
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah
Vote dan komenmu jangan lupa
🌹🌹🌹
"Assalaamu 'alaikum."
Dua orang lelaki dengan memakai setelan pakaian taqwa saling membuka pintu rumah dengan berucap salam, mereka ialah Azlan dan Ergin yang baru pulang sehabis sholat subuh berjama'ah di masjid.
Kedatangan mereka disambut meriah oleh Selin yang sedang menggendong bayi mungil bernama cantik Qiana.
"Wa 'alaikumus salaam, horeee Yandah dan Uncle sudah pulang dari masjid, Qiana senang sekali." Ucap Selin seakan-akan itu suara si bayi Qiana.
"Maa syaa Allah putri kecilnya Yandah sudah bangun ya, sudah mandi belum?" Tanya Azlan sembari mengelus lembut pipi halus sang putri bungsu.
"Belum Yandah, Qiana baru saja bangun tidur, ini Qiana masih menguap terus." Selin kembali berbicara menjadi Qiana.
"Oh baru bangun tidur ya, ya sudah ayo sini sama Yandah, Qiana mandi sama Yandah ya."
"Lho nggak usah Azlan, biar Qiana aku yang mandikan."
Azlan menggeleng pelan. "Nggak usah Kak Selin, biar aku saja yang memandikan Qiana, lagi pula Kak Selin kan harus mengurusi bayi satu lagi."
"Bayi satu lagi?" Tanya Selin kebingungan.
Azlan pun melirik ke arah Ergin sembari terkekeh. Kemudian Selin ikut terkekeh usai mengerti siapa yang dimaksud oleh Azlan. Sementara Ergin hanya menyerngitkan dahi, tak mengerti.
"Oh iya, aku lupa kalau punya bayi besar yang harus aku urusi, ya sudah kalau begitu Qiana mandinya sama Yandah ya Sayang, ini Yandah Qiananya." Lantas Selin pun menyerahkan Qiana kepada Azlan.
Sementara Ergin malah penasaran siapa bayi besar yang dibicarakan oleh istri dan adiknya. Saat ia hendak ingin bertanya kepada istrinya, tiba-tiba istrinya merangkulnya sembari mengatakan sesuatu kepadanya.
"Ayo Bayi besarku kita ke kamar." Ajak Selin sembari merangkul dan menarik lembut lengan suaminya untuk menuju kamar mereka.
Melihat Abang dan Kakak iparnya yang tidak bermaksud untuk bermesraan di hadapannya sempat membuat Azlan terdiam dan hanya bisa mengulas senyumannya. Terlintas di benaknya rasa iri yang tak dapat disembunyikan. Namun Azlan sudah bisa berlapang dada menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Istrinya memang sudah tidak ada di sampingnya, tetapi istrinya akan selalu ada di hatinya, namanya akan selalu tersimpan rapi di singgasana hatinya.
Tak ingin terhanyut dalam kenangan masa lalu, Azlan pun segera mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Qiana yang kini sedang berada dalam dekapannya.
"Sekarang waktunya Qiana mandi." Ucap Azlan dengan perlahan menuju kamarnya untuk memandikan bayi kecil yang cantiknya seperti mendiang istrinya, Filzah.
Azlan begitu telaten memandikan Qiana di bak mandinya. Ia mengalirkan air ke seluruh tubuh mungil putrinya dengan pelan-pelan dan penuh kehati-hatian sekaligus dengan penuh kasih sayang yang ia tumpahkan semuanya.
Akhirnya Azlan sudah terbiasa dengan kehidupan barunya yaitu bukan hanya mengurusi dirinya sendiri, melainkan ia juga mengurusi dua buah hatinya terutama Qiana yang masih bayi meskipun ia banyak dibantu oleh Hilyah, Selin dan Uzmah untuk mengurusi Zaura serta Qiana namun bukan berarti ia lepas tanggung jawab begitu saja. Azlan juga ingin menjadi Ayah yang siaga untuk putri-putrinya salah satunya ia bisa mengurusi mereka dengan baik.
"Alhamdulillah sekarang Qiana sudah mandi dan sudah wangi, sekarang giliran Yandah yang mandi, Qiana sama Oma dulu ya, ayo kita keluar cari Oma Sayang." Usai memandikan serta memakaikan pakaian kepada Qiana, Azlan bergegas membawa Qiana keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Hilyah.
