
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa ya
🌹🌹🌹
Pagi-pagi sekali Filzah sudah bercucuran keringat lantaran ia sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suami, anak, serta keluarga besar suaminya. Filzah tidak sendirian melainkan ia dibantu oleh asisten rumah tangganya namun Filzah yang banyak andil dalam menyiapkan sarapan pagi kali ini.
Aroma masakan yang tercium dari dapur menarik perhatian Hilyah yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dasar. Karena telanjur penasaran Hilyah langsung bergerak menuju dapur.
"Bibik masak apa?, kok aromanya enak seka-li, Filzah?" Hilyah baru menyadari bahwa di dapur asisten rumah tangganya sedang tidak sendiri melainkan bersama Filzah, menantunya.
"Mama."
"Filzah nasi goreng ini kamu yang buat?." Tanya Hilyah dengan terkagum-kagum melihat pemandangan di atas meja makan yang mengguncangkan perutnya.
Filzah mengangguk. "Iya Ma tapi juga dibantu sama Bibik, ya kan Bik."
"Iya Bu, Bibik juga membantunya, menyiapkannya di meja makan, hehehe." Asisten rumah tangganya cengengesan karena ia hanya membantu menyiapkan saja bukan membantunya memasak.
"Wah kelihatannya enak sekali nih, Mama jadi nggak sabar deh untuk mencicipinya."
Filzah tersenyum bahagia melihat Hilyah yang sudah tidak sabar untuk mencicipi nasi goreng buatannya.
Tak lama kemudian Azlan dan Zaura datang beserta keluarga kecil Ergin yang menyusulnya dari belakang. Panggilan alam dari dalam perut mereka yang mengantarkan mereka ke ruang makan. Dan waktunya sarapan juga sudah tiba.
"Alhamdulillah sudah lengkap semua nih, ya sudah kalau begitu ayo sekarang kita sarapan, Mama sudah nggak sabar ingin mencicipi nasi goreng buatan Filzah."
"Apa Ma?" Tanya Selin sangat terkejut.
"Iya Selin, sarapan kita pagi ini buatan Filzah, menantu baru Mama, ayo kita sarapan."
Hilyah mengajak anggota keluarganya untuk segera mengisi kursinya masing-masing. Sejujurnya Selin malas sekali namun ia ingin menghargai Hilyah sebagai mertuanya dan Ergin juga menyuruhnya untuk tetap tenang.
Filzah ikut duduk. Ia menempati tempat duduk di sebelah kanan Azlan sementara Zaura duduk di sebelah kiri Azlan dan Hilyah duduk di kursinya yang posisinya tepat di hadapan anak-anaknya.
"Ini higenis nggak?" Celetuk Selin terang-terangan.
"In syaa Allah higenis Mbak Selin." Ucap Filzah meyakinkan Selin bahwa masakannya dijamin higenis karena ia memasaknya dengan tetap menjaga kebersihan.
"Baguslah kalau begitu." Sahut Selin yang masih belum sepenuhnya mempercayai pernyataan dari Filzah.
"Pak biar saya yang ambilkan." Filzah menawarkan dirinya untuk mengambilkan Azlan nasi goreng setelah tadinya Azlan berniat untuk mengambilnya sendiri.
"Lho kok manggilnya Bapak?" Tanya Hilyah merasa aneh.
Filzah gelagapan ia tidak tahu harus menjawab apa dan Filzah memang tidak tahu harus memanggil Azlan dengan sebutan apa. Ia takut jika memanggil Azlan dengan sebutan lain nantinya Azlan malah kurang menyukainya atau bahkan malah membencinya sehingga Filzah mencari amannya saja dan Azlan sepertinya menerima saja dengan panggilan Bapak yang disematkan Filzah kepadanya buktinya Azlan tidak mengomentarinya namun kini malah Hilyah yang mengomentarinya.
Filzah bukannya menjawab ia malah memberikan piring yang sudah diisikan nasi goreng kepada Azlan. Filzah bukannya tidak mau menjawabnya hanya saja Filzah tidak tahu harus menjawab dengan apa dan kalau nanti dipaksakan untuk menjawab takutnya jawabannya malah salah dan malah berakibat fatal.
"Ya terus mau manggil apa Ma?" Tanya Azlan seakan mewakilkan Filzah yang tidak bisa menjawabnya.
