
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Hari ini tepat satu bulan Filzah menjadi pelayan di kedai nasi goreng topping seafood milik Hilyah. Selama bekerja Filzah sangat rajin dan tekun sehingga Hilyah begitu menyukai kinerjanya. Kali ini semua karyawan datang pagi-pagi dan berbaris rapi di hadapan Hilyah. Satu persatu diantara mereka menerima amplop dari Hilyah. Amplop yang berisikan uang gaji mereka bulan ini. Hilyah membagikannya dengan ramah.
"Ini gaji kamu bulan ini, tetap semangat ya kerjanya." Ucap Hilyah kepada salah satu pelayan kedai yang baru saja menerima amplop darinya.
Kini giliran Filzah yang menerima amplop dari Hilyah. Filzah menjadi penutup barisan penerimaan gajian kali ini. Wajah bahagianya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
"Ini gaji pertamamu Nak Filzah, semoga cukup untuk memenuhi kehidupan kamu dan Zaura ya, dan jangan lupa untuk tetap semangat dalam bekerja ya."
Filzah mengangguk penuh syukur. "Alhamdulillah, terima kasih Bu, ini sudah lebih dari cukup."
Hilyah tersenyum tulus. "Iya Nak Filzah sama-sama, terima kasih juga karena kamu sudah mau berkerja sama dengan saya di kedai ini."
"Iya Bu sama-sama."
Filzah sangat bersyukur sekali karena selama satu bulan ia bekerja kini ia sudah mendapat gaji atau yang biasa dikenal dengan sebutan gajian.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya selama satu bulan aku bekerja, hari ini aku sudah mendapatkan gaji, dan nanti aku akan sisihkan untuk biaya pengobatan Bapak." Filzah bersyukur sekali karena ia sudah mendapatkan gaji bahkan uangnya sudah berada di tangannya.
🌹🌹🌹
Semenjak pemandangan miris yang disaksikan langsung oleh sepasang matanya sukses membuat Azlan kepikiran terus menerus. Air mata Zaura selalu terngiang di ingatannya. Azlan sampai tidak berkonsentrasi dalam pekerjaannya.
"Ya Allah kenapa aku selalu kepikiran sama Zaura, hati aku terasa sakit saat mengingat kejadian itu." Azlan memegangi dadanya seraya terus kepikiran dengan Zaura. Dan ini diluar dugaannya.
"Aku harus berbuat sesuatu, aku nggak bisa diam saja, tapi aku harus berbuat apa?." Azlan gelisah. Ia langsung memikirkan tindakan yang harus ia lakukan untuk mengatasi pikirannya yang dipenuhi oleh Zaura, gadis kecil yang telah mencuri perhatiannya.
Kedua bola mata Azlan membulat lebar. Azlan sudah menemukan ide untuk bertindak sesuatu. Namun Azlan masih ragu. Ia takut tindakannya nanti salah. Tetapi Azlan tidak menemukan ide lain. Mau tidak mau ia harus memantapkan hatinya untuk melakukan tindakan yang ia peroleh dari otaknya yang sejak tadi menjelajah untuk mencari ide.
"Semoga tindakan aku ini benar, dan semoga ini yang terbaik untuk aku juga, sekarang aku harus pulang, aku harus beritahu Mama."
Azlan langsung membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Setelah itu ia pun bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk pulang ke rumah bertemu dengan sang Mama.
🌹🌹🌹
"Mama."
"Ma."
Azlan memasuki rumahnya sambil memanggil-manggil Mamanya. Ia menyusuri semua ruangan di rumahnya namun sang Mama tidak kunjung ditemukan. Azlan berhenti di ambang pintu yang menuju taman. Ia tersenyum ketika mendapati sang Mama sedang menyiram bunga-bunga yang bermekaran memenuhi taman samping rumah mereka.
"Ma." Azlan menghampiri sang Mama.
Hilyah menoleh ke belakang. Ia sedikit terkejut melihat Azlan sudah berada di hadapan matanya. Setelah membagikan gaji para karyawan di kedainya tadi pagi, sore harinya Hilyah sudah kembali ke rumahnya dan mengisi waktu sorenya dengan mengurusi tanaman di taman yang letaknya tepat di belakang rumahnya.
