah ku dengan handuk.
Pada saat itu juga Selim membantu mengelap air di wajah ku dengan handuk yang ku bawa.
Tiba-tiba Selim memeluk ku erat, "aku merindukan mu Dilara."Selim berbisik di telinga ku.
"Aku minta maaf, walau pun bukan aku yang salah. Karena aku juga gak tahu salah."Selim masih belum melepaskan nya.
Aku langsung melepas kan pelukan Selim setelah mendengar apa yang ia katakan.
"Kalau kamu mau kesini, kenapa kamu tadi ngirim buket lewat kurir.",aku penasaran.
"Aku sengaja ingin ngasih kamu kejutan, ini untuk mu."Selim memberikan buket bunga yang ia bawa padaku.
__ADS_1
Aku menerima dan mendekatkan buket tersebut ke hidungku untuk mencium aroma bunganya.
"Aku merasa kamu selalu memberi aku sesuatu untuk menutupi kesalahan mu, apa sekarang juga sama?."aku mengintrogasi Selim.
"Aah dengan kata lain kamu menganggap aku itu laki-laki brengsek. Kamu benar-benar keterlaluan Dilara."Selim melotot.
"Itu memang benar. Kenyataan nya pada saat kamu memberi ku cincin, ke esokan hari nya kamu pergi makan siang dengan Alena kan?."Selim tertangkap basah.
"Kamu tahu dari siapa aku makan siang dengan Alena?."Selim bertanya.
"Aku melihat nya sendiri, kamu tidak tahu kan aku memperhatikan mu saat kamu sedang bermesraan dengan nya?."aku terus memojokkan Selim.
"Tunggu dulu Dilara, yang jadi pertanyaan ku kenapa kamu saat itu ada disitu.Apa kamu mengikuti ku?."Selim menuduh ku.
"Aah berarti sekarang kamu mengakuinya Selim. Hari itu aku juga makan siang dengan ibuku di tempat yang sama dengan kamu makan siang."aku menjelaskan.
"Aku tak bermesraan dengan Alena, aku hanya makan siang dengan nya."Selim mengakui sekaligus membantah.
"Aku tak percaya, karena ibuku juga melihat mu dan ibuku sendiri yang melihatnya pertama kali."Aku terus memaksa Selim untuk mengaku.
"Kamu kenal Alena, Dilara."Selim bertanya.
"Ya Alena itu teman dekat ku waktu SMA, sampai sekarang pun kita masih saling memberi kabar."aku menjelaskan.
"Alena itu mantanku, aku baru putus dengan nya setahun yang lalu dan sekarang aku dengan nya gak ada hubungan apapun."Selim meyakinkan ku.
"Apanya yang mesra sih, menurut ku itu biasa saja. Sekarang aku dan Alena berteman, dia lebih memahamiku dari teman ku yang lain, mungkin karena dia mantan ku."Selim akhir nya blak-blakan.
"Aah berarti kamu gak butuh aku lagi karena sekarang ada yang memahami mu dan juga kamu gak kesepian lagi."aku merasa rendah diri.
"Apa kamu cemburu sama Alena?, jadi kemarin itu kamu membuang cincin nya karena cemburu."Selim menyadari kebenarannya.
"Kamu menolak makan siang dengan ku karena ingin makan siang dengan Alena?."aku merasa dadaku sesak.
"Haruskah aku putus dengan mu karena Alena?."Selim mengancam.
"Apa kamu lebih memilih putus dengan ku dan memilih teman sekaligus mantan pacar mu itu?."amarahku meledak-ledak.
"Maksud ku kamu marah seperti ini karena hal sepele."Selim menganggap enteng.
"Seorang laki-laki yang sudah punya pacar bermesraan dengan mantan nya, apa itu sepele?. Berarti kamu akan terus bersikap seperti itu pada Alena karena menurut mu itu hal biasa."aku merasa terbakar.
Apa kamu gak seperti itu sama Dikra?
__ADS_1
Plak, aku menampar Selim sebelum ia menyelesaikan ucapan nya.
Selim memegangi pipi yang telah aku tampar.
"Ini ke dua kali nya kamu menampar aku kerana Dikra. Setiap aku ngebahas Dikra, kamu selalu emosian dan kasar."Selim menghinaku.
"Jika kamu tahu itu seharus nya sekarang pun tak perlu membahas Dikra."aku menyalah kan Selim.
"Aku haus jadi nya terus-terusan berdebat sama kamu."Selim berhenti bicara.
Aku mengambilkan Selim minum.
"Kamu bilang sendiri pada Alena, jika kamu ingin Alena menjau dariku.
Katakan juga sama teman-teman kantor mu bahwa aku ini pacarmu, aku ingin mereka tahu itu."Selim mengatakan apa yang di inginkan nya selama ini.
"Haruskah teman-teman kantor ku tahu kita pacaran, apakah itu penting?."aku minta penjelasan.
"Memang apa maksud mu untuk menyembunyikan nya dari mereka?
Apa kamu sengaja menyembunyikan nya agar kamu tetap bisa dekat dengan Dikra?."Selim menuduhku.
"Terserah lakukan saja semua mau mu."aku kesal.
"Aku ingin meminta kamu untuk menemaniku meminta maaf pada Dikra."Selim berkata dengan ragu-ragu.
"Kenapa aku harus menemanimu?, kamu tak perlu pergi untuk meminta maaf, karena aku sudah melakukan nya untuk mu."aku berkata.
Saat mendengar ucapanku Selim kaget dan langsung berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Dilara kenapa kamu selalu melakukan sesuatu yang membuat ku marah.
Apa kamu meminta maaf karena merasa tak tega melihat nya terluka."Selim tersenyum kecewa.
"Ya aku tak tega melihat temanku terluka begitu saja karena pacar ku sendiri."aku menjelaskan.
"Oke, mulai saat ini kamu harus meminta izin padaku terlebih dahulu jika kamu ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ku.
Kamu sekarang tahu kan, apa yang aku mau untuk kamu lakukan."Selim pasrah menghadapi ku.
"Ya aku tahu. Aku harus bilang pada semua teman kerja ku bahwa kita pacaran.
Haruskan presdir di kantor ku juga tahu kita pacaran?."aku menggoda Selim.
__ADS_1
"Ya presdir mu juga harus tahu, bahkan semua orang yang kamu temui dimanapun harus tahu kalau kita berpacaran."Selim menggoda ku
Aku dan Selim pun berbaikan, dia memeluk erat dan mencium pipiku beberapa kali.