Cinta Istiqomah

Cinta Istiqomah
Part 6. Mata itu


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat datang di cerita Cinta Istiqomah


Vote dan komenmu jangan lupa ya


🌹🌹🌹


Saat jam istirahat tiba Zaura benar-benar memberikan jawaban kepada Arifa dan Dhiba tentang pertanyaan mereka kemarin. Seperti kemarin mereka bercengkrama sembari menikmati bekal makanan masing-masing.


"Sekarang aku sudah tahu Arifa, Dhiba, kenapa Bunda memakaikan aku kerudung ini." Ujar Zaura sembari memegang kerudung putihnya.


"Memangnya apa kata Bunda kamu Zaura?" Tanya Arifa penasaran.


"Iya Zaura, Bunda kamu bilang apa?" Lanjut Dhiba tidak kalah penasarannya dengan Arifa.


"Bunda aku bilang katanya Allah menyuruh perempuan muslimah untuk menutupi tubuhnya dengan baju sama kerudung panjang karena tubuh itu aurat, jadi harus ditutup, Bunda aku juga bilang Allah menyuruh kita menutup aurat tujuannya itu salah satunya untuk kesehatan tubuh kita, kalau kita menutup aurat, polusi, kuman, virus dan teman-temannya nggak akan menyentuh kulit kita soalnya tubuh kita tertutup sama baju dan kerudung panjang, Allah itu sayang sama kita makanya Allah menyuruh kita untuk berkerudung supaya tubuh kita terlindungi."


"Oh...seperti itu." Arifa dan Dhiba sama-sama ber-o ria. Sekarang mereka sudah mendapatkan jawaban atas pernyataan mereka kemarin kepada Zaura tentang kerudung yang Zaura kenakan.


"Iya seperti itu, dan kata Bunda anak-anak seperti kita belum disuruh untuk menutup aurat sama Allah, tapi kata Bunda kalau kita menurup aurat dari kecil nanti kalau sudah besar akan terbiasa, makanya aku disuruh memakai kerudung sama Bunda supaya nanti kalau sudah besar jadi terbiasa seperti Bunda." Zaura kembali menjelaskan hampir sama dengan penjelasan Bundanya kemarin saat menjelaskan kepadanya.


"Oh seperti itu Zaura." Untuk yang kedua kalinya Arifa dan Dhiba sama-sama ber-o ria. Mereka sekarang sudah paham sekali atas penjelasan panjang lebar dari Zaura.


"Kalau begitu aku mau memakai kerudung juga, supaya kulit aku terlindungi dan sehat." Ujar Dhiba disela-sela obrolannya dengan Zaura dan Arifa.


"Iya aku juga mau pakai kerudung dan aku mau mengajak Mama untuk pakai kerudung juga, aku nggak mau nanti kulit Mama terluka karena terkena polusi, kuman, virus dan teman-temannya." Arifa juga ingin memakai kerudung seperti Zaura bahkan setelah mendengar penjelasan Zaura ia juga ingin mengajak Mamanya untuk memakai kerudung juga agar kulit dan tubuhnya terhindar dari polusi, kuman, virus dan lain sebagainya.


Zaura tersenyum lebar. "Alhamdulillah, aku senang dengarnya." Zaura bersyukur karena Arifa dan Dhiba mau memakai kerudung sama seperti dirinya.


🌹🌹🌹


Seperti kemarin setelah pulang sekolah Zaura akan menemani Filzah ke kedai namun Filzah sudah membawakan baju ganti untuk Zaura sehingga Zaura bisa leluasa beraktivitas di kedai. Tidak seperti kemarin saat Zaura masih memakai baju seragamnya ia tidak leluasa beraktivitas karena takut kotor.


Kini Filzah sedang sibuk mengangkat piring dan gelas kotor di meja bekas pelanggannya yang sudah pergi. Zaura yang hanya duduk santai segera menghampiri Bundanya. Sementara Hilyah sedang menjaga kasir karena menantunya, Selin belum terlihat di kedai mereka.