"Lho Azlan kok jam segini sudah pulang?, ada apa?, apa kamu sedang nggak enak badan?" Hilyah merasa aneh dengan kepulangan Azlan yang tidak seperti biasanya.
Azlan menggeleng pelan. Ia menepis rasa kekhawatiran Hilyah. "Azlan sehat-sehat saja Ma."
"Kalau kamu sehat-sehat saja, tapi kenapa pulang jam segini?, ini kan masih sore, belum waktunya pulang." Hilyah kembali bertanya kepada Azlan.
"Ma, Azlan ingin bicara sama Mama." Raut wajah Azlan berubah menjadi serius. Hilyah pun juga ikut serius.
Azlan membawa Hilyah ke tempat duduk yang ada di taman samping rumah mereka. Azlan dan Hilyah duduk bersampingan. Perlahan Azlan mengelus lembut punggung tangan sang Mama.
Azlan mengatur napasnya sebelum ia memulai pembicaraannya. "Ma, Azlan ingin menikah." Ujar Azlan serius.
Hilyah terkejut. Sepasang matanya membulat sempurna. Hilyah masih belum percaya akan ucapan Azlan yang menurutnya secara tiba-tiba. Tidak ada angin tidak ada hujan Azlan ingin menikah. Sungguh aneh dan membuat Hilyah tercengang.
"Azlan, kamu, kamu serius?, kamu ingin menikah?" Hilyah masih sangat tidak percaya akan ucapan putra bungsunya yang sudah sangat jelas di pendengarannya.
Azlan mengangguk penuh keyakinan. Ia sudah memikirkannya dengan matang. Makanya ia berani mengungkapkan keinginannya kepada Hilyah yang berstatus sebagai Mamanya.
"Iya Ma Azlan serius, bukannya ini keinginan Mama kan agar Azlan segera menikah, Mama memberikan restu Azlan untuk menikah kan Ma?"
Hilyah masih ragu untuk memberikan restu kepada Azlan yang ingin menikah. Jujur saja Hilyah masih shock dan masih perlu mempertanyakan keseriusan Azlan.
"Azlan, Mama mau tanya terlebih dahulu sama kamu, kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah?, padahal kemarin-kemarin kamu bilang sendiri kalau kamu belum mau menikah."
Azlan terkekeh melihat Mamanya langsung membrondong dirinya dengan beberapa pertanyaan karena keputusannya yang ingin menikah dirasa aneh dan seperti terburu-buru.
"Ma itu kan kemarin, kemarin sama sekarang berbeda, sekarang Azlan sudah yakin untuk menikah, jadi Mama merestui Azlan untuk menikah kan?"
Hilyah tersenyum lega mendengar Azlan sudah memantapkan hatinya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Sebagai seorang Ibu, sudah pasti Hilyah akan merestui anaknya yang ingin menikah.
__ADS_1
Perlahan Hilyah menganggukkan kepalanya dengan diiringi senyuman termanisnya. "Mama pasti merestui keinginan kamu untuk menikah, ini yang selama ini Mama tunggu-tunggu, akhirnya kamu akan menikah juga, tapi... apakah kamu sudah ada calonnya?, soalnya selama ini kamu belum pernah tuh memperkenalkan seorang perempuan kepada Mama."
Azlan kembali menganggukkan kepalanya. "Iya Ma, Azlan sudah punya calon istri." Ujar Azlan dengan terang-terangan kepada Hilyah.
Binar-binar kebahagiaan langsung terpancar di sepasang mata Hilyah. Akhirnya yang Hilyah doakan selama ini terkabul juga.
"Syukurlah kalau begitu Mama senang dengarnya, ngomong-ngomong kalau boleh Mama tahu siapa perempuan yang akan menjadi calon istri anak bungsu Mama ini?" Hilyah penasaran dan ingin mengetahui calon menantunya yang belum dikenalkan oleh Azlan kepadanya.