"Mama, Ma." Panggil Azlan seraya kakinya terus melangkah untuk mencari keberadaan Hilyah.
"Iya Azlan Mama di sini." Sahut Hilyah yang segera memunculkan dirinya di hadapan Azlan.
"Mama, Azlan titip Qiana sebentar ya, Azlan mau mandi dulu."
"Kamu ini, kenapa harus bilang titip, Qiana ini kan cucu Mama, jadi ya sudah seharusnya Mama bantu kamu untuk mengasuhnya, ya sudah sini, biar Qiana sama Mama."
Azlan pun memberikan Qiana kepada sang Mama. Lalu ia hendak kembali ke kamarnya namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena Selin memanggilnya.
"Azlan ini kemeja kerja kamu."
Selin menyerahkan baju kemeja berwarna navy dengan satu tangannya karena tangan yang satunya juga sedang memegang baju kemeja yang dapat ditebak itu milik Ergin.
Azlan pun menerimanya dengan rasa haru karena Kakak iparnya begitu perhatian kepadanya. "Maa syaa Allah terima kasih Kak Selin, aku nggak tahu lagi harus bilang apa, Kak Selin baik sekali sama aku."
Selin menggelengkan kepala. "Azlan, kamu nggak usah berterima kasih, sudah seharusnya aku berbuat baik sama kamu, kamu kan Adik ipar aku, oh iya Ma, itu si Mbak di dapur sendirian ya?, nggak ada yang bantu menyiapkan sarapan?" Tanya Selin yang mengalihkan topik pembicarannya.
"Iya Selin, soalnya Ibu Uzmah sedang membantu Zaura dan Grizelle yang sedang siap-siap mau sekolah."
Selin pun mengangguk. "Oh kalau begitu biar Selin saja yang bantu Mbak, tapi Selin ke kamar dulu mau berikan kemeja ini ke Ergin." Ujar Selin mengangkat baju kemejanya yang akan diberikan kepada suaminya.
Tanpa berlama-lama lagi Selin langsung melenggang pergi untuk menuju kamarnya setelah itu ia berniat akan menuju dapur untuk membantu Asisten rumah tangganya yang sedang menyiapkan sarapan.
Sementara Azlan masih diposisinya. Ia sempat tertegun melihat Selin yang sikapnya berubah 180°. Hilyah pun sebagai seorang Ibu dapat dengan mudahnya membaca isi pikiran putranya.
"Alhamdululillah, Selin sudah banyak berubah ya, Mama seakan melihat sosok Filzah dalam diri Selin." Ucap Hilyah dengan kedua mata mulai terlihat berkaca-kaca.
Azlan tersenyum. Ia menyetujui ucapan sang Mama. Dan melihat Hilyah sedang terenyuh Azlan langsung merangkulnya untuk memberikan secerca kekuatan.
__ADS_1
"Mama, Filzah memang sudah pergi, tapi dia tetap berada di hati kita, di hati Mama, di hati aku dan di hati semua anggota keluarga kita, in syaa Allah Filzah sudah bahagia di sana, Filzah sedang menunggu kita di taman Syurga."
Hilyah menatap lekat wajah sang Putra. Ia sudah tidak melihat guratan kesedihan di wajahnya, itu artinya Putranya sudah dapat berlapang dada menerima kenyataan yang ada. Syukurlah, Hilyah ikut terenyuh melihatnya.
🌹🌹🌹
Di kesunyian malam, di dalam kamarnya yang remang-remang Azlan sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar di kepala sofa. Ia ketiduran saat sedang menidurkan si baby Qiana. Bahkan Azlan belum sempat memindahkan Qiana ke box bayinya. Namun sepertinya Qiana lebih nyaman tertidur di dada bidang sang Yandah yang memberikan segudang kenyamanan untuknya.
"Kanda."
Sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan yang sedang memanggilnya. Suara itu tidak asing lagi baginya dan yang memanggil dengan sebutan itu hanya satu orang, yaitu istrinya.
Perlahan Azlan membuka kedua matanya. Penglihatannya masih belum begitu jelas namun beberapa detik kemudian ia merasa silau dengan semburan cahaya yang bersinar tepat di hadapanya. Perlahan cahaya itu mulai menghilang dan sosok perempuan mulai terlihat sedang berdiri di hadapannya.