"Lho ya terserah Filzah, asal jangan memanggil Bapak, memangnya kalian Bapak sama Anak, ada-ada saja deh." Hilyah terkekeh diakhir kalimatnya. Ia merasa lucu dengan Filzah yang memanggil suaminya dengan sebutan Bapak alhasil bukan seperti suami istri melainkan seperti seorang Bapak dan anak.
"Ya sudahlah Ma, biar Azlan saja nanti yang bahas hal itu, sekarang ayo kita sarapan, nanti keburu siang." Azlan tidak berminat untuk membahasnya lebih detail sehingg ia mengalihkannya dengan mengajak Hilyah dan yang lainnya untuk segera sarapan.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita sarapan." Akhirnya Hilyah melupakan persoalan tadi yang belum sempat Filzah jawab. Ia juga sudah memusatkan perhatiannya kepada nasi goreng yang kini sudah berada di hadapannya.
Filzah berkeringat dingin. Ia memperhatikan semua orang termasuk Hilyah yang sudah mengangkat sendoknya. Dan Hilyah pun memasukkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Filzah menggigit bibir bawahnya. Ia takut masakannya banyak kekurangannya bahkan ia takut ada yang memuntahkannya karena kurang enak di lidah mereka.
Seketika raut wajah Hilyah langsung cerah. Ia pun menoleh ke arah Filzah yang sudah menunggu dirinya untuk membuka suaranya.
__ADS_1
"Ini enak sekali Filzah, gurih lagi, Mama nggak menyangka ternyata kamu jago masak ya." Hilyah memuji kelezatan nasi goreng buatan Filzah tanpa ampun. Bahkan ia terus menyantapnya tanpa jeda.
"Alhamdulillah kalau enak Ma." Ucap Filzah yang tidak melayang atas pujian itu sebab yang pantas dipuji hanyalah Allah. Karena masakannya yang enak itu atas keridhoan Allah.
"Azlan masakan istri kamu enak kan?" Hilyah meminta persetujuan Azlan mengenai kelezatan masakan Filzah.
Azlan terdiam. Ia memang sudah mencicipi nasi gorengnya bahkan ia juga mengakui bahwa nasi goreng buatan Filzah memang enak namun ia tidak mengungkapkannya secara langsung.
"Azlan?" Hilyah menegur Azlan karena tidak kunjung memberikan jawaban.
Perlahan Azlan akhirnya mengangguk. Mengakui bahwa nasi goreng buatan Filzah memang enak.
"Iya Ma, nasi gorengnya enak." Ucap Azlan kemudian.
"Halah biasa saja tuh rasanya, ya seperti nasi goreng pada umumnya, ya kan Daddy?" Selin tidak terima Filzah dipuji terus menerus lebih tepatnya ia iri dan tidak suka tentunya.
Ergin mengangguk tanpa ragu. "Benar tuh Mommy, malahan ya lebih enak nasi goreng di kedai kita, secara chef profesional yang masak, lah ini chef jadi-jadian." Ergin berkata lirih disaat kalimat terakhirnya yang seenaknya memberikan sindirian pedas untuk Filzah.
Filzah yang mendengarkannya hanya bisa beristighfar dalam hati. Ia sedikit sedih karena anggota keluarga suaminya lebih tepatnya Abang dan Mbak iparnya tidak menyukai dirinya bahkan teganya mereka menghina nasi goreng buatannya dan lebih parahnya lagi, Azlan yang berstatus sebagai suaminya hanya diam saja tidak ada tindakan pembelaan untuk istrinya sendiri yang telah dihina secara terang-terangan di hadapannya pula.
"Sudah-sudah, kalian ini bukannya memuji malah mencaci, memangnya kalian bisa memasak nasi goreng seperti ini?, bisanya cuma makan doang kan?" Hilyah tidak terima karena masakan Filzah yang menurutnya enak malah dihina oleh anak dan menantunya padahal mereka juga mencicipinya. Memang tidak tahu diri.
"Ya habisnya Mama berlebihan sekali, melayang deh tuh chef dadakannya." Selin terkekeh diakhir ucapannya.
"Selin!" Hilyah menegur Selin yang sudah keterlaluan.
"Kamu itu nggak boleh seperti itu, Filzah itu adik ipar kamu, seharusnya kamu mencontoh dia, bukan malah mencemooh."