"Bunda..."


"Eh Zaura, ada apa Sayang?." Tanya Filzah menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Bunda, Zaura boleh bantu Bunda berkerja ya, Zaura bosan hanya diam saja dari tadi, boleh ya Bunda."


"Tapi Zaura mau bantu apa Sayang?, pekerjaan Bunda berat, nggak usah ya."


Zaura kecewa karena tidak diperbolehkan untuk membantu Bundanya. Tanpa sengaja Zaura menoleh ke arah salah satu pelayan yang sedang mengelap meja kotor bekas pelanggan duduk. Zaura mendapatkan ide.


"Bunda, Zaura bisa kok mengelap meja seperti Mbak itu." Zaura menunjuk ke arah pelayan tadi. Otomatis Filzah ikut menoleh ke arah yang ditujukkan oleh jari telunjuk sang putri.


Filzah terdiam. Ia masih mikir-mikir. Namun tidak ada salahnya jika Zaura melakukan pekerjaan yang mudah itu. Dan jika dipikir-pikir umur Zaura yang sudah menginjak tujuh tahun sudah saatnya diajarkan tentang kebersihan dan kemandirian.


"Ya sudah Zaura boleh mengelap meja."


"Hore." Zaura senang bukan main.


"Tapi..., Zaura harus hati-hati ya, mengelapnya juga harus yang bersih ya."


"Siap Bunda." Zaura meletakkan tangannya di ujung pelipisnya. Memberikan hormat kepada Bundanya.


Filzah terkekeh dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. "Ya sudah ini kainnya Sayang." Filzah memberikan kain lapnya kepada Zaura. Lalu mulai meninggalkan Zaura.


Di tempat kasir tanpa sengaja Hilyah melihat Zaura sedang mengelap meja. Ia langsung bergegas menghampirinya.


"Lho Zaura sedang apa?" Tanya Hilyah kebingungan.


"Eh Oma, Zaura sedang mengelap meja Oma." Jawab Zaura dengan polosnya.


"Iya Oma tahu, tapi maksud Oma Zaura untuk apa mengelap meja?" Ujar Hilyah kembali bertanya kepada Zaura.


"Untuk membantu Bunda."


"Hah?, untuk membantu Bunda?, tapi Nak, Zaura kan masih kecil, Zaura tidak usah bantu Bunda ya, Zaura duduk saja di sana." Hilyah menyuruh Zaura untuk kembali ke tempat duduknya semula.


Zaura menggeleng pelan. Wajahnya lesu seketika. "Tapi Oma, Zaura bosan duduk-duduk terus dari tadi."


Disaat Hilyah dan Zaura sedang bercengkrama, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit sawo matang dengan ketampanan wajahnya khas Indonesia serta rahangnya yang tegas sedang memasuki kedai dengan derap langkah yang cepat. Pakaiannya rapi menandakan bahwa ia adalah karyawan kantoran.


"Mama."


Laki-laki itu kini sudah berdiri di samping Hilyah. Bahkan memanggil Hilyah dengan sebutan Mama.


Perlahan Hilyah menoleh. Kedua matanya membulat ketika melihat sosok laki-laki yang umurnya sekitar 28 tahun sedang tersenyum ke arahnya. Dan berada tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Azlan."


"Azlan kamu sudah pulang Nak." Ujar Hilyah dengan binar-binar kebahagiaan.


Laki-laki yang bernama Azlan tersebut langsung memeluk Hilyah. Mengobati rasa rindunya karena sudah satu minggu tidak bertemu.


"Iya Ma, Azlan sudah pulang, baru saja, dari bandara langsung ke sini untuk bertemu Mama soalnya Azlan sudah rindu sama perempuan cantiknya Azlan ini." Azlan bermanja ria kepada Mamanya.


Sudah satu minggu Azlan meninggalkan Jakarta karena urusan pekerjaan di Kalimantan. Namun hari ini ia sudah kembali ke Jakarta dan sudah bisa mengobati rasa rindu kepada Mamanya.