Seorang perempuan dengan memakai balutan gamis syar'i berwarna navy lengkap dengan khimarnya yang senada sedang berdiri di hadapan Azlan. Wajahnya yang bercahaya tersenyum menatap ke arah Azlan. Sementara Azlan dibuat tak berkedip untuk beberapa saat. Namun diseperkian detik berikutnya ia tersadar dan langsung bangkit secepat kilat saat melihat sosok perempuan itu mulai mendekatinya.
Azlan menegakkan punggungnya namun ia tetap berhati-hati agar sang buah hati tidak terusik dalam tidur pulasnya.
"Dinda." Panggil Azlan dengan lirih.
Sosok perempuan itu yang tak lain ialah Filzah perlahan duduk di sebelah suaminya. Jarak diantara keduanya begitu dekat. Filzah tersenyum ke arah suaminya lalu ia beralih memandangi bayi mungil yang tertidur dalam dekapan sang suami. Ia elus lembut kepala bayi itu bahkan ia sempat mencium keningnya dengan kasih sayang yang ia curahkan dengan setulus hati.
"Namanya siapa Kanda?." Tanya Filzah dengan nada begitu lirih.
Azlan kembali tertegun. Ia memandangi wajah cantik sang istri yang meneduhkan hatinya. Sudah lama sekali ia tidak memandangi ciptaan Allah yang satu ini, yang indah sekali.
"Namanya Qiana, dia cantik seperti Dinda." Ungkap Azlan memperkenalkan nama putrinya setelah beberapa saat tersadar dari tertegunnya.
Senyuman manis itu dapat Azlan lihat lagi dengan begitu nyata di hadapannya. "Kanda, bayi kita membutuhkan sosok seorang Ibu, aku mengizinkan Kanda untuk menikah lagi, carilah Ibu untuk bayi kita, untuk Zaura juga, Zaura dan Qiana membutuhkan sosok Ibu dalam hidup mereka, aku akan bahagia jika anak-anakku mendapatkan kasih sayang seorang Ibu."
Azlan menggeleng cepat. Raut wajahnya berubah muram. Namun ia sama sekali tidak ingin memalingkan pandangannya dari wajah istrinya.
"Nggak Dinda, sampai kapanpun aku nggak akan menikah lagi, hanya Dinda satu-satunya istriku, hanya Dinda satu-satunya Ibu dari anak-anakku, Dinda nggak akan pernah tergantikan, hanya Dinda yang ada di hati aku." Azlan meraih tangan Filzah lalu diletakkan di dadanya.
"Tapi Kanda-"
Azlan kembali menggeleng cepat. "Dinda aku mencintai Dinda sampai kapanpun, nggak ada yang bisa menggantikan Dinda di hatiku, Dinda akan tetap menjadi istriku dunia dan akhirat, in syaa Allah aku ingin kita bersatu kembali di syurgaNya Allah."
"Tapi Kanda-" Filzah kembali berucap, namun Azlan kembali menghentikannya.
"Kanda jangan egois." Ujar Filzah sedikit kecewa.
Azlan tersentak. Dari sisi mananya ia egois. Bukannya mengaminkan ucapannya, istrinya ini malah mengatakan dirinya egois. Azlan semakin dibuat tak mengerti.
"Egois?"
Filzah menganggukkan kepala. Tatapannya amat serius. Rasa sedikit kesal ia tampakkan kepada sang suami.
"Iya, Kanda egois, Kanda hanya memikirkan diri Kanda sendiri, ingat Kanda, Zaura dan Qiana membutuhkan seorang Ibu, sementara aku, aku sudah nggak bisa lagi mendampingi mereka."
Azlan tersenyum manis. Ia mengelus lembut pipi sang istri yang nampak sedih lantaran tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang Ibu seperti dulu lagi.