Azlan kembali mengukir senyumannya. "Mama kenal kok, sangat kenal."
"Serius?, memangnya siapa?" Hilyah semakin penasaran dan meminta Azlan untuk buru-buru menjawab pertanyaannya.
"Filzah, Ma." Ucapnya lirih.
Hilyah langsung menyerngitkan dahinya. Antara percaya dan tidak percaya. Lebih tepatnya Hilyah terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata diam-diam putra bungsunya mencintai Filzah, karyawan baru di kedainya. Namun Hilyah belum pernah melihat Azlan dan Filzah berduaan atau mengobrol berdua. Mungkin mereka bertemu tanpa sepengetahuannya.
"Fi-Filzah?, kamu serius Azlan?" Hilyah menanyakan kebenaran pertanyaan dari Azlan.
"Iya Mama, apakah Mama setuju kalau Azlan menikah dengan Filzah?"
"Mama setuju-setuju saja, yang terpenting kamu bahagia, dan menurut Mama, Filzah adalah perempuan yang baik, dia juga mempunyai perangai yang baik, tapi kalau Mama boleh tahu sejak kapan kamu mencintai Filzah?, Mama kok nggak tahu sih kalau anak bungsu Mama ini ternyata diam-diam mencintai karyawan baru di kedai Mama." Hilyah menggoda Azlan yang menurutnya telah diam-diam mencintai Filzah, karyawan baru di kedainya.
"Syukurlah kalau Mama setuju, tapi Ma sebenarnya Azlan berniat untuk menikahi Filzah bukan karena sudah mencintai Filzah, tapi, karena Azlan ingin menjadi Ayah untuk Zaura."
Azlan mengungkapkan alasannya untuk menikah dengan Filzah karena ingin menjadi Ayah untuk Zaura, gadis kecil yang sudah menjadi anak yatim sejak kecil.
Hilyah tercengang. Ia mencerna baik-baik ucapan Azlan. Detik berikutnya Hilyah tersenyum penuh keharuan dan kebanggaan dengan niat mulia putra bungsunya yang ingin merawat Zaura, seorang anak yatim.
"Mama nggak bisa berkata apa-apa lagi, niat kamu sungguh mulia, Zaura memang membutuhkan sosok Ayah dalam hidupnya, Mama sangat setuju kalau kamu menjadi Ayah untuk Zaura."
Azlan dapat tersenyum lega. Akhirnya ia sudah mengantongi restu dari sang Mama. Bahkan alasannya yang ingin menjadi Ayah untuk Zaura diacungi jempol oleh Hilyah.
"Kalau begitu kapan kamu akan melamar Filzah?, Mama harap secepatnya ya." Hilyah sudah tidak sabar menyuruh Azlan untuk segera melamar Filzah.
"Bagaimana kalau nanti malam Ma?" Azlan memberikan saran dengan meminta persetujuan dari Hilyah.
Tanpa berlama-lama lagi Hilyah langsung menganggukkan kepalanya. Ia tidak perlu berpikir panjang untuk menyetujui saran dari Azlan.
"Mama setuju sekali, semoga nanti lamarannya lancar ya, dan Filzah menerima lamaran kamu."
"Iya Ma, aamiin." Azlan mengaminkan ucapan Hilyah yang menjadi doa untuknya. Untuk acara lamarannya malam nanti.
🌹🌹🌹
Suara ketukan pintu yang cukup keras sedikit mengejutkan Filzah yang baru saja menyelesaikan kegiatannya mencuci piring.
"Bunda itu ada tamu ya?" Zaura yang sedang membantu Bundanya juga mendengar suara ketokan pintu yang berasal dari luar pintu rumah mereka.
"Iya Sayang, ayo kita buka pintunya."
"Ayo Bunda."
Filzah dan Zaura langsung bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu rumah mereka yang seperti sedang kedatangan tamu.
Kreggg
Pintu pun terbuka lebar. Terlihat seorang perempuan paruh baya bersama laki-laki muda sedang berdiri di depan pintu rumah Filzah.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
"Oma." Ujar Zaura yang langsung memanggil Hilyah.