"Oh pantas saja parfummu beraroma matahari." Ejek Hilyah bercanda.


"Masa sih Ma?" Refleks Azlan langsung menghirup baju kemejanya yang katanya bau parfum matahari. Namun itu hanya gurauan Mamanya saja.


Seketika Azlan menoleh ke arah gadis kecil yang sejak tadi memperhatikannya. Azlan tercekat. Pandangannya terhenti kepada manik mata gadis kecil di hadapannya. Ia terkejut. Amat terkejut.


"Mata itu." Pekik Azlan dalam hati.


"Ma, anak kecil ini siapa?"


"Tunggu sebentar ya."


Hilyah meninggalkan Azlan sejenak. Ia menuju dapur kedainya. Azlan hanya terdiam sembari masih memperhatikan gadis kecil di hadapannya.


Zaura hanya bisa berdiam diri saja. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Untungnya Hilyah cepat kembali sehingga suasana canggung itu dapat tercairkan. Hilyah tidak kembali seorang diri melainkan ia bersama perempuan dengan penampilan busana muslimahnya, ialah Filzah.


"Azlan, Mama cuma mau memberitahu kamu kalau di kedai kita ada karyawan baru, ini orangnya, namanya Filzah, dan anak kecil ini namanya siapa Sayang?"


"Zaura."


"Zaura ini anaknya Filzah." Lanjutnya memperkenalkan Filzah sekaligus Zaura kepada Azlan.


"Dan Filzah, perkenalkan ini Azlan anak bungsu saya, dia baru saja pulang dari luar kota karena urusan pekerjaannya." Hilyah juga memperkenalkan Azlan kepada Filzah. Sebagai bentuk perkenalan biasa. Dan Filzah wajib kenal dengan Azlan karena Azlan bisa dikatakan Bosnya juga.


Perlahan Filzah tersenyum ramah ke arah Azlan. Senyuman tulus sebagai bentuk perkenalan. Azlan membalas senyuman Filzah sewajarnya saja.


"Kalau begitu saya dan Zaura pamit ke belakang dulu ya Bu." Filzah merasa tidak enak jika berlama-lama berdiri di sana sementara pekerjaannya di belakang masih menumpuk.


"Iya Nak Filzah silakan." Hilyah memperbolehkan Filzah untuk kembali ke belakang dengan membawa Zaura.


Meskipun Filzah dan Zaura sudah menuju belakang, namun tatapan Azlan masih tertuju ke arah Zaura yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Mata anak kecil itu seperti nggak asing lagi, aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya?, dan siapa pemilik mata yang hampir sama dengan anak kecil itu?" Azlan membatin. Ia merasa tidak asing lagi dengan mata Zaura yang tadi tidak sengaja ia pandang. Namun Azlan seperti kehilangan separuh ingatannya. Kemudian Azlan menggelengkan kepalanya.


"Azlan kamu kenapa? kok malah melamun." Hilyah seakan dapat membaca ekspresi wajah sang putra yang terlihat sedang melamun.


"Ah, nggak kok Ma, Azlan nggak melamun, oh iya Ma ayo kita pulang, Azlan bawa oleh-oleh buat Mama."


"Benarkah?, mana orangnya?"


Azlan kebingungan dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Mamanya.


"Hah?, maksud Mama?"


"Kamu bawa oleh-olehnya itu calon menantu untuk Mama kan?"


Azlan menghela napas. Mamanya ada-ada saja. Dan selalu saja membahas calon menantu sampai Azlan jengah dibuatnya.


"Mama!!!" Azlan kesal.


"Iya-iya maaf Mama bercanda, ya sudah ayo pulang." Hilyah malah melangkah lebih dulu. Meninggalkan Azlan yang lagi-lagi hanya bisa menghela napas jengah.