"Dinda, aku bukannya egois, tapi maaf ya Dinda, aku memang nggak bisa menikah lagi, karena di hatiku sudah ada Dinda dan sudah nggak ada tempat untuk perempuan lain. Masalah Zaura dan Qiana, Dinda nggak usah khawatir, meskipun aku nggak akan menikah lagi, tapi mereka masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang Ibu, bahkan limpahan kasih sayang beberapa Ibu, di keluarga kita ada tiga Ibu yang mengisi sosok Ibu di kehidupan dua buah hati kita, yaitu ada Mama, Kak Selin dan Ibu Uzmah. Mereka begitu sayang dan perhatian kepada Zaura dan Qiana. Jadi Dinda nggak usah lagi mengkhawatirkan putri-putri kita ya. In syaa Allah mereka nggak akan kekurangan kasih sayang seorang Ibu karena mereka mempunyai tiga Ibu sekaligus, eh salah, ada empat sama Dinda." Azlan mengulas senyuman bahagia.
Filzah membalas senyuman tulus sang suami. "Tapi bagaimana dengan Kanda, kalau Kanda nggak menikah lagi, siapa yang akan mengurusi Kanda, siapa yang akan melayani Kanda, siapa yang akan-"
Azlan menempelkan jari telunjuknya di bibir ranum istrinya otomatis ucapannya terhenti seketika itu juga.
"In syaa Allah aku bisa mengurusi diriku sendiri, aku ini sudah tua Dinda, aku sudah bisa dong menyediakan kebutuhan aku sendiri, aku kan sudah bukan anak-anak lagi."
Filzah menggeleng pelan. "Tapi Kanda membutuhkan pendamping hidup, Kanda membutuhkan tempat untuk bersandar, Kanda membutuhkan kasih sayang seorang istri."
"Hanya Dinda pendamping hidupku, hanya Dinda lah tempat bersandarku, dan hanya Dinda istriku seorang, nggak akan pernah ada yang lainnya, sudah ya Dinda nggak usah memikirkan aku lagi, karena bagiku saat ini melihat anak-anak bahagia itu sudah sangat cukup membuat aku bahagia."
"Lagi pula kehidupan di dunia ini kan hanya sebentar, in syaa Allah nanti kita akan disatukan lagi sama Allah di syurgaNya, jadi kita hanya bersabar saja menunggu waktu itu tiba. In syaa Allah aku akan bersabar, dan Dinda juga bersabar ya."
Akhirnya hati Filzah pun luluh. Ia tidak lagi mendesak suaminya untuk menikah lagi karena suami tercintanya hanya ingin memiliki satu istri di dunia dan di akhirat, yaitu hanya dirinya, istri satu-satunya.
"Iya Kanda, in syaa Allah aku akan bersabar."
"Alhamdulillah." Kini Azlan dapat bernapas dengan tenang.
Rasa kantuk yang sejak kedatangan sang istri mendadak menghilang, kini kembali menyergapnya. Dan ia sudah berkali-kali menutupi mulutnya karena menguap.
"Dinda aku mengantuk nih, aku tidur di pundak Dinda ya." Ucap Azlan meminta izin terlebih dahulu kepada sang istri.
Satu anggukan kepala dari Filzah menandakan bahwa dengan senang hati ia mengizinkan sang suami tertidur dengan menjadikan pundaknya sebagai bantal. Dan akhirnya Azlan memejamkan kedua matanya. Filzah pun ikut terpejam dengan kepalanya di sandarkan pada kepala sang suami.
__ADS_1
"Yandah"
"Yandah."
Azlan merasakan sentuhan tangan kecil di lengannya. Pendengarannya pun samar-samar menangkap suara gadis kecil yang samar-samar di telinganya.
Pada detik berikutnya sepasang kelopak matanya perlahan terbuka. Matanya memerah akibat baru bangun tidur. Ia sedikit tersentak melihat Zaura sudah berada di sampingnya. Seketika telintas diingatannya bahwa beberapa menit yang lalu istrinya duduk di sampingnya. Setelah cukup lama ia merombak seluruh isi dalam otaknya akhirnya ia menemukan jawabannya.
"Ya Allah tadi istriku duduk di sampingku, dan kami mengobrol bersama sampai tertidur bersama dengan kepala kami saling bersandar, tapi ternyata tadi itu hanya mimpi, tetapi kenapa rasanya seperti nyata?" Azlan bertanya-tanya dalam hati. Otaknya belum bisa menyinkronkan semuanya.
"Yandah." Panggi Zaura untuk yang ketiga kalinya.