Selin terdiam. Namun hatinya mendidih. Berani sekali Mama mertuanya itu membeda-bedakan dirinya dengan Filzah yang masih berstatus menantu baru. Ini tidak bisa dibiarkan, Selin terlanjur sakit hati dengan Hilyah.
Bruggg
Selin beranjak dari tempat duduknya dengan sangat keras sehingga kursi yang di dudukinya terdorong ke belakang alhasil menimbulkan keterkejutan semua orang, termasuk Hilyah yang baru saja menasihatinya.
Selin langsung mengajak suami dan putrinya untuk pergi sekarang juga. Ia sudah tidak bisa menikmati sarapan paginya bahkan ia bukannya mencicipi sarapannya justru ia malah disuapkan nasihat pedas oleh Mama mertuanya.
"Iya Mommy ayo kita berangkat." Ergin menerima ajakan istrinya bahkan ia berani sekali memberikan tatapan sinis kepada Hilyah, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan sepenuh jiwa.
"Yes Mommy, Grizelle juga mau sarapan di luar, nasi gorengnya nggak enak, nggak cocok untuk perut Grizelle." Bahkan si kecil Grizelle sudah tidak sopan kepada yang lebih tua dengan ikut menghina masakan Filzah.
Hilyah hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat kepergian anak, menantu serta cucunya yang sudah tidak menghargai dirinya bahkan tidak hormat kepadanya sebagai Mama, Mertua dan Oma bagi mereka.
"Mama maafkan Filzah Ma, karena Filzah-"
"Nggak Filzah ini bukan kesalahan kamu, tabi'at mereka memang seperti itu, Mama harap kamu bisa memakluminya ya dan jangan dimasukan ke hati." Titah Hilyah kepada Filzah.
Filzah mengangguk. Ia akan mengikuti perintah dari Hilyah agar memaklumi sifat tercela keluarga Ergin bahkan tidak sampai memasukkannya ke dalam hati.
Beberapa menit kemudian acara sarapan paginya telah selesai. Filzah bergegas membereskan semua yang ada di meja makan namun Hilyah langsung melarangnya.
"Nggak usah Filzah biar Bibik saja yang membereskan semuanya."
"Nggak apa-apa Ma, biar Filzah saja yang membereskannya."
Hilyah pun tidak bisa melarangnya lagi dan Filzah membereskan semuanya serta menaruhnya ke dapur. Dengan sigap Zaura ikut membantu membawakan piring-piring yang kotor.
"Lho Zaura mau ke mana?" Tanya Hilyah mencegah Zaura yang hendak ke dapur.
"Zaura mau membantu Bunda, Oma." Ucap Zaura yang langsung menyusul kepergian Filzah menuju dapur.
Hilyah menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum penuh kagum. Ia tidak menyangka si kecil Zaura sudah berinisiatif untuk membantu Bundanya.
"Azlan kamu memang nggak salah pilih istri, Filzah adalah menantu idaman Mama, karena dia pintar memasak dan sama sekali nggak keberatan masuk ke dapur, apalagi di kaman sekarang ini kebanyakan Ibu rumah tangga itu maunya yang instant, atau mereka menyuruh pembantu yang masak padahal harusnya dia yang masak untuk keluarganya."
__ADS_1
Hilyah tiada hentinya memuji Filzah bahkan menurutnya Filzah adalah menantu idaman. Azlan yang mendengarnya hanya terdiam tanpa kata tetapi otaknya sedang berpikir keras. Setelah menyaksikan sendiri bagaimana keahlian istrinya dalam hal memasak sudah dipastikan Azlan menyimpan rasa kagum dalam diamnya namun ia tidak mau menampakkannya. Ia masih ingin melihat sisi yang lain dari istrinya sampai ia benar-benar jatuh cinta dengan sendirinya dan dengan seiring berjalannya waktu.
Kini seusai Filzah dan Zaura beres-beres di dapur mereka keluar dari rumah bersama Hilyah dan Azlan. Rencananya hari ini Filzah dan Azlan akan mengantarkan Zaura ke sekolahnya.
"Zaura salim sama Oma dulu Sayang." Ucap Filzah mengingatkan Zaura.
"Iya Bunda." Jawab Zaura yang langsung mencium tangan Hilyah.
"Oma, Zaura sekolah dulu ya."