🌹🌹🌹


Mobil yang dikemudikan oleh Azlan sudah tiba di garasi rumah mewah nan megah milik keluarga Hilyah. Rumah lantai dua itu ditempati oleh Hilyah, Azlan, Ergin anak pertama Hilyah serta Selin dan putrinya yang bernama Grizelle.


"Ini oleh-oleh untuk Mama."


Baru saja Hilyah mendudukkan dirinya si sofa ruang tamu ia langsung mendapatkan kotak berwarna merah yang berbentuk hati dari sang putra bungsu.


"Apa ini Azlan?" Tanya Hilyah sembari mengamati kotak yang sudah berada dalam genggamannya.


"Mama buka saja." Ujar Azlan menyuruh Hilyah untuk segera membuka kotaknya.


Perlahan Hilyah mulai membuka kotak itu. Seketika ia terkejut melihat isi di dalamnya. Sebuah gelang emas dengan ukiran cantik nan elegan.


"Azlan?, ini gelang mahal sekali, kamu yakin ini untuk Mama?" Hilyah sangat terkejut dan tidak percaya bahwa sang putra bungsu memberikan oleh-oleh kepadanya. Sebuah gelang emas yang harganya selangit.


Azlan merangkul sang Mama. Meyakinkan perempuan yang telah melahirkannya bahwa gelang emas tersebut memang sengaja ia beli untuknya.


"Iya Mamaku Sayang, gelang ini untuk Mama, alhamdulillah Azlan dapat bonus dari kantor Ma, jadi Azlan gunakan uang dari bonus itu untuk membelikan Mama gelang, bagaimana Mama suka nggak?"

__ADS_1


Hilyah menggelengkan kepalanya. Kali ini ia tidak suka dengan pemberian sang putra. Ada alasan lain yang menyebabkan Hilyah tidak menyukainya bahkan menolaknya.


"Mama nggak suka sama sekali dengan gelang ini, ini berlebihan Azlan, terlalu mahal." Hilyah langsung mengembalikan gelang berserta kotaknya kepada Azlan.


Jelas Azlan terkejut. Baru kali ini sang Mama menolak pemberiannya. Kira-kira apa alasan sang Mama tidak mau menerima pemberiannya kali ini.


"Lho Ma, kok dikembalikan?, Mama kok tega sih menolak pemberian dari anaknya sendiri,Β  Azlan bela-belain beli gelang mahal itu untuk Mama, tapi Mama kok malah menolaknya." Kini giliran Azlan yang kesal dengan Mamanya karena telah menolak pemberian darinya.


"Bagaimana Mama nggak menolak, gelang ini harganya selangit Azlan, lagi pula Mama sudah banyak perhiasan pemberian dari kamu, kan sayang kalau banyak-banyak nanti nggak kepakai."


"Tapi kali ini saja Ma terima, Azlan mohon Ma."


Hilyah tetap pada pendiriannya. Perempuan cantik yang tidak lekang oleh waktu bahkan rambutnya belum memutih sama sekali itu menggelengkan kepalanya dengan tegas.


"Nggak Azlan Mama nggak mau menerima pemberian dari kamu lagi, sudah cukup perhiasan yang Mama punya."


"Ya tapi apa salahnya sih Ma bertambah satu lagi."


Hilyah mulai jengah dengan perangai putranya. "Azlan, dengarkan Mama, dari pada gelang itu nggak kepakai lebih baik kamu simpan saja untuk calon istri kamu kelak, kamu harusnya tabung uang kamu untuk masa depan kamu, untuk istri dan anak kamu di masa depan, jangan dihambur-hamburkan seperti ini, cukup ini yang terakhir kalinya ya."


Kali ini Azlan yang menghela napas jengah. Pasti ujung-ujungnya sang Mama membahas tentang calon istri. Bukannya Azlan tidak ingin segera melepas masa lajangnya namun ia belum menemukan yang cocok di hatinya. Dan tidak ada salahnya jika saat ini Azlan memberikan uang hasil jerih payahnya kepada Mamanya, perempuan terhebat dalam hidupnya.