Yang bertamu ke rumah Filzah ialah Hilyah dan Azlan. Hilyah tersenyum ke arah Filzah dan Zaura. Sementara Azlan hanya tersenyum kepada Zaura karena ia merasa canggung bila tersenyum kepada Filzah, perempuan yang belum ia kenal lebih jauh namun ia ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupnya.
"Ibu Hilyah, Pak Azlan."
"Mari silakan masuk." Tanpa berlama-lama lagi Filzah langsung mempersilakan Hilyah dan Azlan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Nak Filzah sebelumnya saya dan Azlan, anak saya ingin meminta maaf karena sudah menganggu Nak Filzah malam ini." Hilyah mengawali obrolannya dengan berucap kata maaf kepada Filzah karena sudah menganggunya malam-malam seperti ini.
"Iya Ibu tidak apa-apa, tidak menganggu kami juga." Filzah tidak mempermasalahkan kedatangan Hilyah dan Azlan malam ini ke rumahnya.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya Nak Filzah, kami datang ke sini karena kami ada niat baik kepada Nak Filzah, silakan Azlan bicarakan kepada Nak Filzah." Hilyah mengutarakan maksud dan tujuannya bertamu ke rumah Filzah. Lalu mempersilakan Azlan untuk bersuara. Mengutarakan niat baiknya kepada Filzah.
Filzah sedikit terkejut. Ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Rasa penasaran juga mulai muncul di benaknya.
Azlan menganggukkan kepalanya. Ia mengambil napas sejenak. Kemudian mulai bersuara. "Kedatangan saya ke sini, saya ingin..." Azlan menjeda ucapannya.
"Saya ingin melamar kamu, Filzah." Ujar Azlan dengan singkat, padat dan jelas.
__ADS_1
Seketika Filzah langsung tercengang. Ia sangat terkejut akan pernyataan yang baru saja terlontar dari mulut Azlan. Detik berikutnya Filzah terdiam. Lidahnya keluh seakan tidak bisa berucap satu katapun.
"Apa?, Pak Azlan melamar aku?, bagaimana ini bisa terjadi?, aku dan Pak Azlan belum saling mengenal satu sama lain, tapi kenapa tiba-tiba Pak Azlan ingin melamar aku?." Filzah bertanya kepada dirinya sendiri di dalam hatinya. Jujur saja Filzah belum bisa percaya sepenuhnya bahwa Azlan benar-benar ingin melamar dirinya.
"Saya ingin melamar kamu karena saya ingin menjadi Ayah untuk Zaura, saya sangat menyayangi Zaura, saya ingin Zaura bahagia karena mempunyai seorang Ayah sama seperti anak-anak seumurannya." Azlan berucap seraya menatap dan tersenyum ke arah Zaura, anak yatim yang ia sayangi sepenuh hati.
"Zaura mau nggak punya Ayah?" Hilyah bertanya kepada Zaura yang sejak tadi hanya fokus mendengarkan ucapan mereka.
Zaura langsung menganggukkan kepalanya. Ia tampak senang dan bahagia sekali. "Zaura mau Oma, Zaura mau punya Ayah seperti teman-teman Zaura." Ucapnya dengan riang.
Filzah tersenyum kepada Zaura yang lebih dulu tersenyum kepadanya. Namun saat kembali menatap ke arah Hilyah dan Azlan, Filzah terlihat kaku dan senyumannya mulai memudar.
"Jadi bagaimana Nak Filzah, apakah lamaran dari Azlan anak saya diterima? atau bagaimana?" Hilyah mengingatkan Filzah untuk segera memberikan jawaban atas lamaran Azlan.
Jujur saja bagi Filzah lamaran Azlan terkesan mendadak dan buru-buru. Bahkan mereka belum saling mengenal satu sama lain. Namun Azlan begitu tulus menyayangi Zaura serta bersedia menjadi Ayah sambung untuk Zaura. Kini Filzah menjadi bingung dan tidak tahu harus memberikan jawaban dengan kata apa. Antara iya atau tidak.