Azlan telah melupakan sang Putri sulung yang sejak tadi sudah berada di sampingnya. Azlan pun dengan cepat memusatkan perhatiannya kepada Zaura.
"Iya Sayang, lho Zaura kenapa bangun Nak?, bukannya tadi Zaura sudah tidur ya sama Grizelle setelah dibacakan cerita Nabi sama Tante Selin?" Azlan menanyakan penyebab sang Putri terbangun dari tidurnya. Padahal tadi ia sempat mengecek sang Putri benar-benar sudah dalam keadaan tertidur pulas.
"Iya Yandah, Zaura tadi kebangun, Zaura kangen sama Bunda, Zaura ingin Bunda ada di samping Zaura, seperti dulu lagi."
"Ya Allah ternyata Zaura juga rindu sama Bundanya, kasihan kamu Nak, sekecil ini sudah kehilangan Bunda kamu, Yandah minta maaf ya, Yandah yang salah." Azlan membatin.
Azlan mengelus puncak kepala sang putri. "Zaura dengarkan Yandah ya, Bunda ada kok di dekat kita, Bunda itu, ada di hati Zaura, ada di hati Yandah juga." Azlan meletakkan tangan Zaura di dadanya.
"Jadi Zaura nggak usah sedih lagi ya, karena Bunda akan selalu ada di hati kita."
Sedikit demi sedikit hati Zaura dapat menerimanya. Senyuman kini mulai terpancar di wajah polosnya. "Iya Yandah, Zaura nggak akan sedih lagi, karena Bunda selalu ada di hati Zaura, dan Bunda juga ada di hati Adik bayi Qiana." Zaura meletakkan telapak tangannya di dada baby Qiana.
Azlan yang melihatnya berdecak haru melihat pemandangan menajubkan tepat di hadapannya.
"In syaa Allah aku akan menjaga dengan baik dua amanahMu ini ya Allah, mereka adalah sumber kebahagiaanku, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan mereka walau tanpa seorang Ibu di samping mereka."
"Teruntuk istriku tersayang, kamu nggak usah mengkhawatirkan kami, in syaa Allah kami akan selalu bahagia, tapi kami nggak akan pernah melupakan kamu Sayang, kamu adalah bagian dari kehidupan kami, kamu adalah bagian kebahagiaan kami, kami berharap kita dapat bersatu lagi menjadi keluarga di syurganya Allah nanti, aamiin Allahumma aamiin."
Azlan sadar kehidupan yang abadi bukanlah di dunia ini melainkan di syurga nanti. Ia berharap dapat bersatu kembali nanti di syurganya Allah bersama orang-orang yang dicintai, terutama bersama sang istri, sang bidadari hati yang raganya sudah tidak menemaninya lagi tetapi cinta mereka akan istiqomah sampai di syurganya Allah nanti. In syaa Allah❤
......TAMAT.....
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Tiada kata yang paling indah
selain rasa syukur kepada Allah subhanahu wata 'ala
atas berakhirnya kisah cinta
Azlan ❤ Filzah
Dalam naungan Cinta Istiqomah
❤❤❤
❤❤
❤
Ukhfira selaku Author Cinta istiqomah mengucapkan Jazakumullah khoiron atas kebaikan Readers yang sudi meluangkan waktunya dengan mampir ke lapak ini dari awal publish yaitu bagian pertama dengan judul "Bangkit" hingga bagian terakhir yang berjudul "Cinta Untuk Selamanya"
Alhamdulillahirobbil alaamiin akhirnya Cinta Istiqomah telah tamat dengan kisah cinta yang berakhir sad ending
Namun in syaa Allah telah mengukir kebahagiaan untuk para Readers yang dapat mengambil hikmah di balik cerita yang Ukhfira suguhkan ini
🌹🌹🌹
Kini tibalah diujung pertemuan online kita di lapak Ukhfira ini
Semoga Cinta Istiqomah ini bukan hanya menjadi cerita yang tersimpan rapi di sini
Tetapi semoga kisah cinta Azlan❤Filzah juga tersimpan indah di memori ingatan para pembaca yang sudah setia membaca selama ini
Ukhfira undur diri
dan mohon maaf apabila Ukhfira ada salah-salah kata dalam membalas komentar kalian Readers
🙏🙏🙏
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1