"Ya sudahlah kalau Mama nggak suka, Mama simpan saja." Azlan menyerah. Azlan menyerahkan sepenuhnya gelang itu yang pada dasarnya memang diberikan kepada Mamanya.


"Kalau begitu gelang ini akan Mama simpan, dan kalau nanti kamu sudah menikah Mama akan memberikan gelang ini kepada istri kamu, kamu setuju kan?"


Azlan menganggukkan kepalanya dengan malas. Ia juga sudah malas mengobrol dengan Mamanya yang nantinya bahasan obrolannya bisa menjalar ke mana-mana, khususnya ke arah pernikahan. Untuk saat ini Azlan sangat tidak berminat membahas hal itu.


"Eh ada Mama, eh ada Azlan adik iparku."


Tiba-tiba saja Selin dan putrinya yang seumuran dengan Zaura keluar dari tempat persembunyiannya.


"Bagaimana Azlan proyeknya yang di luar kota?, sukses?." Tanya Selin berbasa basi.


Azlan mengangguk malas. Wajahnya semakin kusut setelah kedatangan Kakak iparnya yang hobinya cari muka dan di otaknya hanya ada uang, uang dan uang. Terkadang Azlan kasihan dengan sang Abang, Ergin, yang hanya dijadikan mesin uang oleh Selin yang kegiatannya hanya menghambur-hamburkan uang.


"Uncle oleh-oleh untuk Grizelle mana?" Ucap Grizelle yang datang-datang langsung meminta oleh-oleh kepada Azlan.


Azlan sudah bisa menebak. Kakak iparnya sudah meracuni otak keponakannya. Dan mengajarkannya meminta-minta sejak kecil. Itu perangai yang buruk. Azlan membeci perangai itu.


"Nggak ada!" Jawab Azlan ketus.


"Ma, Azlan ke kamar dulu ya mau istirahat, capek, oh iya Mama simpan baik-baik gelang itu, kalau perlu lemari Mama gembok pakai rantai." Azlan berucap sembari sesekali menoleh ke arah Selin. Seakan takut Selin akan mengambil gelang itu.


Selin berdecak kesal. Mungkin kalau Azlan bukan adik iparnya sudah Selin robek-robek mulutnya. Seenaknya saja menuduhnya akan mengambil gelang yang berada di tangan Hilyah.


Kini Azlan dan Hilyah saling menuju ke kamar masing-masing. Wajah selin langsung memerah.


"Azlan kurang ajar sekali jadi orang,Β kalau bukan statusnya sebagai adik ipar sudah habis nyawanya melayang!" Omel Selin yang kesal dengan perangai Azlan yang tidak ada sopan-sopannya kepadanya. Padahal ia berstatus sebagai Kakak iparnya yang harusnya dihormati.


"Mommy, Uncle kok jahat sih sama Grizelle, Grizelle kan cuma minta oleh-oleh, kok Uncle jawabnya malah ketus." Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Begitulah perumpaan yang tepat untuk Selin dan Grizelle. Ibu dan anak ini perangainya tidak jauh berbeda. Dapat dikatakan sifat buruk Selin menurun kepada Grizelle, putri sematawayangnya.


"Sudah Grizelle nggak usah memikirkan Uncle kamu yang nggak tahu diri itu, nanti kalau Daddy pulang Grizelle minta apa saja sama Daddy, pasti Daddy menuruti semua keinginan Grizelle."


"Oke Mommy, yes, nanti aku akan minta dibelikan mainan baru sama Daddy." Ujar Grizelle dengan wajah sumringah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Alhamdulillah sudah part 6


Mana nih komentar kalian???


πŸ—£πŸ—£πŸ—£


Cerita Cinta Istiqomahnya mulai menarik perhatian belum???


Mulai gregetan belum???


Atau mulai apa nih???


...


isi sendiri ya


πŸ–‹πŸ–‹πŸ–‹


Sampai bersapa ria di part selanjutnya Readers


😎😎😎

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh


__ADS_2