"Mohon maaf Ibu Hilyah, Pak Azlan, saya belum bisa menjawabnya saat ini juga, karena ini menyangkut masa depan saya dan Zaura, terlebih lagi Zaura masih ada Kakek dan Nenek, kedua orang tua Ayahnya Zaura." Filzah berhati-hati sekali dalam merangkai kata demi kata untuk memberikan jawaban atas lamaran dari Azlan. Filzah tidak ingin menyakiti perasaan Azlan terlebih lagi Hilyah, perempuan baik hati yang sudah memberikannya pekerjaan.
Hilyah tersenyum. Ia mengerti akan maksud dari ucapan Filzah yang bijak sekali. Nada bicaranya juga halus dan lembut.
Azlan pun mengangguk. "Iya saya mengerti, ini memang bukan persoalan yang mudah untuk kamu dan Zaura, apalagi menyangkut masa depan kalian, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, saya akan menunggu jawaban dari kamu, kapanpun itu." Lanjut Azlan dengan santai. Sama sekali tidak mempermasalahkan atas jawaban dari Filzah yang belum bisa memberikan jawaban yang pasti untuk lamarannya.
"Iya Nak Filzah, Ibu sama Azlan tidak keberatan kok jika Nak Filzah belum bisa menjawabnya sekarang, yang terpenting Nak Filzah pikirkan baik-baik ya, ini semua juga demi Zaura, demi kebahagiaan Zaura." Hilyah menyelipkan sedikit nasihat kepada Filzah agar memikirkan semuanya dengan baik-baik karena ini menyangkut kebahagiaan Zaura.
Filzah mengangguk pelan. Ia bersyukur karena Azlan dan Hilyah mau mengerti akan dirinya yang membutuhkan waktu untuk memikirkan jawaban atas lamaran dari Azlan.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Nak Filzah, ayo Azlan."
"Iya Ma, Zaura Om sama Oma pulang dulu ya Sayang."
Zaura mengangguk. "Iya Om baik." Jawabnya seraya menampilkan senyumannya.
Kemudian Hilyah dan Azlan bergegas keluar dari rumah kontrakan Filzah. Dan Filzah bersama Zaura juga ikut keluar untuk mengantarkan mereka. Zaura melambaikan tangannya kepada Azlan dan Hilyah. Dan Hilyah juga membalas lambaian tangan Zaura. Begitupun dengan Azlan yang tidak mau kalah untuk melambaikan tangannya kepada Zaura.
Setelah mobil Azlan sudah pergi jauh, Filzah duduk berjongkok. Mensejajarkan dirinya dengan putrinya. Ia tatap lekat sepasang bola mata yang sedang memandanginya juga. Senyuman mulai terukir di wajahnya.
"Zaura ingin punya Ayah?" Tanya Filzah seraya menahan isak tangisnya.
Perlahan Zaura mengangguk. Wajah polosnya membuat Filzah tak kuasa menahan tangisannya. Air matanya meluruh begitu saja. Dipelukanya sang putri tersayang dengan perasaan haru dan sedih.
"Ya Allah aku nggak kuat melihat putriku yang masih kecil ini, dia begitu ingin mempunyai seorang Ayah, Zaura memang membutuhkan sosok Ayah dalam hidupnya, tapi aku belum berpikiran untuk menikah lagi. Maafkan Bunda Zaura, untuk saat ini Bunda belum bisa menerima lamaran dari Om Azlan, Bunda butuh waktu Sayang." Tutur Filzah dalam hati.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatulah Wabarokaatuh
Alhamdulillah ala kulli hal
Akhirnya Ukhfira bisa update lagi di lapak ini
Sudah part 10 saja nig
Maa syaa Allah
🤗🤗🤗
Btw para Readers masih setia di lapak ini kan???
Masih mantauin perkembangannya Filzah dan Zaura kan???
Kira-kira Filzah akan menerima lamaran Azlan atau tidaknya???
Penasaran dengan part selanjutnya???Â
Yuk hayuk scroll keatasss
👆👆👆
Tapi nanti ya...
🙈🙈🙈
Setelah dapet notipnya dari akohhh
🤓🤓🤓
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
😎😎😎
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1