"Iya Sayang, Zaura sekolah yang rajin ya."
"Siap Oma."
Kini Filzah mencium tangan Hilyah untuk berpamitan karena akan mengantarkan Zaura ke sekolahnya.
"Yandah nggak salim juga sama Oma?" Tanya Zaura saat melihat Azlan hanya terdiam saja.
"Oh, ini, ini Yandah mau salim sama Oma." Buru-buru Azlan mencium tangan Hilyah padahal biasanya ia tidak pernah melakukan hal terpuji itu. Tetapi mulai detik ini ia akan berusaha untuk melakukannya. Ia ingin memberikan contoh yang baik kepada Zaura.
"Kalau begitu kami berangkat dulu ya Ma."
"Iya kalian hati-hati ya, Azlan bawa mobilnya yang sedang saja nggak usah mengebut."
"Siap Ma." Azlan memberi hormat kepada Hilyah.
Dengan sigap Azlan membukakan pintu mobil belakang untuk Zaura. Lalu ia juga tidak lupa untuk membukakan pintu serta menutupnya kembali untuk Filzah yang akan duduk di sampingnya.
Mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang. Meninggalkan Hilyah yang melambaikan tangannya kepada anak, menantu serta cucunya.
🌹🌹🌹
Di perjalanan Zaura fokus dengan menatap pemandangan indah yang disuguhkan di sepanjangan perjalanan lewat kaca jendela samping. Sementara kedua orang tuanya, Azlan dan Filzah fokus menatap jalanan di depannya dengan saling tenggelam dalam diamnya masing-masing. Tidak ada obrolan sama sekali. Sunyi senyap seperti suasana di hutan belantara hanya deruan napas masing-masing yang terdengar memenuhi suasana di dalam mobil. Entah sampai kapan suasana canggung ini akan berakhir. Nyatanya kedua insan yang telah disatukan dengan ikatan suci pernikahan itu tidak saling memulai percakapan untuk menjadikan keduanya lebih dekat. Filzah memang tipe perempuan yang tidak banyak bicara dan Azlan juga bukan laki-laki yang mudah berbaur sehingga keduanya belum bisa akrab seperti pasangan suami istri pada umumnya.
"Zaura belajar yang rajin ya, dan semangat." Azlan memberikan suntikan semangat kepada putri sambungnya dalam belajar di sekolahnya.
"Siap Yandah." Jawab Azlan memberi hormat kepada Azlan sama seperti yang dilakukan Azlan tadi kepada Hilyah.
Sebelum masuk ke dalam sekolahnya Zaura mencium tangan Azlan dan Filzah secara bergantian. Kemudian di luar dugaan ia menyatukan kedua tangan Yandah dan Bundanya. Seketika Azlan dan Filzah saling menatap satu sama lain. Tatapan keduanya saling mengisyaratkan keterkejutan. Namun detik berikutnya Azlan malah menggenggam erat tangan Filzah. Dan ia mengulas senyuman ketika Filzah menatapnya karena terkejut.
"Nah begitu dong, Yandah sama Bunda berpegangan tangan, seperti orang tuanya teman-teman Zaura."
Tatapan ketiganya pun langsung beralih pandang ke arah sekitar. Terlihat anak-anak seumuran Zaura sedang diantar oleh orang tuanya dengan sambil bergandengan tangan.
"Iya dong Sayang, Yandah dan Bunda pasti akan selalu bergandengan tangan, kalau perlu Yandah akan mencium tangan Bunda." Tak disangka Azlan benar-benar mencium punggung tangan Filzah serta menatap pemilik tangan tersebut dengan tatapan penuh ketulusan.
Detak jantung Filzah langsung tak beraturan terlebih lagi setelah ia mendapatkan perlakuan manis nan romantis dari Azlan, kekasih halalnya. Bahkan cucuran air keringat mulai membasahi wajahnya. Filzah sudah tidak bisa menahan kegugupannya. Wajar saja karena setelah tujuh tahun lamanya ia tidak bersentuhan lagi dengan yang bukan mahromnya. Ibarat kata Filzah seperti anak perawan yang baru saja memasuki lembaran baru pernikahan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah part 14 sudah tayang di lapak ini
semoga kalian suka dan tetap stay at here
Di cerita cinta Istiqomah
Cerita cintanya Azlan ❤ Filzah
Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers
😎😎😎
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh